Tampilkan postingan dengan label Enid Blyton. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Enid Blyton. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Juli 2012

Si Kembar di Sekolah yang Baru


Si_kembar

by Enid Blyton
Alih bahasa: Agus Setiadi
Penerbit: Gramedia
ISBN: 978-979-22-5298-9
Cetakan kedelapan: Juli 2010
262 halaman

Sinopsis:
Pat dan Isabel sebal sekali ketika harus bersekolah di St. Clare -sekolah putri berasrama. Mereka yakin mereka tak akan senang di sana. tapi setelah mereka benar-benar masuk St. Clare dan berkenalan dengan Hillary, Janet, Kathleen, Sheila, dan lain-lainnya, yang terjadi justru sebaliknya.
Tanpa mereka sadari, mereka jatuh cinta pada St. Clare. Ini bisa dimaklumi. St. Clare memang sekolah yang penuh kegiatan dan keriangan. Dan juga keramaian, kerena gadis-gadis tanggung murid-murid sekolah itu berhobi sama: berbuat iseng. Yang jadi korban tentu saja para guru. tapi sebetulnya mereka gadis-gadis yang baik dan berbakat. Lihat saja prestasi mereka pada akhir semester.

Review:
Bisa dibilang buku ini kebalikannya Malory Towers, maksudnya tokoh utamanya pada mulanya dibenci sama temen-temennya, yah anggap aja kayak Gwendolin. Pat dan Isabel membenci sekolah barunya, tidak keren. Satu kamar di huni oleh banyak murid, tidak ada olahraga tenis, ditambah mereka harus melayani dan patuh akan perintah kakak kelas, Pat yang emosian tentu tidak sudi, sedangkan Isabel yang kalem dan penurut mau saja diperintah semena-mena. Karena membangkang dan mereka terkesan sombong, banyak anak yang tidak suka sama mereka. Selain itu mereka terlalu meremehkan pelajaran, di sekolah mereka yang dulu mereka bisa dibilang anak yang gemilang dan bebas, dengan aturan St, Clare yang ketat dan pelajaran yang sulit mereka benar-benar keteteran, tidak jarang dihukum sama guru. Lama-lama St. Clare merubah sifat mereka.

Buku ini alur mirip banget sama Malory Towers, karakter tokohnya pun tidak jauh berbeda, hanya beda nama. Keusilan-keusilan yang dilakukan kepada guru, pesta tengah malam, karakter murid-muridnya mirip. Karena habis membaca seri Malory Towers saya jadi membanding-bandingkan dan bosan membacanya, bisa ditebak. Seru sih, tapi saya jenuh. Mungkin kalau bacanya pas saya masih kecil jatuhnya beda. Pesan moral di sini adalah kekompakan, kerja sama, ketika salah satu berbuat salah maka kesalahan itu akan ditanggung bersama-sama karena semua juga ikut menikmatinya. Jadi buat adek-adek yang suka sama buku anak dan bercita-cita masuk sekolah asrama, saya sarankan membaca buku ini :). Saya suka covernya!

2.5 sayap untuk St. Clare

Rabu, 04 Juli 2012

Semester Terakhir di Malory Towers



Penulis: Enid Blyton
Alih bahasa: Djokolelono
Cover: Eric Alexander
Penerbit: Gramedia
ISBN: 978-979-22-4799-2
Cetakan kesembilan: Juli 2010
239 halaman

Tidak banyak yang akan saya ceritakan di seri terakhir ini, mungkin akan lebih ke kesan-kesan saya pada semua seri Malory Towers karya Enid Blyton yang pertama kali saya baca ini.

Agak kecewa sama seri terakhir karena lebih banyak menyorot June dan Felicity. tidak seperti seri sebelumnya banyak petualangan, kejahilan, konflik yang dialami Darell dkk. Hanya ada satu anak baru, Amanda yang bertubuh besar dan pintar olahraga. Dia pindahan dari sekolah yang nilai prestasi olahraganya baik, bahkan Amanda bercita-cita mengikuti Olimpiade. Amanda menaruh perhatian besar pada June, dia menggangap kalau June mempunyai bakat besar, sama dengannya.

Yang saya sayangkan adalah banyak murid yang sekelas dengan Darrel tiap tahun menghilang, entah pindah atau sudah lulus duluan. Saya sampai akhir membaca buku ini bingung loh sebenarnya Darrel ini kelas berapa? Mungkin SMP sampai SMA kali ya? Soalnya setelah lulus dari Malory Towers Darrell, Sally dan Alice akan melanjutkan ke Universitas. Saya tidak masalah dengan setiap tahun ada anak baru, menandakan petualangan mereka akan lebih berwarna, tapi di akhir cerita ini saya merasa kehilangan sosok yang dati awal muncul, seperti Jean, Ellen, Zerelda.

Mengabaikan ketidakpuasan saya, buku ini cukup menghibur walaupun kalau untuk dibaca anak kecil perlu pengawasan, ada bahasa dan perbuatan yang kasar, terlebih dilakukan oleh anak perempuan. Tapi membaca buku ini serasa selokah di asrama itu seru sekali. Petualangan mereka seru dan beragam warna. kalau tidak salah cover Malory Towers ini sudah berganti sampai tiga kali, dan saya menyukai yang terakhir ini, tidak jadul :). Terjemahannya bagus sekali, tidak ada yang membuat bingung, padahal kapan pertama kali ini dibuat? Awet sampai sekarang.

3 sayap untuk perpisahan.

NB: Tentang Pengarang

Enid_blyton
Enid Blyton sudah menulis lebih dari 600 judul buku anak-anak yang telah diterjemahkan dalam banyak bahasa, sehingga bisa dinikmati oleh anak-anak di seluruh dunia. Walaupun buku-buku itu sudah lama ditulisnya, bahasa dan ceritanya tidak pernah ketinggalan jaman.

Enid lahir di London pada tangal 11 Agustus 1897, dan sejak kecil sudah pandai mengarang. Setelah ia besar dan menjadi guru, karyanya dipublikasikan oleh Teacher's World. Buku pertamanya, sebuah buku anak-anak berjudul Child Whispers, diterbitkan tahun 1922. Selain menulis, ia juga menerbitkan majalah Sunny Stories, yang telah diedit sejak tahun 1926. tahun 1953 akhirnya terbit Enid Blyton's Magazine, di majalah inilah untuk pertama kalinya Enid mendirikan Klub Lima Sekawan.

Semester Pertama di Malory Towers adalah buku pertama dalam seri Malory towers. Buku-buku lainnya:
Kelas Dua di Malory Towers
Kelas Tiga di Malory Towers
Kelas Empat di Malory Towers
Semester Terakhir di Malory Towers

Walaupun keenam buku itu membentuk suatu serial, setiap buku berdiri sendiri dan bisa dibaca secara terpisah. Tokoh-tokohnya sama, sementara perkembangan tiap tokoh bisa diikuti dengan membaca buku-buku tadi secara keseluruhan.

Selasa, 03 Juli 2012

Kelas Lima di Malory Towers


Penulis: Enid Blyton
Alih bahasa: Djokolelono
Cover: Eric Alexander
Penerbit: Gramedia
ISBN: 978-979-22-4798-5
Cetakan kedelapan: Juli 2010

236 halaman


Ada tiga anak baru, Maureen, Catherine, dan Moira si pemarah dan keras kepala. Dua diantara mereka adalah anak yang tinggal kelas di kelas lima.


Maureen: sekolahnya ditutup karena kepala sekolahnya meninggal dunia, dia terlalu banyak bicara, sifatnya mirip sekali dengan Gwendoline, suka menyombongkan diri.

Catherine Gray: ia terlalu alim, tidak pernah berkata buruk tentang orang lain, suka melakukan apa saja bagi siapa saja sampai-sampai dijuluki Santa Catherine.

Moira Linton: keras kepala, selalu ingin berkuasa, dia terlalu muda untuk kelas enam, sehingga sekolah memutuskan untuk tinggal kelas.

Bill sekarang bersahabat dengan Clarissa, mereka datang ke sekolah dengan naik kuda. Kalau Gwendoline bisa ditebak, setiap tahun ada aksi tangis-tangisan dengan ibu dan gurunya. Gwendoline datang terlambat, teman-teman membuat Maureen memuja Gwendoline karena merasa mereka akan cocok.

Tantangan semester ini adalah menyelenggarakan hiburan Natal yang harus dikerjakan sendiri, mulai dari ketua penyelenggara sampai para pemain.

Moira yang menjadi ketua kelas karena dia dianggap lebih dewasa. Irene membantu dibidang musik, Belinda di bidang dekorasi, Janet di kostum, Mavis di nyanyian. Sedangkan Alicia, Darell, Sally dan Moira menjadi pengurus organisasi. Pertunjukan yang mereka pilih adalah Pantomim yang berkisar pada kisah Cinderella.

Tahun ini menjadi tahun tersibuk Darrel, selain membuat pertunjukan Natal, dia juga menjadi kapten pertandingan, bertanggung jawab untuk melatih dan membentuk anak-anak kelas rendah. Darrel tidak sendirian, ada Sally yang selalu menemani dan mendukung.

Selain sebagai anggota, Darrel juga ditugaskan membuat naskah pantomim. Di sela-sela kesibukannya, Darrel harus berhadapan dengan June yang merasa tidak puas dengan keputusan memilih regu-regu pertandingan.

Muslihat kali ini datang dari June, di mana dia menggembungkan diri sendiri.
Gwendoline sebal dengan Maureen, mereka bersaing mendapatkan peran sebagai Cinderella, yah mereka memang terlalu pede, emraa bisa melakukan apa saja jauh lebih baik dari siapa saja. Anak-anak kelas lima mempunyai siasat untuk membuat Maureen jera akan sikapnya yang memuja diri sendiri, terlalu menilai tinggi diri sendiri, mengasihani diri sendiri.

Masalah terbesar adalah kekeras kepalaan Moira dan Alicia yang membuat pertunjukkan terancam batal, selain itu ada surat kaleng yang ditujukan untuk Moira.
Kau abndel, kau sulit diatur, kau keras kepala, kau suka menentang, dan kau sedikit pun tidak memiliki rasa hormat pada siapa pun. Mungkin kau berpikir itu semua gagah dan berani. Sama sekali tidak. itu adalah tanda-tanda suatu pribadi yang kuat tetapi menyeleweng, menjurus ke arah keliru. Dan lebih dari semua, ternyata sebetulnya seorang pengecut. Sebab hanya seorang pengecut saja yang menulis surat kaleng.
Selain June yang melakukan muslihat, ada Mam'zelle yang akan menghibur murid-muridnya dengan muslihat yang dia buat, muslihat apakah itu? baca sendiri :)

3 sayap untuk Pantomim Cinderella. 

Senin, 02 Juli 2012

Kelas Empat di Malory Towers


Penulis: Enid Blyton
Alih bahasa: Djokolelono
Cover: Eric Alexander
Penerbit: Gramedia
ISBN: 978-979-22-4766-4
Cetakan kedelapan: Juli 2010
228 halaman

Ada tiga anak baru, si lemah jantung dan si kembar.

Kali ini Darrell tak hanya berangkat dengan Sally, kali ini dia datang ke sekolah yang dielu-elukan itu dengan adiknya, Felicity. Darrell sangat gembira begitu pula dengan Felicity karena kakaknya sering bercerita tentang sekolah asrama itu. Darrell ingin mengajak Felicity berkeliling Malory Towers, sayangnya setelah sampai di sekolah Darrell lupa akan adiknya, dia terlalu senang bertemu teman-temannya lagi. Jadinya Felicity berteman dengan June, sepupu Alice dan Darrell tidak suka dengannya.

Connie dan Ruth: si kembar yang aneh, semua kegiatan mereka Connie yang menghandle, bahkan dalam berbicara pun Ruth tidak memiliki kebebasan, selalu Connie yang menjawab, membuat murid-murid Malory Towers kesal padanya.

Clarissa Carter: penampilannya culun dan buruk rupa, dia juga lemah jantung, tidak boleh melalukan kegiatan yang terlalu berat, misalnya olahraga. Gwendoline langsung mendekati Clarissa dan menjadikannya sahabat dan dia mencontoh kelemahan Clarissa, berpura-pura lemah jantung agar bisa tidak mengikuti olahraga dan ujian.

Semester ini Darrel yang menjadi ketua kelas, Felicity sangat bangga padanya.
Selalu ada kata bijak dari Nona Grayling:
Suatu hari kau akan meninggalkan sekolah ini dan terjun ke kehidupan sebagai seorang wanita muda. Kau harus membawa serta kemampuan untuk bisa mengerti apa saja, menerima tanggung jawab, penampilan sebagai wanita yang patut dicintai dan dipercayai. Bagiku, muridku kuanngap berhasil bukan karena ia bisa lulus ujian. Walaupun hal ini juga cukup berarti. Seseorang yang kuanggap sanggat berhasil adalah dia yang belajar untuk memiliki hati yang lembut, otak yang cerdas, kepribadian yang bisa dipercaya… seseorang yang bisa dijadikan tumpuan harapan orang disekelilingnya.
Tantangan terberat Darrell sebagai ketua kelas adalah selain menggurus Felicity, dia harus menjaga Clarissa agar tidak terpengaruh akan bualan Gwendoline. Membuat Ruth angkat bicara sendiri, tidak ingin membiarkan Connie bertingkah seperti pelayan Ruth saja.

Yang asik di semester ini: Belinda masih saja menggumpulkan cemberut, pesta tengah malam, muslihat gelembung kecil yang muncul dari tablet yang diolesi cairan yang nantinya meletus dengan suara “Ping!”
June yang menyebalkan dengan mulut besarnya dan aksi bals dendam yang ingin dia lakukan terhadap Alicia, yang bisa merugikan teman-teman Alicia yang lain. Kali ini Darrel tidak bisa mengontrol amarahnya menghadapi June, siasat Gwendoline agar bisa lepas dari ujian, siasat Connie agar dia bisa terus bersama Ruth.

Semua itu menjadi tantangan Darrell di kelas empat ini.

3 sayap untuk pesta tengah malam.

Minggu, 01 Juli 2012

Kelas Tiga di Malory Towers


Penulis: Enid Blyton
Alih bahasa: Djokolelono
Cover: Eric Alexander
Penerbit: Gramedia
ISBN: 978-979-22-4765-7
Cetakan kedelapan: Juli 2010
241 halaman

Tiap semester ada anak baru, mereka adalah Zerelda yang bermimpi menjadi pemain film sampai-sampai penampilannya dewasa sebelum waktunya, dan Wilhemina yang lebih suka dipanggil Bill, dia mempunyai tujuh kakak laki-laki dan sangat menyukai kuda, nggak heran kalau dia tomboy.
Kali ini Salli tidak langsung masuk sekolah karena Selesma. Ketidakhadirannya membuat Darrell kesepian tapi tidak lama karena Alicia datang menggantikan posisi Sally.

Bicara tentang anak baru:
Zerelda: dewasa sebelum waktunya, tatanan rambut, riasan yang mencolok, memakai lipstick yang membuat dia sering dimarahi guru. Dia pindahan dari Amerika. Dia bercita-cita menjadi artis dan sangat mengingginkan peran utama, bahkan sangat terobsesi.
Wilhemina: lebih suka dipanggil Bill, di otaknya hanya ada halilintar, kuda kesayangannya, sampai-sampai dia tidak memperhatikan sekolahnya, hanya ada Halilintar.
Satu lagi murid yang’mencolok’ bukan murid baru tapi di buku sebelumnya jarang terlihat.
Mavis: memuja suaranya, bercita-cita menjadi penyanyi opera. Suaranya memang sangat indah dan terlatih baik, sayangnya dia egois, merasa sempurna karena suaranya indah. Zerelda dan Mavis mempunyai kesamaan: sama-sama suka membual, sangat terobsesi dengan mimpinya.

Konflik di buku ini: kenarsisan Zereldan dan Mavis, banyaknya angka peringatan yang diperoleh Zerelda menyebabkan dia harus turun kelas, sekelas dengan Darrell. Gwendoline sangat senang karena ada anak yang cantik dan dipujanya sekelas, dia ingin menjadikannya sahabat. Sally yang merasa cemburu dengan kedekatan Darrell dan Alice, aksi nekat Mavis.

Yang seru: muslihat Alice mengerjai guru mereka dengan Bersin, Darrell dengan permainan lacrosse, Bill dengan Nona Peters dan kelembutan tersembunyi Nona Peters.

Semua keriuhan ini ada di kelas tiga.

3 sayap untuk lacrosse

Sabtu, 30 Juni 2012

Kelas Dua di Malory Towers


Penulis: Enid Blyton
Alih Bahasa: Djokolelono
Cover: Eric Alexander
Penerbit: Gramedia
ISBN: 978-979-22-4728-2
Cetakan kesepuluh: Juli 2010
240 halaman

Liburan berakhir, Darrell sudah tidak sabar kembali ke sekolah dan bertemu dengan teman-temannya. ada murid baru mereka adalah Ellen Wilson si pencemas, Belinda Morris si pelupa seperti Irene dan sangat pandai menggambar, dan terakhir Daphne Millicent Turner yang sifatnya mirip Gwendolin, sombong, suka pamer kekayaan keluarganya.

Setiap datang ke Malory Towers, Nona Gralyng sang kepala sekolah yang berwibawa akan berkata:
Kalian akan memperoleh pelajaran banyak dari Malory Towers, jadi kuharap kalian juga mau berbuat banyak untuknya dengan menjadi salah satu murid yang berhasil. yang aku anggap murid yang berhasil adalah mereka yang bisa diandalkan oleh masyarakat sekelilingnya kelak. bagi kami kegagalan adalah mereka yang tidak berhasil mempelajari apa saja yang diajarkan di sini.
Tahun ini Sally Hop menjadi ketua kelas dan itu membuat Alice cemburu. Alasan guru tidak memilihnya karena dia suka mengejek murid yang tidak pandai, mereka seharusnya dibantu bukannya malah diejek. Walau usil Alice cerdas, cepat menyerap perlajaran, Alice lucu tapi lidahnya tajam.
Alice akan selalu dikagumi dan diirikan oleh anak lain. Tetapi ia tak akan bisa merebut rasa sayang dan persahabatan sejati dari teman-temannya. Tentang Betty, yang selama ni dekat dengannya, memang pandai juga. Tetapi dibanding Alicia, otaknya kosong, otak Alicia sungguh cermelang, dan tak pelak lagi, salah satu yang terbaik di sekolah ini. tetapi hatinya adalah salah satu yang terburuk. Sally Hop pribadinya lebih mantap, setia, berhati lembut, dan adil.
 Membicarakan anak baru.
Belinda: dengan sifaynya yang pelupa dan pandai menggambar, dia mudah berteman dengan yang lain, sifat pelupanya tidak jarang membuat orang lain tertawa. nantinya dia akan bersahabat dengan Irene yang sama-sama pelupa.

Ellen: dia terlalu memikirkan pelajaran, dia bisa bersekolah di Malory Towers karena mendapat beasiswa, tdia tidak ingin menyinyiakannya, keluarganya miskin, membuat dia belajar lebih keras dan melakukan apa pun untuk tinggal kelas. Dia juga tidak punya sahabat, suka menyendiri. Jean berusaha mendekatinya, berteman dengannya.

Daphne: sifatnya mirip Gwendoline membuat mereka menjadi sahabat dekat, karena tidak ada yang mau. dia sangat cantik tidak jarang orang kagum padanya. Salah satunya adalah mary-Lou, bahkan dia sampai rela mengerjakan PR Daphne. Daphne akan sadar siapa nanti yang akan menjadi sahabat setianya.
Kegemparan apa saja di semester ini? kapur ajaib, mam'selle Dupont dan Rougier yang bersitegang dalam pemilihan pemain untuk di drama untuk pertunjukan akhir semester. Buku berisi gambar karikatur pertengkaran mereka yang dibuat oleh belinda. Ellen yang terdesak, ada pencurian di Malory Towers. Konfliknya lebih banyak dan seru.
Semua orang punya sifat baik dan buruk dan kita semua harus berusaha keras untuk menekan sifat buruk kita, dan berbuat hanya yang baik saja. Kita takkan pernah sempurna. Sekali-kali kita akan berbuat baik, sekali-sekali kita akan berbuat buruk. yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha melenyapkan perbuatan buruk kita dengan berbuat kebaikan.
Kadang saya merasa kasian dengan Gwedoline tidak pernah punya sahabat tetap, tapi sifatnya memang menyebalkan sih. Walau ngeselin, ada sifat Gwendoline yang saya suka, dia tidak mau berhutang jika uangnya habis. lebih baik mengirim surat ke ibunya dan minta dikirimi uang. Karakter mereka makin lama memang makin berkembang, seperti Darrell yang sudah lebih bisa menguasai diri, tidak meledak-ledak kalau marah. Masih ada kalimat kasar di buku ini, contohnya adalah menyebut orang dengan keledai.
Pelajaran yang dapat diambil dari buku ini adalah: jangan suka menuduh orang lain jika belum ada bukti, belajar memaafkan dan memberi kesempatan kedua.

3 sayap untuk si pelupa.

Selasa, 01 Mei 2012

Semester Pertama di Malory Towers


Sinopsis:
Darrell Rivers mulai bersekolah di Malory Towers - sekolah berasrama di tepi pantai yang kegiatan utamanya adalah tenis dan renang. Di sekolah khusus anak perempuan ini Darrell dengan cepat menyesuaikan diri. Ia memperoleh beberapa teman baru, termasuk Alicia yang nakal tapi cerdas dan gemar melakukan berbagai muslihat untuk menjebak guru-gurunya. Namun, dalam semester pertamanya Darrell tidak selamanya bergembira. Banyak persoalan pelik yang harus dihadapinya: sifatnya yang suka tak bisa mengendalikan diri bila marah, sikap Sally Hope yang aneh, dan godaan keterlaluan terhadap Mary-Lou.

My Review
Sebenernya review ini ditujukan untuk posting bareng BBI yang bertema buku anak entah kapan itu, bacanya sih tepat waktu hanya saja reviewnya yang sangat ngadat :(.

Baca buku ini mengingatkan saya pada Alice-Miranda at School pengalaman pertama bersekolah di asrama. Awalnya kita sangat antusias, tapi ketika banyak masalah yang muncul dengan banyaknya cewek di sekolah yang sama mungkin akan berpikir ulang, ternyata nggak seindah bayangan kita.

Darrell bertemu murid-murid Malory Tower lainnya, yang memiliki sifat berbeda-beda. Sepuluh anak  di asrama kelas satu di Menara Utara selain Darrell adalah Alicia yang sangat ceria, pede, berlidah tajam. Sally Hope yang penyendiri, mandiri dan seperti tidak butuh orang lain.Gwendoline yang mengesalkan, tidak bisa berpisah dari ibunya dan sangat manja. Ada juga Marry-Lou yang sangat penakut. Katherine sang kepala kamar merangkap ketua kelas patut menerima jabatan itu karena dia memang adil. Irene yang sangat pandai tapi sangat tolol di luar pelajaran. Jean, anak yang rajin dan pandai memegang uang untuk keperluan sekolah. Emily, pendiam dan rajin, selain itu juga pandai merajut. Violet, dia sering tidak diajak dalam berbagai hal, dia tidak tertari.

Darrel sangat mengagumi Alicia, mengagumi kecerdikannya dan keusilannya, dia ingin sekali menjadi sahabat Alicia, tapi apakah benar dia bisa menjadi sahabat yang baik bagi Darrell? Darrell tidak suka dengan Gwendoline, dia suka membual dan sangat kejam terhadap temannya sendiri, sampai-sampai Darrell kehilangan kesabaran menghadapi tingkah lakunya. Darrell sebal dengan Marry-Lou, sebal karena dia sangat penakut, Darrel ingin membuat dia lebih berani. Darrell tidak tahu kenapa Sally tidak mau dibantu, hidupnya penuh tanda tanya.

Itulah permasalahan yang dihadapi Darrell di musim pertamanya di Malory Tower. Darrel mencoba mengatasinya sendiri karena dia belum tahu siapa yang pantas menjadi sahabatnya, di tengah membantu masalah-masalah temannya, dia bisa menentukan siapa yang pantas.
Quote favorit:
Tetapi karena malu saja ia takkan bisa mengumpulkan keberaniannya. Tak akan ada yang bisa membuatnya berani kecuali dirinya sendiri - Sally.
Menginggatkan saya waktu sekolah dulu, kita mengagumi orang yang pintar dan populer dan ingin sekali berteman dengannya, tapi kadang orang tersebut tidak menaggapi maksut kita, dia juga penggenya berteman dengan orang yang sama-sama populer. Itu yang saya rasakan pada diri Darrell, teman sejati itu nggak harus pintar dan populer tapi dia benar-benar tahu siapa diri kita, memahami dan menerima kita apa adanya. Lambat laun dia bisa menentukannya dengan munculnya permasalahan yang dihadapinya dan juga teman-temannya.

Baru kali ini baca bukunya Enid Blyton, ada ilustrasi yang jadul tapi mungkin memang menggambarkan masanya Darrell, hehe. Yang kurang saya suka adalah ada bahasa yang cukup kasar dan tingkah laku yang tidak pantas ditiru, padahal ini buku anak-anak jadi yah perlu bimbingan orang tua kalau anak kecil membacanya. Saya belum merasakan greget buku ini, mungkin karena lebih ke perkenalan sekolah dan teman-teman Darrell sehingga belum banyak konflik yang muncul. Berharap buku selanjutnya akan lebih seru.
3 sayap untuk Malory Tower

Semester Pertama di Malory Tower
Penulis: Enid Blyton
Alih bahasa: Djokolelono
Cover: Eric Alexander
ISBN: 978-979-22-4727-5
Cetakan kesebelas, Juli 2010
248 halaman

Rekomendasi Bulan Ini

Buku Remaja yang Boleh Dibaca Siapa Saja | Rekomendasi Teenlit & Young Adult

K urang lebih dua tahun yang lalu saya pernah membahas tentang genre Young Adult dan berjanji akan memberikan rekomendasi buku yang as...