Tampilkan postingan dengan label Childrens. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Childrens. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 April 2016

Resensi: The BFG Karya Roald Dahl

Judul buku: The BFG - Raksasa Besar yang Baik
Penulis: Roald Dahl
Alih bahasa: Poppy Damayanti Chusfani
Editor: Dini Pandia
Ilustrasi: Quentin Blake
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-5337-5
Cetakan kedua, Agustus 2010
200 halaman
Pinjam @alvina13
Suatu malam Sophie diculik raksasa. Tadinya ia mengira akan ditelan bulat-bulat, namun ternyata raksasa itu malah melindunginya.

BFG, demikian nama si raksasa, memberitahu Sophie bahwa dialah yang meramu mimpi-mimpi lantas dengan trompet meniupkannya ke dalam kamar anak-anak yang terlelap.

Sayang ketenteraman mereka tidak bisa berlangsung lama, karena Sophie dan BFG harus memutar otak untuk membuyarkan rencana raksasa-raksasa lain yang ingin memakan anak-anak di berbagai penjuru negeri.

Rabu, 30 Maret 2016

Resensi: A Monster Calls Karya Patrick Ness

Judul buku: A Monster Calls - Panggilan Sang Monster
Penulis: Patrick Ness
Ide cerita: Siobhan Down
Ilustrasi: Jim Kay
Alih bahasa: Nadya Andwiani
Editor: Barokah Ruziati
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-2081-6
Cetakan pertama, Februari 2016
216 halaman
Beli di #petibukuid
Sang Monster Muncul Persis Lewat Tengah Malam. Seperti Monster-Monster Lain. Tetapi, dia bukanlah monster seperti yang dibayangkan Conor. Conor mengira sang monster seperti dalam mimpi buruknya, yang mendatanginya hampir setiap malam sejak Mum mulai menjalani pengobatan, monster yang datang bersama selimut kegelapan, desau angin, dan jeritan… Monster ini berbeda. Dia kuno, liar. Dan dia menginginkan hal yang paling berbahaya dari Conor. Dia Menginginkan Kebenaran.

Dalam buku karya dua pemenang Carnegie Medal ini, Patrick Ness merangkai kisah menyentuh tentang cinta, kehilangan, dan harapan. Ia menulisnya berdasarkan ide final Siobhan Dowd, penulis yang meninggal akibat kanker.

Ini memang kisah sedih. Tetapi kisah ini juga bijak, kelam namun lucu dan berani, dengan kalimat-kalimat singkat, dilengkapi gambar-gambar fantastis dan keheningan-keheningan yang menggugah. A MONSTER CALLS merupakan hadiah dari penulis luar biasa dan karya seni yang mengagumkan.

Sabtu, 09 Mei 2015

Anne of Green Gables by Lucy M. Montgomery | Book Review

Anne of Green Gables
Penulis: Lucy M. Montgomery
Penerjemah: Maria M. Lubis
Ilustrasi isi: Sweeta Kartika
Desain sampul: A.M. Wantoro
Penerbit: Qanita
Edisi kedua: Cetakan pertama, Januari 2015
ISBN: 978-602-1637-51-7
512 halaman
Buntelan dari @penerbitmizan
Anne, gadis yatim piatu berusia 11 tahun, datang ke Desa Avonlea karena kekeliruan. Marilla dan Matthew Cuthbert ingin mengadopsi anak untuk membantu mengurus Green Gables. Tapi bukannya anak lelaki, panti asuhan malah mengirim gadis kecil berambut merah, Anne. Awalnya, Marilla dan Matthew ingin mengembalikan Anne. Namun, sikap gadis itu yang ceria, blak-blakan, dan kepolosannya yang kadang konyol, meluluhkan hati Marilla dan Matthew.



Anne, gadis penuh imajinasi, setiap hari dia lewati penuh pengalaman seru. Menjelajahi Kanopi Kekasih, Danau Air Riak Berkilau, Permadani Violet, Hutan Berhantu, dan Ratu Salju. Berpetualang dengan sahabat-sahabatnya, Diana, Jane, dan Ruby. Berseteru dengan Pye bersaudara dan Gilbert, musuh bebuyutannya. Gilbert yang memanggilnya dengan sebutan Wortel!


Anne, kisah menyentuh gadis berambut merah, karya legendaris Lucy Maud Montgomery yang dicintai para gadis di seluruh dunia hingga kini.

Rabu, 31 Juli 2013

Manxmouse

10908273
Manxmouse
by Paul Gallico
Penerjemah: Maria Lubis
Cover: Ella Elviana
Penerbit: Media Klasik Fantasy (a division of Mahda Books)
ISBN: 978-602-97067-3-4
Cetakan pertama, April 2011
227 halaman
Buntelan dari @MahdaBooks

Perkenalkan, namanya Manxmouse, dia adalah mahakarya gagal seorang perajin keramik asal Buntingdowndale, London. Dia kira dia telah membuat tikus paling indah dan paling halus yang pernah diciptakan, ketika dia membuka tungku, dia melihat bahwa yang diciptakan bukanlah makhluk super, tetapi suatu bencana, yang tidak pernah ada sepanjang sejarah pembuatan keramik.

Tikus itu warnanya bukan kelabu tetapi biru terang. Makhluk itu memiliki tubuh mungil yang gemuk seperti seekor opossum -hewan kecil berkantung yang bisa tinggal di pepohonan. Kaki belakangnya mirip kaki kanguru, cakar depan mirip monyet, lalu, telinganya mirip telinga kelinci. Namun, yang paling buruk dari semuanya adalah makhluk itu tidak memiliki ekor, hanya sebuah tonjolan kecil yang mungkin merupakan pangkal sebuah ekor. Perajin keramik merasa gagal total.

Selasa, 30 April 2013

Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken

1494179
Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken
Penulis: Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup
Penerjemah: Ridwana Saleh
Penerbit: Penerbit Mizan
ISBN: 979-433-415-4
Cetakan I, Mei 2006
294 halaman

Sinopsis:

Dua saudara sepupu, Berit dan Nils, tinggal di kota yang berbeda. Untuk berhubungan, kedua remaja ini membuat sebuah buku-surat yang mereka tulisi dan saling kirimkan di antara mereka. Anehnya, ada seorang wanita misterius, Bibbi Bokken, yang mengincar buku-surat itu. Bersama komplotannya, tampaknya Bibbi menjalankan sebuah rencana rahasia atas diri Berit dan Nils. Rencana itu berhubungan dengan sebuah perpustakaan ajaib dan konspirasi dalam dunia perbukuan. Berit dan Nils tidak gentar, bahkan bertekad mengungkap misteri ini dan menemukan Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken. Melalui cerita yang bernuansa detektif ini, Jostein Gaarder, pengarang Sophies World, dan Klaus Hagerup, mengajak kita berpetualang dalam dunia buku dan perpustakaan. Tanpa sadar, Anda akan diperkenalkan dengan Klasifikasi Desimal Dewey, Winnie the Pooh, Anne Frank, teori sastra, teori fiksi, teori menulis, sejarah buku dan perpustakaan, dan masih banyak lagi. Dengan demikian, buku ini adalah pengantar kepada dunia buku yang dapat dinikmati pembaca kanak-kanak, remaja, maupun dewasa. Buku terbaik mengenai buku dan budaya-baca yang ada saat ini." Oldenburgische Volkszeitung. Sebuah surat cinta kepada buku dan dunia penulisan." Ruhr Nachricht

Senin, 11 Maret 2013

Momo

2189720

Momo
Penulis: Michael Ende
Alih bahasa: Hendarto Setiadi
Desain sampul: Eduard Iwan Mangopang
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 979-22-0943-3
Cetakan pertama, Juli 2004
320 halaman
Pinjam @pippopu

Anak perempuan kecil itu bernama Momo, penampilannya aneh dan selalu kotor, ia pendek dan kurus sehingga tidak ada yang tahu dia berusia delapan atau sudah dua belas tahun. Dia tinggal di reruntuhan amfiteater. Dia tidak tahu siapa orangtuanya, tidak tahu tentang asal usulnya tapi dia bersahabat dengan banyak orang, orang-orang dari lingkungan sekitar yang tidak jauh dari  tempat tinggalnya. Momo mempunyai bakat, sebuah bakat yang amat dibutuhkan. Kalau mereka tidak bisa menemui Momo maka dengan baik hati Momo akan datang membantu memecahkan masalah mereka, "Coba cari Momo!". Bukan sebuah bakat yang luar biasa, sebuah bakat yang sebenarnya dimiliki setiap orang, kalau mereka sadar. Bakat yang dimiliki Momo kecil adalah: mendengarkan. Di mana hanya sedikit orang yang sanggup mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Dan kemampuan Momo mendengarkan tidak ada tandingannya.

Selasa, 29 Januari 2013

Dunia Adin

2208208
Penulis: Sundea
Ilustrator: Triyadi Guntur W.
Penerbit: Read! Publishing House
ISBN: 978-979-3828-56-5
Cetakan pertama, September 2007
268 halaman
Harga: pinjam mbak @sinta_nisfuanna

Saya mulai suka membaca, benar-benar tertarik pada dunia baca ketika saya SMP, itu pun lebih ke komik. Sebelumnya saya tidak tertarik dengan children literatur karena merasa sudah sok dewasa, bacaan yang pernah saya enyam waktu kecil pun novel romance, novel dewasa, hahaha, dewasa sebelum waktunya. Baca Bobo aja nggak tertarik. Kemudian tahun lalu saya mencoba merambah children's literatur dalam proses perluasan genre bacaan saya, dimulai dengan meminjam buku anak dari penulis yang terkenal, Enid Blyton. Nggak tanggung-tanggung, mbak (berasa aneh penambahannya :p) Dewi meminjami saya dua boxset buku dari Enyd Blyton, seri Malory Towers dan St. Clare. Saya membaca terlebih dahulu seri Malory Towers karena banyak yang bilang bagus, keren, memorable, memicu orang untuk sekolah di asrama, tapi kesan yang saya dapat adalah cerita tentang anak-anak iri dengki, proses pendewasaan dengan berbagai drama, kata-kata atau perbuatan kasar dan saya tidak nyaman membacanya. Saya bisa bertahan membaca keenam seri tersebut namun gagal dalam seri St. Clare, hanya membaca seri pertama dan itu pun ceritanya nggak jauh beda dari Malory Towers. 

Senin, 23 Juli 2012

Si Kembar di Sekolah yang Baru


Si_kembar

by Enid Blyton
Alih bahasa: Agus Setiadi
Penerbit: Gramedia
ISBN: 978-979-22-5298-9
Cetakan kedelapan: Juli 2010
262 halaman

Sinopsis:
Pat dan Isabel sebal sekali ketika harus bersekolah di St. Clare -sekolah putri berasrama. Mereka yakin mereka tak akan senang di sana. tapi setelah mereka benar-benar masuk St. Clare dan berkenalan dengan Hillary, Janet, Kathleen, Sheila, dan lain-lainnya, yang terjadi justru sebaliknya.
Tanpa mereka sadari, mereka jatuh cinta pada St. Clare. Ini bisa dimaklumi. St. Clare memang sekolah yang penuh kegiatan dan keriangan. Dan juga keramaian, kerena gadis-gadis tanggung murid-murid sekolah itu berhobi sama: berbuat iseng. Yang jadi korban tentu saja para guru. tapi sebetulnya mereka gadis-gadis yang baik dan berbakat. Lihat saja prestasi mereka pada akhir semester.

Review:
Bisa dibilang buku ini kebalikannya Malory Towers, maksudnya tokoh utamanya pada mulanya dibenci sama temen-temennya, yah anggap aja kayak Gwendolin. Pat dan Isabel membenci sekolah barunya, tidak keren. Satu kamar di huni oleh banyak murid, tidak ada olahraga tenis, ditambah mereka harus melayani dan patuh akan perintah kakak kelas, Pat yang emosian tentu tidak sudi, sedangkan Isabel yang kalem dan penurut mau saja diperintah semena-mena. Karena membangkang dan mereka terkesan sombong, banyak anak yang tidak suka sama mereka. Selain itu mereka terlalu meremehkan pelajaran, di sekolah mereka yang dulu mereka bisa dibilang anak yang gemilang dan bebas, dengan aturan St, Clare yang ketat dan pelajaran yang sulit mereka benar-benar keteteran, tidak jarang dihukum sama guru. Lama-lama St. Clare merubah sifat mereka.

Buku ini alur mirip banget sama Malory Towers, karakter tokohnya pun tidak jauh berbeda, hanya beda nama. Keusilan-keusilan yang dilakukan kepada guru, pesta tengah malam, karakter murid-muridnya mirip. Karena habis membaca seri Malory Towers saya jadi membanding-bandingkan dan bosan membacanya, bisa ditebak. Seru sih, tapi saya jenuh. Mungkin kalau bacanya pas saya masih kecil jatuhnya beda. Pesan moral di sini adalah kekompakan, kerja sama, ketika salah satu berbuat salah maka kesalahan itu akan ditanggung bersama-sama karena semua juga ikut menikmatinya. Jadi buat adek-adek yang suka sama buku anak dan bercita-cita masuk sekolah asrama, saya sarankan membaca buku ini :). Saya suka covernya!

2.5 sayap untuk St. Clare

The Wind in The Willow

8194264
The Wind in The Willow: Embusan Angin di Pohon Dedalu
by Kenneth Grahame
Penerjemah: Rini Nurul Badariah
Cover: Ella Elviana
ISBN: 970-979-19926-4-0
Cetakan I: April 2010
Penerbit: Mahda Books

Selamat hari anak, hari ini saya akan mereview buku khusus anak, semoga bisa menjadi referensi ^^

Sinopsis:
Terjual lebih dari 100 juta kopi dan telah dicetak lebih dari 250 edisi dalam berbagai versi, The Wind in The Willow -pertama terbit tahun 1908- merupakan buku fabel terbaik sepanjang masa. Karya Kenneth Grahame ini tidak hanya bercerita mengenai petualangan seru, tetapi juga nilai-nilai persahabatan.

Kisah tentang persahabatan antara tikus tanah yang polos, tikus air yang mencintai sungai, luak yang bijaksana, serta katak yang ceroboh. Di tepi sungai yang indah dan hutan belantara yang angker, kisah mereka terjalin dengan indah dan mendebarkan.

Rabu, 04 Juli 2012

Semester Terakhir di Malory Towers



Penulis: Enid Blyton
Alih bahasa: Djokolelono
Cover: Eric Alexander
Penerbit: Gramedia
ISBN: 978-979-22-4799-2
Cetakan kesembilan: Juli 2010
239 halaman

Tidak banyak yang akan saya ceritakan di seri terakhir ini, mungkin akan lebih ke kesan-kesan saya pada semua seri Malory Towers karya Enid Blyton yang pertama kali saya baca ini.

Agak kecewa sama seri terakhir karena lebih banyak menyorot June dan Felicity. tidak seperti seri sebelumnya banyak petualangan, kejahilan, konflik yang dialami Darell dkk. Hanya ada satu anak baru, Amanda yang bertubuh besar dan pintar olahraga. Dia pindahan dari sekolah yang nilai prestasi olahraganya baik, bahkan Amanda bercita-cita mengikuti Olimpiade. Amanda menaruh perhatian besar pada June, dia menggangap kalau June mempunyai bakat besar, sama dengannya.

Yang saya sayangkan adalah banyak murid yang sekelas dengan Darrel tiap tahun menghilang, entah pindah atau sudah lulus duluan. Saya sampai akhir membaca buku ini bingung loh sebenarnya Darrel ini kelas berapa? Mungkin SMP sampai SMA kali ya? Soalnya setelah lulus dari Malory Towers Darrell, Sally dan Alice akan melanjutkan ke Universitas. Saya tidak masalah dengan setiap tahun ada anak baru, menandakan petualangan mereka akan lebih berwarna, tapi di akhir cerita ini saya merasa kehilangan sosok yang dati awal muncul, seperti Jean, Ellen, Zerelda.

Mengabaikan ketidakpuasan saya, buku ini cukup menghibur walaupun kalau untuk dibaca anak kecil perlu pengawasan, ada bahasa dan perbuatan yang kasar, terlebih dilakukan oleh anak perempuan. Tapi membaca buku ini serasa selokah di asrama itu seru sekali. Petualangan mereka seru dan beragam warna. kalau tidak salah cover Malory Towers ini sudah berganti sampai tiga kali, dan saya menyukai yang terakhir ini, tidak jadul :). Terjemahannya bagus sekali, tidak ada yang membuat bingung, padahal kapan pertama kali ini dibuat? Awet sampai sekarang.

3 sayap untuk perpisahan.

NB: Tentang Pengarang

Enid_blyton
Enid Blyton sudah menulis lebih dari 600 judul buku anak-anak yang telah diterjemahkan dalam banyak bahasa, sehingga bisa dinikmati oleh anak-anak di seluruh dunia. Walaupun buku-buku itu sudah lama ditulisnya, bahasa dan ceritanya tidak pernah ketinggalan jaman.

Enid lahir di London pada tangal 11 Agustus 1897, dan sejak kecil sudah pandai mengarang. Setelah ia besar dan menjadi guru, karyanya dipublikasikan oleh Teacher's World. Buku pertamanya, sebuah buku anak-anak berjudul Child Whispers, diterbitkan tahun 1922. Selain menulis, ia juga menerbitkan majalah Sunny Stories, yang telah diedit sejak tahun 1926. tahun 1953 akhirnya terbit Enid Blyton's Magazine, di majalah inilah untuk pertama kalinya Enid mendirikan Klub Lima Sekawan.

Semester Pertama di Malory Towers adalah buku pertama dalam seri Malory towers. Buku-buku lainnya:
Kelas Dua di Malory Towers
Kelas Tiga di Malory Towers
Kelas Empat di Malory Towers
Semester Terakhir di Malory Towers

Walaupun keenam buku itu membentuk suatu serial, setiap buku berdiri sendiri dan bisa dibaca secara terpisah. Tokoh-tokohnya sama, sementara perkembangan tiap tokoh bisa diikuti dengan membaca buku-buku tadi secara keseluruhan.

Selasa, 03 Juli 2012

Kelas Lima di Malory Towers


Penulis: Enid Blyton
Alih bahasa: Djokolelono
Cover: Eric Alexander
Penerbit: Gramedia
ISBN: 978-979-22-4798-5
Cetakan kedelapan: Juli 2010

236 halaman


Ada tiga anak baru, Maureen, Catherine, dan Moira si pemarah dan keras kepala. Dua diantara mereka adalah anak yang tinggal kelas di kelas lima.


Maureen: sekolahnya ditutup karena kepala sekolahnya meninggal dunia, dia terlalu banyak bicara, sifatnya mirip sekali dengan Gwendoline, suka menyombongkan diri.

Catherine Gray: ia terlalu alim, tidak pernah berkata buruk tentang orang lain, suka melakukan apa saja bagi siapa saja sampai-sampai dijuluki Santa Catherine.

Moira Linton: keras kepala, selalu ingin berkuasa, dia terlalu muda untuk kelas enam, sehingga sekolah memutuskan untuk tinggal kelas.

Bill sekarang bersahabat dengan Clarissa, mereka datang ke sekolah dengan naik kuda. Kalau Gwendoline bisa ditebak, setiap tahun ada aksi tangis-tangisan dengan ibu dan gurunya. Gwendoline datang terlambat, teman-teman membuat Maureen memuja Gwendoline karena merasa mereka akan cocok.

Tantangan semester ini adalah menyelenggarakan hiburan Natal yang harus dikerjakan sendiri, mulai dari ketua penyelenggara sampai para pemain.

Moira yang menjadi ketua kelas karena dia dianggap lebih dewasa. Irene membantu dibidang musik, Belinda di bidang dekorasi, Janet di kostum, Mavis di nyanyian. Sedangkan Alicia, Darell, Sally dan Moira menjadi pengurus organisasi. Pertunjukan yang mereka pilih adalah Pantomim yang berkisar pada kisah Cinderella.

Tahun ini menjadi tahun tersibuk Darrel, selain membuat pertunjukan Natal, dia juga menjadi kapten pertandingan, bertanggung jawab untuk melatih dan membentuk anak-anak kelas rendah. Darrel tidak sendirian, ada Sally yang selalu menemani dan mendukung.

Selain sebagai anggota, Darrel juga ditugaskan membuat naskah pantomim. Di sela-sela kesibukannya, Darrel harus berhadapan dengan June yang merasa tidak puas dengan keputusan memilih regu-regu pertandingan.

Muslihat kali ini datang dari June, di mana dia menggembungkan diri sendiri.
Gwendoline sebal dengan Maureen, mereka bersaing mendapatkan peran sebagai Cinderella, yah mereka memang terlalu pede, emraa bisa melakukan apa saja jauh lebih baik dari siapa saja. Anak-anak kelas lima mempunyai siasat untuk membuat Maureen jera akan sikapnya yang memuja diri sendiri, terlalu menilai tinggi diri sendiri, mengasihani diri sendiri.

Masalah terbesar adalah kekeras kepalaan Moira dan Alicia yang membuat pertunjukkan terancam batal, selain itu ada surat kaleng yang ditujukan untuk Moira.
Kau abndel, kau sulit diatur, kau keras kepala, kau suka menentang, dan kau sedikit pun tidak memiliki rasa hormat pada siapa pun. Mungkin kau berpikir itu semua gagah dan berani. Sama sekali tidak. itu adalah tanda-tanda suatu pribadi yang kuat tetapi menyeleweng, menjurus ke arah keliru. Dan lebih dari semua, ternyata sebetulnya seorang pengecut. Sebab hanya seorang pengecut saja yang menulis surat kaleng.
Selain June yang melakukan muslihat, ada Mam'zelle yang akan menghibur murid-muridnya dengan muslihat yang dia buat, muslihat apakah itu? baca sendiri :)

3 sayap untuk Pantomim Cinderella. 

Senin, 02 Juli 2012

Kelas Empat di Malory Towers


Penulis: Enid Blyton
Alih bahasa: Djokolelono
Cover: Eric Alexander
Penerbit: Gramedia
ISBN: 978-979-22-4766-4
Cetakan kedelapan: Juli 2010
228 halaman

Ada tiga anak baru, si lemah jantung dan si kembar.

Kali ini Darrell tak hanya berangkat dengan Sally, kali ini dia datang ke sekolah yang dielu-elukan itu dengan adiknya, Felicity. Darrell sangat gembira begitu pula dengan Felicity karena kakaknya sering bercerita tentang sekolah asrama itu. Darrell ingin mengajak Felicity berkeliling Malory Towers, sayangnya setelah sampai di sekolah Darrell lupa akan adiknya, dia terlalu senang bertemu teman-temannya lagi. Jadinya Felicity berteman dengan June, sepupu Alice dan Darrell tidak suka dengannya.

Connie dan Ruth: si kembar yang aneh, semua kegiatan mereka Connie yang menghandle, bahkan dalam berbicara pun Ruth tidak memiliki kebebasan, selalu Connie yang menjawab, membuat murid-murid Malory Towers kesal padanya.

Clarissa Carter: penampilannya culun dan buruk rupa, dia juga lemah jantung, tidak boleh melalukan kegiatan yang terlalu berat, misalnya olahraga. Gwendoline langsung mendekati Clarissa dan menjadikannya sahabat dan dia mencontoh kelemahan Clarissa, berpura-pura lemah jantung agar bisa tidak mengikuti olahraga dan ujian.

Semester ini Darrel yang menjadi ketua kelas, Felicity sangat bangga padanya.
Selalu ada kata bijak dari Nona Grayling:
Suatu hari kau akan meninggalkan sekolah ini dan terjun ke kehidupan sebagai seorang wanita muda. Kau harus membawa serta kemampuan untuk bisa mengerti apa saja, menerima tanggung jawab, penampilan sebagai wanita yang patut dicintai dan dipercayai. Bagiku, muridku kuanngap berhasil bukan karena ia bisa lulus ujian. Walaupun hal ini juga cukup berarti. Seseorang yang kuanggap sanggat berhasil adalah dia yang belajar untuk memiliki hati yang lembut, otak yang cerdas, kepribadian yang bisa dipercaya… seseorang yang bisa dijadikan tumpuan harapan orang disekelilingnya.
Tantangan terberat Darrell sebagai ketua kelas adalah selain menggurus Felicity, dia harus menjaga Clarissa agar tidak terpengaruh akan bualan Gwendoline. Membuat Ruth angkat bicara sendiri, tidak ingin membiarkan Connie bertingkah seperti pelayan Ruth saja.

Yang asik di semester ini: Belinda masih saja menggumpulkan cemberut, pesta tengah malam, muslihat gelembung kecil yang muncul dari tablet yang diolesi cairan yang nantinya meletus dengan suara “Ping!”
June yang menyebalkan dengan mulut besarnya dan aksi bals dendam yang ingin dia lakukan terhadap Alicia, yang bisa merugikan teman-teman Alicia yang lain. Kali ini Darrel tidak bisa mengontrol amarahnya menghadapi June, siasat Gwendoline agar bisa lepas dari ujian, siasat Connie agar dia bisa terus bersama Ruth.

Semua itu menjadi tantangan Darrell di kelas empat ini.

3 sayap untuk pesta tengah malam.

Minggu, 01 Juli 2012

Kelas Tiga di Malory Towers


Penulis: Enid Blyton
Alih bahasa: Djokolelono
Cover: Eric Alexander
Penerbit: Gramedia
ISBN: 978-979-22-4765-7
Cetakan kedelapan: Juli 2010
241 halaman

Tiap semester ada anak baru, mereka adalah Zerelda yang bermimpi menjadi pemain film sampai-sampai penampilannya dewasa sebelum waktunya, dan Wilhemina yang lebih suka dipanggil Bill, dia mempunyai tujuh kakak laki-laki dan sangat menyukai kuda, nggak heran kalau dia tomboy.
Kali ini Salli tidak langsung masuk sekolah karena Selesma. Ketidakhadirannya membuat Darrell kesepian tapi tidak lama karena Alicia datang menggantikan posisi Sally.

Bicara tentang anak baru:
Zerelda: dewasa sebelum waktunya, tatanan rambut, riasan yang mencolok, memakai lipstick yang membuat dia sering dimarahi guru. Dia pindahan dari Amerika. Dia bercita-cita menjadi artis dan sangat mengingginkan peran utama, bahkan sangat terobsesi.
Wilhemina: lebih suka dipanggil Bill, di otaknya hanya ada halilintar, kuda kesayangannya, sampai-sampai dia tidak memperhatikan sekolahnya, hanya ada Halilintar.
Satu lagi murid yang’mencolok’ bukan murid baru tapi di buku sebelumnya jarang terlihat.
Mavis: memuja suaranya, bercita-cita menjadi penyanyi opera. Suaranya memang sangat indah dan terlatih baik, sayangnya dia egois, merasa sempurna karena suaranya indah. Zerelda dan Mavis mempunyai kesamaan: sama-sama suka membual, sangat terobsesi dengan mimpinya.

Konflik di buku ini: kenarsisan Zereldan dan Mavis, banyaknya angka peringatan yang diperoleh Zerelda menyebabkan dia harus turun kelas, sekelas dengan Darrell. Gwendoline sangat senang karena ada anak yang cantik dan dipujanya sekelas, dia ingin menjadikannya sahabat. Sally yang merasa cemburu dengan kedekatan Darrell dan Alice, aksi nekat Mavis.

Yang seru: muslihat Alice mengerjai guru mereka dengan Bersin, Darrell dengan permainan lacrosse, Bill dengan Nona Peters dan kelembutan tersembunyi Nona Peters.

Semua keriuhan ini ada di kelas tiga.

3 sayap untuk lacrosse

Sabtu, 30 Juni 2012

Kelas Dua di Malory Towers


Penulis: Enid Blyton
Alih Bahasa: Djokolelono
Cover: Eric Alexander
Penerbit: Gramedia
ISBN: 978-979-22-4728-2
Cetakan kesepuluh: Juli 2010
240 halaman

Liburan berakhir, Darrell sudah tidak sabar kembali ke sekolah dan bertemu dengan teman-temannya. ada murid baru mereka adalah Ellen Wilson si pencemas, Belinda Morris si pelupa seperti Irene dan sangat pandai menggambar, dan terakhir Daphne Millicent Turner yang sifatnya mirip Gwendolin, sombong, suka pamer kekayaan keluarganya.

Setiap datang ke Malory Towers, Nona Gralyng sang kepala sekolah yang berwibawa akan berkata:
Kalian akan memperoleh pelajaran banyak dari Malory Towers, jadi kuharap kalian juga mau berbuat banyak untuknya dengan menjadi salah satu murid yang berhasil. yang aku anggap murid yang berhasil adalah mereka yang bisa diandalkan oleh masyarakat sekelilingnya kelak. bagi kami kegagalan adalah mereka yang tidak berhasil mempelajari apa saja yang diajarkan di sini.
Tahun ini Sally Hop menjadi ketua kelas dan itu membuat Alice cemburu. Alasan guru tidak memilihnya karena dia suka mengejek murid yang tidak pandai, mereka seharusnya dibantu bukannya malah diejek. Walau usil Alice cerdas, cepat menyerap perlajaran, Alice lucu tapi lidahnya tajam.
Alice akan selalu dikagumi dan diirikan oleh anak lain. Tetapi ia tak akan bisa merebut rasa sayang dan persahabatan sejati dari teman-temannya. Tentang Betty, yang selama ni dekat dengannya, memang pandai juga. Tetapi dibanding Alicia, otaknya kosong, otak Alicia sungguh cermelang, dan tak pelak lagi, salah satu yang terbaik di sekolah ini. tetapi hatinya adalah salah satu yang terburuk. Sally Hop pribadinya lebih mantap, setia, berhati lembut, dan adil.
 Membicarakan anak baru.
Belinda: dengan sifaynya yang pelupa dan pandai menggambar, dia mudah berteman dengan yang lain, sifat pelupanya tidak jarang membuat orang lain tertawa. nantinya dia akan bersahabat dengan Irene yang sama-sama pelupa.

Ellen: dia terlalu memikirkan pelajaran, dia bisa bersekolah di Malory Towers karena mendapat beasiswa, tdia tidak ingin menyinyiakannya, keluarganya miskin, membuat dia belajar lebih keras dan melakukan apa pun untuk tinggal kelas. Dia juga tidak punya sahabat, suka menyendiri. Jean berusaha mendekatinya, berteman dengannya.

Daphne: sifatnya mirip Gwendoline membuat mereka menjadi sahabat dekat, karena tidak ada yang mau. dia sangat cantik tidak jarang orang kagum padanya. Salah satunya adalah mary-Lou, bahkan dia sampai rela mengerjakan PR Daphne. Daphne akan sadar siapa nanti yang akan menjadi sahabat setianya.
Kegemparan apa saja di semester ini? kapur ajaib, mam'selle Dupont dan Rougier yang bersitegang dalam pemilihan pemain untuk di drama untuk pertunjukan akhir semester. Buku berisi gambar karikatur pertengkaran mereka yang dibuat oleh belinda. Ellen yang terdesak, ada pencurian di Malory Towers. Konfliknya lebih banyak dan seru.
Semua orang punya sifat baik dan buruk dan kita semua harus berusaha keras untuk menekan sifat buruk kita, dan berbuat hanya yang baik saja. Kita takkan pernah sempurna. Sekali-kali kita akan berbuat baik, sekali-sekali kita akan berbuat buruk. yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha melenyapkan perbuatan buruk kita dengan berbuat kebaikan.
Kadang saya merasa kasian dengan Gwedoline tidak pernah punya sahabat tetap, tapi sifatnya memang menyebalkan sih. Walau ngeselin, ada sifat Gwendoline yang saya suka, dia tidak mau berhutang jika uangnya habis. lebih baik mengirim surat ke ibunya dan minta dikirimi uang. Karakter mereka makin lama memang makin berkembang, seperti Darrell yang sudah lebih bisa menguasai diri, tidak meledak-ledak kalau marah. Masih ada kalimat kasar di buku ini, contohnya adalah menyebut orang dengan keledai.
Pelajaran yang dapat diambil dari buku ini adalah: jangan suka menuduh orang lain jika belum ada bukti, belajar memaafkan dan memberi kesempatan kedua.

3 sayap untuk si pelupa.

Selasa, 01 Mei 2012

Semester Pertama di Malory Towers


Sinopsis:
Darrell Rivers mulai bersekolah di Malory Towers - sekolah berasrama di tepi pantai yang kegiatan utamanya adalah tenis dan renang. Di sekolah khusus anak perempuan ini Darrell dengan cepat menyesuaikan diri. Ia memperoleh beberapa teman baru, termasuk Alicia yang nakal tapi cerdas dan gemar melakukan berbagai muslihat untuk menjebak guru-gurunya. Namun, dalam semester pertamanya Darrell tidak selamanya bergembira. Banyak persoalan pelik yang harus dihadapinya: sifatnya yang suka tak bisa mengendalikan diri bila marah, sikap Sally Hope yang aneh, dan godaan keterlaluan terhadap Mary-Lou.

My Review
Sebenernya review ini ditujukan untuk posting bareng BBI yang bertema buku anak entah kapan itu, bacanya sih tepat waktu hanya saja reviewnya yang sangat ngadat :(.

Baca buku ini mengingatkan saya pada Alice-Miranda at School pengalaman pertama bersekolah di asrama. Awalnya kita sangat antusias, tapi ketika banyak masalah yang muncul dengan banyaknya cewek di sekolah yang sama mungkin akan berpikir ulang, ternyata nggak seindah bayangan kita.

Darrell bertemu murid-murid Malory Tower lainnya, yang memiliki sifat berbeda-beda. Sepuluh anak  di asrama kelas satu di Menara Utara selain Darrell adalah Alicia yang sangat ceria, pede, berlidah tajam. Sally Hope yang penyendiri, mandiri dan seperti tidak butuh orang lain.Gwendoline yang mengesalkan, tidak bisa berpisah dari ibunya dan sangat manja. Ada juga Marry-Lou yang sangat penakut. Katherine sang kepala kamar merangkap ketua kelas patut menerima jabatan itu karena dia memang adil. Irene yang sangat pandai tapi sangat tolol di luar pelajaran. Jean, anak yang rajin dan pandai memegang uang untuk keperluan sekolah. Emily, pendiam dan rajin, selain itu juga pandai merajut. Violet, dia sering tidak diajak dalam berbagai hal, dia tidak tertari.

Darrel sangat mengagumi Alicia, mengagumi kecerdikannya dan keusilannya, dia ingin sekali menjadi sahabat Alicia, tapi apakah benar dia bisa menjadi sahabat yang baik bagi Darrell? Darrell tidak suka dengan Gwendoline, dia suka membual dan sangat kejam terhadap temannya sendiri, sampai-sampai Darrell kehilangan kesabaran menghadapi tingkah lakunya. Darrell sebal dengan Marry-Lou, sebal karena dia sangat penakut, Darrel ingin membuat dia lebih berani. Darrell tidak tahu kenapa Sally tidak mau dibantu, hidupnya penuh tanda tanya.

Itulah permasalahan yang dihadapi Darrell di musim pertamanya di Malory Tower. Darrel mencoba mengatasinya sendiri karena dia belum tahu siapa yang pantas menjadi sahabatnya, di tengah membantu masalah-masalah temannya, dia bisa menentukan siapa yang pantas.
Quote favorit:
Tetapi karena malu saja ia takkan bisa mengumpulkan keberaniannya. Tak akan ada yang bisa membuatnya berani kecuali dirinya sendiri - Sally.
Menginggatkan saya waktu sekolah dulu, kita mengagumi orang yang pintar dan populer dan ingin sekali berteman dengannya, tapi kadang orang tersebut tidak menaggapi maksut kita, dia juga penggenya berteman dengan orang yang sama-sama populer. Itu yang saya rasakan pada diri Darrell, teman sejati itu nggak harus pintar dan populer tapi dia benar-benar tahu siapa diri kita, memahami dan menerima kita apa adanya. Lambat laun dia bisa menentukannya dengan munculnya permasalahan yang dihadapinya dan juga teman-temannya.

Baru kali ini baca bukunya Enid Blyton, ada ilustrasi yang jadul tapi mungkin memang menggambarkan masanya Darrell, hehe. Yang kurang saya suka adalah ada bahasa yang cukup kasar dan tingkah laku yang tidak pantas ditiru, padahal ini buku anak-anak jadi yah perlu bimbingan orang tua kalau anak kecil membacanya. Saya belum merasakan greget buku ini, mungkin karena lebih ke perkenalan sekolah dan teman-teman Darrell sehingga belum banyak konflik yang muncul. Berharap buku selanjutnya akan lebih seru.
3 sayap untuk Malory Tower

Semester Pertama di Malory Tower
Penulis: Enid Blyton
Alih bahasa: Djokolelono
Cover: Eric Alexander
ISBN: 978-979-22-4727-5
Cetakan kesebelas, Juli 2010
248 halaman

Kamis, 26 Januari 2012

Alice-Miranda at School

11811982
Sinopsis
“Dadah, Mama. Tolong kuatkan hati Mama.” Ibunya menanggapi dengan isak tangis keras. “Selamat bermain golf, Papa. Kita bertemu di liburan akhir semester.” Ayahnya membuang ingus ke saputangannya. 

Sebelum kedua orangtuanya sempat mengucapkan selamat tinggal, Alice-Miranda sudah berjingkrak-jingkrak menyusuri jalan setapak yang diapit pagar tanaman, menuju rumah barunya. 

Akademi Winchesterfield-Downsfordvale, itulah rumah baru Alice-Miranda. Dan sejak kedatangan Alice-Miranda, tempat itu berubah drastis. Semua terasa lebih hidup dan menyenangkan. Namun, tidak semua orang senang dengan perubahan itu. Termasuk kepala sekolah, Miss Grim, dan kepala prefeknya, Alethea. 

Gadis 7 tahun itu diberi berbagai tantangan seperti tes tulis semua pelajaran, lomba berlayar melawan Alethea dan kawan-kawannya, sampai harus berkemah di hutan sendirian selama beberapa hari. Akankah Alice-Miranda mampu melewati semua tantangan itu? Juga, bisakah dia membuat Miss Grim keluar menemui para muridnya setelah 10 tahun mengurung diri dalam kantor?

Jumat, 07 Oktober 2011

Diary si Bocah Tengil: Kenyataan Pahit


Buku kelima yang berwarna ungu ini menceritakan bagaimana Greg Heffley menghadapi masa pubertas, kocak? sudah pasti.

Di awal halaman kita akan mengetahui kalo Greg dan Rowley sudah tidak bersahabat lagi. Bahkan, orang tua Rowley membayar seseorang sebagai 'tokoh panutan' tentu hal ini membuar Greg keki, karena dia merasa adalah tokoh panutan terbaik untuk Rowley.

Ada juga bagian Greg bertekad untuk menjadi bintang iklan Peachy Breeze dengan alasan biar bisa mendapat es krim gratis dan sering bolos dari sekolah untuk memunuhi kewajiban sebagai juru bicara Peachy Breeze. Padahal bintang yang dicari itu harus imut-imut, sedangkan Greg tentu saja amit-amit =)). Greg beralasan kalo dia bisa mengambil hati para juri dan dia merasa kalau dialah satu-satunya peserta uji coba yang bisa membaca papan teks dialog. Tapi dia merasa kecewa ketika para juri mempersilahkan keluar tanpa menanyakan namanya, Greg merasa mendapat perlakuan tidak adil hanya gara-gara umur.
Ketika kamu masih anak-anak, tidak ada yang memperingatkan bahwa kamu memiliki tanggal kadaluwarsa. Pada suatu saat, kamu menjadi pujaan, saat berikutnya kamu cuma seonggok sampah.
Hahaha bener juga ya, waktu kecil kita pasti disayang semua orang, dicubit-cubit, digendong kesana kemari, setelah besar? Blah. Ini juga yang membuat Rodrick selalu uring-uringan, sudah lama tidak mendapat pusat perhatian, posisi itu sudah tentu ditempati Manny. Nah, pengen tahu cara mengukur pertumbuhan di keluarga Heffley? Mereka hanya perlu melihat foto-foto dari acara pesta pernikahan Paman Gary, karena pamannya udah menikah sampe tiga kali, bahkan Ibunya Greg tidak mau repot-repot mengganti foto pernikahan, dia hanya menempelkan foto kepala istri barunya di atas yang lama, goblosssss =)).

Waktu Ibu Greg memutuskan untuk mengasah otaknya kembali, pekerjaan rumah pun di handle oleh para kaum Adam, seperti apa hasilnya? Waktu makan malam, Manny bertugas membuat es teh, dia mengaduknya dengan tangan telanjang, Rodrick bertanggung jawab memasank daging, dia malah lupa membuka bungkus plastik sebelum memasukkannya ke dalam oven. Rodrick benar-benar sukses mengerjai Greg ketika dia berpesan sebagai penganti ibu :). Tugas Greg? mencuci pakaian :)).
Menurutku anak laki-laki seharusnya dilarang secara hukum untuk melipat pakaian dalam milik ibunya.
Masih banyak yang lucu lagi, seperti waktu Greg terlelap selama setengah detik, tangannya tergelincir dan tidak sengaja menyalakan alarm kebakaran, tentu seluruh sekolah jadi panik dong, sekolah terpaksa dievakuasi dan mobil pemadam kebakaran pun datang. Setelah mereka sadar tidak ada kebakaran, kepala sekolah mengatakan siapa pun yang menyalakannya akan dihukum dan orang itu harus menyerahkan diri.
Aku tidak tahu banyak hal. Namun, aku TAHU bahwa kita seharusnya jangan mengumumkan hukuman yang akan dijatuhkan SEBELUM kita menyuruh orang yang bersalah menyerahkan diri.
Goblosssss, tentu saja si Greg tetap tutup mulut =))
Trus waktu Ibunya akan mengaji orang untuk membersihkan rumah karena selama ditinggal mereka tidak bisa melaksanakan kewajiban, greg mencoba memanfaatkannya, berkali-kali dia menulis surat bernamakan ibunya agar Isabella mencuci pakaian Greg tapi 'asisten rumah tangga' tersebut selalu mencari alasan bahkan dia selama tidur siang di kamar Greg. Karena sebal dia menceritakan semuanya kepada ibunya untuk segera di pecat, tentu saja Ibunya tidak percaya.
Yang bisa aku katakan hanyalah: kalau saja menjadi pembantu cuma berarti menonton televisi sepanjang hari, menyantap makanan kecil, dan tidur siang di ranjangku; maka, aku rasa aku akhirnya berhasil menemukan karir yang bisa membuatku bersemangat.
Trus Greg iri waktu Rowley mendapatkan jerawat pertamanya dan memamerkannya, karena menurut ibunya Rowley, itu pertanda kalo dia sedang berubah menjadi pria dewasa. Greg bilangnya sih nggak iri, dia berujar kalo Rowley anak yang masih tidur sambil ditemani setumpuk boneka binatang setiap malam, merasa tidak masuk akal mengapa Rowley mendapatkan jerawat terlebih dahulu dibanding Greg. Sudah lama Greg menantikan saat mendapatkan jerawat atau mendapatkan kumis halus. Trus apakah persahabatan Greg dengan Rowley benar-benar sudah berakhir?
Masih lucu, Rodrick yang masih suka menindas, Manny yang masih menjadi anak emas, Rowley yang masih lugu, Mom yang masih otoriter, Dad yang aneh, semua masih sama seperti dulu, tetap asik dinikmati, tetap kocak. Untung kertasnya buram :)
3 sayap untuk masa pubertas yang dinanti-nanti ^^

Penerjemah: Ferry Halim
Penerbit: Atria
Cetakan: I, Agustus 2011
ISBN: 978-979-024-474-0

Jumat, 05 Agustus 2011

Scones and Sensibility


107511296390352
Penulis: Lindsey Eland
Penerbit: Atria
Penerjemah: Barokah Ruziati
Cetakan: I, Maret 2011
ISBN: 978-979-024-469-6

Satu lagi buku di bulan kemaren yang tidak saya baca seutuhnya, berhenti di tengah-tengah kemudian menskipnya. Saya tidak terlalu suka sama tokoh Polly Madassa, mengingatkan akan sosok artis cilik, Amel. Ya, artis cilik yang kemayu itu, jujur, saya lebih suka anak kecil yang pendiam bukannya cerewet dan suka merecoki orang. Di buku ini saya menemukan satu sosok lagi anak kecil yang menjengkelkan, gara-gara keracunan buku klasik, Pride and Prejudice, Anne of Green Gables dia merasa sudah hebat dalam percintaan, lengkap menjadi perempuan yang lembut dengan membaca "kamus" cinta di usianya yang ke dua belas.

Dengan berbekal pengalaman yang dibacanya, Polly merasa sudah hebat dalam soal percintaan, dia pun menjadi makcomblang untuk orang-orang disekitarnya yang menurutnya belum menemukan cinta sejati, tanpa persetujuan dan sepengetahuan mereka. Korban yang pertama adalah kakaknya sendiri, Clementine yang ingin dijodohkannya dengan Edward pemuda yang kalau saja usianya beberapa tahun lebih muda, sudah pasti di embadnya. Polly merasa hubungan Clemantine dengan Clint tidak sehat, pria itu sering membuat kakaknya menangis dan sikapnya agak kasar,Polly ingin menemukan Mr. Darcy untuk kakaknya, jatuhlah pilihannya pada pemuda yang tak bersalah itu. Selain itu ada dua orang lagi yang ingin dicarikan cinta, ayah sahabatnya Fran, Mr. Fisk dengan Miss Lucy Penny, dan Mr. Nightquist yang rencananya dijodohkan dengan Miss Wiskerton. Polly pun memulai mengobrak abrik hidup orang yang disekitarnya itu pada musim panas disela-sela mengantarkan pesanan kue di toko Madassa Bakery milik orang tuanya.
Saya kasih contoh ke-lebay-an Polly
"Aku tahu benar cara menenagkan jiwa yang resah dan tertekan, Kakakku sayang. Ikutlah denganku dan kita akan bersenang-senang berdua antara ombak laut bergaram! Kita akan berjemur di bawah sinar matahari yang nyaman," kataku seraya meraih tangannya.
Untuk anak yang berusia dua belas tahun dengan gerak dan bahasa seperti orang jaman dahulu kepada kakaknya sendiri? Dia lahir terlalu telat. Saya hanya merasa Polly ini dewasa sebelum waktunya, sejak usia dini dia sudah melahap kisah cinta dan ingin itu menjadi nyata. Tidak jelek bacaan pilihannya, saya pun dari kecil juga sudah dicekoki novelnya Mira W yang untungnya tidak keblabasan seperti si Polly ini (tidak bisa saya bayangkan diriku kalau mirip Polly) tapi dengan menirukan berbicara seperti tokoh-tokoh dalam buku klasik, lebih menyukai lilin daripada lampu, lebih suka memakai rok, dia benar-benar overdosis klasik.
Covernya keren ^^

2 sayap untuk Polly si lebay

Kamis, 28 Juli 2011

Daddy Long Legs

Dear Mr. Daddy-Long-Legs
Saya ingin menulis review surat yang berisi keluhan, maaf jika anda tidak berkenan sebelumnya. Saya sangat bosan membaca cerita yang berisi seorang gadis yang menulis surat sebulan sekali untuk anda, anda saja tidak pernah membalas surat dari saya, jadi jangan marah kalau saya sering sekali melompati surat-surat yang ditulis gadis bernama Jerusha Abbott atau biasa dipanggil Judy. Saya heran, kenapa dia bisa tahan menulis surat bertahun-tahun tanpa mendapatkan balasan sekali pun. Inti yang saya dapat dari membaca beberapa suratnya adalah anda memberikan beasiswa ke perguruan tinggi kepada anak tertua di panti asuhan John Grier itu beserta biaya hidupnya tapi dengan syarat Judy harus menceritakan perkembangan sebulan sekali di perguruan tinggi itu kepada anda melalui surat. Tentu saja itu menjadi teka teki bagi Judy, kenapa anda tertarik padanya padahal anda sebelumnya tidak pernah tertarik dengan anak perempuan. Saya mencoba mencari alasannya sendiri dengan melompati surat-surat Judy dan berharap menemukan surat balasan anda, menemukan siapa sebenarnya laki-laki yang berkaki panjang, tuan baik budiman, tapi ternyata nihil. Dan akhirnya saya menemukan jati diri anda sebenarnya, di ending, sekian dan tamat. Entahlah, saya juga tidak mengerti kenapa saya tidak bisa menikmati surat-surat Judy, terlalu bosan karena saya merasa hanya dia satu-satunya tokoh dalam cerita walaupun dalam surat dia menceritakan pengalamannya sewaktu kuliah, suka duka, teman-teman, kampus, tempat tinggalnya dan bagaimana Judy mulai ketagihan munulis surat untuk anda. Dengan berat hati, saya memberikan satu sayap untuk kisah Judy dan anda,Tuan Orang Kaya yang tidak ingin identitasnya diketahui.

Dari yang tidak suka kisah klasik,
Orang-yang-tidak-perlu-disebut-namanya

Penulis: Jean Webster
Penerjemah: Ferry Halim (dia lagi XD)
Penyunting: Ida Wajni (familier sekali ya di buku Atria :p)
Pewajah Isi: Aniza Pujiati (dia juga, hihi)
Cetakan: I, November 2009
ISBN: 978-979-1411-83-7
235 halaman

7251710

Suddenly Supernatural: Arwah Di Sekolah

10565980
Penulis: Elizabeth Cody Kimmel
Penerbit: Atria
Judul Asli: Suddenly Supernatural, School Spirit
 terbitan Litle, Brown and Company, New York 2008
Penerjemah: Barokah Ruziati
Cetakan: I, 2011
ISBN: 978-979-024-467-2
207 halaman.

Kalau membaca buku ini, saya jadi teringat teman yang juga memiliki kelebihan Kat, seorang medium atau kalau menurut “kebudayaan” kita biasa disebut paranormal. Orang yang bisa melihat hantu, pemanggil arwah, yang bisa menghubungkan dunia lain dengan dunia kita. Dulu sempet ngeri kalau dia parno sendiri dan tiba-tiba saja bilang ada hantu di dekat saya, rasanya pengen nyekek dia dan tidak keberatan kalau dia yang mengantikan hantu tersebut (semoga dia tidak baca). Tapi, lama-lama saya jadi terbiasa asal jangan bilang siapa yang ada di sebelah saya (lagi).

Kalau dilihat dari judulnya dan sekilas sinopsisnya, buku ini bergenre horror, percayalah, kau tidak akan meringkuk di bawah selimut setelah membacanya, kau akan terkikik sendiri sewaktu membacanya.
Kat seperti menemukan celah untuk menjadi salah satu murid populer, dia dipasangkan dengan Shoshanna Longborrow, gadis paling populer di sekolahnya untuk riset Proyek Ilmu Sosial Hooverdam. Tapi, Shoshanna tidak nyaman tinggal di rumah tua Kat, merasa aneh, mendengar serangkaian jeritan, erangan dan raungan berkumandang di seluruh rumah, dia berpikir kalau rumah Kat berhantu dan mengganggap Kat adalah orang aneh. Gagallah Kat mendapatkan tempat duduk di meja makan siang besama cewek-cewk populer di sekolahnya.

“Kelebihan” Kat yang diwariskan ibunya mulai muncul, dia mulai sering melihat penampakan-penampakan di sekitarnya dan itu sangat mennganngunya, dia baru saja mempunyai teman, satu-satunya teman setelah lebih dari setahun menjadi anak tak terlihat di sekolahnya, dia takut bila teman barunya itu akan mengaggap dirina aneh dan lari seperti Shoshanna. Dia adalah Jac, si Cewek Selo. Awalnya Kat mengacuhkan penampakan yang ada disekitarnya, tapi, ada satu hantu yang mencoba menarik perhatian Kat, mencoba meminta bantuannya. Suzanne Bennis, cewek berambut pirang dalam dua kepang panjang, tebal dan rok panjang, yang dulunya adalah pemain flute di sekolahnya, meninggal selama hampir lima puluh tahun. Waktu di perpustakaan Kat dan Jac mendengar buku jatuh dari rak tanpa alasan yang jelas, halaman terkuak sendiri, dan berhenti pada satu halaman seorang gadis yang memegang flute, meninggal dunia saat usianya baru tujuh belas tahun. Kemudian, Kat menyadari ada seseorang yang berdiri di belakang Jac, seorang cewek beramput pirang yang berkepang dua panjang. Seseorang yang baru-baru ini selalu menghantuinya.
Dimulai dari melihat arwah Suzanne di perpustakaan, Kat pun membeberkan rahasianya kepada Jac kalau dia adalah seorang medium dan tak dikira, Jac malah kagum akan “kelebihan” Kat. Jac pun juga bercerita tentang rahasianya kalau dia tidak ingin bermain Selo lagi, dia hanya menyeret Selo kemanapun dia pergi tanpa sekalipun memainkannya, mereka pun menjadi sahabat karib. Usaha Suzanne yang terus menerus meneror,  mau tidak mau membuat Kat tidak bisa tinggal diam, bersama Jac dia mulai munguak kenapa dia bisa meninggal dan apa maunya, mencari tahu kanapa dia masih tinggal di dunia.

Sudah dijelaskan sedikit di awal walaupun sepertinya ini cerita horror, saya lebih banyak ngikik daripada takut. Banyak adegan lucu, seperti waktu pertama kali Kat dan Jac berkenalan di halaman 18, “Aku Jac.” Katanya, “Bukan pakai K. J-A-C.” dan Kat mengenalkan dirinya K-A-T, dengan K. Yang paling bikin ngakak nih, waktu Brooklyn menghina ibunya Kat akan “profesinya” dia membalasnya dengan menakut-nakuti dengan merapal mantra palsu untuk memanggil hantu, dan percayalah, aksi yang awalnya hanya iseng itu terjadi sungguhan, arwah suzzane yang datang, LOL. Selain itu panggilan “sayang” mereka satu sama lain, Mama Vodoo dan
Aku suka karekter Kat, walaupun di awal dia merasa terbebani akan “warisan” ibunya lama-lama dia bisa menerima perubahan itu bahkan kadang bersikap konyol, dia tidak bisa membedakan apakah itu arwah atau orang sungguhan seperti waktu dia berkunjung di rumah Jac, dia melihat laki-laki dan memberi senyum, diakhir kunjungan dia bilang ke Jac, “Rumahmu berhantu.” Kalau teman saya berkata seperti itu, saya akan mencekek lehernya.

Yang membuat aku tidak nyaman dengan buku ini adalah pemakaian kata “nggak” dipercakapan, entahlah, saya lebih nyaman kalau menggunakan kata “tidak” saya rasa malah lebih pas. Selebihnya buku ini cukup enak untuk dilahap. Penasaran sekali sama “hantu lain” di perpustakaan, tidak sabar menunggu kelanjutannya dan kabarnya udah mau terbit, saatnya berburu buntelan buku lanjutannyan ^^

3 sayap untuk si medium.

Rekomendasi Bulan Ini

Buku Remaja yang Boleh Dibaca Siapa Saja | Rekomendasi Teenlit & Young Adult

K urang lebih dua tahun yang lalu saya pernah membahas tentang genre Young Adult dan berjanji akan memberikan rekomendasi buku yang as...