Ada lima pahlawan bertopeng
pembela kebenaran, Goggle V. Sube sang Goggle Red, sang pemimpin. Rayyi
sang Goggle Black, si begundal. Andre
sang Goggle Blue si pendiam. Bev si Goggle Pink si cantik, mereka kekurangan
satu Goggle, Goggle Yellow, si badut, yang akhirnya disabet Haru setelah berhasil
mengalahkan si Goggle Black dalam pertempuran membuat film dokumenter.
Nggak salah nih ceritanya? Ehehehe, goggle-goggle ini salah
satu yang membuat saya ketawa ketika membaca buku ini.
Bercerita tentang apa buku ini? Meraih mimpi, dibumbui
dengan kisah persahabatan dan cinta. Sejak mendiang ibunya mengenalkan Rayyi
pada film dokumenter The Man with A Movie
Camera garapan Dziga Vertov, film bisu dan hitam putih, film yang tidak ada
teks yang hanya berisi potongan gambar bergerak yang direkam dengan kamera
analog, Rayyi langsung jatuh cinta dengan film dokumenter, sejak itu dia ingin
seperti mamanya, pembuat film dokumenter. Sayangnya keinginannya itu pupus kala
ayahnya, seorang produser dan pemilik rumah produksi terkenal yang konsisten di
jalur mainstream menginginkan anaknya
mengikuti jejaknya, membuat film box
office dan mendapatkan nilai sempurna di Peminatan Produksi, padahal Rayyi
pengen banget mengambil Peminatan Dokumenter. Perjuangan Rayyi meraih impiannya
atau menjadi anak yang berbakti.
Rayyi nggak nyerah begitu aja, malah tanpa sepengetahuan
ayahnya dia rajin ikut festival film, salah satunya festival film dokumenter
garapan Greenpeace, yang harus kecewa karena usaha kerasnya dikalahkan oleh
film yang bercerita tentang sakura, film garapan mahasiswa pertukaran pelajar
dari Jepang, seorang gadis liliput yang mirip boneka kokeshi yang lehernya
patah, Haru Enomoto.
Sejak saat itu, Rayyi atau biasa dipanggil teman-temannya
dengan sebutan Bao-Bao, sangat jengkel dengan kehadiran Haru, dia merasa nggak
terima kalau film garapan Haru bisa menang, dikalahkan oleh gadis yang ceroboh.
Kejengkelan Rayyi bertambah ketika dia dan teman-temannya menyusup di kelas
Dokumenter -dimana sang dosen tamunya adalah Samuel Hardi, salah satu produser
sekaligus sutradara film dokumenter
terbaik Asia, Rayyi tidak ingin membuang kesempatan emas itu, dia ingin
menyerap semua ilmunya- yang menyebabkan
Rayyi sering bertemu dengan Haru. Tapi, justru Haru lah yang menjadi inspirasi
Rayyi untuk membuat tugas film dokumenter pertama yang diberikan Samuel Hardi bertema
observasi, dia ingin membuat film The Man
with A Movie Camera versinya, merekam Haru seharian, di mana tingkah polah
gadis itu malah membuat Rayyi tertegun, terpesona akan kepolosannya, sejak itu
pendapat dan hati Rayyi pada Haru mulai berubah.
Samuel Hardi menemukan bakat terpendam di dalam diri Rayyi,
dia ingin Rayyi serius mengeluti film
documenter, bahkan dia menawarinya belajar membuat film dokumenter dan magang
di rumah produksinya, yang sayangnya ditolak mentah-mentah oleh Rayyi karena
ayahnya. Kesempatan kedua diberikan Samuel Hardi ketika menawari Rayyi dan Haru
untuk mengikuti IDFA (International Documentary Film Festival Amsterdam), Rayyi
tidak ingin kalah lagi dari Haru.
“Selalu ada impian yang lebih besar dari impian lain, kan?”
“Bagiku, tiga persen adalah harapan, sesuatu yang kugenggam erat-erat dan tidak akan kulepaskan.”
***
Dulu judulnya Sakura Haru, saya banyak menemukan
potongan-potongan bab di buku ini di cerpen yang dimuat kak Windry di kemudian.com
dalam akunnya yang bernama miss worm, jauh lebih banyak dari pada Home (yang
sekarang terbit dengan judul Memori) bahkan saya kira membaca endingnya juga, yang
ternyata setelah selesai membaca buku ini masih banyak lanjutannya, mengejutkan
dan menyenangkan sekali :D. Membaca buku ini tidak semengebu-ngebu ketika
membaca Memori, padahal waktu saya membaca potongan cerita di situs tersebut
saya jauh lebih menyukai Sakura Haru daripada Home, entah karena saya sudah
tahu garis besar ceritanya atau karena ada perubahan cerita. Dulu pas baca di
kemudian.com saya mendapati Rayyi sangat
mencintai dunia fotografi, dulu saya sudah jatuh cinta sama Rayyi dengan
fotografinya. Di buku yang dipoles ulang ini, saya dapati bukan dunia fotografi
malainkan dunia sinematografi, lebih tepatnya tentang film dokumenter.
Bagus, sangat bagus malah idenya, saya belum pernah membaca
buku yang bercerita tentang seluk beluk dunia perfilm-an. Apalagi kak Windry
menyorot tentang film dokumenter yang aslinya aja emang jarang orang tonton,
nggak banyak orang tahu, yah walau nggak secara rinci dijelasin, lebih ke
dasar-dasarnya, misalnya kamera apa aja yang di pake dan teknik penggambilan
gambar. Toh tentang fotografi udah dibicarakan kak Windry di novel pertamanya,
Orange. Hanya saja ketika saya membaca versi baru ini saya selalu membandingkan
dengan versi lama, dulu kayaknya nggak gini deh, dulu Samuel Hardi ini perannya
diisi sama Erod (lupa namanya) yang pernah muncul di Orange, seperti
itulah, saya gagal move on dari versi lama.
Tapi, seiring berlalunya halaman saya sedikit demi sedikit
bisa menerimanya, walau berharap akan ada perubahan yang drastis akan nasip
Rayyi dan Haru.
Ada dua hal yang mengganjal di buku ini menurut saya, membuat
saya kurang puas, pengen tahu kenapa film Haru yang menang padahal dia hanya
memakai kamera biasa (film yang pertama kali mempertemukan Rayyi dan Haru, film
tentang sakura itu, apa jawabannya yang Haru bilang ke Rayyi dalam bahasa
jepang yang artinya hidup itu indah? Itu aja?) sama kompetisi film di Belanda
yang awalnya saya kira penulis lupa ternyata di sampaikan di akhir-akhir,
padahal saya sangat menanti-nantikan sepak terjang Rayyi yang sayangnya
dijelaskan secara singkat, banget.
Penulis pernah berkata kalau pembaca itu tidak bisa dibohongi,
maka sangat penting adanya riset, entah penulis kecolongan atau mengindahkan
penyakit Haru sehingga terkesan klise, sinetron banget. Yah, namanya juga
fiksi, menjadikan mustahil menjadi bisa :D. Kalau di Memori ada sosok nyata Frank O. Gehry dan Rem Koolhaas, di buku ini kak Windry memperkenalkan kita dengan sutradara asal Rusia, Dziga Vertov dengan film yang dibuatnya pada tahun 1929, The Man with A Movie Camera.
Untuk karakternya, Rayyi emang agak cemen, kadang dia bisa
kuat, bebas, menyusup mengikuti mata kuliah sesuka hatinya tapi ketika
berhadapan dengan ayahnya dia tak berkutik. Saya mengganggap sikap Rayyi itu
menghormati ayahnya, keluarga satu-satunya, yang tidak ingin melukai perasaan
ayahnya walaupun dia harus mengorbankan perasaannya sendiri, impiannya sendiri,
dilemanya. Untuk Samuel Hadi, dia mengginggatkan saya akan Simon Marganda di
Memori, sang perfeksionis dan sinis, tapi ada tambahan predikat penjahat
kelamin :D. Untuk google-google lainnya, mereka penyedap novel ini. Sedangkan
untuk Haru, dia memang menempati porsi di hati Rayyi tapi tidak banyak untuk
buku ini sendiri, buku ini lebih bercerita tentang bagaimana Rayyi meraih
impiannya, sedangkan Haru ada dalam prosesnya.
Bagian favorit saya ketika Rayyi mulai berani meraih
impiannya, menjadi kacung di rumah produksi Samuel Hardi, saya bersemangat sekali
mengikuti apa yang akan dilakukan lagi oleh Rayyi demi menggapai impiannya.
Montase, diambil dari montage, istilah sinematografi yang berarti kumpulan gambar bergerak yang membentuk film. Saya rasa pengambilan judulnya tepat sekali berhubung novel ini bercerita tentang dunia sinematrografi. Untuk sampulnya, yang berupa sketsa pita seluloid tanpa warna, keren banget, lain daripada yang lain, baru kali ini saya nemuin cover model begini (sumber: windryramadhina.com). Kayaknya gagas menemukan desain sampul yang
kece banget selain Jeffri Fernando dan Dwi Anissa Anindhika :D.
Sejauh ini, Memori masih buku kak Windry yang paling the best bagi saya, tapi saya akan
selalu menunggu tulisan-tulisan kak Windry yang khas, mengalir apa adanya,
bercerita tentang sesuatu yang baru lagi. Saya akan setia menunggu novel
barunya lagi dan berharap bisa menemukan buku yang lebih dasyat dari Memori :D
4 sayap untuk Papaver somniferum.
Penulis: Windry Ramadhina
Editor: Ayuning & Gita Romadhona
Desain sampul: Lany Sekar
Penerbit: Gagasmedia
ISBN: 979-780-605-7
Cetakan pertama, 2012
360 halaman
Harga: 42k (pre order di kak Windry Ramadhina :p)
belum pernah baca bukunya Windry
BalasHapustapi penasaran
ayo dicoba , mas :D
Hapusyang google2 itu apa toh mbak?
BalasHapusitu sebutan temen Rayyi, Sube, untuk menggambarkan persahabatan mereka :D
Hapusskip isi postingan, coz bukunya udah punya tapi belum sempat baca.
BalasHapusbtw. judulnya kurang huruf, lis
ehehehe, udah tak edit mbak, tadi malam udah ngantuk :D
HapusGoogle ato Goggle, lis? Klo diambil dari serial tokusatsu jaman dulu itu sih mestinya Goggle yg bener
BalasHapusjiakakaka, mulai rabun nih mataku, coba nanti aku cek lagi di buku yang bener yang mana :D
HapusCovernya gagas biar cuma hitam putih macam sketsa kasar gitu tetep oke yaaa *kagum dg kualitas desainnya*
BalasHapusAku blm baca yg memory nih, saling berhubungan kah keduanya?
montase,,, siippph..
BalasHapuskayaknya menarik, tapi belum nemu di toko buku terdekatku sampai sekarang :(
BalasHapuswah masak belum ada? coba ke olshop aja pasti ada :)
BalasHapusaku juga suka dg bukunya kak windry :)
BalasHapus