Tampilkan postingan dengan label Windry Ramadhina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Windry Ramadhina. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Oktober 2017

Glaze by Windry Ramadhina | Blog Tour, Book Review

GLAZE: Galeri Patah Hati Kara & Kalle
Penulis: Windry Ramadhina
Editor: Gita Romadhona
Desainer sampul: Dwi Annisa Anindhika
Ilustrasi isi: Windry Ramadhina
Penerbit: Roro Raya Sejahtera (Imprint Twigora)
ISBN 978-602-60748-2-9
Cetakan pertama, 2017
400 halaman
Harga: Rp89.000,-
Seperti glasir di permukaan keramik, aku merasakanmu sepanjang waktu.
Mataku tak lelah menatapmu, diam-diam mengabadikan senyumanmu di benakku.
Telingaku mengenali musik dalam tawamu, membuatku selalu rindu mendengar cerita-ceritamu.
Bahkan ketika kita berjauhan, aku selalu bisa membayangkanmu duduk bersisian denganku.

Seperti glasir di permukaan keramik, kepergianmu kini membungkusku dalam kelabu.
Ruang di pelukanku terasa kosong tanpa dirimu.
Dadaku selalu sesak karena tumpukan kesedihan mengenang cintamu.
Bahkan ketika aku ingin melupakanmu, bayanganmu datang untuk mengingatkan betapa besar kehilanganku.

Aku menyesal telah membuatmu terluka, tapi apa dayaku?
Aku yang dulu begitu bodoh dan naif, terlambat menyadari kalau kau adalah definisi bahagiaku.

Jumat, 23 Oktober 2015

Last Forever by Windry Ramadhina | Book Review

Penulis: Windry Ramadhina
Editor: Jia Effendie
Ilustrator isi: Windry Ramadhina
Desain sampul: Ayu Widjaja
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-843-2
Cetakan pertama, 2015
378 halaman
IDR 80k + Book Jacket (PO di @GagasMedia)
“Seharusnya, aku tidak boleh mengharapkanmu. Seharusnya, aku tahu diri. Tapi, Lana..., ketakutanku yang paling besar adalah... aku kehilangan dirimu pada saat aku punya kesempatan memilikimu.” — Samuel

“Untuk berada di sisimu, aku harus membuang semua yang kumiliki. Duniaku. Apa kau sadar?” — Lana

Dua orang yang tidak menginginkan komitmen dalam cinta terjerat situasi yang membuat mereka harus mulai memikirkan komitmen. Padahal, bagi mereka, kebersamaan tak pernah jadi pilihan. Ambisi dan impian jauh lebih nyata dibandingkan cinta yang hanya sementara. Lalu, bagaimana saat menyerah kepada cinta, justru membuat mereka tambah saling menyakiti? Berapa banyak yang mampu mereka pertaruhkan demi sesuatu yang tak mereka duga?

Kamis, 30 Juli 2015

Orange (Repackaged) by Windry Ramadhina | Book Review

Orange (Repackaged)
Penulis: Windry Ramadhina
Editor: Christian Simamora & Ayuning
Penyelaras aksara: Gita Romadhona & Widyawati Oktavia
Desain sampul: Agung Nugroho
Ilustrator isi: Windry Ramadhina
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 978-979-780-819-8
Cetakan pertama, 2015
306 halaman
Harga: Rp 42.500 (PO di Windry Ramadhina)
Dikuncinya pintu di belakangnya lalu ia bersandar lemas pada pintu tersebut. Ia seperti dipaksa menyadari kenyataan. Konyol rasanya, bercinta dengan Diyan di dalam kamar yang penuh dengan kenangan mengenai Rera.


Ah, dirinya kesal setengah mati.

Faye ditunangkan. Tanpa dasar cinta dan murni karena alasan bisnis. Calon tunangannya, Diyan, adalah eligible bachelor yang paling diinginkan di Jakarta. Laki-laki yang tak bisa melepas kenangan masa lalunya dengan seorang model cantik blasteran Prancis.

Harusnya hubungan mereka hanya sebatas ikatan artifisial saja. Tapi cinta, ego, dan ambisi yang rumit mendorong mereka ke situasi yang lebih emosional. Situasi yang mengharuskan mereka memilih dan melepaskan.

Sabtu, 28 Februari 2015

Walking After You by Windry Ramadhina | Book Review

Walking After You
Penulis: Windry Ramadhina
Editor: Gita Romadhona & Ayuning
Desainer sampul: Dwi Anisa Anindhika
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-772-X
Cetakan pertama, 2014
320 halaman
Harga: 35k (off 30% di BukaBuku)
Masa lalu akan tetap ada. Kau tidak perlu terlalu lama terjebak di dalamnya.

Pada kisah ini, kau akan bertemu An. Perempuan dengan tawa renyah itu sudah lama tak bisa keluar dari masa lalu. Ia menyimpan rindu, yang membuatnya semakin kehilangan tawa setiap waktu. Membuatnya menyalahkan doa-doa yang terbang ke langit. Doa-doa yang lupa kembali kepadanya.

An tahu, seharusnya ia tinggalkan kisah sedih itu berhari-hari lalu. Namun, ia masih saja di tempat yang sama. Bersama impian yang tak bisa ia jalani sendiri, tetapi tak bisa pula ia lepaskan.

Pernahkan kau merasa seperti itu? Tak bisa menyalahkan siapa-siapa, kecuali hatimu yang tak lagi bahagia. Pernahkah kau merasa seperti itu? Saat cinta menyapa, kau memilih berpaling karena terlalu takut bertemu luka.

Mungkin, kisah An seperti kisahmu.
Diam-diam, doa yang sama masih kau tunggu.

Sabtu, 07 Februari 2015

Orange by Windry Ramadhina | Book Review

Orange
Penulis: Windry Ramadhina
Editor: Christian Simamora
Cover stylist: Dwi Anisa Anindhika
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-249-3
Cetakan pertama, 2008
290 halaman
‘Dikuncinya pintu di belakangnya lalu ia bersandar lemas pada pintu tersebut. Ia seperti dipaksa menyadari kenyataan. Konyol rasanya, bercinta dengan Diyan di dalam kamar yang penuh dengan kenangan mengenai Rera.

Ah, dirinya kesal setengah mati.’

Faye ditunangkan. Tanpa dasar cinta dan murni karena alasan bisnis. Calon tunangannya, Diyan, adalah eligible bachelor yang paling diinginkan di Jakarta. Laki-laki yang tak bisa melepas kenangan masa lalunya dengan seorang model cantik blasteran Prancis.

Harusnya hubungan mereka hanya sebatas ikatan artifisial saja. Tapi cinta, ego, dan ambisi yang rumit mendorong mereka ke situasi yang lebih emosional. Situasi yang mengharuskan mereka memilih dan melepaskan.

Pertanyaannya: apa... dan siapa?

Rabu, 12 Februari 2014

London: Angel

London
Penulis: Windry Ramadhina
Editor: Ayuning & Gita Romadhona
Desain sampul: Levina Lesmana
Ilustrasi isi: Diani Apsari
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-653-7
Cetakan pertama, 2013
330 halaman
Pinjem @destinugrainy

Pembaca Tersayang,

Mari berjalan di sepanjang bantaran Sungai Thames, dalam rintik gerimis dan gemilang cahaya dari London Eye.

Windry Ramadhina, penulis novel Orange, Memori, dan Montase mengajak kita menemani seorang penulis bernama Gilang mengejar cinta Ning hingga ke Fitzrovia. Namun, ternyata tidak semudah itu menyatakan cinta. Kota London malah mengarahkannya kepada seorang gadis misterius berambut ikal. Dia selalu muncul ketika hujan turun dan menghilang begitu hujan reda. Sementara itu, cinta yang dikejarnya belum juga ditemukannya. Apakah perjalanannya ini sia-sia belaka?

Setiap tempat punya cerita.
Dalam dingin kabut Kota London, ada hangat cinta menyelusup.

Enjoy the journey,
EDITOR

Selasa, 15 Januari 2013

Montase



Ada lima pahlawan bertopeng  pembela kebenaran, Goggle V. Sube sang Goggle Red, sang pemimpin. Rayyi sang Goggle Black, si begundal.  Andre sang Goggle Blue si pendiam. Bev si Goggle Pink si cantik, mereka kekurangan satu Goggle, Goggle Yellow, si badut, yang akhirnya disabet Haru setelah berhasil mengalahkan si Goggle Black dalam pertempuran membuat film dokumenter.

Nggak salah nih ceritanya? Ehehehe, goggle-goggle ini salah satu yang membuat saya ketawa ketika membaca buku ini.

Bercerita tentang apa buku ini? Meraih mimpi, dibumbui dengan kisah persahabatan dan cinta. Sejak mendiang ibunya mengenalkan Rayyi pada film dokumenter The Man with A Movie Camera garapan Dziga Vertov, film bisu dan hitam putih, film yang tidak ada teks yang hanya berisi potongan gambar bergerak yang direkam dengan kamera analog, Rayyi langsung jatuh cinta dengan film dokumenter, sejak itu dia ingin seperti mamanya, pembuat film dokumenter. Sayangnya keinginannya itu pupus kala ayahnya, seorang produser dan pemilik rumah produksi terkenal yang konsisten di jalur mainstream menginginkan anaknya mengikuti jejaknya, membuat film box office dan mendapatkan nilai sempurna di Peminatan Produksi, padahal Rayyi pengen banget mengambil Peminatan Dokumenter. Perjuangan Rayyi meraih impiannya atau menjadi anak yang berbakti.

Senin, 21 Mei 2012

Memori


Saya ingat sekali, pertama kali kenal dengan karya Windry Ramadhina ketika saya sedang liburan di Jogja dan seperti biasa, saya suka mengunjungi toko buku di sana, salah satunya Toga Mas, siapa tahu mendapatkan buku yang tidak ada di kota Solo yang seringnya tidak lengkap. Saya lupa tepatnya tahun berapa, yang jelas waktu itu saya iseng mencomot buku Orange, di mana mungkin sedikit buku terbitan Gagas yang masih bersisa di toko buku yang selalu diskon itu. Kadang saya memilih buku untuk dibawa pulang seperti itu, saya baca sinopsisnya dan kalau sepertinya menarik saya akan beli, tanpa melihat itu buku bestseller atau siapa penulisnya, apakah baru atau sudah menelurkan karya berpuluhan, hanya bermodalkan asal ambil. Dan tidak jarang, dengan metode asal ambil itu saya malah merasa berjodoh.

Untuk buku keduanya Metropolis saya agak telat menyadari kalau sudah ada buku terbaru karya Windry. Seperti yang saya bilang tadi, toko buku di kota saya kurang update. Kali ini saya lupa kapan dan di mana mendapatkan buku Metropolis, yang saya ingat ketika melihat pertama kali tidak perlu ragu saya langsung membawanya ke kasir.

Setelah itu, saya tidak menemui buku karya Windry Ramadhina lagi.

Rekomendasi Bulan Ini

Buku Remaja yang Boleh Dibaca Siapa Saja | Rekomendasi Teenlit & Young Adult

K urang lebih dua tahun yang lalu saya pernah membahas tentang genre Young Adult dan berjanji akan memberikan rekomendasi buku yang as...