Senin, 16 September 2013

Tersesat Bersama Cerita Absurd

Selama Kita Tersesat Di Luar Angkasa
Penulis: Maggie Tiojakin
Editor: Mirna Yulistianti
Cover: Staven Andersen
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-9616-7
Cetakan pertama Juli 2013
241 halaman
Buntelan dari @MaggieTiojakin


Jemu dengan kumpulan cerpen yang melulu soal cinta? Kisah heroik “si baik dan si jahat” penuh pesan moral ala abad ke-18 tidak lagi menarik? Jika ya, jangan ragu untuk membaca kumpulan cerpen ketiga Maggie Tiojakin yang berjudul Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa ini. Setelah menelurkan dua kumpulan cerpen berjudul Homecoming dan Balada Ching-Ching serta sebuah novel Winter Dreams, dia kembali merangkum kumpulan cerpen Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa.

Sebelumnya, koleksi cerpen Maggie lebih menyoroti situasi biasa yang kerap kali terjadi. Kali ini dia menyodorkan sekelumit pengalaman asing, mulai dari peliknya situasi di tengah peperangan hingga perjuangan sekelompok astronaut yang terdampar di Merkurius. Walau demikian, empat belas cerpen bertema absurd yang berangkat dari konsep sederhana ini terasa hidup karena dibangun lewat riset intens.

Satu hal yang tak pernah ketinggalan dari cerpen-cerpen Maggie adalah kritik sosial yang kental, namun tidak terkesan menggurui. ~ Koran Jakarta

Konten:

1. Tak Ada Badai di Taman Eden
2. Kristallnacht
3. Lompat Indah
4. Fatima
5. Panduan Umum Bagi Pendaki Hutan Liar
6. Kota Abu-Abu
7. dies irae, dies illa
8. Saksi Mata
9. Labirin yang Melingkar-lingkar dalam Sangkar
10. Ro-Kok
11. Dia, Pemberani
12. Suatu Saat Kita Ingat Hari Ini
13. Jam Kerja
14. Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa

Absurd adalah tidak masuk akal, bodoh, konyol, tidak layak. Saya suka cerita absurd, bukan karena di kehidupan nyata saya kerap menemui kejadian yang konyol juga, tetapi di balik cerita absurd biasanya terdapat tema cerita yang umum, tema cerita yang kerap kita dapatkan di buku lain. Hanya saja penulis menyajikannya secara berbeda, cerita yang tidak biasa, cerita yang tidak pernah kita pikirkan akan ada. Tugas pembaca adalah menemukan tema biasa tersebut di dalam cerita yang tidak biasa.

"Harus ada pahlawan, ada penjahatnya gitu. Yang baik harus menang. Biar bisa menginspirasi." Tapi tugas saya bukan mengispirasi, malainkan bertanya. - Maggie Tiojakin Tentang SKTLA


Saya biasa membaca pengantar dari penulis sebelum langsung ke menu utama, menyelami kenapa bisa ada cerita tersebut. Maggie menjelaskan (atau curhat) tentang datangnya ide mengumpulkan cerita absurd, dia sering mendengar komentar dari teman-temannya perihal cerita yang sering dia buat: sengaja menulis cerita aneh dengan karakter aneh, alur aneh dan ending yang tak jelas. Cerita yang dia buat jauh dari heroisme dan dia sengaja memilih nama yang tidak lazim agar karakter dalam ceritanya kosong. Dia tidak menyuguhkan cerita motivasi, keindahan atau happy ending, tetapi menyuguhkan sekelumit pengalaman dan membuat kita bertanya apa yang kita alami selama membaca. Menarik bukan?

Hampir seminggu lebih saya menyelesaikan kumcer ini, ada cerita yang bisa langsung saya pahami dan menjadi favorit, ada juga cerita yang membuat saya pusing, sebenernya ini cerita tentang apa? Sebelum membuar reviewnya, saya melakukan sedikit riset tentang proses kreatif pembuatan SKTLA, membaca tumblr-nya dan bagian tentang mengupas absurditas di fiksilotus.com. Saya juga membaca cerpen Hujan Berkepanjangan karya Ray Bradbury untuk membandingkan dengan cerpen Selama Kita Tersesat Di Luar Angkasa (SKTLA). Lalu apa yang saya dapat ketika melakukan riset kecil-kecilan tersebut? Saya membaca ulang SKTLA dan selesai dalam waktu tidak lebih dari tiga jam. Tugas saya adalah menemukan apa pertanyaan Maggie di setiap cerita yang dia buat, tidak semuanya karena beberapa pertanyaan sudah dia bocorkan pada tulisan mengupas absurditas, tapi saya bisa membuat pertanyaan sendiri, bukan?

Tak Ada Badai di Taman Eden

Kalau kita membaca sekilas ceritanya sederhana, seorang istri yang menunggu kedatangan suaminya pulang dari kerja sambil mengintip cuaca di balik jendela, suami pulang dan merasa lapar kemudian memesan pizza karena tidak ada makanan di rumah. Biasa sekali. Tapi dibalik aktivitas tersebut saya merasakan kekosongan di dalam hubungan mereka, tidak ada cinta. Satu kesalahan di masa lalu bisa berakibat fatal untuk masa depan. Pertanyaan Maggie adalah bagaimana mereka akan bertahan? Dan pertanyaan saya adalah apakah benar-benar tidak ada sedikitpun cinta yang tersisa di antara mereka?

"Sejak saat itu, hidup mereka tak sama lagi. Ditengah ratusan, ribuan jejak memori -kejadian tersebut tersemat bagai duri. Kini mereka sibuk mencari mimpi dengan cara sendiri-sendiri: Anouk meyakini bahwa setahun sekali langit pecah berkeping-keping dan meninggalkan alam yang tak pasti, sementara Barney menghabiskan tiga ratus enam puluh empat hari dalam setahun memungut kepingan tersebut dan menyusunnya kembali, menciptakan sebuah ilusi. Satu demi satu. Bulan demi bintang demi gumpalan awan. Seperti pasang-pasangan."

Kristallnacht

"Dalam sejarah Perang Dunia II, Kristallnacht dikenal sebagai 'malam penuh kristal' atau crystal night di mana pengikut partai politik Nazi di bawah pimpinan Adolf Hitler melancarkan program besar-besaran: menyerang kediaman, tempat usaha, dan tempat ibadah warga Yahudi di Jerman dan Austria pada tahun 1938 dalam periode dua hari. Kata kristal digunakan untuk mengilustrasikan kaca-kaca bangunan yang dihancurkan dan terurai di jalan-jalan kota selama dua hari itu."

Bercerita tentang sebuah wawancara yang dilakukan oleh (kemungkinan wartawan) kepada seorang wanita bernama Shir. Si wartawan bertanya tentang masa lalu Shir, tentang kejadian yang membuat dia berpisah dari kedua orangtuanya dan meninggalkan satu kesempatan emas pada usianya yang baru delapan tahun. Membuat Shir menginggat kembali masa-masa mencekap di dalam hidupnya, masa di mana dia melihat kedua orangtuanya ketakutan dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Pertanyaan Maggie di dalam cerita ini adalah tentang bagaimana kita bisa berdamai dengan masa lalu? Saya tidak akan ikut bertanya, tapi saya akan mencoba membantu menjawab Shir dengan mengambil bagian yang paling berkesan di buku ini.

Saya bilang, "Jangan sedih. Nanti saya bawakan oleh-oleh dengan uang yang saya pegang." Ayah tampak pucat. Lebih pucat dari sebelum-sebelumnya. Dia yang mengantar saya sampai pintu kereta. kami berpelukan lagi. Dia mencium pipi saya lagi. Saya masih ingat bau aftersave di pipinya. Kemudian pluit ditiup, menandakan bahwa kereta akan segera berangkat. Dari dalam kereta, saya merasakan mesin lokomotif yang bergetar. Besi dingin di bawah sentuhan tangan. Saya duduk di samping jendela kereta. Ibu berdiri di dekat pilar stasiun, melambai sekuat tenaga. Ayah berdiri di bawah jendela kereta, tangan terulur, kamu terus berpegangan. Lalu, kereta mulai bergerak...

Tidak mudah, terlebih berhubungan dengan orang yang sangat kita sayangi. Saya selalu tersentuh dengan cerita yang bertema Holocaust, cerita yang menyayat hati. Dari cerita tersebut kita juga akan merasakan kesedihan yang mendalam yang dialami anak-anak yang hidup pada masa itu. Masa yang memberikan kenangan paling menyakitkan di ingatan kita.

Lompat Indah

Di cerita ini Maggie ingin menulis tentang kejadian paling absurd yang bisa terjadi di kala banjir. Biasanya, orang-orang akan mengungsi dan mencoba mengatasinya tapi berbeda dengan Maggie, dia membuat sebuah permainan. Ahi, seorang remaja yang tidak punya siapa-siapa malah mengobrol dengan Sedna, perempuan gila tetangganya dengan santai di atap genteng, padahal air semakin lama semakin naik, tapi mereka mengabaikan peringatan orang-orang, malah saling berimajinasi. Dan itu jawaban saya untuk Maggie, berimajinasi.

Fatima

Dibuka dengan cerita yang menengangkan, seorang prajurit yang bernama Pinot sedang bertarung melawan musuh-musuhnya dengan dipandu oleh Fatima, sekertaris eksekutif yang bertugas memberikan data intel dari markas besar. Endingnya benar-benar tak terduga.

Mungkin pertanyaan Maggie di cerita ini adalah bagaimana rasanya masuk ke dalam dunia game? Dulu waktu kecil, waktu masih suka maen game saya juga sering bertanya seperti itu, apakah seseru saat kita memainkannya?

Panduan Umum Bagi Pendaki Hutan Liar

Tentang quality time seorang ayah dan anak. Saya setuju dengan pendapat Maggie tentang sebuah perceraian, bahwa pecahnya sebuah keluarga adalah kesalahan dari kedua belah pihak, mereka sama-sama bersalah dan terluka, dan mereka sama-sama memberikan dampak buruk dalam perkembangan psikis si anak. Dalam hal ini Maggie menghadirkan sebuah cerita dari sisi si ayah. Laven mengajak putri semata wayangnya, Bitya, hiking di tempat yang penuh kenangan bagi Laven dan Nimbe, mantan istrinya. Ketika dia melihat putrinya girang sekali dan bersenang-senang, dia menyiapkan makan dan baju ganti untuk putrinya. Pada saat itulah Laven merasa sangat ketinggalan mengetahui perkembangan anaknya, dia tidak melihat anaknya tumbuh besar hari demi hari. Dia hanya punya waktu yang tidak lama untuk menyelami kehidupan putrinya, berbagi waktu bersama.

Pertanyaan yang dibuat Maggie untuk cerpen ini adalah bagaimana kita melindungi orang-orang yang kita cintai dari hal-hal yang berada di luar kuasa kita? Kali ini saya tidak ingin menjawab atau membuat pertanyaan baru, saya benci ending di cerita ini, saya marah sama Maggie.

Kota Abu-Abu

"Apa yang salah dengan comfort zone?" Tema yang ingin Maggie tonjolkan di cerpen ini. Bercerita tentang Remos dan istrinya, Greta yang bertemu kembali dengan teman lama, Temuji. Temuji adalah orang yang gemar bertualang dari kota ke kota, dan saat mereka bertemu dia bercerita tentang Kota Hitam, kota yang gelap dan panas, tempat skral yang hanya boleh dikunjungi oleh orang-orang tertentu. Dari cerita Temuji, Greta ingin melihat dunia luar, ingin melihat selain warna abu-abu, dia ingin melihat sesuatu yang berbeda, ingin melihat keindahan dunia. Kebalikan dengan Remos, dia sudah nyaman dengan tempat tinggalnya sekarang dan seumur hidup, dia tidak ingin meninggalkannya.

"Aku yakin kalian tidak pernah kemana-mana," ujar Temuji seraya meneguk habis isi gelasnya. "Kalian tidak tahu ada apa di luar sana. Keindahan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata."

Waktu membaca cerpen ini saya serasa ditampar, Saya mirip dengan Remos, jarang keluar dari comfort zone, saya tidak suka berpergian jauh dari rumah, bahkan sekolah sampai kerja pun tidak jauh dari rumah. Banyak faktor, salah satunya adalah ketakutan-ketakutan yang saya ciptakan sendiri. Mungkin itu juga yang dialami Remos, kehidupan diluar tidak akan senyaman kehidupannya sehari-hari, tapi kalau tidak dicoba siapa tahu? Pertanyaan yang juga saya lemparkan untuk diri sendiri adalah apa salahnya dengan sesuatu yang baru?

dies irae, dies illa
Perang adalah perbuatan manusia yang tidak ada gunanya sama sekali, hanya menimbulkan kesedihan yang mendalam. Salah satu contoh adalah apa yang dipikul Azmov, anak kecil berusia sepuluh tahun harus mencari makan untuk adik dan ibunya gara-gara ayahnya terbujuk rayuan untuk ikut berperang. Keadaan menjadikan dia dewasa sebelum umurnya, dia menjadi tidak takut mati. Bersama robot berwarna merah, Azmov bermimpi akan masa depannya. Pertanyaan saya adalah kapan manusia akan lelah berperang?

Saksi Mata
Cerita ini terinspirasi dari kejadian nyata pada tahun 1964 di sebuah kota besar di Amerika Serikat, seorang wanita terbunuh di depan gedung apartemennya dan kejadian itu dilihat oleh penghuni gedung lainnya namun mereka tidak melakukan apa-apa. Pertanyaan Maggie adalah kenapa reaksi warga yang acuh tak acuh terhadap sesamanya (bahkan berakibat fatal bagi sesamanya) terasa begitu normal...?

Diceritakan dari berbagai sudup pandang tokoh-tokoh yang tinggal di sebuah rumah susun, disertai dengan waktu untuk memperjelas aktivitas yang dilakukan para tokohnya. Masing-masing mendengar ada sesuatu yang jangal tapi mereka mengangap tidak penting, bukan urusan mereka. Di cerita ini Maggie menyentil kurangnya rasa kemanusian dan kepedulian di antara warga sekitar, terlebih  masyarakat urban. Mereka cenderung individualis, tidak peduli dengan masalah orang lain, tidak peduli apakah mereka kesusahan dan butuh dibantu? Pertanyaan saya adalah apakah rasa kemanusiaan makin lama akan punah?

Dia, Pemberani
Tentang Masaai yang mempunyai hoby menantang maut, base jumping, cave diving, heli-skiing sampai ikut memeriahkan Festival San Fermin di Spanyol hanya untuk menantang banteng. Siapa yang paling khawatir tentang hoby-nya yang ekstream? Tentu saja Zaleb, istrinya. Pernah dia ingin bercerai, tapi cinta adalah pengertian, cinta adalah pengorbanan dan dia mengalah.

Di cerita ini kita disuguhkan gambaran nyata tentang seseorang yang memiliki passion yang amat besar tentang olahraga ekstream, lewat Masaai. Pertanyaan saya adalah seberapa besar ketakutan yang mereka miliki?

"Jadi, pada intinya, aku tidak mencoba untuk mati. Aku justru merayakan hidup."

Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa
Dalam Hujan Berkepanjangan, Ray Bradbury bercerita tentang seorang Letna dan tiga prajuritnya bertahan hidup di planet Venus yang selalu diguyur hujan. Sedangkan dalam cerpen SKTLA bercerita tentang seorang kapten bersama tiga prajurit astronotnya terdampar di planet Merkurius yang gersang. Ya, Maggie membuat cerita yang bertolak belakang dengan Hujan Berkepanjangan walau mengambil sebagian besar unsur di dalamnya, baik itu tokoh ataupun alur ceritanya. Saking sukanya sama cerita buatan Ray Bradbury, Maggie ingin membuat cerita pendamping (tie-in), jadilah kisah astronot yang terdampar di Merkurius.

Dalam cerita ini saya memahami dua hal, pertama bahwa manusia tidak pernah puas. Kadang kita mengharapkan hujan tetapi ketika hujan datang kita mengerutu, hujan datang tidak diwaktu yang tepat. Dan sebaliknya, kalau kekeringan, kita merindukan hujan. Kedua adalah sejauh mana manusia bisa bertahan menghadapi cobaan? Apakah akan terus berharap akan adanya mukjizat atau menyerah saja?

"Aku rela mengorbankan apa saja untuk melihat hujan sekarang, " katanya.
"Aku juga," sahut Sang Kapten. "Kurasa lebih baik terdampar di Venus daripada di neraka jahanam ini. Setidaknya, di sana masih ada harapan."
"Banyak yang bilang harapan bisa membunuh, " kata Koveer.
"Tapi alternatifnya sama saja."
Sang Kapten mengangguk. KEmudian ia memikirkan istrinya, nun jauh di sana, jutaan kilometer darinya -dan waktu yang telah mereka jalankan bersama. Tanpa sadar, ia menagis. Namun tangis itu hanya berupa perasaan saja. Wajahnya berkontraksi dengan mulut melebar dan mata meyipit dan hidung besar- persis seperti orang menagis. Tapi tak ada airmata yang keluar. Tubuhnya tidak punya cukup kandungan air untuk itu.

Masih ada cerpen Labirin yang Melingkar-lingkar dalam Sangkar, yang bercerita tentang eksplorasi urban (kegiatan menjelajahi/mendokumentasi struktur bangunan kota yang dibuat manusia), seseorang yang menikmati bangkai urbanisasi, bangunan terlantar.

"Dengar," kata Danno. "Segala hal yang terlupakan, yang hilang ditelan serta dibuat rancu oleh detail keseharian -kalau kau perhatikan dengan seksama- merupakan tonggak eksistensi kehidupan..."

Kemudian ada juga cerpen yang berhubungan dengan kecanduan, yaitu Ro-Kok dan Suatu Saat Kita Ingat Hari Ini. Di cerpen Ro-Kok, Feri harus memilih cinta atau tembakau, sedangkan di Suatu Saat Kita Ingat Hari Ini bercerita tentang dua orang yang kecanduan game FPS (First Person Shooter). Ketika saya melakukan riset, saya paham kenapa Maggie bisa membuat cerita tentang dunia game yang terasa nyata dan mendetail, karena dia juga salah satu seorang gamer. Dan terakhir adalah cerpen yang berjudul Jam Kerja yang bercerita tentang seseorang yang berhalusinasi ketika sedang berada di ruang rapat. Di cerpen ini Maggie ingin bertanya berapa banyak orang yang pikirannya melanglang buana saat terperangkap dalam rutinitas pekerjaan.

Selain keempat belas cerpen di atas masih ada bonus lima cerpen dalam bahasa inggris yang ada di buku ini. Setelah Saya menyelami cerpen demi cerpen terbukti kalau apa yang ingin disuguhkan Maggie sebenarnya tidak jauh berbeda dengan tema cerita pada umumnya. Kehidupan rumah tangga, kesukaan atau kegilaan kita terhadap hoby yang kita geluti, kebiasaan yang ada dikehidupan sehari-hari, hubungan orangtua dengan anak, bencana alam, bahkan perang. Satu yang masih asing bagi saya yaitu eksplorasi urban, biasanya saya temui dalam bentuk visual. Yang membuat menarik adalah Maggie menyajikannya dengan berbeda, membuat cerita yang tidak masuk diakal dan itu adalah kelebihannya.

Ada beberapa ending cerita yang tidak saya sukai, saya tidak kaget, toh dari awal penulis sudah berkata kalau dia tidak menyuguhkan keindahan tetapi lebih ingin mengetahui apa yang kita alami ketika membacanya. Tersesat. Ya, itulah rasanya. Kita akan tersesat dengan realitas yang coba disamarkan oleh penulis.

4 sayap untuk tersesat bersama cerita absurd.

6 komentar:

  1. Gini nih passion menulis yang baik. Berani beda, menarikdan tidak hanya mengajak pembaca untuk masuk kedalam alur cerita, melainkan mengajak pembaca untuk berpikir juga.

    BalasHapus
  2. Akhirnya ada juga novel yang absurd dan butuh mikir
    Sudah bosen dengan novel love story dan sejenisnya

    BalasHapus
  3. ini kumcer yahh.. kalau yang :selama kita tersesat di luar angkasat" saya sempat baca.. kerenn ceritanya absurd banget^^

    BalasHapus
  4. Ceritanya ga gampang ketebak.... aku suka tantangan buat ikut berpikir... keren reviewnya mba!

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Rekomendasi Bulan Ini

Buku Remaja yang Boleh Dibaca Siapa Saja | Rekomendasi Teenlit & Young Adult

K urang lebih dua tahun yang lalu saya pernah membahas tentang genre Young Adult dan berjanji akan memberikan rekomendasi buku yang as...