Tampilkan postingan dengan label Serambi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serambi. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Juni 2013

The Great Gatsby

The Great Gatsby
Penulis: F. Scott Fitzgerald
Penerjemah: Sri Noor Verawaty
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
ISBN: 978-979-024-210-4
Cetakan pertama, Oktober 2010
288 halaman
Pinjem @fanda_a


Inilah kisah uniknya pergaulan manusia antarkelas sosial dengan berbagai karakter yang tak kalah menarik.

Nick, pendatang baru di New York. Dia dipercaya orang-orang di sekitarnya untuk menyimpan rahasia mereka. Daisy, meski bermulut pedas, ditaksir banyak laki-laki. Di balik itu, dia selalu berusaha sedemikian rupa menutupi sakit hati karena pengkhianatan suaminya. Tom, suami Daisy sekaligus teman kuliah Nick, lelaki berpendidikan tinggi, kaya, dan berperangai kasar. Dia suka selingkuh, tapi tak suka diselingkuhi. Jordan, perempuan muda yang cantik dan sinis. Dia berpacaran dengan Nick. Darinya, Nick mengetahui perselingkuhan yang dilakukan Daisy dan Tom dengan pasangan masing-masing.

Seperti planet-planet yang mengorbit matahari, dalam pesta-pesta mewah setiap malam Minggu, pergaulan mereka berpusat pada seorang lelaki muda”orang kaya baru”misterius bernama Gatsby.

Novel ini merupakan potret kehidupan sosial masyarakat New York pada tahun 20-an. Setelah Perang Dunia I, di sana bermunculan orang kaya baru yang menunjukkan lunturnya nilai sosial dan moral dalam sinisme, keserakahan, dan pemenuhan hasrat akan kesenangan.

Minggu, 10 Juni 2012

Perkara Mengirim Senja


Tidak banyak buku sastra Indonesia yang saya baca, bisa dihitung dengan kancing. Salah satunya adalah Seno Gumira Ajidarma (SGA), penulis kawakan ini ternyata banyak menuai penghargaan baik dalam maupun luar negeri! Sebut saya durhaka karena lebih sering menikmati karya pop dan barat daripada karya negeri sendiri (terlebih sastra) dimana banyak yang nggak kalah hebat. Awal tahu Perkara Mengirim Senja (PMS) dari twitter yang waktu itu ramai banget dibahas. Penasaran sekali karena judulnya begitu menarik, ada apa sih dengan senja? Setelah klik sana sini jadi nggeh kalau PMS ini dibuat sebagai tribute untuk SGA, yang ditulis oleh orang-orang yang juga mengidolakannya dan membuat cerita yang mempunyai benang merah dengan cerpen-cerpen SGA, salah satunya adalah cerpen Sepotong Senja Buat Pacarku. Ada 15 cerita yang ditulis oleh 14 penulis yang mempunyai latar belakang yang berbeda.

Sebelum masuk ke cerita, mari kita tonton dulu book trailer PMS yang dibuat oleh Faizal Reza dan ilustrasi yang keren banget dari Lala Bolang.


Dan untuk menemani membaca buku ini, para penulis membuat mixtape-nya di mana lagu-lagu tersebut sangat cocok dengan cerita yang mereka buat. Diantaranya ada lagu Tak Pernah Terpikir yang diciptakan sendiri oleh @vabyo untuk menemani membaca cerpen Gadis Kembang, ada Gosh - Inggrid Michaelson untuk cerpen Perkara Mengirim Senja, ada lagu Keliru dari Ruth Sahanaya untuk cerpen Empat Manusia, lagu Where did My Baby Go - John Legend menjadi pendamping di cerpen Senja dalam Pertemuan Hujan. Dan ada jugalagu yang tidak asing lagi kita dengarkan sewaktu sekolah dulu, Garuda Pancasila dan Hymne Guru, bisa ditebak dong lagu tersebut akan mengiringi cerpen yang mana. Untuk lagu yang lainnya bisa didengarkan di sini.

Berikut sinopsis ke-15 cerita:

Gadis Kembang by @vabyo

Bererita tentang Taya, seorang istri yang suaminya selingkuh dengan gadis kembang kampung sebelah. Banyak orang yang menggosipkan dan mengasihi dirinya akan perbuatan sang suami tapi ditanggapi Taya dengan banyak diam. Padahal, Taya tahu ada sebab kenapa suaminya berani menghianati dirinya.

Tulisannya khas Vabyo ;p, ceritanya sedih tapi dialunkan dengan kocak dan berima. Saya kasih contoh dialog yang membuat saya ngakak :p
"Saya kemarin nganter suami si Neng sama simpanannya itu. saya gemes, pengen ngejuntrungin becak, tapi nanti kalo rusak, saya juga kan yang gak bisa kerja!" Si tukang becak merancau penuh emosi.
Taya mendengus kesal. "Ya udah saya turun di sini aja, sebelum becaknya saya jungkir-balikin."

Inilah pertama kalinya Taya berjalan di atas jembatan goyang tanpa berdendang. Kausnya kusut. Pikirannya kalut.

Dan quote favorit saya adalah:
"Kasihan memang sering kali menyakitkan."
Suka efek kejut di akhir cerita sehingga menjadikan cerpen ini cerpen favorit pertama di buku ini.



Perkara Mengirim Senja by @JiaEffendie 

Ditulis dengan sudut pandang orang pertama masing-masing tokoh. Pertama adalah seorang wanita yang memotong senja dan ingin menyerahkannya ke orang yang dicintainya, sayangnya dia belum menemukan orang yang pas. Tokoh kedua adalah seorang laki-laki yang asik bercumbu dengan pacarnya tapi diganggu oleh dering telepon yang tak pernah menyerah berbunyi. Si penelopon ini menawarkan sebuah produk, menjual sepotong senja dalam amplop. Garansinya adalah sepotong senja tersebut akan dikirimkan langsung oleh si penelepon dan harganya gratis kalau dia bilang mencintainya.

Ceritanya unik dan kalimatnya indah. Bisa menebak hubungan antara kedua tokoh, tapi endingnya bener-bener Jder! Efek kejut di endingnnya benar-benar mengejutkan! Cerpen favorit kedua.


Selepas Membaca Sebuah Pertanyaan untuk Cinta, Alina Menulis Dua Cerita Pendek Sambil Membayangkan Lelaki Bajingan yang Baru Meninggalkannya by @hurufkecil

Ada dua cerpen, pertama bercerita tentang suami yang sangat posesif terhadap istrinya, sampai-sampai dia meengharuskan istrinya memakai celana besi setiap hari, tujuannya agar dia tidak selingkuh.
Cerpen kedua bercerita tentang suami yang baru saja kehilangan istrinya. Dia pun mengenang dengan membuka masa lalu istrinya, tas yang terakhir dipegang oleh istrinya. Di dalamnya dia menemukan sebuah benda yang akan membuatnya meraung-raung.
Ada efek kejut di ending kedua cerpen tersebut. yang paling saya sukai adalah cerpen pertama, benar-benar tak terpikirkan sebelumnya akan berakhir seperti itu, haha pinter banget penulis 'membalas dendam'.
"Hidup adalah sembunyi. Belajarlah seni menyembunyikan! Sembunyikan rupamu! Sembunyikan hatimu! Ada lebih banyak kata-kata dalam diam."
Cerpen favorit saya yang ketiga.


 Kuman by @lalabohang

Seorang wanita mendua dengan bartender buruk rupa, dia telah terjangkit kuman cinta.

"Kau cinta sama dia?"
"Cinta setengah mati."
"Katanya kau jijik sama wajah cacat dia?"
"Iya jijik, tapi cinta setengah mati."

Lucu sekali ketika si perempuan memeriksakan jantungnya yang berdetak kencang tanpa dia suruh.
Cerpen favorit saya yang keempat.


Ulang by @putrafara

Cerpen pertama yang membuat saya berpikir keras, haha. Jujur saya bingung dan benar-benar butuh konsentrasi untuk membaca ini. Ada sedikit unsur fantasi dalam bercerita. Intinya ada seseorang yang mengajak Alina 'jalan-jalan'. Cerita ini saya kira merupakan fanfic dari cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku.





Akulah Pendukungmu by @salamatahari

Pengen tahu asal usul lahirnya Garuda Pancasila? Pengen tahu siapa ibunya? Dan mendengar percakapan foto presiden Soeharto dan wakil presiden Tri Sutrisno dengan sang Garuda? Pengen bertemu dengan salah satu murid yang mempunyai nasip dengan sang Garuda? Di cerpen ini sang Garuda akan menunjukkan kesaktiannya!

Cara berceritanya unik sekali, terlebih yang percakapan benda di dinding itu :).

"Sebetulnya tak semua pertanyaan harus ada jawabannya. Tapi ketika dijadikan soal ulangan, mau tak mau pertanyaan itu harus ada jawabannya."

 Empat Manusia by @monstreza

Ada empat bagian, pertama bercerita tentang Yani dan Purba. Kedua tentang Yani dan Hendar. Ketiga tentang  Hendar dan Susan. Keempat tentang Susan dan Purba.

Sebuah rantai makanan hubungan yang menarik. Suka sekali cara penulis menghubungkan satu tokoh dengan tokoh yang lainnya. Endingnya juga mempunyai efek kejut yang akan menjelaskan semua bagian di cerpen ini. Cerpen favorit saya yang kelima.



Saputangan Merah by @tummythumb

Seorang laki-laki yang sangat tertarik dengan seorang perempuan namun enggan menampakkannya. Dia hanya berani mengamati perempuan tersebut. Suatu pagi dia menemukan saputangan merah di genggaman tangganya, entah nyata atau tidak.

Entah ya, saya tidak menemukan yang special dari cerpen ini.



Senja dalam Pertemuan Hujan by @omemdisini

Sepasang kekasih yang cintanya dipertemukan oleh senja. Mereka sering sekali bertemu pada waktu sore hari, karena waktu yang lainnya dipergunakan sang lelaki untuk istrinya. Seorang laki-laki yang mencintai dua orang wanita.

Kerasa sekali kalau si lelaki bingung menentukan pilihan.
"Aku adalah potongan senja yang akan kau ambil untuk pacarmu. Tinggal seperempat. Tiga perempatnya telah hancur oleh hujan yang kau ciptakan."

Kirana Ketinggalan Cerita by @maradilla

Kirana mengajak Gupta untuk mengantarkannya ke stasiun. Gupta ingin bertanya kemana Kirana akan pergi? Kenapa tidak membeli tiket? Namun Kiranya menyuruhnya jangan bertanya, hanya temani saja. Hari itu Kirana ketinggalan kereta, begitu juga dengan hari selanjutnya. Gupta tetap menemani karena dia mencintai Kirana, tak perlu tanda tanya.

Bahasanya sederhana sekali, tidak puitis namun mengena. Suka sekali dengan tokoh Gupta :).




Gadis Tak Bernama by @perempuansore

Nama saya adalah Unknown, saya seorang perempuan yang manipulatif, mempunyai dua pacar, dan pekerjaan saya adalah peneliti senja. Saya marah ketika Dinas Penelitian Senja mengumumkan kalau kini senja hanya sepotong! Saya ingin membuktikannya sendiri, kenapa ada orang yang tega memotong senja demi pacarnya?

Ceritanya unik sekali, dan sepertinya pekerjaan sebagai peneliti senja sangat nikmat.
"Cinta bisa dinikmati dengan cara lain. Truhlah kata komitmen di balik behamu. Jangan melakukannya dengan terburu-buru sebelum kau tahu kau akan berkomitmen dengan siapa. Seperti jangan menikah hanya karena orangtuamu mulai resah. Atau tetanggamu yang gelisah."


 Guru Omong Kosong by @arnellism

Dikin, seorang penjaga sekolah yang tertimpa tugas dadakan, dia harus menggantikan salah satu guru yang tidak bisa mengajar hari itu. Tugas dia hanya menuliskan catatan yang dikirim guru tersebut lewat sms yang kemudian murid-murid akan mematuhinya, sayangnya Dikin tidak menyangka kalau akan ada pertanyaan dari para murid, dan dia tidak mempunyai jawaban yang diperintahkan.
Hari berikutnya, dia menemukan sebuah buku yang berjudul Kitab Omong Kosong, dan terbersit olehnya mungkin buku tersebut bisa dibagi dengan para muridnya.

Suka sekali dengan cerpen ini, dan memang tidak jarang guru mempunyai gaya mengancam agar murid menyelesaikan tugas dan hanya main perintah saja, haha tidak semuanya loh. Ide tentang menyentil dunia pendidikan membuat cerpen ini menjadi favorit saya yang keenam.


Surat ke-93 by @febyindirani

Seorang wanita yang ingin menunjukkan kerinduannya dengan terus mengirim surat sampai berpuluh-puluh, dan nyeseknya tak pernah mendapat balasan.

"Cintaku cukup terentang dari pagi hingga petang. Sedangkan jika ia harus memilih antara aku atau senja, ia pasti berpihak pada senja. Bukan karena ia tak mencintaiku, tapi karena ia malas sekaligus angkuh. Aku memilih mencintainya. Atau mungkin cinta telah memilihku. Dan jika kau mencintai hingga terasa menyakitkan, kau akan menemukan tak ada lagi kebencian, yang ada hanyalah cinta yang lebih besar."

 Bahasa Sunyi by @lukisansunyi

Tangkapan saya tentang cerpen ini adalah sepasang suami istri dalam proses perceraian, salah satunya tetap ingin mempertahankan hubungan mereka.

Ada salah satu kalimat yang menginggatkan saya akan sanggahan seorang artis tentang kasus korupsi yang melanda dirinya, trik mengelaknya membekas sekali :p.




Satu Sepatu, Dua Kecoak... by @salamatahari

Reta, seorang anak yatim piatu dan keluarganya tidak bisa menyekolahkannya, membuat Arnold tergerak untuk mengadopsi. Usia Arnold sudah cukup untuk berumah tangga, terlebih ada Reta yang membutuhkan sosok seorang ibu. Desakan keluarganya membuat dia menyerah dan mau dijodohkan. Sayangnya, pernikahan membuat Reta kehilanggan sosok bapak dan ibu.

"Lo tau, nggak sih, lengkap nggak selalu harus sepasang?"

Suka, suka, suka sekali dengan cerpen ini, endingnya benar-benar tidak bisa saya tebak, efek kejutnya benar-benar menutup manis buku ini. Ilustrasinya juga yang paling saya suka. Selain sebagai penutup, cerpen ini juga menjadi cerpen favorit saya yang ketujuh.


Kenapa banyak banget sih gambarnya? Nggak usah cerewet, suka suka saya dong XDD. Karena saya sangat jatuh cinta dengan goresan tangan Lala Bohang. Selain keindahan para penulis bercerita tentang senja, ilustrasi di buku ini benar-benar membuat saya mewajibkannya untuk menaruh dan mengoleksi di rak buku saya. Selain itu, yang paling saya sukai adalah bagaimana penulis membuat ending cerita ini, hampir semuanya mempunyai efek kejut yang tidak pernah terpikir sebelumnya (saya suka sekali menebak akhir cerita). Pasti banyak yang berkomentar, kenapa tentang selingkuh semua sih? Membaca pengantar di Tentang Senja dan Cinta yang Galau, saya sedikit memahami gaya penulisan SGA, suka sekali bercerita tentang cinta yang absurb, mencampuradukkan fiksi dan fakta, bercerita tentang kaum termajinalkan secara politik dan sosial (pelacur, kaum homo, dan preman). Jadi, saya tidak terlalu kaget dengan cerita yang tidak biasa dibuku ini, melihat mereka mentafsirkan karya-kaya dari SGA.

Nah, ngomongin tafsir menafsir, saya menemukan bagian 'kurang puas' dengan buku ini. Saya ingin tahu mereka menafsirkan dari cerpen apa saja? Memang sebagian tertulis, tapi tidak semuanya. Karena membaca buku ini saya menjadi tertarik dengan karya SGA, saya ingin membaca karyanya dan ingin menemukan benang merah apa yang ada di cerpen buatan SGA dengan cerpen-cerpen yang ada di buku ini. Dan 'kurang puas' berikutnya adalah tidak adanya profil SGA. Memang di pengantar kita akan diperkenalkan dengan SGA, tapi menurut saya kurang banyak *emang banyak maunya ini orang*, hehe. Itu aja sih, selebihnya saya sangat menyukai kumcer ini.


Buat yang suka kisah happy ending, pertanyaan yang membutuhkan jawaban, cinta yang romantis nan manis, disarankan jangan membaca buku ini.

4 sayap untuk 169 kata senja dan 105 kata cinta.




NB:

Tentang Seno Gumira Ajidarma
Lahir: Boston, 19 Juni 1958

Pendidikan Formal:
1994 – Sarjana, Fakultas Film & Televisi, Institut Kesenian Jakarta
2000 – Magister Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia
2005 – Doktor Ilmu Sastra, Universitas Indonesia               
Penghargaan yang pernah di peroleh, antara lain:
1987 – SEA Write Award
1997 – Dinny O’Hearn Prize for Literary
2005 – Khatulistiwa Literary Award   

Aktivitas dan kesibukan: Wartawan, Fotografer, Dosen, dan tentu saja Penulis 
SASTRAWAN yang satu ini sosok pembangkang. Ayahnya Prof. Dr. MSA Sastroamidjojo, guru besar Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada. Tapi, lain ayah, lain pula si anak. Seno Gumira Ajidarma bertolak belakang dengan pemikiran sang ayah. Walau nilai untuk pelajaran ilmu pasti tidak jelek-jelek amat, ia tak suka aljabar, ilmu ukur, dan berhitung. “Entah kenapa. Ilmu pasti itu kan harus pasti semua dan itu tidak menyenangkan,” ujar Seno. Dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, Seno gemar membangkang terhadap peraturan sekolah, sampai-sampai ia dicap sebagai penyebab setiap kasus yang terjadi di sekolahnya. Waktu sekolah dasar, ia mengajak teman-temannya tidak ikut kelas wajib kor, sampai ia dipanggil guru. Waktu SMP, ia memberontak: tidak mau pakai ikat pinggang, baju dikeluarkan, yang lain pakai baju putih ia pakai batik, yang lain berambut pendek ia gondrong. “Aku pernah diskors karena membolos,” tutur Seno.
Imajinasinya liar. Setelah lulus SMP, Seno tidak mau sekolah. Terpengaruh cerita petualangan Old Shatterhand di rimba suku Apache, karya pengarang asal Jerman Karl May, ia pun mengembara mencari pengalaman. Seperti di film-film: ceritanya seru, menyeberang sungai, naik kuda, dengan sepatu mocasin, sepatu model boot yang ada bulu-bulunya. Selama tiga bulan, ia mengembara di Jawa Barat, lalu ke Sumatera berbekal surat jalan dari RT Bulaksumur yang gelarnya profesor doktor. Lancar. Sampai akhirnya jadi buruh pabrik kerupuk di Medan. Karena kehabisan uang, ia minta duit kepada ibunya. Tapi, ibunya mengirim tiket untuk pulang. Maka, Seno pulang dan meneruskan sekolah.
Ketika SMA, ia sengaja memilih SMA yang boleh tidak pakai seragam. “Jadi aku bisa pakai celana jins, rambut gondrong.”
Komunitas yang dipilih sesuai dengan jiwanya. Bukan teman-teman di lingkungan elite perumahan dosen Bulaksumur (UGM), rumah orangtuanya. Tapi, komunitas anak-anak jalanan yang suka tawuran dan ngebut di Malioboro. “Aku suka itu karena liar, bebas, tidak ada aturan.”
Walau tak mengerti tentang drama, dua tahun Seno ikut teater Alam pimpinan Azwar A.N. “Lalu aku lihat Rendra yang gondrong, kerap tidak pakai baju, tapi istrinya cantik (Sitoresmi). Itu kayaknya dunia yang menyenangkan,” kata Seno.
Tertarik puisi-puisi mbeling-nya Remy Sylado di majalah Aktuil Bandung, Seno pun mengirimkan puisi-puisinya dan dimuat. Honornya besar. Semua pada ngenyek Seno sebagai penyair kontemporer. Tapi ia tidak peduli. Seno tertantang untuk mengirim puisinya ke majalah sastra Horison. Tembus juga. “Umurku baru 17 tahun, puisiku sudah masuk Horison. Sejak itu aku merasa sudah jadi penyair,” kata Seno bangga.
Kemudian Seno menulis cerpen dan esai tentang teater.
Jadi wartawan, awalnya karena kawin muda pada usia 19 tahun dan untuk itu ia butuh uang. Tahun itu juga Seno masuk Institut Kesenian Jakarta, jurusan sinematografi. “Nah, dari situ aku mulai belajar motret,” ujar pengagum pengarang R.A. Kosasih ini.
Kalau sekarang ia jadi sastrawan, sebetulnya bukan itu mulanya. Tapi mau jadi seniman. Seniman yang dia lihat tadinya bukan karya, tetapi Rendra yang santai, bisa bicara, hura-hura, nyentrik, rambut boleh gondrong. “Tapi, kemudian karena seniman itu harus punya karya maka aku buat karya,” ujar Seno disusul tawa terkekeh.
Sampai saat ini Seno telah menghasilkan puluhan cerpen yang dimuat di beberapa media massa. Cerpennya Pelajaran Mengarang terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1993. Buku kumpulan cerpennya, antara lain: Manusia Kamar (1988), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (l994), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995), Sebuah Pertanyaan untuk Cinta (1996), Iblis Tidak Pernah Mati (1999). Karya lain berupa novel Matinya Seorang Penari Telanjang (2000). Pada tahun 1987, Seno mendapat Sea Write Award. Berkat cerpennya Saksi Mata, Seno memperoleh Dinny O’Hearn Prize for Literary, 1997.
Kesibukan Seno sekarang adalah membaca, menulis, memotret, jalan-jalan, selain bekerja di Pusat Dokumentasi Jakarta-Jakarta. Juga kini ia membuat komik. Baru saja ia membuat teater.
Pengalamannya yang menjadi anekdot yakni kalau dia naik taksi, sopir taksinya mengantuk, maka ia yang menggantikan menyopir. Si sopir disuruhnya tidur.

Untuk tahu lebih banyak tentang SGA silahkan kesasar di http://sukab.wordpress.com/ dan di Goodreads

Sumber: di sana, di sini, di situ



Perkara Mengirim Senja
Penulis: Valiant Budi Yogi, Jia Effendie, M. Aan Mansyur, Lala Bohang, Putra Perdana, Sundea, Faizal Reza, Utami Diah K, Mudin Em, Maradilla Syachridar, Theoresia Rumthe, Arnellis, Feby Indirani, Rita Achdris.
Penyunting: Jia Efendie
Pewajah Isi dan cover: Lala Bohang
Penerbit: Serambi
ISBN: 978-979-024-502-0
Cetakan I: April 2012
188 halaman

Jumat, 27 April 2012

The Heart Speaks


10278553


Angina adalah cara jantung berkomunikasi kepada pemiliknya dengan berseru, “PERHATIKAN!”
Sebenernya bingung mau menulis review buku ini karena pertama buku ini adalah non fiksi yang mengarah ke authobiographi dan kedua buku ini adalah buku kesehatan (di mana saya sudah munek-munek baca buku kuliah saya sendiri :p), mencernanya saja lama apalagi menulis ulang apa yang telah saya dapat setelah membacanya, saya memang tidak berbakat menjadi guru :D.

Awalnya agak males karena tahu pasti lemot mencernanya, tapi ada rasa penasaran besar terhadap buku ini karena bercerita tentang jantung. Selain karna buku ini satu-satunya terbitan serambi yang ada di tumpukan buku yang akan dibaca, yang membuat saya terus melirik kemudian membacanya adalah judul dan gambar stetoskop berbentuk daun hati, trus juga taglinenya yang menyebutkan Kisah Seru Kardiolog Mengungkap Bahasa Rahasia Penyembuhan. Bayangan pertama saya adalah ada cara lain untuk menyembuhkan penyakit jantung selain mengkonsumsi obat-obatan atau kateterisasi jantung!

Pas baca di bagian pendahuluan tentang Riwayat Hidup Jantung yang membuat saya lebih tertarik lagi untuk terus membacanya adalah ada kesamaan antara saya dan dr. Mimi yaitu punya masa lalu yang buruk dengan jantung. Ketika berumur delapan tahun, Mimi kehilangan Ibunya karena serangan jantung, Ibunya terkena Infark Miokard (kematian otot jantung akibat penyumbatan mendadak arteri koroner oleh bekuan darah). Satu dasawarsa berikutnya, dia kehilangan ayahnya karena penyakit jantung juga.
Sebagian alasan saya menjadi dokter adalah untuk mengatasi ketidakberdayaan yang saya rasakan sebagai seorang gadis kecil pada malam itu di Brooklyn, ketika Ibu direnggut dari sisi saya. Mungkin dengan menjadi seorang kardiolog, saya berusaha dalam usaha simbolik untuk kembali ke masa itu dan menyembuhkan sang jantung di tangan keluarga kami yang berhenti berdenyut terlalu cepat.
Oleh karena itu, buku ini adalah kisah bagaimana saya dulu dilatih untuk melihat jantung sebagai pompa mekanis sederhana, kemudian saya dituntun oleh pasien-pasien saya untuk menghargainya sebagai inti dari kompleksitas dan kekuatan yang besar.
Dalam The Heart Speaks, saya akan menjelajahi apa yang pasien-pasien saya  ungkapkan pada saya mengenai sifat sejati organ kompleks dan penuh lapisan ini dengan membagi kisah hidup mereka, selain penemuan terbaru yang menempatkan jantung sebagai pusat kecerdasan, pusat pengambilan keputusan, dan ingatan.
Apa sih rahasia penyembuhan dr. Mimi? Kita akan menemukan jawabannya dari kisah para pasiennya. Saya akan menceritakan dalam dua versi, yaitu versi panjang dan versi singkat. Berikut yang versi panjangnya terlebih dahulu. Siap-siap menerima pelajaran dari ibu guru :p.

Bagian I: Mitos tentang Pompa Mekanis, lebih banyak menceritakan tentang kehidupan Mimi waktu kecil dengan sejarah jantung di keluarganya sampai ia mengambil spesialis di bidang kardiologis. Dikenalkan juga dengan singkat makna jantung bagi kehidupan kita. Tidak terlalu suka bagian ini, karena di bagian Pendahuluan sudah menjelaskan garis besar sejarah jantung keluarga Mimi, tapi ada kalimat dari dosen Mimi, seorang dokter tua yang memberikan pealajaran berharga buat Mimi dan saya:
Jika kalian membiarkan pasien berbicara dan menceritakan kisahnya, dan kalian sungguh-sungguh mendengarkan, mereka akan memberitahu diagnosisnya pada kalian. Tetapi jika kalian terus menyela sehingga mereka enggan menyampaikan kisahnya, kalian terpaksa akan terus menyuruh mereka menjalani ters-tes dan uji lab dan kalian akan melewatkan jawaban yang sesungguhnya, tepat di depan mata kalian.
Bagian II: Bahasa Jantung. Bagian yang paling saya suka. Bagian ini menceritakan kisah hidup pasien-pasien Mimi, kisah penyakit jantung mereka, di mana mereka adalah ilmu pengetahuan yang tidak akan pernah kita temui di buku pelajaran mana pun.
Paul, dia adalah seorang yang gila kerja, mendapatkan serangan jantung karena stress. Dia terkena penyakit yang disebut ‘windowmaker’, suatu penyumbatan mematikan di salah satu pembuluh darah utama yakni pembuluh anterior yang menurun di bagian kiri.
Bertemu seorang dokter baru, terutama setelah mengalami serangan jantung, boleh jadi terasa seperti bertemu dengan Tuhan. Orang asing ini memiliki tidak hanya data diri Anda tetapi juga memahami arti dari data itu, kunci pengobatan di masa depan. Tetapi saya menganggap bekerja dengan pasien jantung adalah seperti kolaborasi di mana kita tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Memecahkan masalah jantung membutuhkan lebih dari sekedar keahlian teknis. Agar perubahan jangka panjang dapat terjadi, tidak cukup bagi saya untuk masuk begitu saja ke dalam sebuah masalah seperti seorang montir dengan berusaha menghilangkan sumbatan arteri atau mengatasi kebocoran katup. Pasien harus benar-benar dilibatkan dalam penyembuhannya sendiri.
Melalui Paul juga, Mimi sadar kalau dia juga mempunyai tingkat stress yang tinggi karena pekerjaannya, yang dapat memicu serangan jantung. Selain itu, Mimi juga belajar dari pasiennya yang melakukan diet, olah raga, obar herbal dari Cina, yoga, meditasi bisa sembuh dari penyakit koroner.
Russ, terpuruk karena penyakit arteri koroner yang parah, tidak mampu lagi bekerja, berjalan atau berolah raga tanpa mengalami angina (berkurangnya oksigen secara sementara ke otot jantung sehingga memberi isyarat bahwa otot jantung tidak menerima cukup darah. Biasanya ditandai dengan nyeri dada hebat sampai ke punggung). Ditambah, ia tidak mempercayai dokter manapun karena mereka telah melakukan hal yang yang tak termaafkan: mencabut harapannya dan menghabisinya. Dokter pertama yang ditemuinya mengatakan kalau dia sebaiknya menyelesaikan urusannya sebelum meninggal.
Sebagai kardiolog, saya sadar bahwa tugas terberat yang saya miliki bukanlah mengerjakan angioplasti atau menyisipkan stent ke dalam arteri yang tersumbat. Kenyataannnya, prosedur ini begitu mudah dibandingkan dengan tugas yang menanti di depan saya, yakni berusaha menyalakan harapan di dalam hati pria yang telah membeku ini.
Saya meletakkan alat-alat medis dan buku resep, dan membiarkan pasien saya berbicara.
Budaya kita berakar dari tradisi bercerita.
Ada sesuatu dalam diri setiap orang yang ingin menceritakan kisah hidupnya dan ingin didengarkan. Penelitian menunjukkan bahwa ketika kita mendengarkan baik-baik dan merespon baik pula, terjadi pertukaran terapi yang dapat membantu menyembuhkan luka emosi dan fisik.
Joe dan Jean, dua pasien yang mengalami depresi. Depresi bisa menyebabkan penyakit jantung. Karena penyakit jantung, bisa menyebabkan seseorang menjadi depresi. Hubungan yang rumit.
Mengapa depresi begitu jahat bagi jantung? Depresi dan gangguan kecemasan dapat meningkatkan tekanan darah, merusak ritme jantung, mengubah pembekuan darah, dan menyebabkan naiknya insulin serta kadar kolesterol. Faktor-faktor ini, bersama dengan obesitas, membentuk kumpulan sinyal dan gejala yang sering kali bertindak sebagai factor pemicu penyakit jantung. Depresi juga membuat kadar hormone stress meningkat secara kronis, seperti kortisol dan adrenalin. Sehingga dapat menaikkan tekanan darah, trigliserida dan LDL atau kolesterol "jahat”.
Milly, ia menderita aritmia jantung yang disebut fibrilasi atrium (ritme jantung yang kacau dan tak teratur di ruang jantung bagian a
tas, penyebab: tekanan darah tinggi atau ketidakseimbangan elektrolit seperti magnesium atau kalium yang rendah. Gejalanya: napas tersengal-sengal, berkeringat, rasa tak nyaman di dada, pusing, pingsan, kelelahan yang ekstrem) yang tak dapat ditangani oleh-obat-obatan. Milly memperkenalkan Mimi pada dimensi spiritual, keajaiban, kekuatan doa.
Pertama kali Anda menyaksikan praktisi non-tradisional berhasil menghilangkan nyeri dada atau membuat pasien yang menderita dapat beristirahat atau dapat menghentikan serangan jantung tanpa obat-obatan atau alat di sisi tempat tidur pasien, Anda akan berkata, ‘kebetulan yang hebat.’ Kalau itu terjadi dua kali, Anda akan berkata, ‘Ini menarik.’ Tetapi, ketika itu terjadi tiga kali, Anda akan berkata, ‘Kita harus mempelajarinya.
Pernah menyangka kalau patah hati, kematian, tenggelam dalam kesedihan bisa menyebabkan penyakit jantung? Ken Rafle, pria yang terlihat sehat ini ternyata mengalami penyumbatan kritis di dua arteri koronernya. Dibalik tampilannya yang sehat, dia mempunyai kisah jantung yang kelam, luka yang tak ingin diungkapkan.
Dalam suasana penuh kepedihan, tubuh dibanjiri oleh limpahan hormone stress dari system syaraf simpatik yang meningkatkan denyut jantung dan mengerutkan arteri.
Terlalu panjang ya? Ambil napas panjang dulu kalau begitu :p. Sebenernya masih ada satu bab lagi nih, Bagian III: Di Balik Jantung Ragawi. Tapi sebaiknya kalian baca sendiri, nggak seru kalau semua bagian terseru saya ceritakan di sini. Lebih mudah menjelaskan isi buku ini dengan mencomot bagian yang saya anggap penting, selain tahu kisah jantung pasien-pasien dr. Mimi dan bagaimana cara dr. Mimi mengatasinya, kita juga akan mendapatkan pengetahuan tentang seluk beluk jantung. Suka cara dr. Mimi bercerita terlebih tentang penjelasan tentang penyakit-penyakit jantung, mudah dipahami, bagi orang awam yang merasa asing dengan istilah asing di buku ini tidak perlu takut, dia menulis seperti menjelaskan kepada pasiennya tentang penyakitnya dengan bahasa yang mudah dicerna. Lalu apa kekurangan buku ini? Saya sempat mandeg baca buku ini karena bosan, seperti halnya buku pelajaran lainnya yang membuat saya tidak pernah betah membacanya, mungkin karena tidak ada konflik XDD.

Ada percakapan dr. Mimi dengan pasiennya yang jleb banget, begini bunyinya:
“Laurie, apa yang paling penting untuk dilakukan seorang dokter agar semua masalah yang kau hadapi selama bertahun-tahun ini menjadi lebih baik?”
“Kau baru saja melakukannya, dr. Guarneri. Kau meluangkan waktu untuk mendengarkan.”

Oh ya, saya belum menuliskan versi singkat buku ini ya? Rahasia penyembuhan yang dilakukan dr. Mimi adalah mendengarkan dan memberi perhatian kepada pasiennya. Itulah obat yang paling mujarab (Jangan dianggap spoiler, ini buku kesehatan yang tidak ada konflik di dalam ceritanya :p).
Setiap orang bertanya mengapa saya memilih untuk mengabil spesialisasi di bidang kardiologi, saya akan menjawab bahwa dengan jantung, ada banyak cara untuk menolong. Ada prosedur seperti stent dan bedah bypass yang benar-benar dapat mengubah hidup seseorang dan memungkinkan mereka untuk menjalani hidup secara produktif selama bertahun-tahun. Apa yang lebih menyenangkan daripada membuka arteri dan membiarkan darah segar mengalir ke dalam jantungnya yang lapar?
Buku ini cocok untuk dokter dan tenaga media lainnya. Buku ini juga cocok untuk orang yang mau mendengarkan isi jantungnya.

3.5 sayap untuk dag dig dug J

The Heart Speaks (Dengarlah Jantung Anda Bicara)
Penulis: Mimi Guarneri, M.D.
Penerjemah: Ella Elviana
Penerbit: Serambi
ISBN: 978-979-1275-09-5
Cetakan pertama, Oktober 2007
257 halaman

Jumat, 29 Juli 2011

The Day of The Jackal


284108_2189100376575_1519057220_2429062_7597544_n


By Frederick Forsyth
Penerjemah: Ranina B. Kunto
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Juni 2011
ISBN: 978-979-024-356-9
609 halaman

Sebenarnya saya bingung mau menulis review ini, ceritanya terlalu mbulet dan saya tidak benar-benar menyelesaikannya. Membaca buku ini seperti seorang vegetarian yang disuguhi daging dan saya harus memakannya (memasuki bagian lebay). Tidak usah bertele-tele lagi nanti reviewnya malah mbulet, langsung saja ke inti cerita.

Diawali dengan kematian pemimpin geng pembunuh dari OAS (Organisation L’Armee Secrete), Jean Marie Bastien-Thiry yang telah berusaha menembak Presiden Prancis saat itu, Charles de Gaulle karena dia meyakini kalau Gaulle telah menghianati Prancis dan orang-orang yang pada tahun 1958 telah memilihnya kembali menjadi presiden, atas kebijakannya menyerahkan Aljazair kepada kaum nasionalis Aljazair. Namun, kematiannya justru menjadi permulaan. Colonel Marc Rodi, kepala operasi OAS yang baru juga merasa dihianati dan kebenciannya kepada Gaulle semakin menjadi, dia pun melaksanakan kudeta besar-besaran untuk menggulingkan pemerintah pada bulan April 1961 namun kudeta tersebut gagal, kemudian bersama dua temannya di OAS, Rene Montclair, bendahara OAS dan Andre Lasson, coordinator gerakan bawah tanah OAS-CNR di Prancis Metropolitan, mereka membutuhkan seorang professional , orang luar yang pandai dalam pembunuhan politik karena organisasi mereka telah banyak disusupi oleh agen-agen Dinas rahasia Prancis sehingga tidak banyak lagi keputusan yang menjadi rahasia dan wajah mereka juga familier di kalangan polisi Prancis. Mereka membutuhkan orang luar yang didak diketahui identitasnya, pembunuh bayaran dengan harga setengah juta dolar, dia berinisial Jackal.

Jackal pun memulai strateginya dengan membuat identitas atau paspor palsu, merancang sendiri senjatanya agar benar-benar cocok dengan strategi pembunuhannya nanti yang akan dilaksanakan pada waktu kemerdekaan Prancis. Intinya, segalanya terencana dengan baik dan detail. Tentu saja pemerintah Prancis tidak diam begitu saja, mereka mengetahui kalau ada bahaya yang akan mengencam keselamatan presiden, tapi mereka tidak tahu siapa bahkan OAS, DST, Dinas Aksi, RG, tidak ada yang mengetahui identitas sang Jackal. Mereka membutuhkan nama, wajah, paspor agara bisa menahannya, untuk menemukan namanya secara rahasia, mereka membutuhkan seorang detektif. Cerita pun berlanjut akan pengejaran detektif terbaik Prancis, Komisaris Claude Lebel akan keberadaan Jackal. Seperti judul film, Catch Me If You Can.

Buku tebal dan kertasnya tipis ini dibagi menjadi tiga bagian: Anatomi Perencanaan, Anatomi Perburuan Manusia, Anatomi Pembunuhan. Sebenarnya buku ini lumayan apalagi bagi penyuka serial detektif, pemeran antagonis sebagai tokoh utama yang jarang dipakai oleh penulis lain menjadikan buku ini cukup penasaran untuk dibaca, isinya pun benar-benar detail, baik latar belakang terjadinya kudeta, agen-agen militer dan rahasia Prancis, pengejaran Jackal, cara pembunuhannya sangat terencana, penulis begitu pandai menjabarkannya. Sayangnya dari awal saya sudah bingung dan tidak konsen membaca buku ini, hal sepele pun juga dijelaskan dengan detail, ceritanya terlalu mbulet dengan banyaknya tokoh sehingga saya terpaksa melewati atau membaca sekilas saja beberapa halaman. Mungkin karena “Bukan ukuran baju saya,” kebesaran, sehingga saya tidak nyaman membacanya. Mungkin saya lebih cocok dengan filmnya ^^
2 sayap untuk sang penjagal.

Tentang penulis

Frederickforsyth

Frederick Forsyth lahir di Inggris pada 25 Agustus 1938. Pada 1956, ia menjalani Wajib Militer sampai 1958, dan pada usia 19 tahun menjadi pilot termuda di Angkatan Udara. Pada 1969, ia mulai menulis buku pertamanya, The Biafra Story, setelah keluar dari BBC pada 1968. Kini ia bermukim bersama isterinya di Hertfortshire, Inggris.
The Day of The Jackal, pertama kali terbit tahun 1971, menjadi buku laris dan mendapatkan penghargaan novel terbaik Edgar Allan Poe Award 1972. Novel-novel Forsyth bercerita seputar peperangan, intrik internasional, intrik politik, spionase dan kriminalitas lintas Negara, mungkin terinspirasi dari latar belakangnya mengikuti Wajib Militer kali ya, hehehe. Karya-karya lainnya yang juga mendapat pengakuan luas diantaranya adalah  The Dogs of War, The Odessa File, The Devil’s  Alternative, The Fourth Protocol, The Negotiator, The Deceiver, The Fist of God, Icon, Avenger, The Afghan, dan The Cobra.
The Day of The Jackal ini juga pernah dibuat film bahkan sampai dua kali pada tahun 1973 dan 1997. Pada film pertamanya mendapatkan penghargaan BAFTA Award, 1974 sebagai Best Film Editing dan remake filmnya dibintangi oleh Richard Gere dan Bruce Willis.

220px-day_of_the_jackal_ver1Mv5bmzcymjk4nzuzmf5bml5banbnxkftztcwnjmzoti1mq

Jumat, 06 Mei 2011

Last Tango In Paris


Pengarang: Robert Alley
Judul asli: Last Tango In Paris, terbitan Pan Books, London 1973
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetakan: I, Januari 2011
Karakter: Paul, Jeanne
256 halaman
goodreads: http://bit.ly/hMTvtU

Akhirnya beli juga kemaren. Apa yang mesti saya resensi dari buku ini?
“tampak dua orang melintasi jembatan, menuju arah yang sama, terjerembab dalam irama yang saling berbalas, mesti mereka tak pernah menduganya. Mereka sebelumnya tak pernah bertemu dan tak bisa menjelaskan momen aneh yang secara kebetulan mempertemukan mereka. Bagi keduanya, jembatan, hari itu, pemandangan kota Paris, serta kondisi keberadaan mereka memiliki makna yang sungguh berbeda.” Hal. 6.
Mereka pertama kali bertemu di jembatan itu kemudian saling melirik di sebuah apartemen yang dicari Jeanne untuk dirinya dan tunagannya. Ketika dia membuka sebuah kamar untuk melihatnya ternyata dia ada disana, Paul, pria berusia 45 tahun yang mempunyai wajah tampan tapi terkesan dingin, yang sangat menarik dimata Jeanne. Dengan pertemuan singkat mereka, kata yang sedikit terucap, mereka langsung melakukan “bobok bareng.” Di apartemen itu, telah menjadi saksi sejarah dua beban berat yang ingin dilepas oleh diri masing-masing, Paul yang tidak mengerti kenapa istrinya bunuh diri dan Jeanne dengan tunangannya yang terobsesi menjadi sutradara, dimana dia harus menjadi artisnya, dua kekecewaan menjadi satu, berusaha saling melepaskan.
Mungkin itu saja yang bisa saya katakan.
Tertarik baca ini karena pernah menjadi salah satu bacaan yang dipilih program baca bareng di goodreads tapi baru kesampaian baca kemarin. Melirik para review yang sudah ada, mereka menjelaskan kalau isi buku ini melulu soal sex. Memeng sih, Paul dan Jeanne selalu “bobok bareng” ketika mereka dengan sengaja ataupun tanpa sengaja pergi ke apartemen itu, tapi kalau menurutku tidak terlalu gimana ya, sedikit vulgar lah, soalnya masih banyak juga harlequin ataupun historical romance yang jauh lebih parah. Selain itu,kata-kata Paul disini juga sangat kejam dan kotor, gak habis pikir si Jeanne mau aja digituin apalagi di adegan itu (tidak mau menjelaskan ah), hmm dia memang sebenernya menolak sih hihihihi.
Berbicara sedikit tentang filmnya yang saya dapat dari lembar terakhir di buku ini, novel Robert Alley ini ditulis berdasarkan sebuah film drama romantic (yang seharusnya tragis) legendaris, Last Tango in Paris (1972—Ultimo Tango A Parigi). Film yang diproduseri oleh Alberto Grimaldi dan di sutradarai oleh sineas terkemuka Bernado Bertolucci berdasarkan scenario yang ditulisnya sendiri bersama Franco Arcalli dan Agnes Varda. Tokoh Paul di film ini diperankan oleh actor top saat itu, Marlon Brando. Sementara, Jeanne diperankan oleh Maria Schneider. Atas perannya di film ini, Brando dinominasikan meraih Oscar sebagai actor terbaik, sedangkan Bertolucci dicalonkan sebagai sutradara terbaik dalam ajang Academy Award 1973. Film ini juga menyulut kontroversi karena muatan seksualitasnya yang dianggap sangat eksplisit dan sempat berurusan dengan lembaga sensor diberbagai Negara. Namun, para kritikus mengganggapnya sebagai salah satu film terbaik yang pernah dibuat. Hmmmm, cuman mikir tahun 1972 dan 2011 apakah kadar sensornya masih sama???? =))

3 sayap untuk akhir yang tragis.

Rekomendasi Bulan Ini

Buku Remaja yang Boleh Dibaca Siapa Saja | Rekomendasi Teenlit & Young Adult

K urang lebih dua tahun yang lalu saya pernah membahas tentang genre Young Adult dan berjanji akan memberikan rekomendasi buku yang as...