Tampilkan postingan dengan label Let's Talk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Let's Talk. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Oktober 2019

#UnpopularOpinion Semua Orang Memuja, Aku Mencerca


Hai hallo good readers! Akhirnya bisa nulis Unpopular Opinion yang sudah saya list begitu lama, yang lama ngupulinnya biar bisa lebih dari lima, hahaha. Mungkin kalian sudah banyak yang tahu, kalau selera membaca saya ini pasaran banget, suka banget baca novel populer, novel yang disuka banyak orang. Bahkan kadang banyak novel yang dicerca tapi saya sangat menyukainya. Contohnya seperti Twilight, novel-novelnya Ika Natassa, terus apa lagi ya? Ada yang bisa nambahin? Hihihihi.

Saya mah woles saja, terserah orang mau berpendapat apa. Kalau buku yang kita baca bisa membuat kita bahagia kenapa diributkan? Nah, karena selera saya mainstream banget, muncul lah keanehan, di saat banyak orang yang suka, saya malah kebalikannya! Keadaan ini sama seperti ketika saya nonton film 500 Days of Summer, di saat orang memuja-muja film tersebut, saya merasa MEH. Alasan di sini subjektif banget, sangat tergantung selera. Rata-rata yang bikin saya nggak cocok, saya merasa bosan sekali ketika membaca, bingung, selalu ketiduran dan nggak mudeng. Nah, apa saja #UnpopularOpinion Semua Orang Memuja, Aku Mencerca versi Kubikel Romance? Simak list di bawah ini.

Minggu, 11 Maret 2018

Kenapa Memilih Buku Terjemahan?



Perdebatan apakah lebih baik membaca buku versi asli daripada buku terjemahan tak ubahnya dengan lebih baik mana antara baca ebook atau buku cetak, tak akan ada habisnya. Padahal, keduanya sama-sama baik dan memiliki kelebihan masing-masing. Membaca buku versi bahasa aslinya, misalkan Inggris bisa mengasah kemampuan kita, sedangkan membaca versi terjemahan membuat kita cinta produk dalam negeri XD. Lalu kenapa selalu menjadi masalah? Apalagi harga buku terjemahan sekarang mahal banget, lebih baik beli aslinya, dong! Maka dari itu, Let's Talk.

Pernah ada teman yang berkomentar ternyata saya juga pecinta buku dalam negeri, padahal terlihat sering membaca buku terjemahan. Memang tidak salah, bisa dibilang kecintaan membaca saya dimulai dari membaca buku terjemahan, misalkan saja yang paling dominan adalah novel harlequin atau historical romance, kemudian merambah ke fantasy seperti Twilight dan Harry Potter. Baru ketika saya benar-benar menyukai kegiatan membaca, saya banyak membaca karya penulis dalam negeri, apalagi era Teenlit dan Metropop mulai menjamur, mulai deh bacaan saya meluas.

Sabtu, 28 Oktober 2017

Pilih Jadi Book Blogger, Booktuber atau Bookstagrammer?


Hai hallo, jumpa lagi di postingan Let's Talk, tempat di mana saya mengemukakan pendapat akan isu atau sebuah topik kepada pembaca untuk didiskusikan bersama. Topik kali ini masih berhungan dengan dunia buku, pastinya, hanya saja saya akan merambah ke platform sosial media yang biasa digunakan untuk berpromosi, sebuah media yang mungkin saja bisa menggeser media lainnya, khususnya blog, yaitu youtube dan instagram. Saya akan membahas pilih jadi book blogger, booktuber atau bookstagrammer? Let's Talk.

Mungkin banyak yang merasakan hal sama dengan saya, sekarang ini eksistensi para blogger buku mulai berkurang, banyak blogger buku yang hiatus, tidak seramai dulu, bahkan di dalam komunitas yang saya ikuti bisa dibilang sudah tidak ada interaksi aktif, mati suri. Tentu banyak berbagai alasan, mulai dari tidak ada 'feel' untuk ngeblog, ada prioritas lain, tidak punya waktu lagi, dsb. Di sisi lain,  setelah era Blog muncul platform lain untuk mengekspresikan kecintaan tehadap buku di Indonesia, pengguna Youtube dan Instagram yang mengkhususkan akunnya untuk membahas dunia buku, biasa disebut booktuber dan bookstagrammer.

Minggu, 27 Agustus 2017

Baca Buku Cetak atau Buku Digital? | Let's Talk


Di era modern ini, teknologi semakin berkembang, kita bisa berbelanja tanpa perlu keluar rumah, mau pesan apa saja bisa lewat aplikasi di gawai, tak terkecuali dengan buku. Sekarang kita bisa menikmati membaca tanpa perlu melibatkan kertas, menenteng buku-buku yang bisa untuk mengganjal pintu, melainkan hanya menatap layar gawai yang kita punya. Elektronik book atau e-book atau buku digital sekarang dengan mudah bisa kita temui di Indonesia, banyak aplikasi yang menawarkan model baca tersebut, bahkan banyak juga versi bajakannya, yang tentu saja tidak saya sarankan. Pertanyaanya adalah apakah hadirnya buku digital akan mematikan pasar buku cetak? Lebih baik baca buku cetak atau buku digital? Let's talk.

Jujur saja, dulu saya bisa dibilang tidak mau membaca e-book atau buku digital. Pertama karena tidak terbiasa dan tidak memiliki e-reader (perangkat untuk membaca e-book), serta mayoritas hanya ada buku bahasa Inggris, tidak ada buku terjemahan maupun buku lokal, sehingga tidak ada yang menarik minat saya. Lalu, munculah perpustakaan digital semacam iJak dan toko buku digital yang digagas oleh Scoop, kita tidak membutuhkan e-reader, hanya bermodal tablet atau ponsel saja sudah cukup, membuat saya memikirkan ulang akan konsep model bacaan seperti apa yang saya butuhkan.


Sabtu, 04 Februari 2017

Ketika Semesta Mengecam Buku Favoritmu | Let's Talk


Pernah nggak membaca review tentang buku favorit kalian di mana isinya menjelek-jelekkan dan dikasih rating seuprit? Buku bagi mereka yang tidak ada artinya dan lebih baik dilempar saja saking MEH ceritanya, padahal kalian sangat memujanya? Buku yang menjadi favorit sepanjang masa eh bagi orang lain buku terjelek yang pernah ada? Buku yang tulisannya ampun-ampunan jelek setengah mati kok ya bisa diterbitkan. Saya sering banget, apa yang harus kita lakukan ketika seolah-olah semesta ikut mengecam buku favoritmu? Let's talk :D

Sebenarnya sah-sah saja tiap pembaca ingin mengeluarkan pendapat akan buku yang dibacanya, tidak ada yang mengatur atau melarang toh itu kebebasan tiap orang, setiap buku pasti berdampak lain bagi pembaca satu dengan pembaca lainnya. Cara menyampaikannya pun bisa beda-beda, yang namanya manusia tentu memiliki cara pandang dan sifat yang berbeda. Ada yang lugas dan apa adanya, ada yang sopan tapi ujung-ujungnya nylekit, ada yang penyampaiannya halus kayak putri keraton. Dan yang paling penting dan utama adalah soal selera, itu harga mati, tidak bisa diganggu gugat.

Jumat, 27 Mei 2016

Benarkah Orang Indonesia Tidak Suka Membaca?


Hai halooo good readers, jumpa lagi di postingan Let's Talk, tempat di mana saya mengemukakan pendapat akan sesuatu hal yang berhubungan dengan buku dan mengajak pembaca untuk turut serta mendiskusikannya juga. Kali ini saya menggabungkan postingan Let's Talk dengan Posting Bareng BBI untuk bulan Mei, di mana pada tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional sehingga tema bulan ini tidak jauh-jauh dari dunia perbukuan di Indonesia. Topik yang akan saya bahas adalah tentang minat baca, tentang isu benarkah orang Indonesia tidak suka membaca? Let's Talk.

Sebagai permulaan, saya akan memberikan berbagai data yang mengatakan kalau minat baca kita rendah, data saya ambil dari berbagai sumber. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), 91,68 persen masyarakat Indonesia lebih menyukai menonton televisi, masyarakat yang memiliki minat membaca hanya 17 persen. Sudah menjadi rahasia umum kalau budaya menonton lebih familier dengan budaya membaca. Tidak banyak yang melek aksara. Menurut hasil penelitian Programme for International Student Assesment (PISA), Indonesia berada di urutan 64 dari 65 negara yang disurvei dalam hal kemampuan matematika dan ilmu sains. Di level ASEAN, Indonesia kalah jauh dari Vietnam yang menempati urutan ke-20. PISA juga menempatkan Indonesia di nomor 57 dari 65 negara yang diteliti dalam hal kemampuan membaca siswa.

Senin, 25 April 2016

Tentang Book Hype | Let's Talk


Hai halloooo, Let's Talk hadir lagi, tempat di mana saya mengemukakan pendapat akan sesuatu hal yang berhubungan dengan buku dan mengajak pembaca untuk turut serta mendiskusikannya juga. Kali ini saya membawa topik yang sejak tahun lalu ingin ditulis tapi tidak kunjung terealisasi, yaitu Tentang Book Hype. Topik ini saya tahu pertama kali ketika menonton video dari The Readables, saya pun ingin membuat versi saya sendiri. Akan ada empat pertanyaan yang menjadi topik utama dalam book hype, tapi sebelum itu saya jelaskan dulu arti dari book hype. Hype menurut arti kata berarti blatant or sensational promotion, sedangkan book hype menurut saya adalah sebuah buku yang penuh sensasi, sangat fenomenal, banyak dibicarakan, sebuah buku yang memiliki publisitas berlebihan. Book hype biasa disandingkan juga dengan sebuah tren buku yang sedang booming. Pertanyaanya adalah apakah book hype itu baik atau buruk? Let's Talk.

Sebelum membahas lebih jauh, saya akan memberikan contoh buku yang sangat hype atau ngehits, antara lain: Harry Potter, Twilight, Fifty Shades of Grey, The Hunger Games, The Fault in Our Stars, Gone Girl, Eleanor & Park, Game of Thrones, dan masih banyak lagi. Sedangkan di Indonesia sendiri antara lain ada Critical Eleven, Intelegensi Embun Pagi, seri YARN Ice Cube, buku-buku bertema pernikahan, Koala Kumal, Novel Hujan Bulan Juni, 'Buku Biru', sampai akhir-akhir ini merambah ke buku puisi dan coloring book. Buku-buku tersebut sangat sering dibicarakan, bahkan terjual puluhan atau ribuan kopi hanya dalam kurun tidak lebih dari satu hari. Semua berlomba-lomba ingin menjadi pembaca yang pertama, ingin merensensi pertama kali, bahkan tidak jarang buku tersebut menjadi contoh buku lain atau inspirasi penulis lain untuk menulis sesuatu yang sama.

1. How do you feel about hype for books?

Kamis, 03 Maret 2016

Tentang Idealisme dalam Meresensi Buku | Let's Talk


Hello good readers, jumpa lagi dengan postingan Let's Talk, tempat di mana saya mengemukakan pendapat akan sesuatu hal yang berhubungan dengan buku dan mengajak pembaca untuk turut serta mendiskusikannya juga. Yang akan saya bahas kali ini adalah tentang idealisme dalam meresensi buku, terdengar egois ya? Hehehe. Tahun lalu ada dua orang teman saya yang bertanya lewat twitter, inti pertanyaanya adalah bagaimana kalau buku yang saya dapat untuk event promosi seperti blog tour tidak sesuai dengan ekspektasi alias berating rendah? Serta, apakah setiap buku yang didapat dari penulisnya langsung atau buntelan dari penerbit akan diresensi secara jujur? Let's Talk.

Tahun lalu blog tour memang sedang hits sekali, sampai saat ini pun masih menjadi pilihan beberapa penulis untuk mempromosikan buku terbaru mereka. Teringat obrolan singkat dengan Nana @ Glasses and Tea, tentang penulis sekarang harus bisa memilih strategi marketing yang baik dan nyaman bagi dirinya karena tidak semua penerbit bisa selalu mempromosikan buku terbaru mereka, kadang sibuk dengan promosi buku lain, dari penulis yang namanya sudah dikenal publik, begitu terbit buku dari penulis baru dibiarkan begitu saja. Atau bisa juga karena terlalu banyak buku baru sehingga mereka tidak mempromosikan secara khusus agar adil bagi semuanya. Mau tidak mau penulis harus terjun langsung agar bukunya dikenal pembaca, harus mau repot. Salah satu caranya dengan menggandeng para blogger untuk mengadakan blog tour.

Kamis, 30 Juli 2015

Tentang Rating Buku | Let's Talk

source: tumblr
Beberapa waktu yang lalu twitter sempat ramai masalah writer vs reviewer, jujur saja saya tidak mengikuti karena sibuk libur lebaran, hanya tahu dari teman kemudian sedikit kepo dan mencari tahu ada apa sih sebenernya, mungkin bahasan kali ini akan sedikit menyinggung masalah tersebut karena akan membahas bagaimana cara saya me-rating sebuah buku.

Semua berawal dari Goodreads, dari sanalah saya belajar memberikan nilai pada sebuah buku. Hanya berupa bintang namun bisa menjelaskan buku tersebut layak baca atau tidak, apakah sesuai dengan my cup of coffee? Di Goodreads hanya ada nilai 1-5 bintang, sedangkan kalau di blog saya menambahkan 0.5 di tiap angka pokok, bisa berarti buku tersebut ada kelebihan yang menarik. Beberapa reviewer ada yang tidak memberikan rating, tergantung pribadi masing-masing serta tujuannya, dari resensi yang ditulis kita bisa menilai sendiri kok buku tersebut cocok bagi kita atau tidak. Namun bagi saya rating itu sangat penting. Ibaratnya kalau kita sedang ulangan, rating adalah hasilnya, nilai yang diperoleh.

Kamis, 25 Juni 2015

Perlukah Kita Keluar Dari Zona Nyaman Ketika Membaca? | Let's Talk

source: tumblr

Dewasa ini bisa dibilang genre bacaan saya mulai meluas, nggak melulu baca romance atau fantasy saja, genre yang paling saya suka sejak dulu bahkan sampai sekarang. Dulu saya paling malas membaca buku kalau bukan dari dua genre tadi, sudah terlalu nyaman dan tidak ingin mengambil risiko. Namun, dengan berlalunya waktu dan mengenal banyak teman dengan bacaan beragam membuat pengetahuan saya pun meningkat perihal macam-macam genre buku, saya menjadi penasaran.

Lalu, apakah kita perlu keluar dari zona nyaman ketika membaca? Jawabannya ada dua, bisa ya bisa tidak :D. Bukan berarti kita tetap membaca genre itu-itu saja merupakan hal yang buruk, ada beberapa alasan apakah kalian perlu tetap berada di zona nyaman atau lebih baik meninggalkannya. Let's Talk :D.

Rabu, 08 April 2015

Why Everybody Needs To Read At Least 1 Romance Book? | Let's Talk

Rebloged from Tea, Coffee, and Books
Hallo good readers, ketemu lagi dengan postingan ketiga saya dalam event Around The Genres menyambut ulang tahun BBI yang keempat. Kali ini saya akan mengajak kalian untuk ikut berpatisipasi, mendiskusikan bersama-sama tentang sebuah topik yang cukup menarik, Why Everybody Needs To Read At Least 1 Romance Book? Kenapa sih setidaknya kamu harus mencoba membaca satu saja buku bergenre romance? Let's Talk.

Niatnya saya mau mengadakan survei kecil-kecilan dulu tapi karena nggak sempat jadi postingan ini berasal dari pendapat saya, tapi kamu nanti bisa ikut berpartisipasi kok karena emang itulah tujuan Let's Talk dibuat, agar pembaca juga ikut ambil bagian :D. Ada beberapa poin yang menurut saya kenapa kamu perlu membaca buku romance, ini dia:

Rabu, 05 November 2014

[Let's Talk] Rereading Books


Hello good readers, lama juga saya nggak posting Let's Talk, sebuah postingan yang berisi pendapat saya tentang sesuatu hal yang berhubungan dengan buku dan mengajak pembaca sekalian untuk ikut mendiskusikannya juga. Kemarin saya melihat Top Ten Tuesday yang bertema rereading book, saya jadi ingat punya hutang postingan Let's Talk dengan tema yang sama. Saya tidak hanya akan menyebutkan buku apa saja yang biasanya  saya baca ulang, tetapi lebih kenapa? Alasan apa saja yang membuat saya membaca ulang sebuah buku, apakah lebih baik baca ulang atau hanya cukup sekali baca? Let's Talk :D


Sabtu, 09 Agustus 2014

[Let's Talk] Membaca E-book via SCOOP


Dewasa ini teknologi sudah semakin maju, dunia buku pun terkena imbasnya, dalam hal positif pastinya. Kalau dulu kita hanya bisa menikmati membaca buku lewat kertas, sekarang kita bisa menikmatinya secara digital. E-book (electronic book atau buku elektronik) adalah sebuah bentuk buku yang dapat dibuka secara elektronik atau digital. E-book ini berupa file dengan format bermacam-macam, umumnya berbentuk pdf (sumber). Untuk membaca e-book biasanya kita memerlukan perangkat keras/gadget, seperti komputer, baik PC ataupun laptop. Bahkan ada perangkat yang didesain khusus untuk membaca e-book yaitu e-reader (ebook reader), salah satu contoh brand terkenal yang membuat e-reader adalah Amazon Kindle.

Beberapa tahun terakhir ini e-book sudah merambah di luar sana, di Indonesia pun sudah tidak asing lagi, apalagi buat para book lovers. Mahalnya e-reader dan jarang ditemui di toko gadget, terlebih susahnya proses pembelian membuat e-book jarang dilirik. Karena, untuk menikmati e-book kita butuh fasilitas agar bisa mengaksesnya, seperti e-reader tadi (walau sekarang pengguna Android bisa menikmati juga melalui aplikasi Kobo, Aldiko, dsb di play store), kecuali e-book yang bajakan atau sudah tidak memiliki hak cipta seperti buku klasik yang bisa diunduh secara gratis. Ditambah belum banyak buku dalam negeri yang terformat untuk e-book, rata-rata hanya buku luar.

Rabu, 04 Juni 2014

[Let's Talk] Negative Reviews


Semua penulis pasti ingin karyanya disukai oleh para pembaca, tapi layaknya manusia biasa, kita nggak bisa nyenengin semua orang, pasti ada aja yang suka dan nggak suka dengan apa yang kita lakukan, dalam hal ini mengenai karya kita. Bagi blogger buku, mereview adalah wadah bagi pembaca untuk curhat, menceritakan kembali apa yang kita dapat lewat tulisan, pendapat kita tentang buku yang baru saja dibaca. Selain cerita, poin penting dalam mereview adalah apa kekurangan dan kelebihan buku tersebut. Kalau kekurangannya lebih banyak daripada kelebihannya, orang yang nggak sependapat dengan kita mengganggap kalau review yang kita buat adalah Negative Reviews.

Negative reviews saya analogikan seperti negative campaign dan black campaign. Negative campaign berlandaskan fakta yang ada sedangkan black campaign belum tentu isu yang ada itu benar adanya, nggak ada pertanggungjawaban sama sekali. Begitu juga dengan negative reviews. Negative reviews bukan bermaksud menjatuhkan penulis agar karyanya tidak laku di pasaran, negative reviews sendiri hanya memaparkan fakta yang ada, menjelaskan dengan detail kenapa buku tersebut banyak kekurangangannya, bukan hanya bilang pokoknya nggak suka titik (kalau ini saya sebut sebagai Bad Reviews, sinonimnya Black Campaign :p). No no no, negative reviews nggak senaif itu.


Rabu, 21 Mei 2014

[Let's Talk] Book Collector

Rebloged from books are friends.

Hai hoooo, semoga hari kalian menyenangkan ya :). Ini hari terakhir saya libur panjang (beberapa hari ini saya ambil cuti) jadi bisa cukup aktif untuk ngeblog. Selain itu akan banyak warna di Kubikel Romance, bagi yang sering mantengin blog ini atau jeli pasti melihat ada yang baru, akhirnya saya bisa ngreview sesuai hari! Di bagian side bar saya menulis kalau hari Senin khusus untuk review buku roman Indonesia, Selasa untuk roman terjemahan, Rabu khusus non review, Kamis untuk buku di luar roman dan fantasi, dan hari Jumat khusus buku fantasi. Sedangkan untuk Weekend (Sabtu dan Minggu) saatnya untuk rehat, perbanyak untuk baca buku, yah walau nggak ngaruh juga sih bagi saya karena saya kerja berdasarkan shift, nggak memandang hari libur kapan, tanggal merah atau tanggal hitam :)

Selain review buku, saya juga kerap menulis tentang Meme (Wishful Wednesday, Top 5 Wednesday, Friday Recommendation), Book Haul, dan Bacaan Bulanan atau Montly Wrap Up. Kadang-kadang saya menulis juga tentang Recommendation, wawancara dengan penulis, quote of the day, Challenge atau kuis yang sedang saya ikuti, bahkan kalau punya rejeki saya ngadain Giveaway dan kalau ada penerbit yang tertarik bekerja sama dengan Kubikel Romance kadang memposting tentang Blog Tour :D. Untuk kedepannya, saya ingin memperbanyak Book Tag dan Let's Talk. Book Tag sendiri semacam berbagai macam pertanyaan tentang buku, kita nanti bisa men-tag seseorang atau mencolek seseorang untuk ikut menjawab pertanyaan tadi atau membuat pertanyaan baru, sedangkan Let's Talk ini semacam diskusi tentang berbagai macam hal yang berhubungan tentang buku.

Inspirasi terbesar saya dalam topik Let's Talk ini adalah booktuber favorit saya, siapa lagi kalau bukan The Readables :). Kemaren dia membahas tentang mengkoleksi buku, bagi pembaca yang juga mengoleksi buku tentu saya langsung tertarik untuk ikut mendiskusikannya :). So, let's talk about it :p


Rabu, 09 April 2014

I Love Nerds

source: Novel Nerd
Saya bosan sekali beberapa hari ini, baca sih masih lancar aja cuman ketika mau ngreview rasanya malas, bersambung mulu tiap buat postingan yang berakhir mengendap di draft. Kalau udah gini pelarian saya adalah tumblr, mereblog segala hal yang saya sukai. Dan bila lagi bener-bener 'muak' dengan buku, saya beralih ke musik, kalo lagi nggak ada yang baru solusi terakhir adalah melihat-lihat fashion blog yang saya sukai atau online shop yang bikin mupeng. Dulu banget, waktu awal-awal bikin blog saya punya beberapa tagline, selain 'Setiap Cerita Selalu Ada Cinta' saya mempunyai beberapa pilihan, salah satunya adalah 'Reading With Style', terinspirasi dari seringnya mantengan fashion blog tadi. Tapi langsung saya geser karena memadukan fashion dan buku itu cukup mustahil bagi saya, gimana bisa coba? Bisa beli buku aja udah untung apalagi tiap bulan harus beli baju, budget para fashion blog itu tiap bulan bisa jutaan loh, mending buat beli buku bisa dapat sekarung XD.

Berbicara tentang fashion, style, mode atau apalah namanya, pertanyaan terbesar saya adalah kenapa sih kutu buku selalu diidentikkan dengan nerd? Tampilannya selalu cupu, kikuk, pemalu dan tidak menarik dalam pergaulan. Padahal menurut saya biasa aja bahkan ada yang bisa tampil chic juga. Apakah kutu buku itu harus pakai kaca mata besar, sweater tebal, bergaya vintage, berpenampilan kuno atau ketinggalan jaman dan punya model rambut so last year? Nggak juga ah, nyatanya banyak juga teman pecinta buku yang walau tiap hari makanannya baca matanya nggak minus, kalau minus pun pasti karena posisi bacanya nggak bener, kayak saya, hehehehe. Dan belum tentu juga dengan memakai elemen nerd tersebut tampilan kita jadi nggak banget, jangan salah ya, style nerd sendiri sekarang sudah punya tempat di dunia fashion, bahkan sekarang banyak yang memakai kacamata besar buat keseharian, tergantung kita menerapkannya bagaimana. Baju jadul pun bisa kita sulap jadi bagus, malah bisa jadi menampah pesona kita #tsah.

Selasa, 07 Januari 2014

(Don't) Judge a Book by It's Cover



Hai hoooo, pemanasan dulu ya sebelum memposting review buku, kali ini saya akan mereview sesuatu yang berbeda, eits, masih berhubungan dengan buku tentunya :D. Masih ingat beberapa waktu yang lalu saya memposting tentang Top Five Worst Book Covers 2013? Memang sih, seharusnya kita nggak menilai sesuatu dari luar, tapi khusus untuk sebuah buku siapa sih yang nggak ingin mengoleksi buku dengan kaver kece? Bangga juga kan kalau rak buku kita penuh dengan kaver indah? Kita tentunya seneng kalau buku-buku koleksi kita tampilannya menggugah untuk segera dibaca. Buat saya kaver itu penting, walau isi jauh lebih penting. Kalau menilai berdasarkan untuk membeli sebuah buku, urutan saya adalah; isi cerita, penulis, kaver dan penerbit.

Sekarang ini sudah banyak buku dengan kaver yang manis-manis, apalagi untuk kaver novel romance. Bahkan ada beberapa buku terjemahan yang kaver terjemahannya lebih bagus dari versi asli. Nah, kenapa masih ada predikat kaver buku terburuk? Mungkin desainernya udah kehabisan akal atau nggak bisa mencerna isi buku tersebut. Yang pasti, untuk penggemar penulis dari buku tersebut pasti sangat sakit hati sekali, apalagi kalau kaver asli dan ceritanya bagus banget, sangat disayangkan sekali. Salah satu cara mengakalinya adalah dengan menyampul dengan kertas kado atau ngeprint kaver asli trus ditempelkan di atas kaver yang jelek. Sayangnya agak sedikit ribet buat saya yang masuk kategori orang praktis. Untungnya kapan hari yang lalu saya menemukan solusi mengatasi kaver jelek, yaitu dengan sampul buku kain.


Selasa, 26 November 2013

Bahasa Gado-Gado & Barang Branded Dalam Novel Lokal

Book of Love by Kevin Carden
Kemaren, waktu klub buku Blossom kopdar untuk pertama kalinya (padahal sering banget, cuman punya banyak nama aja :p) ada beberapa bahasan yang cukup seru selain buku yang ingin kita bahas, yaitu pernak-pernik BBI, baca bareng BBI untuk tahun depan dan rencana ke IRF. Kita kopdarnya di rumah mbak Alvina, yah berhubung dia punya dedek bayi yang unyu abis dan nggak bisa kemana-mana, kita putuskan untuk ketemuan di sana aja, toh rumahnya nyaman banget, belum lagi ada suguhan makanan yang membuat diet saya hancur (harus cari sendiri nih popcorn-nya :p).

Dalam buku yang kita obrolkan, beberapa teman mengeluh banyaknya bahasa asing dan barang branded yang sering sekali ditunjukkan oleh penulis, belum lagi ada adegan seks bebas padahal penulisnya pakai hijab, kemudian mereka tanya sama saya yang sering baca buku lokal, apa iya semua penulis Indonesia seperti itu? Karena bacaan saya mayoritas emang buku dalam negeri dan yang mereka tanyakan sering juga saya temui -khususnya buku romance, maka jawaban saya adalah tergantung.

Senin, 09 September 2013

The Book With Writer's Signature

Source: percybeth
Sekarang ini mudah sekali mendapatkan tanda tangan seorang penulis, banyak toko buku online yang menawarkan pre order dengan iming-iming tanda tangan penulisnya. Nggak salah sih, justru mempermudahkan para pembaca untuk mendapatkan tanda tangan penulis favoritnya. Hanya saja perjuangannya tidak ada. Dulu waktu online shop belum marak, para pembaca datang langsung ke talkshow penulis, dari sanalah mereka mendapatkannya. Perjuangan yang tak terlupakan. Saya pernah dua kali datang ke acara bedah buku, dan itu berkesan sekali. Apakah saya termasuk salah satu pemburu tanda tangan penulis? Yep. Apakah saya selalu ikut pre order untuk mendapatkanya? Nope.

Saya punya beberapa buku yang bertanda tangan penulisnya, hampir sebagian besar saya dapatkan melalui kuis, dikasih penulisnya langsung, beberapa kali pre order dan datang langsung ke talkshow penulis. Berikut koleksi buku bertanda tangan saya beserta sejarahnya: 

Jumat, 23 Agustus 2013

Peri Hutan's Favorite Authors

Kata-kata di atas sangat tepat sekali, saya sering melakukannya dan tidak pernah bosan. Biasanya buku-buku favorit berasal dari penulis favorit. Dan kali ini saya akan membahas siapa saja penulis favorit saya :D.

Rekomendasi Bulan Ini

Buku Remaja yang Boleh Dibaca Siapa Saja | Rekomendasi Teenlit & Young Adult

K urang lebih dua tahun yang lalu saya pernah membahas tentang genre Young Adult dan berjanji akan memberikan rekomendasi buku yang as...