Penulis: Sarah Dessen
Alih bahasa: Mery Riansyah
Editor: Nina Siti Aminingsih
Desainer sampul: Amelia Maulida Luviantina
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
ISBN: 978-623-00-4896-8
Cetakan pertama, 4 juni 2019
392 halaman
Beli sendiri
Emma Saylor tidak terlalu mengingat sosok mendiang ibunya, tetapi dia mengingat danau yang selalu diceritakan oleh sang ibu; danau di North Lake yang membentang luas dengan air dingin nan jernih dan pepohonan berlumut di tepian. Kini Emma hidup nyaman, tetapi kehidupannya terasa datar sampai suatu hari dia terpaksa menghabiskan liburan musim panas di North Lake bersama keluarga ibunya"seorang nenek dan beberapa sepupu yang terakhir kali ditemuinya saat dia masih kecil.Saat tiba di sana, Emma menyadari bahwa North Lake terbagi menjadi dua komunitas yang terpisah oleh danau yang sudah familier baginya: Komunitas kelas menengah ke bawah tempat ibu Emma tumbuh besar dan komunitas kelas menengah ke atas tempat ayah Emma menghabiskan musim panas saat masih muda, lalu bertemu ibu Emma.Di dunia yang sama sekali baru baginya, Emma merasa dirinya terbelah menjadi dua orang yang berbeda. Lalu, ada Roo pemuda yang perlahan membantu Emma menyatukan kepingan-kepingan tentang sosok ibu Emma. Ketika tiba saatnya untuk pulang, sisi manakah yang akan Emma pilih?
Musim panas kali ini Emma Taylor nyaris tidak punya tempat tinggal. Rumahnya di renovasi, ayahnya akan berbulan madu ke Yunani dan neneknya akan berlibur dengan kapal pesiar ke Maroko dan Mesir. Awalnya dia akan tinggal dengan sahabatnya, Bridget tapi sesuatu terjadi dengan kakeknya. Lalu Nana, neneknya teringat dengan satu nama, yang tentu masih termasuk keluarga, Mimi Calvander, nenek dari ibunya yang sudah meninggal.
Terakhir Emma pergi ke North Lake atau sebuah kota danau yang terkenal dengan dermaga apungnya adalah ketika dia berusia empat tahun. Dia tidak pernah pergi ke sana lagi karena ayahnya tidak menyukainya, setelah kematian ibunya dia tidak ingin menginggatkan Emma akan kenangan buruk, makanya awalnya dia menentang ide itu, tapi tidak ada pilihan lain, toh hanya tiga minggu dia 'menginap' di sana, begitu Emma meyakinkan ayahnya.
Tempat tersebut terbelah menjadi dua dipisahkan oleh danau yang membentang luas. Lake North untuk kelas menengah ke atas, tempat yang dulu dikunjungi keluarga Payne, sedangkan North Lake menengah ke bawah, tempat keluarga ibunya tinggal dan mengelola motel Calvander's. Saat datang dia merasa asing sekaligus familier, Emma samar-samar menginggat kenangan masa kecil di tempat tersebut tapi di sisi lain dia tidak begitu ingat apa yang dulu dia alami. Melalui foto-foto yang menjadi potret kenangan masa lalu, Emma menyusuri lagi baik kenangannya dan kenangan ibunya, apa yang membuat ibunya hancur.
"Nah, 'kan? Dan, itu baru buku! ujarku. "Dalam kehidupan, bab-bab berjalan selamanya. Atau, lama sekali."
Kudorong kursiku ke belakang dan kubawa gelasku ke bak cuci yang masih ada piring-piring bekas semalam. Apakah mereka bahkan menyadari aku selalu muncuci dan menaruh semuanya ke tempat semula? Mungkin tidak. Namun itu membuatku merasa nyaman, seakan-akan aku bagian dari ini semua dengan caraku sendiri.
Dari semua buku terjemahan Sarah Dessen yang pernah saya baca, buku ini bisa dibilang yang memiliki tema keluarga yang paling kental. Tidak bisa dipungkiri, tema keluarga hampir selalu dia sisipkan selain tentang pencarian jati diri, musim panas dan cinta yang mulai bersemi. Bukan berarti tidak ada kisah cintanya, saya selalu menyukai bagaimana Sarah Dessen mendeskripsikan kedua tokoh utamanya bertemu pertama kali, sesuatu yang manis dan romantis. Hanya saja buku ini lebih bercerita tantang Emma yang mulai kembali mengenal keluarga ibunya yang sudah dia lupakan.
Yang awalnya sepupunya menganggap dia hanya seorang gadis kaya yang sedang berlibur, menjadi mengenal satu sama lain dengan membersihkan motel, hubungan mereka mengalir secara natural. Trinity yang sarkas dan blak-blakan, Brailey yang serba tau dan realistis, Jack yang memang seperti kakak, dan Gordon, gadis kecil yang memiliki dua nama seperti dirinya, juga sifatnya, anak dari sepupu ibunya. Dia juga bertemu kembali dengan Roo, seorang pemuda manis yang ternyata sewaktu kecil mereka lengket sekali. Tidak perlu waktu lama dia diterima, di North Lake, Emma tidak mendapatkan sebuah kemewahan, di sana dia menjadi Saylor, mendapatkan kehangatan.
Membaca buku ini menginggatkan saya pada saya dan para sepupu, di mana ketika kita kecil kita sangat dekat sekali, bermain bersama, mandi bahkan tidur bersama, semua dilalui dengan riang gembira. Namun, ketika kita sudah besar, akan ada jarak, yang kadang bikin canggung, merasa jauh. Itulah yang dirasakan Emma Saylor, dia merasa asing dengan para sepupunya, bahkan dengan Roo di mana di setiap foto yang dia temukan mereka selalu bersama tak terpisahkan. Ketika dia sudah merasa nyaman dan dekat, ayahnya kembali, menyadarkan akan selalu ada pemisah.
Adegan favorit adalah ketika Emma mencuci piring, karena tidak ada yang mau melakukan hal tersebut, maka dia mengambil alih, dia merasa berguna, merasa menjadi anggota keluarga. Juga ketika dia membeli roti dan mentega, sarapan favorit keluarga Calvander yang sudah sangat Emma hapal. Sedangkan adegan favorit dengan Roo adalah, semua romantis, sayang banget hal ini tidak menjadi fokus utama, salah satu kekurangan buku ini alias yang nggak saya suka! Walau tidak banyak, semua berkesan banget, mulai dari mereka pertama bertemu di dermaga apung, bertelepon ketika Emma ada di hotel dan kena hukuman dari ayahnya sampai Roo menceritakan setiap foto dengan detail dan hapal di album yang berisi ibunya. Kelebihan buku ini? Tentu saja keluarga Calvander yang hangat dan berisik.
Kalau kamu menyukai buku yang kental akan relasi keluarga, buku ini sangat cocok apalagi di baca saat liburan. Kalau ingin membaca kisah cinta yang manis, buku ini juga cocok.
3 sayap untuk The Allies.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*