Tampilkan postingan dengan label Kumcer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumcer. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Oktober 2016

Resensi: Corat-Coret di Toilet Karya Eka Kurniawan

Judul buku: Corat-Coret di Toilet
Penulis: Eka Kurniawan
Desain sampul: Eka Kurniawan
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-0386-4
Cetakan pertama, April 2014
132 halaman
Baca di Ijakarta
"Aku tak percaya bapak-bapak anggota dewan, aku lebih percaya kepada dinding toilet."

"Nada komedi-satirnya cukup kuat dalam Corat-coret di Toilet. Cerdas juga usahanya mengangkat hal kecil yang remeh temeh menjadi problem kemanusiaan."
- Maman S. Mahayana, Media Indonesia

"I decide to translate Corat-coret di Toilet not only because it is one of Eka's best-known short stories, but because it is very blackly funny. It catches perfectly the atmosphere of student life in Indonesia at the start of the new century, as the brief promise of Reformasi was being extinguished by gangsterism, cynicism, greed, corruption, stupidity, and mediocrity. It also mirrors beautifully the bizarre lingo shared by ex-radicals,  sexual opportunists, young inheritors of the debased culter of the New-Order era, and anarchists avan la lettre. Finnaly, it shows Eka's gift for starling imagery, sharp and unex-pected changes of tone, and his 'extra-dry' sympathy for the fellow-members of his late-Suharto generation."
- Benedict R. O'G. Anderson, Indonesia

Selasa, 16 Juni 2015

Parahyangan 147 by Mita Miranti, Moemoe Rizal, dkk | Book Review

Parahyangan 147
Penulis: Mita Miranti, Moemoe Rizal, Rezza Brahma, Tita Rosianti, dan Bisma Dwibangga
Editor: Fanti Gemala
Desainer kover & ilustrasi: Dyndha Hanjani Putri
Penerbit: Grasindo
ISBN: 978-602-251-761-0
Cetakan pertama, Desember 2014
249 halaman
Buntelan dari @mitamiranti_
Apartemen Parahyangan 147, cara baru berkehidupan harmonis karena dilengkapi perlindungan paling kokoh untuk menghadapi segala kesulitan Anda. Cocok bagi Anda yang meninggalkan ibukota demi kehidupan baru penuh skandal, merencanakan keturunan, hingga berbagi kisah di dalam lift bersama orang asing. Atau bagi Anda profesional muda yang aktif, memiliki ketegaran yang tinggi meski terjebak di tempat publik dalam balutan handuk semata.



Kami juga menawarkan nuansa yang mendukung untuk semua karakter yang hidup dari tulisan-tulisan Anda. Dilengkapi fasilitas canggih yang dapat membantu Anda membunuh diri atau melahirkan kehidupan baru. Bahkan, Anda bisa tinggal bersama majikan Anda, menggoyang-goyangkan ekor di sepanjang koridor, atau menjulurkan lidah seraya menyaksikan kehidupan majikan Anda yang berada di ambang perpecahan. 

Tunggu apa lagi! Segera dapatkan unit terbaik dan mulai kisah hidup Anda yang memukai di sini!

Kamis, 26 September 2013

Cerita Sahabat 2


Cerita Sahabat 2
Penulis: Alberthiene Endah, Syahmedi Dean, Ratna Dumila, Zarry Hendrik, Jia Effendie, Anggun Prameswari, Dillon Gintings, Asmara Wreksono, Yuska Vonita, Erie Prasetyo, Feby Indirani, Maina Sumapradja, Wira Triasmara Surya, Jenny Yusuf, Valencia Mieke Randa, Dwi Sutarjantono, dan Isyanti Tunggadewi
Ilustrasi dan desain: J. Henk Winiarti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-8716-5
Cetakan pertama, Agustus 2012
376 halaman
Beli di Gramedia Slamet Riyadi (lupa diskon berapa)

Cinta tak akan pernah habis mencipta ekspresi rasa. Hati sering tak cukup menjadi perhentian akhir. Menumpahkannya dalam tulisan memberikan pembebasan rasa yang lebih melegakan.

Sejumlah penulis ini mencipta kisah cinta dalam tuturan kisah penuh langgam. Cerita Sahabat 2 yang bertajuk Asmara Dini Hari menjabarkan cinta dalam spektrum getaran yang unik. Kita akan menemukan cinta dalam banyak wajah.

Cinta memang sesuatu yang sederhana, sekaligus sesuatu yang rumit. Inilah kumpulan cerita pendek karya Alberthiene Endah, Syahmedi Dean, Ratna Dumila, Zarry Hendrik, Jia Effendie, Anggun Prameswari, Dillon Gintings, Asmara Wreksono, Yuska Vonita, Erie Prasetyo, Feby Indirani, Maina Sumapradja, Wira Triasmara Surya, Jenny Yusuf, Valencia Mieke Randa, Dwi Sutarjantono, dan Isyanti Tunggadewi.


Senin, 16 September 2013

Tersesat Bersama Cerita Absurd

Selama Kita Tersesat Di Luar Angkasa
Penulis: Maggie Tiojakin
Editor: Mirna Yulistianti
Cover: Staven Andersen
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-9616-7
Cetakan pertama Juli 2013
241 halaman
Buntelan dari @MaggieTiojakin


Jemu dengan kumpulan cerpen yang melulu soal cinta? Kisah heroik “si baik dan si jahat” penuh pesan moral ala abad ke-18 tidak lagi menarik? Jika ya, jangan ragu untuk membaca kumpulan cerpen ketiga Maggie Tiojakin yang berjudul Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa ini. Setelah menelurkan dua kumpulan cerpen berjudul Homecoming dan Balada Ching-Ching serta sebuah novel Winter Dreams, dia kembali merangkum kumpulan cerpen Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa.

Sebelumnya, koleksi cerpen Maggie lebih menyoroti situasi biasa yang kerap kali terjadi. Kali ini dia menyodorkan sekelumit pengalaman asing, mulai dari peliknya situasi di tengah peperangan hingga perjuangan sekelompok astronaut yang terdampar di Merkurius. Walau demikian, empat belas cerpen bertema absurd yang berangkat dari konsep sederhana ini terasa hidup karena dibangun lewat riset intens.

Satu hal yang tak pernah ketinggalan dari cerpen-cerpen Maggie adalah kritik sosial yang kental, namun tidak terkesan menggurui. ~ Koran Jakarta

Konten:

1. Tak Ada Badai di Taman Eden
2. Kristallnacht
3. Lompat Indah
4. Fatima
5. Panduan Umum Bagi Pendaki Hutan Liar
6. Kota Abu-Abu
7. dies irae, dies illa
8. Saksi Mata
9. Labirin yang Melingkar-lingkar dalam Sangkar
10. Ro-Kok
11. Dia, Pemberani
12. Suatu Saat Kita Ingat Hari Ini
13. Jam Kerja
14. Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa

Jumat, 23 Agustus 2013

Celoteh Perempuan

Celoteh Perempuan
Penulis: Angly, Anita Dhewayani, Asita Suryanto, Citra R. Teresa, Daveena, Ervina Savitri, Indah Juli, Irma Amir, Lusyana Muljono, Nastiti Denny, Rahma Utami, Rengsina Suryati, Rina Sipa, Theresia Tristanti, Tristi, Vivi Abdurachman
Desain sampul: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-8665-6
Cetakan pertama, Juli 2012
200 halaman
Pinjem @tezarnet


Siapa bilang menulis itu sulit? Tekad, kemauan belajar, dan latihan tanpa henti bisa jadi membuka bakat terpendam kita. Kumpulan cerita ini adalah karya para penulis perempuan yang boleh dibilang pemula, namun mereka bisa melihat sudut pandang yang tak biasa. Menyuguhkan apa yang dilihat dan dirasakan, dalam setting khayalan. Imajinasi terlihat didorong-dorong keluar, dibentuk, disajikan dengan rapi dalam rangkaian cerita.

Semua karya yang ada di sini adalah presentasi dari beragam rasa perempuan usia matang. Cara pikir dan menyikapi perasaan terpapar dengan jelas. Dan ini semua bisa jadi mewakili kita semua. Segala galau dan bahagia itu.

Selasa, 25 Juni 2013

Dongeng Patah Hati


Dia tidak mencintaimu lagi.
Hatimu terbelah dua ketika dia memutuskan untuk mendua.
Tak ada lagi yang bisa kau lakukan.
Semuanya berakhir, semuanya sia-sia.

Dia tidak mencintaimu lagi.
Dan kau menangis saat mengucapkan selamat tinggal.
Seketika itu juga tubuhmu terasa menggigil.
Kedinginan karena telanjur terbiasa dengan hangat pelukannya....

*

DONGENG PATAH HATI adalah omnibus karya 10 pemenang Sayembara Menulis ‘Proyek 14’ dan 4 penulis pilihan GagasMedia. Buku ini dipersembahkan untuk kamu yang patah hati, diam-diam mencintai... atau yang pernah diselingkuhi.

Rabu, 29 Mei 2013

Satu Masa di Cielo

Satu Masa di Cielo
Penulis: Nugraha Sugiarta
Penyunting: Sandria Komalasari & Sundea
Ilustrasi Sampul dan Isi: Tiara Risa Primaresti
Penerbit: Denu Publishing
Cetakan pertama, 2012
119 halaman
Pinjem @Okeyzz


Dari kelahiranku yang sederhana, aku kemudian mengembara menyusuri berdepa-depa kehidupan. Pada pengembaraanku itu lahir beribu-ribu cerita. Aku tidak pernah meminta apalagi memaksa untuk menjadi inti dari segala perjalanan yang mereka telusuri. Manusia-manusia itu dengan kesadaran penuh memilihku. Sebagian menggugat, sedang sebagian lainnya menganggapku bagian dari romantika penggalang terang dalam persilangan garis-garis yang telah sedemikian hebat menjerat gurat hidupnya.

Aku lalu mengayun. Melangkah setengah berlari menemui pagi cerahmu, bertahan di sengat siangmu, mampir ke dalam petualangan mimpimu. Perkenankanlah aku memperkenalkan diri. Namaku cokelat...

Selasa, 30 April 2013

9 dari Nadira


9 dari Nadira
Penulis: Leila S. Chudori
Perancang sampul: Wendie Artswenda
Ilustrator sampul dan isi: Ario Anindito
Penerbit: KPG
ISBN: 978-979-91-0209-6
Cetakan kedua, Oktober 2010
270 halaman
Pinjem Mas @tezarnet

9 dari Nadira adalah buku ketiga yang saya baca dari penulis yang mempunyai nama lengkap Leila Salikha Chudori, sebelumnya ada Pulang dan Malam Terakhir. Berbeda dengan Malam Terakhir yang sama-sama merupakan kumpulan cerpen, buku ini ada benang merah yang kuat antara cerita satu dengan lainnya, sedangkan Malam Terakhir berdiri sendiri, tidak terkait. Benang merah yang kuat itu adalah Nadira. Kita akan melihat kehidupan dan kompleknya keluarga Nadira dari berbagai sisi. Seperti yang pernah dijelaskan mbak Leila pada reriuangan yang pernah saya hadiri, semua novelnya bertema keluarga dan buku ini bercerita tentang keluarga Suwandi.

Senin, 29 April 2013

Malam Terakhir


Malam Terakhir
Penulis: Leila S. Chudori
Perancang sampul: Wendie Artswenda
Ilustrator sampul: Maryanto
Penerbit: Kepustakaan Populer Graedia (KPG)
ISBN: 978-979-91-0215-7
Cetakan pertama, November 2009
117 halaman
Harga: 20k (titip Bang @tezarnet di Gramedia Semarang)

Sejak membaca Pulang, saya sudah mentasbihkan kalau Leila S. Chudori adalah salah satu penulis favorit saya tahun ini. Saya sangat terpesona dengan cerita yang dia buat. Pulang mudah saya terima walau memiliki tema yang berat, berbeda dengan buku yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1989 ini, tepat sebelum Leila menjadi wartawan Tempo, ada beberapa cerpen yang perlu saya baca berulang-ulang agar mengerti maksudnya. Berikut kesembilan cerpen yang ada di buku Malam Terakhir:


Senin, 22 April 2013

Blue Romance

Blue Romance
Penulis: Sheva
Penyunting: Donna Widjajanto
Desain sampul dan ilustrasi: Diani Apsari, Teguh Pandirian
Penerbit: PlotPoint Publishing
ISBN: 978-602-9481-16-7
216 halaman
Harga: 23k (beli di SCB)


Selamat datang di Blue Romance, sebuah coffee shop yang buka setiap hari, dan mungkin kau lewati hari ini.

Blue Romance menyediakan kopi ternikmat dan sahabat saat kau dituntut untuk terus terjaga. Blue Romance juga punya banyak cerita. Ada kisah jatuh cinta dan patah hati, perpisahan dan pertemuan kembali. Kisah-kisah ini berbalut kafein dan aroma kopi, berderai tawa dan tangis, di sela desis coffee maker.

Seperti Latte, Affogato, Americano, dan Espresso, setiap kisah punya kopinya sendiri.

Kisah mana yang cocok dengan kopimu?



Sabtu, 20 April 2013

Penjual Kenangan

Penjual Kenagan
Penulis: Widyawati Oktavia
Penyunting: Gita Romadhona & Yulliya Febria
Ilustrator isi: Gama Marhaendra
Desain sampul: Dwi Annisa Anindhika
Penerbit: Bukune
ISBN: 602-220-089-x
Cetakan pertama, 2013
214 halaman
Harga: 24k (beli di SCB)


Hidup terlalu singkat, kata seorang kekasih menggugat cintanya yang pergi.
Bagaimana jika tak ada lagi cinta esok lusa?
Bagaimana jika jauh ternyata tak berapa lama jaraknya?

Kekasih itu menggugat.
Ia menangis.
Kenangan; satu-satunya yang paling berharga, dimungkiri oleh cintanya.

Hidup terlalu singkat, katanya lagi.
Sambil mengemasi sisa-sisa harap dan bersiap pergi.

“Semoga ada persimpangan di depan sana.
Agar aku bisa menjual kenangan dan rindu yang menyisa,”
lirih hatinya, perih.


Selasa, 26 Februari 2013

Memoritmo

16136026

Memoritmo
Ada Cerita dalam Setiap Nada
Penulis: Anto Arief, Galih Sakti, Hasief, Kartika Jahja, Maradilla Syachridar, Meng, Michael, Vabyo, Ade Paloh, Sarah Deshita, Rain Chudori, Eross Chandra, Sammaria Simandjutak, Cholil Mahmud.
Editor: Syafial Rustama
Desain Sampul: Gita Mariana
Penerbit: Bukune
ISBN: 602-220-072-5
Cetakan pertama, September 2012
180 halaman
Harga: pinjam @asdewi

Berawal dari lagu yang sangat disukainya, Maradilla membuat project, sebuah buku kumpulan memoir lagu yang bermakna bagi banyak orang. Ada 14 cerita yang ditulis oleh penulis dari berbagai kalangan, baik yang memiliki profesi di dunia musik (penyanyi, pencipta lagu, penyiar radio) maupun di luar profesi tersebut, menjadikan musik penyemangat mereka. Seperti yang ditulis Maradilla Syachridar di bagian intro, sebuah lagu bisa berarti banyak bagi seorang pendengarnya.
"Mungkin itulah yang dilakukan lagu-lagu tertentu terhadap setiap orang, memunculkan kenangan, dan yang lebih hebat lagi, menciptakan sebuah koneksi. Ibarat sedang cinta-cintanya kepada seseorang, kita tidak begitu peduli apakah sebenarnya itu yang terbaik atau bukan, kita hanya sadar bahwa ada yang terhubung di sana. Dimulai dari kecintaan terhadap melodi atau liriknya hingga cerita pribadi dibaliknya. Perasaan atau sensai yang ditimbulkan karena mendengarkan lagu yang berkaitan dengan kita dapat menjadi sesuatu yang begitu manis atau bahkan kelewat pahit hingga kita benci terhadapnya."

Saya suka sekali mendengarkan musik, saya garis bawahi mendengarkan. Entah itu lagu barat atau dalam negeri, penyanyi terkenal atau karbitan, asal lagunya enak dikuping, puter aja. Saya jarang mengartikan atau memaknai liriknya, asal melodinya cocok dikuping maka lagu tersebut saya masukin ke playlist. Jadi ketika membaca buku ini kesan saya biasa aja, para penulis punya caranya sendiri-sendiri dalam menceritakan lagu yang sangat membekas dalam hidup mereka bahkan mempengaruhi musik mereka, contohnya: lagu Across the Universe dari The Beatles menjadi self healing bagi Eross Chandra, Maradilla Syachridar menceritakan lagu Strings That Tie To You kepada seseorang lewat sebuah email, Galih Wismoyo membuat sebuah cerpen yang mempunyai makna seperti lagu Yeh Go Halka Saroor Hae, Sarah Deshita dalam lagu True Love Waits mengajak kita untuk mencari makna cinta yang sebenarnya. Itu beberapa contohnya, ada yang mengartikan lagunya lewat sebuah cerpen, melalui cerita pribadi, ada juga lewat sebuah dialog.

Mungkin karena saya jarang memaknai sebuah lagu inilah saya menjadi kurang 'dekat' dengan buku ini. Tapi ada dua cerita yang setidaknya menarik menurut saya, cerita bagiannya Cholil Mahmud dan Vabyo. Cholil Mahmud bercerita tentang lagu Terbunuh Sepi, lagu Slank dari album Generasi Biru. Yang saya suka adalah bagaimana Cholil menceritakan bagaimana awal mula dia berkenalan dengan lagu tersebut yang kemudian sangat mempengaruhi musiknya, bahkan dia berharap dialah yang menciptakan lagu tersebut. Salah satu lagu Efek Rumah Kaca, Melankolia adalah contoh betapa Terbunuh Sepi merasuki musikalitas dari Efek Rumah Kaca.
"Ada kalanya lagu bagus berarti lagu yang menghibur dan catchy, atau kadang mengispirasi, atau sesekali melakukan terobosan dan tidak takut berekplorasi, atau yang kira-kira nanti akan menjadi heavy rotation di surga sana, atau, ya... hanya sekadar lagu bagus yang tidak perlu dianalisa, hanya perlu dirasa. Rasa itu datang, kadang bergantian, kadang bersamaan."
"Yang saya tangkap dari lirik 'Terbunuh Sepi'-nya Slank adalah sepi dalam arti yang negatif. Sepi yang membunuh, kondisi yang ingin segera diakhiri. Uniknya, saya justru merasakan yang berbeda jika mendengarkan lagu tersebut secara keseluruhan (bukan hanya membaca liriknya). Jalinan komposisi berbagai instrumen yang tak berlebihan dipadu dengan lirik yang bernuansa negatif, entah mengapa justru di respon positif oleh alam bawah sadar saya. Ia seperti harapan, terus menyala memberi semangat."

"Makna sebuah lagu menjadi monopoli penciptanya hanya saat proses pembuatannya. Ketika lagu itu sudah selesai diciptakan/diaransemen kemudian diperdengarkan kepada publik, maka dimulailah perjalanan spiritual lagu tersebut dalam mencari dan memperluas makna yang lahir darinya. Ia berkelana, mencari jalan hidupnya. Sang pencipta tak lagi bisa memaksakan makna dari lagu itu kepada yang menikmatinya."

Wow, saya suka banget tulisannya Cholil, baru kali ini saya membaca tulisan yang lebih panjang darinya, biasanya hanya membaca lirik dari lagu Efek Rumah Kaca, dan saya langsung terpesona. Membaca cerita ini membuat saya sangat penasaran dengan lagu Terbunuh Sepi, ingin membandingkan dengan lagu Melankolia dan mencari kesamaannya, mencari rasa yang pernah didapat Cholil. Sedangkan untuk ceritanya Vabyo yang berjudul Sahabat Gelap, lagu dari band kombinasi darkwave, heavy metal, electrinoc, Kubik, seperti biasa, di sini Vabyo membuat cerita kocak, gaya tulisan lebaynya, tokoh yang tersia-sia, dipalak sama sahabatnya sendiri dan dia berusaha menghindar dan mengelak. Ketika membacanya tetap aja bikin ketawa."

Walau hanya dua cerita yang saya suka, bukan berarti buku ini jelek, setiap orang punya lagunya sendiri-sendiri, kalau beberapa lagu yang kamu suka ada di buku ini mungkin kamu lebih akan bisa mencernanya, merasakannya. Sedangkan saya sama sekali asing dengan kebanyakan lagu di buku ini, selebihnya saya hanya menikmati bagaimana penulis membagi pengalaman mereka. Ada beberapa penulis, terlebih yang memakai bahasa inggris membaut saya males membacanya, lebih sulit mencernanya. Saya suka banget sama covernya, bahkan masuk ke dalam best book covers versi saya di tahun kemaren, kaset adalah salah satu media musik disajikan, buku ini bercerita tentang kenangan sebuah lagu yang membekas bagi penulisnya, sangat cocok sekali covernya.

Buku ini cocok bagi kamu yang suka banget mencerna sebuah lagu.

Untuk cerita di setiap nada, saya kasih 3 sayap.

Jumat, 28 Desember 2012

Un Soir du Paris

“Sejak Agustus 2007, situs lesbian online www.sepocikopi.com mulai memajang cerpen-cerpen bertema LGBT yang pernah dimuat di media massa. Dalam pencarian cerita bertema LGBT, terdapat beragam cerpen baru dan cerpen lama yang dipublikasikan lebih dari sepuluh tahun lalu, hingga cerpen-cerpen “tersembunyi” yang hanya dipublikasikan di buku kumpulan cerpen.
Dua belas cerita pendek terpilih dalam Un Soir du Paris (Satu Petang di Paris) ini hanyalah embrio, jejalin mungil untuk merentas jalan sastra lesbian di Indonesia. Rangkaian ini mungkin bisa menjadi pendorong momen bagi para penulis lainnya untuk berani menghasilkan banyak karya sastra LGBT di wajah literature masa depan.”




Bukan pertama kali ini saya membaca cerita bertema LGBT (Gay, Lesbian, Bisexual, Transgender), untuk cerita bertama Gay, Lelaki Terindah dan beberapa cerpen pernah saya cicipi, sedangkan untuk lesbi saya pernah membaca Dicintai Jo sayangnya tidak ada yang menyentuh saya. Sedangkan untuk Transgender, saya pernah membaca Luna by Julie Anne Peters dan sangat tersentuh sekali. Jujur, saya bukan orang yang mendukung “cinta terlarang” seperti ini, bukan juga sok suci karena agama saya melarang perilaku seperti ini, saya hanya menganggap itu urusan mereka kalau emang mereka mau begitu, itu hidup mereka, hak mereka, hanya saja jangan sampai menyakiti orang lain dan bagi saya pribadi memang sedikit tabu, terlebih saya belum pernah menjumpai keadaan ini disekitar saya. Tapi ketika dulu (entah waktu masih SMA atau awal kuliah) saya membaca buku Luna, perasaan saya sangat-sangat tersentuh, saya seperti menjadi adik Luna, memahami bagaimana perasaannya dan apa yang sebenernya diinginkan oleh kakaknya itu. Yang coba saya temukan dalam membaca cerita bergenre seperti ini adalah memahami perasaan mereka, merasakan kembali perasaan saya tersentuh akan apa yang mereka inginkan, alur kisah mereka dan bagaimana mereka mengatasi semua issue yang masih dianggap tabu oleh sebagian besar masyarakat.

“Kenapa perempuan bisa jatuh cinta pada perempuan? Kenapa Tuhan menciptakan perempuan yang jatuh cinta juga pada perempuan? Kenapa ada orang-orang yang begitu membenci perempuan-perempuan yang mencintai perempuan? Benarkah Tuhan marah pada perempuan yang bergairah pada perempuan? Kalau manusia bisa berbuat salah, mungkinkah Tuhan juga bisa berbuat salah? Kenapa manusia yang mencintai sesame jenis kelamin tidak dapat tempat? Cukuplah beragam upacara yang dililitkan pada tubuh perempuan-perempuan itu bisa mengantar mereka pulang dan “kembali ke jalan benar” menjadi manusia hetero? Manusia yang benar dan “tidak salah jalan” dan tersesat” (Oka Rusmini).”

Biasanya saya lebih sering menemukan cerita bertema gay daripada lesbian, entah karena emang kaum cowok lebih berani atau kaum cewek yang terkesan lebih baik diam-diam dalam menunjukkan hubungan mereka atau karena kalau sepasang cewek bersama itu udah umum, emang kebiasan mereka saling kumpul, beda dengan cowok yang kalau berduaan saja pikiran orang udah macem-macem. Dan udah saya katakana juga di awal tadi, beberapa kali baca cerita bertema seperti ini respon saya hanya biasa, contohnya dalam kumcer Cerita Sahabat yang lumayan banyak mengangkat cerita tentang orientasi seksual manusia,  tidak ada cerita yang menarik, tidak ada cerita yang membuat saya trenyuh akan apa yang mereka alami, intinya biasa aja. Bahkan saya cenderung bosan karena alurnya tidak ada yang special.
Nggak sengaja juga beli buku ini, waktu itu saya habis baca buku Perkara Mengirim Senja, yang membuat saya penasaran akan karya Seno Gumira Ajidarma lainnya, sayangnya waktu berkunjung  ke sebuah toko buku saya tidak menemukan buku-buku beliau. Kemudian saya melihat namanya bersanding dengan nama berbagai penulis yang turut berkontribusi dalam buku ini. Waktu baca sinopsisnya, wuih, bisa puas nih bagi orang yang ingin mendapatkan cerita yang nggak biasa, apalagi khusus cerita tentang lesbian. Saya harap bisa menemukan cerita yang nggak biasa, terlebih dalam alurnya, menemukan cerita seemosi Luna. Berikut ringkasan ke dua belas cerpen dalam Un Soir du Paris ini:

Cahaya Sunyi Ibu by Triyanto Triwikromo
Sudut pandangnya dari seorang anak yang mengatahui kalau ibunya mempunyai hubungan gelap dengan sahabatnya, terlebih ketika sahabat ibunya itu meninggal. Sang anak itu juga mendapatkan fakta dari orang-orang yang dekat degan ibunya di panti wreda, tempat di mana ibu dan sahabatnya itu tinggal.

Danau by Linda Christanty
“Aku bahkan berpikir  bahwa pembuat rumus segitiga sama sisi adalah seseorang yang terlibat cinta sama besarnya dengan dua kekasih. Danau itu bukan kekasihku, tapi ia menjadi jembatan rahasiaku untuk menjumpai seseorang, yang juga bukan kekasihku.”
Agak susah memahami cerpen ini, hehe. Sepenangkapanku, bercerita tentang seorang perempuan yang mengagumi seorang perempuan yang lain, mereka malu-malu dan kadang-kadang bertemu secara kebetulan di sebuah taman. Mereka masih tidak bisa mengungkapkan perasaan masing-masing sampai mereka menikah. Perempuan yang dikagumi itu akhirnya bercerai karena dia merasa tidak bergairah pada suaminya.

Dua Perempuan dengan HP-nya by Seno Gumira Ajidarma
Ada dua perempuan yang sedang memadu kasih di sebuah pantai, HP mereka sama-sama berbunyi dengan berbagai permasalah di kehidupan pribadi mereka.

Hari Ini, Esok, dan Kemarin by Maggie Tiojakin
Seorang perempuan yang menikah berselingkuh dengan seorang perempuan, dan si selingkuhan sudah capek menyembunyikan hubungan mereka dan meminta untuk dia jujur pada suaminya. Seorang istri yang tidak tega meninggalkan suaminya dan di sisi lain dia ingin bersama orang yang dicintainya.

Lelaki yang Menetas di Tubuhku by Ucu Agustin
“Mengapa kalian member kata depan ‘jenis’ , untuk kelamin? Mengapa bukan ‘macam’ atau ‘tipe’ saja? Siapakah yang mula-mula menyebut pembedaan itu dengan jenis kelamin? Kenapa kalian hanya membaginya Cuma menjadi dua? Kenapa kata itu hanya untuk lelaki dan perempuan saja? Jawablah!
Seorang gadis berumur delapan tahun melihat adegan sepasang wanita sedang saling berbagi kesedihan, sejak itu membangkitkan pribadi dirinya yang lebih menyukai perempuan daripada laki-laki.

Mata Indah by Clara Ng
Bercerita tentang seorang kakak yang sangat membenci adiknya karena kecantikannya, dia iri karena semua orang memujanya, padahal adiknya itu tidak pernah tertarik dengan pengagumnya.

Menulis Langit by Abmi Handayani
Seorang gadis yang dari kecil sangat ‘mengagumi’ guru-guru wanitanya hingga dia sampai dewasa rasa itu tetap ada.

Potongan-Potongan Cerita di Kartu Pos by Agus Noor
Saya bingung sama cerita ini, ehehe.

Saga by Shantined
Seorang istri yang tidak bahagia dengan suaminya, sering mendapatkan perilaku kasar. Hidupnya mulai bahagia ketika berkenalan dengan Aini. Mereka pun mengkamuflasekan hubungan pertemanan di mata semua orang.

Sebilah Pisau Roti by Cok Sawitri
Seorang perempuan yang cemburu dengan perempuan yang dicintainya karena memiliki pacar ‘sungguhan’. Dia berharap perempuan itu mau memutuskan pacarnya dan menjadi miliknya seorang.

Tahi Lalat di Punggung Istriku by Ratih Kumala
Seorang suami sangat mengagumi tahi lalat yang ada di punggung istrinya, dia sangat memujanya. Kemudian suatu hari karena sang istri merasa hanya tahi lalat itulah yang selalu dipedulikan suaminya, dia menghilangkannya. Sejak saat itu sang suami tidak pernah bergairah lagi.

Un Soir du Paris by Stefanny Irawan
Dua perempuan asing bertemu di suatu malam di kota Paris, mereka saling tertarik pada pandangan pertama dan tidak butuh lama untuk memadu kasih.

Dari kedua belas cerpen di atas, ada beberapa alur yang mirip hanya saja diracik dengan bumbu berbeda, sebut saja kegalauan seorang istri yang merasa salah ketika menikah dengan seorang pria, lalu dia mendapatkan kebahagiaan dengan secara sembunyi-sembunyi berhubungan dengan orang lain, dengan sahabatnya, dalam cerpen: Danau. Dua Perempuan dengan HP-nya. Hari Ini, Esok, dan Kemarin. Saga. Tahi Lalat di Punggung Istriku.

Ada juga beberapa cerita yang sangat jarang saya temui, seperti Cahaya Sunyi Ibu diambil dari sudut pandang seorang anak yang mengetahui kalau ibunya memiliki orientasi seksual yang berbeda, yang selama ini tidak pernah disadarinya. Mata Indah, berbau dark seperti dongeng si cantik dan si buruk rupa, kebencian sang kakak sangat terasa, bagaimana semua orang sangat mengagumi adiknya, bahkan ibunya lebih menyayanginya daripada dirinya sehingga dia ingin menghancurkan keindahan yang dimiliki adiknya. Menulis Langit di mana seorang gadis dari kecil hingga dewasa selalu mengagumi guru perempuannya dan yang terakhir Tahi Lalat di Punggung Istriku, seorang suami yang sangat terobsesi pada sesuatu yang dimiliki istrinya sehingga dia sangat memujanya bahkan bisa membuatnya bergairah.

Ada juga cerita yang berbau psikologis cukup kental seperti cerita Saga dimana karena sering mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya, sang istri berlari ke seorang yang sangat menyayanginya, yang tidak pernah membuat dia terluka lagi. Lelaki yang Menetas di Tubuhku, dimana katika gadis itu berusia delapan tahun menjumpai sepasang kekasih yang saling berbagi suka dan duka membuat pikiran dia tercetak kalau sesama perempuan bila bersama bisa bahagia dan tidak salah. Dan Menulis Langit di mana dari yang awalnya mengagumi kebaikan gurunya bisa berkembang menjadi obsesi.

Walau ada beberapa cerpen yang membuat saya berpikir keras dan ada yang tidak saya mengerti, ada beberapa cerpen yang menjadi favorit saya, yaitu: Dua Perempuan dengan HP-nya Seno Gumira Ajidarma, simple banget ceritanya tapi ngena, mereka berjalan bersama menerima telpon dari dunia mereka sesungguhnya dengan berbagai permasalahan yang ingin mereka hindari ketika sedang berduaan, di dominasi dengan dialog membuat cerpen ini tidak terasa membingungkan berbeda dengan sebagain besar penulis dengan permainan kata yang membuat saya sulit mencernanya, terlalu berbelit-belit, tidak ada efek kejut di akhir cerita karena mayoritas berending sama dan mudah ditebak. Kedua adalah Mata Indah-nya Clara Ng, lain daripada yang lain, kita seperti membaca dongeng Grim bersaudara, aroma horornya kerasa sekali. Dan yang terakhir yang menjadi favorit saya adalah Tahi Lalat di Punggung Istriku punyanya Ratih Kumala, saya sangat suka bagaimana sang suami memuja istrinya, bahkan dalam cerpen ini dan Mata Indah saya hanya sedikit mendapatkan aroma ‘lesbinya’ tapi saya mendapatkan karakter tokoh yang kuat sehingga tidak membuat saya bosan ketika membacanya. Si buruk rupa yang sangat membenci adiknya dan sang suami yang sangat terobsesi dengan tahi lalat istrinya.

Apakah saya puas dengan buku ini? Apakah menjawab penasaran saya akan cerita bertema LGBT yang tidak biasa? Walau sebagaian besar masih sama saja, tidak banyak cerita yang berani ‘jujur’ dan menyuguhkan ending yang tidak menyelesaikan masalah, saya cukup puas dengan ketiga cerpen favorit di buku ini.

Buat kamu yang pengen mencoba mencicipi cerita bergenre LGBT, buku ini bisa menjadi pilihan karena semua ceritanya bertema sama yang disuguhkan dari sudut pandang berbagai penulis.
3 sayap untuk sepoci kopi :D


Penulis: Cok Sawitri, Shantined, Abmi Handayani, Ucu Agustin, Stefanny Irawan, Linda Christanty, Clara Ng, Triyanto Triwikromo, Ratih Kumala, Agus Noor, Seno Gumira Ajidarma, Maggie Tiojakin
Editor: Ratih Kumala
Cover: Mulyono
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-6208-7
Cetakan pertama, September 2010
127 halaman


NB: baca bareng BBI untuk buku bergenre LGBT

Rabu, 10 Oktober 2012

Filosofi Kopi



Penulis: Dee
Penyunting: Dhewiberta
Cover: Fahmi Ilmansyah
Penerbit: Bentang Pustaka
ISBN: 978-602-8811-61-3
Cetakan pertama, Januari 2012

Buku Dee yang saya baca setelah Perahu Kertas, Rectoverso dan Madre. Entah kenapa sampai sekarang saya belum tertarik membaca Supernova. Perahu Kertas tergolong cerita yang biasa, yang berisi tentang kisah cinta sepasang anak muda, impian dan berbagai bumbu penyedap yang sudah tidak asing lagi. Untuk pertama kalinya membaca karya Dee, saya cukup menikmatinya. Untuk Madre, isinya hampir sama dengan Filosofi Kopi yang berisi cerita pendek, puisi atau prosa. Saya tidak terlalu suka dengan puisi atau prosa, saya sering tidak bisa memahaminya, makanya saya jarang beli atau baca buku yang berisi antologi. Cerpen yang ada dibukulah yang membuat saya mampu bertahan membaca kedua buku ini. Kalau di Madre ada dua cerpen yang sangat saya sukai, di Filosofi Kopi ini ada dua cerita yang sangat saya sukai juga dan dua cerita yang cukup menarik.

Minggu, 10 Juni 2012

Perkara Mengirim Senja


Tidak banyak buku sastra Indonesia yang saya baca, bisa dihitung dengan kancing. Salah satunya adalah Seno Gumira Ajidarma (SGA), penulis kawakan ini ternyata banyak menuai penghargaan baik dalam maupun luar negeri! Sebut saya durhaka karena lebih sering menikmati karya pop dan barat daripada karya negeri sendiri (terlebih sastra) dimana banyak yang nggak kalah hebat. Awal tahu Perkara Mengirim Senja (PMS) dari twitter yang waktu itu ramai banget dibahas. Penasaran sekali karena judulnya begitu menarik, ada apa sih dengan senja? Setelah klik sana sini jadi nggeh kalau PMS ini dibuat sebagai tribute untuk SGA, yang ditulis oleh orang-orang yang juga mengidolakannya dan membuat cerita yang mempunyai benang merah dengan cerpen-cerpen SGA, salah satunya adalah cerpen Sepotong Senja Buat Pacarku. Ada 15 cerita yang ditulis oleh 14 penulis yang mempunyai latar belakang yang berbeda.

Sebelum masuk ke cerita, mari kita tonton dulu book trailer PMS yang dibuat oleh Faizal Reza dan ilustrasi yang keren banget dari Lala Bolang.


Dan untuk menemani membaca buku ini, para penulis membuat mixtape-nya di mana lagu-lagu tersebut sangat cocok dengan cerita yang mereka buat. Diantaranya ada lagu Tak Pernah Terpikir yang diciptakan sendiri oleh @vabyo untuk menemani membaca cerpen Gadis Kembang, ada Gosh - Inggrid Michaelson untuk cerpen Perkara Mengirim Senja, ada lagu Keliru dari Ruth Sahanaya untuk cerpen Empat Manusia, lagu Where did My Baby Go - John Legend menjadi pendamping di cerpen Senja dalam Pertemuan Hujan. Dan ada jugalagu yang tidak asing lagi kita dengarkan sewaktu sekolah dulu, Garuda Pancasila dan Hymne Guru, bisa ditebak dong lagu tersebut akan mengiringi cerpen yang mana. Untuk lagu yang lainnya bisa didengarkan di sini.

Berikut sinopsis ke-15 cerita:

Gadis Kembang by @vabyo

Bererita tentang Taya, seorang istri yang suaminya selingkuh dengan gadis kembang kampung sebelah. Banyak orang yang menggosipkan dan mengasihi dirinya akan perbuatan sang suami tapi ditanggapi Taya dengan banyak diam. Padahal, Taya tahu ada sebab kenapa suaminya berani menghianati dirinya.

Tulisannya khas Vabyo ;p, ceritanya sedih tapi dialunkan dengan kocak dan berima. Saya kasih contoh dialog yang membuat saya ngakak :p
"Saya kemarin nganter suami si Neng sama simpanannya itu. saya gemes, pengen ngejuntrungin becak, tapi nanti kalo rusak, saya juga kan yang gak bisa kerja!" Si tukang becak merancau penuh emosi.
Taya mendengus kesal. "Ya udah saya turun di sini aja, sebelum becaknya saya jungkir-balikin."

Inilah pertama kalinya Taya berjalan di atas jembatan goyang tanpa berdendang. Kausnya kusut. Pikirannya kalut.

Dan quote favorit saya adalah:
"Kasihan memang sering kali menyakitkan."
Suka efek kejut di akhir cerita sehingga menjadikan cerpen ini cerpen favorit pertama di buku ini.



Perkara Mengirim Senja by @JiaEffendie 

Ditulis dengan sudut pandang orang pertama masing-masing tokoh. Pertama adalah seorang wanita yang memotong senja dan ingin menyerahkannya ke orang yang dicintainya, sayangnya dia belum menemukan orang yang pas. Tokoh kedua adalah seorang laki-laki yang asik bercumbu dengan pacarnya tapi diganggu oleh dering telepon yang tak pernah menyerah berbunyi. Si penelopon ini menawarkan sebuah produk, menjual sepotong senja dalam amplop. Garansinya adalah sepotong senja tersebut akan dikirimkan langsung oleh si penelepon dan harganya gratis kalau dia bilang mencintainya.

Ceritanya unik dan kalimatnya indah. Bisa menebak hubungan antara kedua tokoh, tapi endingnya bener-bener Jder! Efek kejut di endingnnya benar-benar mengejutkan! Cerpen favorit kedua.


Selepas Membaca Sebuah Pertanyaan untuk Cinta, Alina Menulis Dua Cerita Pendek Sambil Membayangkan Lelaki Bajingan yang Baru Meninggalkannya by @hurufkecil

Ada dua cerpen, pertama bercerita tentang suami yang sangat posesif terhadap istrinya, sampai-sampai dia meengharuskan istrinya memakai celana besi setiap hari, tujuannya agar dia tidak selingkuh.
Cerpen kedua bercerita tentang suami yang baru saja kehilangan istrinya. Dia pun mengenang dengan membuka masa lalu istrinya, tas yang terakhir dipegang oleh istrinya. Di dalamnya dia menemukan sebuah benda yang akan membuatnya meraung-raung.
Ada efek kejut di ending kedua cerpen tersebut. yang paling saya sukai adalah cerpen pertama, benar-benar tak terpikirkan sebelumnya akan berakhir seperti itu, haha pinter banget penulis 'membalas dendam'.
"Hidup adalah sembunyi. Belajarlah seni menyembunyikan! Sembunyikan rupamu! Sembunyikan hatimu! Ada lebih banyak kata-kata dalam diam."
Cerpen favorit saya yang ketiga.


 Kuman by @lalabohang

Seorang wanita mendua dengan bartender buruk rupa, dia telah terjangkit kuman cinta.

"Kau cinta sama dia?"
"Cinta setengah mati."
"Katanya kau jijik sama wajah cacat dia?"
"Iya jijik, tapi cinta setengah mati."

Lucu sekali ketika si perempuan memeriksakan jantungnya yang berdetak kencang tanpa dia suruh.
Cerpen favorit saya yang keempat.


Ulang by @putrafara

Cerpen pertama yang membuat saya berpikir keras, haha. Jujur saya bingung dan benar-benar butuh konsentrasi untuk membaca ini. Ada sedikit unsur fantasi dalam bercerita. Intinya ada seseorang yang mengajak Alina 'jalan-jalan'. Cerita ini saya kira merupakan fanfic dari cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku.





Akulah Pendukungmu by @salamatahari

Pengen tahu asal usul lahirnya Garuda Pancasila? Pengen tahu siapa ibunya? Dan mendengar percakapan foto presiden Soeharto dan wakil presiden Tri Sutrisno dengan sang Garuda? Pengen bertemu dengan salah satu murid yang mempunyai nasip dengan sang Garuda? Di cerpen ini sang Garuda akan menunjukkan kesaktiannya!

Cara berceritanya unik sekali, terlebih yang percakapan benda di dinding itu :).

"Sebetulnya tak semua pertanyaan harus ada jawabannya. Tapi ketika dijadikan soal ulangan, mau tak mau pertanyaan itu harus ada jawabannya."

 Empat Manusia by @monstreza

Ada empat bagian, pertama bercerita tentang Yani dan Purba. Kedua tentang Yani dan Hendar. Ketiga tentang  Hendar dan Susan. Keempat tentang Susan dan Purba.

Sebuah rantai makanan hubungan yang menarik. Suka sekali cara penulis menghubungkan satu tokoh dengan tokoh yang lainnya. Endingnya juga mempunyai efek kejut yang akan menjelaskan semua bagian di cerpen ini. Cerpen favorit saya yang kelima.



Saputangan Merah by @tummythumb

Seorang laki-laki yang sangat tertarik dengan seorang perempuan namun enggan menampakkannya. Dia hanya berani mengamati perempuan tersebut. Suatu pagi dia menemukan saputangan merah di genggaman tangganya, entah nyata atau tidak.

Entah ya, saya tidak menemukan yang special dari cerpen ini.



Senja dalam Pertemuan Hujan by @omemdisini

Sepasang kekasih yang cintanya dipertemukan oleh senja. Mereka sering sekali bertemu pada waktu sore hari, karena waktu yang lainnya dipergunakan sang lelaki untuk istrinya. Seorang laki-laki yang mencintai dua orang wanita.

Kerasa sekali kalau si lelaki bingung menentukan pilihan.
"Aku adalah potongan senja yang akan kau ambil untuk pacarmu. Tinggal seperempat. Tiga perempatnya telah hancur oleh hujan yang kau ciptakan."

Kirana Ketinggalan Cerita by @maradilla

Kirana mengajak Gupta untuk mengantarkannya ke stasiun. Gupta ingin bertanya kemana Kirana akan pergi? Kenapa tidak membeli tiket? Namun Kiranya menyuruhnya jangan bertanya, hanya temani saja. Hari itu Kirana ketinggalan kereta, begitu juga dengan hari selanjutnya. Gupta tetap menemani karena dia mencintai Kirana, tak perlu tanda tanya.

Bahasanya sederhana sekali, tidak puitis namun mengena. Suka sekali dengan tokoh Gupta :).




Gadis Tak Bernama by @perempuansore

Nama saya adalah Unknown, saya seorang perempuan yang manipulatif, mempunyai dua pacar, dan pekerjaan saya adalah peneliti senja. Saya marah ketika Dinas Penelitian Senja mengumumkan kalau kini senja hanya sepotong! Saya ingin membuktikannya sendiri, kenapa ada orang yang tega memotong senja demi pacarnya?

Ceritanya unik sekali, dan sepertinya pekerjaan sebagai peneliti senja sangat nikmat.
"Cinta bisa dinikmati dengan cara lain. Truhlah kata komitmen di balik behamu. Jangan melakukannya dengan terburu-buru sebelum kau tahu kau akan berkomitmen dengan siapa. Seperti jangan menikah hanya karena orangtuamu mulai resah. Atau tetanggamu yang gelisah."


 Guru Omong Kosong by @arnellism

Dikin, seorang penjaga sekolah yang tertimpa tugas dadakan, dia harus menggantikan salah satu guru yang tidak bisa mengajar hari itu. Tugas dia hanya menuliskan catatan yang dikirim guru tersebut lewat sms yang kemudian murid-murid akan mematuhinya, sayangnya Dikin tidak menyangka kalau akan ada pertanyaan dari para murid, dan dia tidak mempunyai jawaban yang diperintahkan.
Hari berikutnya, dia menemukan sebuah buku yang berjudul Kitab Omong Kosong, dan terbersit olehnya mungkin buku tersebut bisa dibagi dengan para muridnya.

Suka sekali dengan cerpen ini, dan memang tidak jarang guru mempunyai gaya mengancam agar murid menyelesaikan tugas dan hanya main perintah saja, haha tidak semuanya loh. Ide tentang menyentil dunia pendidikan membuat cerpen ini menjadi favorit saya yang keenam.


Surat ke-93 by @febyindirani

Seorang wanita yang ingin menunjukkan kerinduannya dengan terus mengirim surat sampai berpuluh-puluh, dan nyeseknya tak pernah mendapat balasan.

"Cintaku cukup terentang dari pagi hingga petang. Sedangkan jika ia harus memilih antara aku atau senja, ia pasti berpihak pada senja. Bukan karena ia tak mencintaiku, tapi karena ia malas sekaligus angkuh. Aku memilih mencintainya. Atau mungkin cinta telah memilihku. Dan jika kau mencintai hingga terasa menyakitkan, kau akan menemukan tak ada lagi kebencian, yang ada hanyalah cinta yang lebih besar."

 Bahasa Sunyi by @lukisansunyi

Tangkapan saya tentang cerpen ini adalah sepasang suami istri dalam proses perceraian, salah satunya tetap ingin mempertahankan hubungan mereka.

Ada salah satu kalimat yang menginggatkan saya akan sanggahan seorang artis tentang kasus korupsi yang melanda dirinya, trik mengelaknya membekas sekali :p.




Satu Sepatu, Dua Kecoak... by @salamatahari

Reta, seorang anak yatim piatu dan keluarganya tidak bisa menyekolahkannya, membuat Arnold tergerak untuk mengadopsi. Usia Arnold sudah cukup untuk berumah tangga, terlebih ada Reta yang membutuhkan sosok seorang ibu. Desakan keluarganya membuat dia menyerah dan mau dijodohkan. Sayangnya, pernikahan membuat Reta kehilanggan sosok bapak dan ibu.

"Lo tau, nggak sih, lengkap nggak selalu harus sepasang?"

Suka, suka, suka sekali dengan cerpen ini, endingnya benar-benar tidak bisa saya tebak, efek kejutnya benar-benar menutup manis buku ini. Ilustrasinya juga yang paling saya suka. Selain sebagai penutup, cerpen ini juga menjadi cerpen favorit saya yang ketujuh.


Kenapa banyak banget sih gambarnya? Nggak usah cerewet, suka suka saya dong XDD. Karena saya sangat jatuh cinta dengan goresan tangan Lala Bohang. Selain keindahan para penulis bercerita tentang senja, ilustrasi di buku ini benar-benar membuat saya mewajibkannya untuk menaruh dan mengoleksi di rak buku saya. Selain itu, yang paling saya sukai adalah bagaimana penulis membuat ending cerita ini, hampir semuanya mempunyai efek kejut yang tidak pernah terpikir sebelumnya (saya suka sekali menebak akhir cerita). Pasti banyak yang berkomentar, kenapa tentang selingkuh semua sih? Membaca pengantar di Tentang Senja dan Cinta yang Galau, saya sedikit memahami gaya penulisan SGA, suka sekali bercerita tentang cinta yang absurb, mencampuradukkan fiksi dan fakta, bercerita tentang kaum termajinalkan secara politik dan sosial (pelacur, kaum homo, dan preman). Jadi, saya tidak terlalu kaget dengan cerita yang tidak biasa dibuku ini, melihat mereka mentafsirkan karya-kaya dari SGA.

Nah, ngomongin tafsir menafsir, saya menemukan bagian 'kurang puas' dengan buku ini. Saya ingin tahu mereka menafsirkan dari cerpen apa saja? Memang sebagian tertulis, tapi tidak semuanya. Karena membaca buku ini saya menjadi tertarik dengan karya SGA, saya ingin membaca karyanya dan ingin menemukan benang merah apa yang ada di cerpen buatan SGA dengan cerpen-cerpen yang ada di buku ini. Dan 'kurang puas' berikutnya adalah tidak adanya profil SGA. Memang di pengantar kita akan diperkenalkan dengan SGA, tapi menurut saya kurang banyak *emang banyak maunya ini orang*, hehe. Itu aja sih, selebihnya saya sangat menyukai kumcer ini.


Buat yang suka kisah happy ending, pertanyaan yang membutuhkan jawaban, cinta yang romantis nan manis, disarankan jangan membaca buku ini.

4 sayap untuk 169 kata senja dan 105 kata cinta.




NB:

Tentang Seno Gumira Ajidarma
Lahir: Boston, 19 Juni 1958

Pendidikan Formal:
1994 – Sarjana, Fakultas Film & Televisi, Institut Kesenian Jakarta
2000 – Magister Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia
2005 – Doktor Ilmu Sastra, Universitas Indonesia               
Penghargaan yang pernah di peroleh, antara lain:
1987 – SEA Write Award
1997 – Dinny O’Hearn Prize for Literary
2005 – Khatulistiwa Literary Award   

Aktivitas dan kesibukan: Wartawan, Fotografer, Dosen, dan tentu saja Penulis 
SASTRAWAN yang satu ini sosok pembangkang. Ayahnya Prof. Dr. MSA Sastroamidjojo, guru besar Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada. Tapi, lain ayah, lain pula si anak. Seno Gumira Ajidarma bertolak belakang dengan pemikiran sang ayah. Walau nilai untuk pelajaran ilmu pasti tidak jelek-jelek amat, ia tak suka aljabar, ilmu ukur, dan berhitung. “Entah kenapa. Ilmu pasti itu kan harus pasti semua dan itu tidak menyenangkan,” ujar Seno. Dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, Seno gemar membangkang terhadap peraturan sekolah, sampai-sampai ia dicap sebagai penyebab setiap kasus yang terjadi di sekolahnya. Waktu sekolah dasar, ia mengajak teman-temannya tidak ikut kelas wajib kor, sampai ia dipanggil guru. Waktu SMP, ia memberontak: tidak mau pakai ikat pinggang, baju dikeluarkan, yang lain pakai baju putih ia pakai batik, yang lain berambut pendek ia gondrong. “Aku pernah diskors karena membolos,” tutur Seno.
Imajinasinya liar. Setelah lulus SMP, Seno tidak mau sekolah. Terpengaruh cerita petualangan Old Shatterhand di rimba suku Apache, karya pengarang asal Jerman Karl May, ia pun mengembara mencari pengalaman. Seperti di film-film: ceritanya seru, menyeberang sungai, naik kuda, dengan sepatu mocasin, sepatu model boot yang ada bulu-bulunya. Selama tiga bulan, ia mengembara di Jawa Barat, lalu ke Sumatera berbekal surat jalan dari RT Bulaksumur yang gelarnya profesor doktor. Lancar. Sampai akhirnya jadi buruh pabrik kerupuk di Medan. Karena kehabisan uang, ia minta duit kepada ibunya. Tapi, ibunya mengirim tiket untuk pulang. Maka, Seno pulang dan meneruskan sekolah.
Ketika SMA, ia sengaja memilih SMA yang boleh tidak pakai seragam. “Jadi aku bisa pakai celana jins, rambut gondrong.”
Komunitas yang dipilih sesuai dengan jiwanya. Bukan teman-teman di lingkungan elite perumahan dosen Bulaksumur (UGM), rumah orangtuanya. Tapi, komunitas anak-anak jalanan yang suka tawuran dan ngebut di Malioboro. “Aku suka itu karena liar, bebas, tidak ada aturan.”
Walau tak mengerti tentang drama, dua tahun Seno ikut teater Alam pimpinan Azwar A.N. “Lalu aku lihat Rendra yang gondrong, kerap tidak pakai baju, tapi istrinya cantik (Sitoresmi). Itu kayaknya dunia yang menyenangkan,” kata Seno.
Tertarik puisi-puisi mbeling-nya Remy Sylado di majalah Aktuil Bandung, Seno pun mengirimkan puisi-puisinya dan dimuat. Honornya besar. Semua pada ngenyek Seno sebagai penyair kontemporer. Tapi ia tidak peduli. Seno tertantang untuk mengirim puisinya ke majalah sastra Horison. Tembus juga. “Umurku baru 17 tahun, puisiku sudah masuk Horison. Sejak itu aku merasa sudah jadi penyair,” kata Seno bangga.
Kemudian Seno menulis cerpen dan esai tentang teater.
Jadi wartawan, awalnya karena kawin muda pada usia 19 tahun dan untuk itu ia butuh uang. Tahun itu juga Seno masuk Institut Kesenian Jakarta, jurusan sinematografi. “Nah, dari situ aku mulai belajar motret,” ujar pengagum pengarang R.A. Kosasih ini.
Kalau sekarang ia jadi sastrawan, sebetulnya bukan itu mulanya. Tapi mau jadi seniman. Seniman yang dia lihat tadinya bukan karya, tetapi Rendra yang santai, bisa bicara, hura-hura, nyentrik, rambut boleh gondrong. “Tapi, kemudian karena seniman itu harus punya karya maka aku buat karya,” ujar Seno disusul tawa terkekeh.
Sampai saat ini Seno telah menghasilkan puluhan cerpen yang dimuat di beberapa media massa. Cerpennya Pelajaran Mengarang terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1993. Buku kumpulan cerpennya, antara lain: Manusia Kamar (1988), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (l994), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995), Sebuah Pertanyaan untuk Cinta (1996), Iblis Tidak Pernah Mati (1999). Karya lain berupa novel Matinya Seorang Penari Telanjang (2000). Pada tahun 1987, Seno mendapat Sea Write Award. Berkat cerpennya Saksi Mata, Seno memperoleh Dinny O’Hearn Prize for Literary, 1997.
Kesibukan Seno sekarang adalah membaca, menulis, memotret, jalan-jalan, selain bekerja di Pusat Dokumentasi Jakarta-Jakarta. Juga kini ia membuat komik. Baru saja ia membuat teater.
Pengalamannya yang menjadi anekdot yakni kalau dia naik taksi, sopir taksinya mengantuk, maka ia yang menggantikan menyopir. Si sopir disuruhnya tidur.

Untuk tahu lebih banyak tentang SGA silahkan kesasar di http://sukab.wordpress.com/ dan di Goodreads

Sumber: di sana, di sini, di situ



Perkara Mengirim Senja
Penulis: Valiant Budi Yogi, Jia Effendie, M. Aan Mansyur, Lala Bohang, Putra Perdana, Sundea, Faizal Reza, Utami Diah K, Mudin Em, Maradilla Syachridar, Theoresia Rumthe, Arnellis, Feby Indirani, Rita Achdris.
Penyunting: Jia Efendie
Pewajah Isi dan cover: Lala Bohang
Penerbit: Serambi
ISBN: 978-979-024-502-0
Cetakan I: April 2012
188 halaman

Kamis, 19 Januari 2012

Kisah-Kisah Tengah Malam


Kisah2_tengah_malam


Sinopsis:
Kisah-Kisah Tengah Malam berisi tiga belas cerita pendek karya klasik Edgar Allan Poe. Masing-masing cerita di sini akan membawa pembaca menuju pengalaman unik yang penuh ketegangan, teror, dan misteri. Beberapa cerpen Edgar Allan Poe yang terkenal seperti Black Cat, The Fall of the Usher, dan Tell-Tale Heart bisa Anda temukan dalam kumpulan cerpen ini.
Saat membaca Kisah-Kisah Tengah Malam, Anda akan diajak memasuki rumah tua misterius, pembalasan, hingga terombang ambing dalam badai di lautan. Dan pada akhirnya, cerpen-cerpen pilihan di sini akan membawa Anda terkagum-kagum pada master horor gotik, Edgar Allan Poe.

Review
Masing-masing cerita di sini adalah sebuah legenda - pengalaman unik bagi pembaca. Berbeda dengan penulis lain seangkatannya, kekuatan Poe terletak pada ironi dan dark humor. Dia saat Charles Dickens, Nathaniel Hawthore dan Mark Twain sibuk mempelopori cerita saga berpesan moral (era Romantisme), Poe menoreh warna baru dalam kancah kesusastraan dunia. Suspens. Misteri. Macabre - Maggie Tiojakin.
Membaca sinopsis dan Catatan Tengah Malam yang ditulis oleh penerjemah, saya sangat penasaran sekali dengan buku yang ditulis oleh master horor gotik, Edgar Allan Poe. Beberapa kali membaca cerita bergenre dark saya selalu suka, sehingga saya berharap banyak akan buku ini. Setelah selesai membaca, keinginan saya terkabul.
Berisi tiga belas cerpen, yaitu:
  1. Gema Jantung yang Tersiksa (1893): Bercerita tentang seseorang yang tidak suka dengan tatapan mata lelaki tua kemudian dia merencanakan pembunuhan. Dia memutilasi mayatnya, memotong kepala, lengan, kaki, dan tubuhnya. Kemudian Dia menyembunyikan mayat tersebut di bawah lantai. Ketika ada petugan kepolisian memeriksa, mereka tampak puas dengan alibinya, si pembunuh malah merasa terganggu karena ada suara-suara yang menghantuinya, dia menjadi gelisah.
  2. Catatan Dalam Botol (1833): Badai besar menerjang kapal, terombang-ambing di tengah lautan. Kemudian 'aku' melihat kapal perang yang terangkat tinggi di tengah badai besar yang mengamuk di perairan misterius, bangkit dari air.
  3. Hop-Frog (1849): adalah seorang pelawak kontet mempunyai seorang sahabat yang sama-sama memiliki tubuh kontet,Trippetta. Ketika Raja mendorong tubuh Trippeta dan menuangkan anggur kemukanya, Hop-Frog melancarkan balas dendam dengan memberikan usul sebuah permainan yang akan disukai oleh Raja, Delapan Orangutan.
  4. Potret Seorang Gadis (1842): lukisan seorang gadis dengan kecantikan yang unik, wajah yang selalu dihiasi senyuman, terlihat sangat nyata.
  5. Mengarungi Badai Maelstrom (1841): kita akan diajak ke pusaran air Moskoe-strom, menunggangi ombak, merasakan terombang ambing di pinggiran pusaran air seperti gelembung udara di atas ombak.
  6. Kotak Persegi Panjang (1844): perkenalkan Mr. Cornelius Wyatt, seorang seniman muda, membawa kotak persegi panjang dengan lubang di tengahnya ketika menumpangi kapal Kapten Hardy, kotak persegi panjang itu berisi mayat istrinya.
  7. Obrolan dengan Mummy (1845): bagaimana rasanya ketika kamu akan membedah Mummy yang berusia 700 tahun dan tiba-tiba Mummy itu bangun?
  8. Setan Merah (1842): Pangeran Prespo menantang si 'Setan Merah'
  9. Kucing Hitam (1843): seorang suami menanam ujung bilah kapak di kepala istrinya, kemudian menyimpan mayat tersebut di dinding ruangan penyimpanan anggur. Kucing hitam itu yang merasukinya!
  10. Jurang dan Pendulum (1842): seorang tahanan Toledo yang sedang menunggu hukumannya.
  11. Pertanda Buruk (1846): berjumpa dengan monster yang amat dekay dengan kita, dan amat mirip.
  12. William Wilson (1842): ada sesosok orang yang sangat mengangguku, dia suka sekali meniru apa yang aku lakukan, bahkan dia juga memiliki nama yang sama denganku, aku amat membencinya, dan akan membunuhnya.
  13. Misteri Rumah Keluarga Usher (1839): kita akan berwisata ke rumah yang dikelilingi asap mistis seperti kabut.
Seriously, saya membaca buku ini pada malam hari dan tidak merasakan takut sama sekali. Cerita favorit saya adalah Gema Jantung yang Tersiksa, Hop-Frog dan Kucing Hitam, cerita yang sadis-sadis, hehehe. Kadang saya terbawa sama perasaan si pembunuh, ikut merasa gelisah dan bertanya-tanya. Bukannya tidak menakutkan, hanya saja memang kebanyakan sadis. Mungkin yang sedikit horor adalah Potret Seorang Gadis dan Misteri Rumah Keluarga Usher. Bahkan saya menganggap Kotak Persegi panjang itu romantis, Obrolan dengan Mummy membuat saya tersenyum, Catatan Dalam Botol dan Mengarungi Badai Maelstrom berbau fantasy. Yup, komplit, semua genre masuk tapi tetap ada polesan gloomy-nya.

Covernya juara! Saya suka sekali, unik, serem dan lucu. Setuju juga seperti yang dikatakan sang penerjemah, detail, misterius, dan ironis, sangat mengambarkan cerita-cerita yang dibuat Edgar Allan Poe. Saya juga sangat suka setiap kali penulis mengakhiri cerita, mengandung kejutan dan tak terduga. Terjemahannya bagus, tidak ada yang membuat saya bingung dan saya merasa tidak ada typo. Hanya saja di buku ini tidak ada profil penulis, di mana Kisah-Kisah Tengan Malam ini adalah karya Edgar Allan Poe yang pertama saya baca, saya ingin tahu buku apa saja yang pernah dia buat dan sejarah singkat tentang dirinya. Tapi, tidak mengurangi alasan kenapa buku ini harus dibaca. Bacalah tengah malam, dan siapkan selimut ketika membacanya.
4 sayap untuk master horor gotik kita.

Kisah-Kisah Tengah Malam
penulis: Edgar Allan Poe
penerjemah: Maggie Tiojakin
editor: Hetih Rusli
penerbit: Gramedia
ISBN: 978-979-22-6537-8
cetakan I, Desember 2010
245 halaman

Rekomendasi Bulan Ini

Buku Remaja yang Boleh Dibaca Siapa Saja | Rekomendasi Teenlit & Young Adult

K urang lebih dua tahun yang lalu saya pernah membahas tentang genre Young Adult dan berjanji akan memberikan rekomendasi buku yang as...