Tampilkan postingan dengan label General Fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label General Fiction. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Maret 2018

Truly Yours by Fathnisa Hasnah | Book Review, Blog Tour

Judul buku: Truly Yours
Penulis: Fathnisa Hasnah
Editor: Prisca Primasari
Desainer cover: Levina Lesmana
Penerbit: Roror Raya Sejahtera
ISBN: 978-602-61138-4-9
Cetakan pertama, Agustus 2017
260 halaman
Harga: 69k
Tagline:
Dekat di mata, jauh di hati.
Ini cinta yang terlalu lama disimpan sendiri.

Blurb:
Namanya Aleva. Nggak suka dandan dan nggak bisa masak juga. Jutek dan hobi menonton film thriller—tapi anehnya, selalu parno kalau ditinggal sendirian terlalu lama di apartemennya. Daripada perasaannya terus-terusan nggak tenang, jemarinya langsung mencari nomor satu orang spesifik di handphone. Yang selalu siap sedia untuk dijadikan tempat bersandar. Yang keberadaannya senyaman selimut hangat. Orang itu... Reggy Rahadian.   

Namanya Reggy.Selama enam tahun, Reggy selalu jadi pendengar yang baik untuk semua curhatan dan keluh kesah Alev. Selama enam tahun itu juga Reggy menyimpan rahasia klise: dia jatuh cinta diam-diam pada adik sahabatnya.
*

Kau tak bisa menyangkal, ada kenikmatan tersendiri mencintai seseorang yang belum tentu akan balas mencintaimu. Mungkin kau pernah melakukan sesuatu supaya dia menyadari perasaanmu—mungkin juga tidak. Tak ada bedanya juga. Toh di dalam mimpi-mimpimu dia sudah jadi milikmu. 

Itu sebabnya kau selalu betah berada di sisinya. Menjaganya, jadi sandaran baginya... hingga suatu saat kau tak bisa menyangkal jeritan hatimu sendiri. 

Ternyata, bermimpi saja tak akan pernah cukup.... 

Senin, 30 Oktober 2017

A Thing Called Us by Andry Setiawan | Book Review + Giveaway

Judul buku: A Thing Called Us
Penulis: Andry Setiawan
Penyunting: Ayuning
Desainer sampul: Chyntia Yanetha
Penerbit: Haru
ISBN: 978-602-6383-20-4
Cetakan pertama, Oktober 2017
290 halaman
Buntelan dari @konstantin0609
Ini kisah cinta yang biasa.

Tentang tiga orang sahabat.
Tentang mereka yang memendam perasaan masing-masing.

Shun, Kotoha, dan Shinji sudah bersahabat sejak kecil.
Sampai suatu saat, Shinji tiba-tiba memutuskan untuk menghilang dari kehidupan mereka tanpa memberi kabar secuil pun.

Setelah lima tahun berlalu, Kotoha masih menunggu Shinji pulang.
Sementara itu, Shun menunggu Kotoha melupakan pria itu.
Namun, mau sampai kapan mereka saling menunggu?

Mereka hanya bisa berharap, kisah cinta yang biasa ini tidak berakhir dengan penyesalan.

Selasa, 03 Oktober 2017

Glaze by Windry Ramadhina | Blog Tour, Book Review

GLAZE: Galeri Patah Hati Kara & Kalle
Penulis: Windry Ramadhina
Editor: Gita Romadhona
Desainer sampul: Dwi Annisa Anindhika
Ilustrasi isi: Windry Ramadhina
Penerbit: Roro Raya Sejahtera (Imprint Twigora)
ISBN 978-602-60748-2-9
Cetakan pertama, 2017
400 halaman
Harga: Rp89.000,-
Seperti glasir di permukaan keramik, aku merasakanmu sepanjang waktu.
Mataku tak lelah menatapmu, diam-diam mengabadikan senyumanmu di benakku.
Telingaku mengenali musik dalam tawamu, membuatku selalu rindu mendengar cerita-ceritamu.
Bahkan ketika kita berjauhan, aku selalu bisa membayangkanmu duduk bersisian denganku.

Seperti glasir di permukaan keramik, kepergianmu kini membungkusku dalam kelabu.
Ruang di pelukanku terasa kosong tanpa dirimu.
Dadaku selalu sesak karena tumpukan kesedihan mengenang cintamu.
Bahkan ketika aku ingin melupakanmu, bayanganmu datang untuk mengingatkan betapa besar kehilanganku.

Aku menyesal telah membuatmu terluka, tapi apa dayaku?
Aku yang dulu begitu bodoh dan naif, terlambat menyadari kalau kau adalah definisi bahagiaku.

Minggu, 26 Juni 2016

The Chronicles of Audy: O2 by Orizuka | Blog Tour, Book Review, #KuisBuku

Judul buku: O2 (The Chronicles of Audy #4)
Penulis: Orizuka
Penyunting: Yuli Yono
Cover desainer dan ilustrator: Bambang 'Bambi' Gunawan
Penerbit: Haru
ISBN: 978-602-7742-86-4
Cetakan pertama, Juni 2016
364 halaman
Buntelan dari @penerbitharu
Hai. Namaku Audy. Umurku masih 22 tahun. Hidupku tadinya biasa-biasa saja, sampai cowok yang kusukai memutuskan untuk meneruskan sekolah ke luar negeri. 

Ketika aku sedang berpikir tentang nasib hubungan kami, dia memintaku menunggu.

Namun ternyata, tidak cuma itu. Dia juga memberikan pernyataan yang membuatku ketakutan setengah mati!

Di saat aku sedang kena galau tingkat tinggi, masalah baru (lagi-lagi) muncul.

Seseorang yang tak pernah kulirik sebelumnya,sekarang meminta perhatianku!

Ini, adalah kronik dari kehidupanku yang sepertinya selalu ribet.

Kronik dari seorang Audy.

Kamis, 02 Juni 2016

The Chronicles of Audy: 4/4 by Orizuka | Book Review

Judul buku: 4/4 (The Chronicles of Audy #3)
Penulis: Orizuka
Penyunting: Yuli Yono
Cover dan ilustrator: Bambang 'Bambi' Gunawan
Penerbit: Haru
ISBN: 978-602-7742-53-6
Cetakan pertama, Juni 2015
314 halaman
Pinjam @dyahmuawiiyah
Hai. Namaku Audy.
Umurku masih 22 tahun.
Hidupku tadinya biasa-biasa saja,
sampai aku memutuskan untuk bekerja di rumah 4R dan jatuh hati pada salah seorang di antaranya.

Kuakui aku bertingkah (super) norak soal ini,
tapi kenapa dia malah kelihatan santai-santai saja?
Setengah mati aku berusaha jadi layak untuknya, tapi dia bahkan tidak peduli!

Di saat aku sedang dipusingkan oleh masalah percintaan ini, seperti biasa, muncul masalah lainnya.

Tahu-tahu saja, keluarga ini berada di ambang perpisahan.
Aku tidak ingin mereka tercerai-berai, tapi aku bisa apa?

Ini, adalah kronik dari kehidupanku yang masih saja ribet.
Kronik dari seorang Audy.

Senin, 05 Oktober 2015

Namaku Subardjo by Hapsari Hanggarini | Blogtour, Book Review, Giveaway

Namaku Subardjo
Penulis: Hapsari Hanggarini
Editor: A. Mellyora
Desain sampul dan isi: Rendra TH
Penerbit: Metamind, Imprint Tiga Serangkai
ISBN: 978-602-72834-0-4
Cetakan pertama, Juli 2015
Buntelan dari @Tiga_Serangkai
Pernah membayangkan kalau namamu, nama yang diberi oleh orangtuamu, akan menentukan nasib percintaanmu?
Aku tak akan percaya kalau tidak menyaksikan sendiri kisah cinta kakakku berantakan hanya karena namanya Subardjo, nama yang menurut mantan pacarnya, enggak ngepop. Bahkan, tampang kerenmu, uang yang bertumpuk di rekening tabungan atau tongkrongan hebat yang kamu punyai tak cukup membantu, selain menjadi perantara untuk mengulur waktu, saat di mana cintamu diputus begitu saja tanpa penyesalan.

Lalu, apa yang kamu rasakan ketika namamu pun ikut menentukan perjalanan karirmu? Meski pertanyaan itu konyol, aku bisa menemukan sedikit kebenaran di sana, ketika kakakku mendadak jadi seorang caleg. Ya, caleg yang harus mengabdi pada rakyat, mendengarkan dan memperjuangkan hak dan aspirasi mereka.

Apa hubungannya? Kamu akan menemukannya dalam cerita ini. Cerita yang berawal dari sebuah nama dan berakhir di tempat yang sama.

Selasa, 02 Juni 2015

And The Mountains Echoed by Khaled Hosseini | Book Review

And The Mountains Echoed: Dan Gunung-Gunung Pun Bergema
Penulis: Khaled Hosseini
Penerjemah: Berliani Mantili Nugrahani
Penyunting: Esti A. Budihabsari
Desainer sampul: Windu Tampan
Penerbit: Qanita
ISBN: 978-602-9225-93-8
Cetakan I, Juli 2013
516 halaman
Pinjam @diyahmuawiiyah
Kulihat peri kecil muram,
Di keteduhan pohon kertas.
Kumengenal peri kecil muram,
Yang tertiup angin suatu malam.

Abdullah sangat menyayangi Pari, adik satu-satunya. Sejak ibu meninggal dan ayah mereka menikah lagi dengan Parwana, Abdullah menjadi ayah, sekaligus ibu bagi Pari. Bagi Abdullah, Pari adalah bumi, langit sekaligus seluruh semestanya. Dalam kehidupan pedesaan Afganistan yang keras dan kejam, Pari adalah seberkas cahaya matahari bagi Abdullah.

Lalu, ayahnya menjual Pari ke pasangan kaya di Kabul, demi kelangsungan hidup keluarga mereka di musim dingin. Abdullah limbung, dunianya hancur. Tak ada lagi Pari, tak ada lagi kehidupan.

And The Mountains Echoed, novel ketiga Khaled Hosseini yang menggemakan kehidupan keras di Afganistan. Lewat novel ini, Hosseini berkisah bagaimana pilihan yang kita ambil akan bergaung hingga ke generasi selanjutnya. Bagaimana cinta yang tulus akan bergema ke seluruh semesta, memanggil jiwa-jiwa yang kehilangan belahannya.

Sabtu, 21 Maret 2015

The Chronicles of Audy: 21 by Orizuka | Book Review

The Chronicles of Audy: 21 (The Chronicles of Audy #2)
Penulis: Orizuka
Penyunting: Tia Widiana
Cover desainer dan ilustrator: Bambang 'Bambi' Gunawan
Penerbit: Haru
ISBN: 602-774-237-2
Cetakan pertama, Juli 2014
308 halaman
Pinjam @dyahmuawiiyah
Hai. Namaku Audy.
Umurku masih 22 tahun.
Hidupku tadinya biasa-biasa saja,
sampai aku memutuskan untuk bekerja di rumah 4R.

Aku sempat berhenti, tapi mereka berhasil membujukku untuk kembali setelah memberiku titel baru: "bagian dari keluarga".

Di saat aku merasa semakin akrab dengan mereka,
pada suatu siang,
salah seorang dari mereka mengungkapkan perasaannya kepadaku.

Aku tidak tahu harus bagaimana!

Lalu, seolah itu belum cukup mengagetkan,
terjadi sesuatu yang tidak pernah terpikirkan siapa pun.

Ini, adalah kronik dari kehidupanku yang semakin ribet.

Kronik dari seorang Audy.

Minggu, 08 Februari 2015

Interval by Nay Sharaya, Dion Sagirang | Book Review

Interval
Penulis: Nay Sharaya, Dion Sagirang
Editor: Anin Patrajuangga
Desain cover: Dyndha Hanjani P.
Ilustrator: Lisa Fajar Riana
Penerbit: Grasindo
ISBN: 978-602-251-868-6
Cetakan pertama, Januari 2015
280 halaman
Buntelan dari @InayahSyar
Anna
Kupikir aku akan selalu baik-baik saja dalam keluarga yang kacau ini. Hingga kemudian, beberapa kesialan datang tiba-tiba dan mengejutkanku.

Kakakku, pemuda asing yang genius itu selalu mendapatkan apa saja dengan mudah, lalu menyia-nyiakannya. Seorang gadis Jepang yang perlahan-lahan merebut tempatku yang nyaman. Dan terakhir, seorang pria, guru misterius yang penuh rahasia dan akhirnya melibatkanku dalam kekacauan yang tak pernah kualami sebelumnya.

Semuanya muncul bersamaan dan membuatku sadar bahwa bertahan sendiri tidak lagi semudah dulu.


Erash
Dulu aku pernah berbagi tawa bersama gadis itu. Pada sore yang cerah, kami menaiki sepeda yang sama, melewati hari-hari dengan bahagia. Seperti kisah-kisah dalam dongeng.

Lalu, mari kita tengok sekarang. Dia, gadis yang pernah berbagi tawa bersamaku telah menjelma sosok yang tidak kukenali. Ada sorot benci yang sulit kuejawantahkan saat dia menatapku, dan tatapan itu seperti cara seseorang menatap musuh.

Padahal, gadis itu adalah adikku. Sekarang, saat hidupnya didera banyak masalah, apa aku masih punya alasan untuk tetap peduli?

Sabtu, 13 September 2014

[Book Review] Sabtu Bersama Bapak by Adhitya Mulya

Sabtu Bersama Bapak
Penulis: Adhitya Mulya
Penyunting: Resita Wahyu Febiratri
Desainer sampul: Jeffri Fernando
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-721-5
Cetakan pertama, 2014
278 halaman
Pinjam @daneeollie

“Hai, Satya! Hai, Cakra!” Sang Bapak melambaikan tangan.
“Ini Bapak.
Iya, benar kok, ini Bapak.
Bapak cuma pindah ke tempat lain. Gak sakit. Alhamdulillah, berkat doa Satya dan Cakra.

…

Mungkin Bapak tidak dapat duduk dan bermain di samping kalian.
Tapi, Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian.
Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian.
Ingin tetap dapat mengajarkan kalian.
Bapak sudah siapkan.

Ketika punya pertanyaan, kalian tidak pernah perlu bingung ke mana harus mencari jawaban.
I don’t let death take these, away from us.
I don’t give death, a chance.

Bapak ada di sini. Di samping kalian.
Bapak sayang kalian.”

Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.



Kamis, 11 September 2014

[Book Review] Stasiun by Cynthia Febrina

Stasiun: Dua Kisah Satu Jalur
Penulis: Cynthia Febrina
Penyunting: Gina S Noer, Ninus D Andarnuswari
Ilustrasi sampul: Diani Apsari
Penerbit: Plot Point
ISBN: 978-602-9481-36-5
Cetakan pertama, Mei 2013
188 halaman
Harga: Rp 9. 520 (Beli di BukaBuku, off 72%)

Adinda putus dengan pacarnya. Kini tak ada lagi Rangga yang biasa mengantarjemput. Tiap pagi Adinda harus naik kereta dari Bogor ke kantornya di Jakarta. Harinya berawal dengan teriakan pedagang asongan, sampah yang bertebaran di peron, para penumpang yang berkeringat dan tergesa, bahkan aksi copet. Masa lalu pun kerap memberatkan langkah. 


Ryan "anak kereta" sejati, bersahabat dengan para pedagang kios di sepanjang peron. Bertahun-tahun dia pulang-pergi Bogor-Jakarta naik kereta. Di balik beban kerja yang menyibukkan, ada kesepian yang sulit terobati, apalagi ketika seorang sahabat meninggal. 

Tiap pagi mereka menunggu kereta di peron yang kadang berbeda. Tapi jalur yang sama memungkinkan langkah dan hati mereka bertautan. Stasiun jadi saksinya.

Senin, 02 Juni 2014

[Book Review] Dimsum Terakhir by Clara Ng

Dimsum Terakhir
Penulis: Clara Ng
Editor: Hetih Rusli
Desain cover: Marcel A.W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-7952-8
Cetakan ketiga, Januari 2012
368 halaman
Buntelan (lupa dari siapa)

A novel about being single and becoming part of a family... when everything is going totally wrong.


Empat perempuan kembar yang mempunyai empat kehidupan berbeda. Empat masa depan yang membingungkan. Empat rahasia masa lalu yang menghantui. Dan satu usia biologis yang terus berdetik.



Siska, Indah, Rosi, dan Novera terpaksa harus pulang untuk mendampingi ayah yang diprediksi tidak punya harapan hidup lagi. Mereka tak pernah menyangka bahwa kesempatan berkumpul kembali ternyata mengubah segalanya. Pertanyaan-pertanyaan penting tentang kehidupan bermunculan, termasuk ketakutan, kecemasan, dan keangkuhan mengakui bahwa kehidupan dan kematian hanyalah sekadar garis tipis.


Dimsum Terakhir adalah drama penuh haru, memikat, cerdas, dan dituturkan dengan amat indah oleh novelis bestseller Indonesia, Clara Ng. Kisah yang ditulis modis dengan gaya lembut tapi kuat ini menyuarakan keberanian serta kekuatan yang (selalu) ada di hati kita semua.


Kamis, 30 Januari 2014

Rhapsody

Hei, di sebelah dunia bagian mana kau sedang berada?


Sudah bertahun-tahun kau dan aku mencari arah.

Berkali-kali jatuh cinta pada selatan.

Menaruh keraguan pada barat.
Terus menunggu isyarat timur.
Hingga utara pun sudah tak lagi kita percaya.

Sudah kujejaki banyak kisah, kutemui pula banyak luka.
Ternyata, pada kisah lalu milik kitalah harapan itu tetap ada.

Masih kuatkah kau dan aku berjalan?
Atau, kali ini, mungkin pulang akan menjadi jawaban.

Rhapsody
Penulis: Mahir Pradana
Editor: Ayuning
Ilustrasi isi: Anzi_Nadilla
Desainer sampul: Anissa Dwi Anindhika
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-656-1
Cetakan pertama, 2013
322 halaman
Buntelan dari Secret Santa


Senin, 16 September 2013

Tersesat Bersama Cerita Absurd

Selama Kita Tersesat Di Luar Angkasa
Penulis: Maggie Tiojakin
Editor: Mirna Yulistianti
Cover: Staven Andersen
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-9616-7
Cetakan pertama Juli 2013
241 halaman
Buntelan dari @MaggieTiojakin


Jemu dengan kumpulan cerpen yang melulu soal cinta? Kisah heroik “si baik dan si jahat” penuh pesan moral ala abad ke-18 tidak lagi menarik? Jika ya, jangan ragu untuk membaca kumpulan cerpen ketiga Maggie Tiojakin yang berjudul Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa ini. Setelah menelurkan dua kumpulan cerpen berjudul Homecoming dan Balada Ching-Ching serta sebuah novel Winter Dreams, dia kembali merangkum kumpulan cerpen Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa.

Sebelumnya, koleksi cerpen Maggie lebih menyoroti situasi biasa yang kerap kali terjadi. Kali ini dia menyodorkan sekelumit pengalaman asing, mulai dari peliknya situasi di tengah peperangan hingga perjuangan sekelompok astronaut yang terdampar di Merkurius. Walau demikian, empat belas cerpen bertema absurd yang berangkat dari konsep sederhana ini terasa hidup karena dibangun lewat riset intens.

Satu hal yang tak pernah ketinggalan dari cerpen-cerpen Maggie adalah kritik sosial yang kental, namun tidak terkesan menggurui. ~ Koran Jakarta

Konten:

1. Tak Ada Badai di Taman Eden
2. Kristallnacht
3. Lompat Indah
4. Fatima
5. Panduan Umum Bagi Pendaki Hutan Liar
6. Kota Abu-Abu
7. dies irae, dies illa
8. Saksi Mata
9. Labirin yang Melingkar-lingkar dalam Sangkar
10. Ro-Kok
11. Dia, Pemberani
12. Suatu Saat Kita Ingat Hari Ini
13. Jam Kerja
14. Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa

Rabu, 14 Agustus 2013

The Chronicles of Audy: 4R

The Chronicles of Audy: 4R
Penulis: Orizuka
Penyunting: Tia Widiana
Cover dan ilustrasi: Bambang 'Bambi' Gunawan
Proofreader: Yuli Yono
Penerbit: Haru
ISBN: 978-602-7742-21-5
Cetakan pertama, Juli 2013
320 halaman
Pinjem @noninge


Hai. Namaku Audy. Umurku 22 tahun.
Hidupku tadinya biasa-biasa saja, sampai kedua orangtuaku jatuh bangkrut karena ditipu.

Aku hanya tinggal selangkah lagi menuju gelar sarjanaku. Selangkah lagi!

Tapi kedua orangtuaku rupanya tega merusak momen itu. Jadi sekarang, di sinilah aku berada. Di rumah aneh yang dihuni oleh 4 bersaudara yang sama anehnya: Regan, Romeo, Rex dan Rafael.

Aku, yang awalnya berpikir akan bekerja sebagai babysitter, dijebak oleh kontrak sepihak dan malah dijadikan pembantu!

Terdengar klise?
Mungkin, bagimu. Bagiku? Musibah!
Ini, adalah kronik dari kehidupanku yang mendadak jadi ribet. Kronik dari seorang Audy.


Kamis, 13 Juni 2013

Bangkok: The Journal

Bangkok: The Journal
Penulis: Moemoe Rizal
Editor: Ibnu Rizal
Desain sampul: Jeffri Fernando
Ilustrasi isi: Tyo
Penerbit: Gagasmedia
ISBN: 979-780-629-4
Cetakan pertama, 2013
436 halaman
Harga: 34k (Beli di SCB)


Pembaca tersayang,

Siapkan paspormu dan biarkan cerita bergulir. BANGKOK mengantar sepasang kakak dan adik pada teka-teki yang ditebar sang ibu di kota itu. Betapa perjalanan tidak hanya mempertemukan keduanya dengan hal-hal baru, tetapi juga jejak diri di masa lalu.

Di kota ini, Moemoe Rizal (penulis Jump dan Fly to The Sky) membawa Edvan dan adiknya bertemu dengan takdirnya masing-masing. Lewat kisah yang tersemat di sela-sela candi Budha Wat Mahathat, di antara perahu-perahu kayu yang mengapung di sekujur sungai Chao Phraya, juga di tengah dentuman musik serta cahaya neonyang menyala di Nana Plaza, Bangkok mengajak pembaca memaknai persaudaraan, persahabatan, dan cinta.

เที่ยวให้สนุก, tîeow hâi sà-nùk, selamat jalan,
EDITOR



Minggu, 12 Mei 2013

Pintu Harmonika

Pintu Harmonika
Penulis: Clara Ng & Icha Rahmanti
Cerita Asli: Clara Ng, Gina S. Noer
Ilustrasi: Herdiyani
Perancang Sampul: Diani Apsari
Penerbit: PlotPoint Publishing
ISBN: 978-602-9481-10-5
Cetakan Pertama, Januari 2013
307 halaman
Harga: 34k (Beli di SCB)


Dijual cepat: S U R G A!

Punyakah kamu surga di Bumi, tempatmu merasa bebas, terlindungi dan… begitu bahagia hanya dengan berada di situ?

Rizal, Juni, dan David menemukan surga lewat ketidaksengajaan; Buka pintu harmonika, berjalan mengikuti sinar matahari, dan temukan surga. Surga yang tersembunyi di belakang ruko tempat tinggal mereka.

Walau mereka berbeda usia dan tidak juga lantas bermain bersama, surga membuat mereka menemukan bukan hanya sahabat, tetapi juga saudara dan keluarga. Ketika surga mereka akan berakhir, semangat mempertahankannya membawa mereka pada sebuah petualangan lewat tengah malam. Apa pula hubungannya dengan pencitraan Rizal, masalah Juni di sekolah dan bulu hitam misterius yang berpendar cantik temuan David serta suara-suara misterius di atap rukonya?

Sabtu, 20 April 2013

Ketika Daun Bercerita

Ketika Daun Bercerita
Penulis: Maradilla Syachridar
Editor: Raditya Dika dan Mala Aprilia
Desain sampul: Fachreza Astnam Mubarak
Penerbit: Bukune
ISBN: 602-8066-18-4
Cetakan pertama, Juli 2008
184 halaman
Harga: 10k (beli di Gramedia Solo)

Aku mungkin hanya bisa meratap seorang diri, atau berdua bersama Kimi. Aku terlalu mengenal dia, dia, dia, dan dia. Terlalu mengenal mereka, sementara mereka tidak akan pernah mengenalku. Mereka adalah manusia, aku hanyalah sebatang pohon, human-wannabe. Kadang aku ingin memanggil mereka, meminta maaf kepada mereka, memanggil orang-orang yang mempengaruhi hidupku. Aku juga ingin berterima kasih kepada mereka karena berkenan menjadi orang yang berarti dalam hidupku. Namun aku sadar, aku tidak akan pernah merasa dipanggil. Mungkin aku hanyalah pohon yang sedang memaksa untuk hidup dan berpikir seperti manusia. Pohon memang hanyalah pohon. Namun, pernahkah aku meminta untuk menjadi pohon?

Kita hanyut oleh tutur laporan pandangan mata pengarang yang diwakili oleh pohon. Sensitivitas cerita ini menyentil kita. -Linda Djalil, penulis, wartawan senior, lulusan Sastra Indonesia UI-

Selangkah ke depan, seperti bakul jamu, setelah memikat dengan ular, sulapan, dan tak jarang akrobatik, seorang penulis dituntut menyampaikan isi hatinya yang membuat sebuah tulisan mengesankan. Penulis muda ini tampak memahami hal tersebut. -Putu Wijaya, sastrawan, budayawan-

Kamis, 02 Agustus 2012

Jiwo J#ncuk


Jiwo_jancuk


Penulis: Sujiwo Tejo
Editor: Resita Wahyu Febriantri
Cover: Jeffri Fernando
Ilustrasi isi/lukisan: Sujiwo Tejo
Penerbit: Gagasmedia
ISBN: 979-780-572-7
Cetakan pertama, 2012
196 halaman

"Membaca tulisan Sujiwo Tejo tentang cinta di buku ini rasanya... jancuk!"
-Moammar Emka, penulis Dear You.

Ketika membaca endorsemen penulis di atas, saya pikir buku ini adalah buku romance, ternyata... jancuk! lebih dari itu. Buku dibagi menjadi empat bab: Amor, Metropolitan, Ceplas Ceplos, dan Twit Wayang. Mari kita tenggok satu per satu.

Amor, di bab pertama ini, budayawan yang berpenampilan nyentrik dan tidak jarang bicara ceplas ceplos ternyata bisa menulis bahasa yang biasa, nyantai tapi romantis. Sewaktu kuliah dulu, penulis bekerja sebagai penyiar radio, tiap kali dia siaran dia menceritakan orang yang disukainya, bagaimana perasaanya, bagaimana rupa di wanita tersebut, juga salah seorang teman laki-lakinya. Puncaknya ada di cerpen Retno Kusumawardani :).
Puncak kangen paling dahsyat ketika dua orang tak saling menelepon
tak saling sms
bbm-an
dan lain-lain tak saling
namun diam-diam keduanya saling mendoakan
Selain itu, dalang edan ini juga bercerita tentang perempuan lewat prosa dan puisi, hahaha menyentil sekali :). Bahwa perempuan suka es krim dan coklat, tapi lebih suka kepastian, alasan seorang istri tiba-tiba meminta cerai kepada suaminya, seorang perempuan yang pertama kali pisah dengan anak-anaknya, melihat cinta dari sorot mata seorang perempuan.
Bahwa perempuan lebih canggih dari makhluk angkasa luar. UFO cuma bisa naik piring terbang, perempuan bisa menyebabkan piring-piring berterbangan ke para suami yang nyebelin. Lebih dari itu, perempuan bisa mengajukan gugatan cerai.
Perempuan bagai belut, meski telah kau kenali segala lukuk liku tubuhnya, sukmanya selalu luput dari genggaman.
Bagi saya, kalau sampeyan ditanya kenapa mencintai seseorang, apa alasannya, dan sampeyan bisa menjawab tuntas, berarti sampeyan bukan sedang jatuh cinta.
Bukan itu namanya. Itu itung-itungan. Cinta tak pakai alasan-alasan.
Metropolitan, berbicara tentang Jakarta tidak akan ada habisnya, macetnya lah, banjirnya lah, sumpeknya lah, semua ada. Di sini penulis menyentil tentang pelecehan seksual yang ada di angkutan umun, banyaknya Mal yang ada di Jakarta, kebiasaan baca koran saat di WC, merenung tentang angka kendaraan roda empat yang membludak, silaturahmi, dan dunia otomotif.

Ceplas ceplos, berisi pendapat-pendapat dia, pemikirannya tentang masa lalu dan sekarang. Dulu para artis hampir tidak mempunyai privasi, beda dengan artis sekarang kita bisa cuek ketika dia berada di samping kita. Ucapan selamat lebaran yang dikirim lewat SMS atau BBM broadcast, di mana dulunya lewat katu pos, walau pun sama-sama copas yang paling membedakan adalah di kartu pos ada nama orang yang dituju. Para orang tua yang berlomba-lomba memasukkan putra-putrinya ke sekolah internasional,
Padahal, menurut Einstein, logika cuma sanggup mengantarmu dari A ke B. Sementara imajinasi sanggup membawamu dari A ke tak terhingga...
makna seorang guru, perempuan dan multitasking, komodo dan intra penciumannya, demokrasi, agama, pentingnya bernyanyi, dendam dan membalas dendam, mudik, kesehatan, komunikasi merubah banyak hal, ujian nasional, dan yang terakhir, salah satu pertanyaan besar ketika saya membaca twitnya @sudjiwotedjo yaitu pengertian Jancuk!
#JANCUK tuh ungkapan beragam dari kemarahan sampai keakraban, tergantung sikon seperti FUCK. tapi orang munafik langsung nyensor.
#jancuk ketika kita disuruh bangga jadi Indonesia tapi buku sejarah gak direvisi. Sejak SD dibilang Indonesia dijajah 350 tahun, mestinya berperang!
#jancuk tuh ketika teroris boleh ditembak tanpa sidang, tapi koruptor harus disidang dulu berbelit-belit dan abis itu gak jadi di-dor pula.
#jancuk itu asli kosakata Surabaya. Artinya Jaran Ngencuk. Dulu pernah dibuatkan seminar di Surabaya, bukan umpatan, cuma salam. Contoh: #Jancuk! Nang endi ae koe? (ke mana aja loe?) Muatan emosinya bukan jorok, tapi terkejut ketemu teman. Kalo bahasa Inggris: where the fuck have you been man? Bukan jorok, tapi suprised.
Twit wayang, nah, bagian yang saya suka nih, ingin tahu si dalang edan berbicara tentang filosofi hidup lewat wayang? di sinilah jawabannya. Kita akan tahu kenapa penulis sangat mengidolakan #Semar, bercerita tentang #DewaRuci, #Wisanggeni, #Yudistira, #Panakawan, #Petruk.
Gareng itu lambang keintelektualan dalam dirimu. Ketika kamu kritis mempertanyakan berbagai hal, kamu sedang meng-Gareng.
Ketika kamu sedang easy going dan take easy terhadap apa pun, kamu sedang mem-Petruk.
Ketika kamu sedang ingin memberontak terhadap apa pun, maka kamu sedang mem-Bagong.
Namun, biarlah #Semar dalam dirimu yang akan memoderatori kemunculan Panakawan dalam batinmu secara situsional.
Petruk: lambang kehendak, berhati-hati dalam menentukan keinginan, harus tetap rendah hati, dan waspada.
Bagian yang saya suka adalah bercerita tentang Yudistira :)

Ketika kita membaca pemikiran Sujiwo Tejo dengan berbagai hal di sekitar kehidupannya, kesehariannya, kita akan mikir: ternyata benar juga ya pendapatnya, terlebih tentang perempuan itu dan tentang lainnya :p. Lalu kita juga akan merasakan bagaimana seorang Sujiwo Tejo sangat membenci korupsi, berbicara sinis tentang pemerintahan tapi juga bisa romantis soal cinta. Saya juga suka pemikirannya tentang tidak ada aturan untuk tiap pagi sarapan, makan sehari tiga kali yang benar ya makan ketika lapar dan berhenti ketika kenyang, pemikirannya sederhana tapi bermakna. Buku ini menarik, seperti yang tertulis di belakang sampul buku: observasinya terhadap detail kehidupan disampaikan dengan bahasa yang santai, namun tetap sarat nilai dan kerap "menyentil".
Padahal, kalau saya nggak salah ingat, setiap agama punya semangat sosial. Malah ada yang bilang, sembahyang yang sebenarnya ialah berbuat kebajikan buat orang banyak. Sebaik-baiknya umat adalah yang paling bermanfaat buat orang lain. Saya sering ngetwit seperti ini: "Sujud tertinggi adalah membahagiakan orang lain.
Itu nggak ada jadwalnya. Itu sepanjang waktu. Ajaran ini juga kerap dibilang dalam wayang.
Sembahyang formal yang ada jadwal-jadwalnya terhadap Tuhan baru punya dilai di depan-Nya kalau sembahyang itu makin kuat menggerakkan orang untuk melakukan perbuatan bagi sesama. Sembahyang individual menjadi laksana generator yang membangkitkan energi sosial.
Baru kali ini saya membaca karya full dari budayawan nyentrik ini, sebelumnya pernah membaca salah satu cerpennya di  kumcer 1 Perempuan 14 Laki-Laki, belum mengenal gaya penulisannya dan kali ini saya suka, bagaimana dia bercerita dengan 'halus', mengalir, dan mengena, ada beberapa bagian di endingnya ada efek kejutnya, eksekusinya pas sekali. Ada juga sisipan lukisan karya penulis yang nyleneh, saya nggak pinter mengintepretasikan sebuah lukisan yang jelas lukisan Sudjiwo Tejo ini nggak jauh-jauh dari wayang dan Semar :). Minim typo. Suka banget sama covernya, kayak sebuah permainan apa itu namanya? Boneka yang ada talinya trus digerak-gerakkan dengan tangan. Buku ini tidak hanya berisi kisah cinta tapi pemikiran-pemikiran dan perasaannya terhadap kehidupan sekitarnya.

Buku itu ditujukan kepada para Jancukers.

3.5 sayap untuk Jancuk!

Selasa, 24 Juli 2012

The White Tiger


White_tiger


by Aravid Adiga
Penerjemah: Rosemary Kasauly
Editor: Benedicta Rini W.
Desain sampul: Ellen R. Sasaham
Penerbit: Sheila
ISBN: 978-979-29-1286-9
352 halaman

Hanya ada tiga negara yang tidak pernah membiarkan wilayah mereka dijajah orang asing: Cina, Afghanistan, dan Abyssinia. Hanya tiga negara inilah yang saya kagumi.
Karena saya menghormati sifat orang Cina yang sangat mencintai kebebasannya dan karena saya percaya bahwa masa depan dunia terletak di tangan orang-orang berkulit kuning serta berkulit cokelat setelah mantan penguasa kita, orang-orang kulit putih, tidak lagi berdaya akibat seks anal, penggunaan ponsel, dan kecanduan narkoba, maka saya menawarkan diri untuk memberikan informasi sebenarnya tentang Bangalore, gratis. Dengan menceritakan kisah hidup saya.
Pernah nonton film Slumdog Millionaire? Seorang pemuda miskin india yang berasal dari daerah kumuh berhasil menjadi pemenang Who Wants To Be a Millionaire? versi India, dia menjawab tiap pertannyaan di mana jawabannya berhubungan dengan masa lalunya. Buku ini tidak jauh berbeda dengan film itu. Bedanya adalah penulis menorehkan kisah hidup seorang laki-laki muda bernama Balram yang awalnya dari desa miskin, putus sekolah hingga akhirnya menjadi entrepeneur sukses. Sama-sama bercerita tentang bobroknya negara mereka. Saya penasaran sama buku ini karena label Winner of The Man Booker Prize, selain itu banyak review di Goodreads yang bilang buku ini bagus, sebuah satir kehidupan seorang pemuda di India. Jodohnya lagi, saya diminta teman untuk mengembalikan buku yang dipinjamnya, karena bosan dengan bacaan saya kala itu saya mencuri baca (lagi!), dan karena saya sangat menikmatinya, saya mencari buku ini dan membelinya untuk koleksi, nanti saya akan ceritakan kenapa buku ini layak dikoleksi. Oh, tidak lupa juga, bagi kamu yang ingin menjadi enterpreneur yang sukses juga wajib membaca buku ini.
Kisah bagaimana saya dibesarkan menunjukkan seseorang yang setengah matang dibentuk.
Tapi, perhatikan baik-baik, Pak Perdana Menteri, orang-orang yang terbentuk sempurna setelah menghabiskan dua belas tahun dibangku sekolah dan tiga tahun di bangku kuliah, semuanya berjas, bekerja kantoran, menghabiskan seumur hidup di perintah orang lain.
Para entrepreneur dicatak dari tanah liat setengah matang.
Buku ini di mulai dari surat seorang pemuda yang mempunyai julukan "Sang Harimau Putih" yang ditujukan kepada Perdana Menteri Cina, Wen Jiabao, yang rencananya akan bertandang ke India, kota Bangalore, dia ingin mendapatkan informasi yang sebenarnya tentang bangalore, dia ingin bertemu dengan beberapa enterpreneur India dan mendengarkan kisah sukses mereka secara langsung. Di mulailah cerita tentang kota tersebut atau lebih tepatnya kisah hidup Sang Harimau Putih. Dari tempat tinggalnya, penduduknya, semua dibeberkannya dengan jujur.
Sudah merupakan adat orang di negara saya untuk memulai sebuah cerita dengan berdoa kepada Yang Kuasa. Yang Mulia, saya rasa saya juga harus memulai dengan "menjilat bokong dewa." Masalahnya, dewa yang mana? Ada begitu banyak pilihan.
Kaum Muslim punya satu Tuhan.
Orang Kristen punya tiga Tuhan.
Sementara, kami Penganut Hindu punya 36.000.000 dewa-dewi.
Jadi, saya harus memilih dari total 36.000.004 bokong suci.
Munna (yang berarti anak laki-laki) yang nantinya akan bernama Balram Halwai, Ashok Sharma, tidak sempat mempunyai nama. Ibunya sakit keras sehingga tidak mempunyai waktu untuk memberi nama, ayahnya penarik rickshaw tidak punya waktu untuk memberi nama, semuanya tidak punya waktu. Sang gurulah yang akhirnya memberi nama ketika mengabsen di kelas. Dia tinggal di kegelapan, desa miskin yang bernama Laxmangarh di distrik Gaya. Tiang listrik tidak berfungsi, keran air rusak, anak-anak kurus kekurangan gizi. Ada satu anggota keluarga balram yang paling penting, tergemuk, diktator di rumah, yaitu: Kerbau. Di desa kegelapan, para binatanglah yang paling makmur.
Singkat cerita pada masa lalu, ada sekitar seribu kasta serta garis nasib di India. Sekarang ini, hanya tinggal dua: Kasta Perut Buncit dan Kasta Perut Rata. Dan hanya ada dua nasib: makan atau di makan.
Keluarga Balram miskin seperti kebanyakan keluarga di india, dan lucunya ada adat yang mengharuskan apabila seorang perempuan dipersunting, maka keluarga perempuan itu harus memberikan mahar yang tak terkira pada keluarga mempelai laki-laki, pesta pernikahan yang meriah. Ada sepupu Balram yang dipersunting dan tamatlah riwayat keluarganya, dia harus berhutang pada di tuan takur aka tuan tanah aka si Bangau. Seperti di Indonesia, yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin, orang kaya yang ada di desa Balram adalah tuan tanah si Kerbau, si Bangau, si Gagak Hitam, si Babi Hutan mereka paling berkuasa, mempunyai kekayaan melimpah dan rumah mewah, rakyat miskin harus membayar upah kepada mereka. Hal ini membuat Balram berhenti sekolah karena tidak sanggup membayar biaya dan harus bekerja kepada si Bangau untuk melunasi hutang keluarganya. Kakanya Kishan menyeretnya dari sekolah untuk bekerja di kedai teh, memecah batu bara, mengelap meja. Balram berasal dari kasta gula-gula sehingga dia hanya bisa bekerja di kedai teh, membuat gula-gula. Kakaknya juga putus sekolah akibat saudari sepupu lainnya menikah. Balram menjadi ejekan teman-temannya, karena sebelumnya ada seorang inspektur yang memuji kepandaian Balram dan memberikannya julukan Harimau Putih.
"Nak, kau anak yang cerdas, jujur serta, serta paling bersemangat di tengah segerombolan bocah lamban dan tolol ini. Di hutan, hewan apakah yang paling langka -sosok yang hanya muncul sekali dalam satu generasi?"
Saya berpikir sebentar, lalu menjawab, "Harimau putih."
"Kau bagai harimau putih di tengah hutan ini."
Lalu, ada kalimat Kishan yang membuat saya ngakak setelah menyerat Balram:
"Bayangkan setiap potong batu bara ini adalah batok kepalaku:pasti kau akan lebih mudah memecahkannya."
Tibalah saat Balram bangkit, dia ingin keluar dari kegelapan dan memiliki hidup yang lebih baik. Pergi ke Dhandad sampai Delhi. Dengan berbagai usaha dia belajar menyetir mobil dan menawarkan jasanya dari rumah ke rumah. Hingga kerja kerasnya itu mempertemukannya dengan Mr. Ashok, anak dari si Bangau, menjadi sopir pribadi pengusaha batu baru tersebut, yang mungkin tak akan pernah dipikirkannya, kalau suatu hari nanti orang yang dipercayanya itu akan menggorok leher majikannya sendiri.
Suka banget dengan buku ini, perasaan ketika membacanya adalah miris, ironi, ngakak, semuanya ada. Saya akan mencoba menuliskan beberapa poin yang ingin ditunjukkan penulis.
  • Desa kegelapan, mungkin tidak hanya di India saja, di Indonesia masih banyak desa kecil yang tak tersentuh tangan pemerintah. Rakyat miskin, tidak ada listrik dan air, anak-anak kekurangan gizi, sekolah yang mahal, miris sekali.
  • Binatang yang dianggap suci. Para wanita lebih 'giat' memberi makan kerbau daripada anaknya sendiri. 'Mereka' lebih gemuk, lebih sehat daripada manusia.
  • Perbedaan kasta. Di jaman yang semakin maju ini masih saja ada perbedaan yang melarang kita untuk menjalani hidup secara bebas, contohnya memilih pekerjaan. Balram yang kastanya hanya seorang pembuat gula-gula dia kebagian menjadi sopir kedua, dia mengemudikan mobil Maruti Suzuki, mobil yang kalah hebat dengan Honda City yang hanya boleh dikemudikan oleh si sopir nomor satu, Ram Pershad.
  • Minimnya fasilitas kesehatan. G
    eez saya miris sekali membaca ketika ayah Balram terkena tuberkulosis dan di mana rumah sakit? Mereka harus menyeberangi sungai, berkilo-kilo meter di tempuh setelah sampai apa yang di dapat? rumah sakit seperti kandang binatang, tahi kambing berceceran di lantai, kaca pecah, orang-orang sakit tak terurus, dokter datang tak tentu, rumah sakit gratis? bah!
  • Wanita lebih berkuasa. Benar-benar tradisi yang aneh, hanya demi pernikahan yang meriah orang-orang rela berhutang. Sial bagi keluarga yang mempunyai anak perempuan karena harus memberikan mahar dan pesta pernikahan itu. Selain itu, nenek Balram, Kusum, juga menguasai semua penghasilan anak cucunya. Balram harus menyerahkan setengah lebih gajinya untuk diberikan sang nenek.
  • Perbedaan agama. Ngakak sih waktu Balram memata-matai Ram Parshad, sopir nomor satu di keluarga si Bangau. Ram harus berpura-pura menjadi Hindu agar bisa bekerja, dia memajang gambar dewa-dewi di kamarnya dan sok religius, padahal dia seorang muslim dan dia ketahuan ketika Balram mengikutinya sholat di masjid, dan itu membuat dia terdepak dari posisi sopir nomor satu. Sampai segitukah, kita tidak memiliki kebebasan beragama? Di mana hak asasi manusia?
  • Korupsi meraja lela. Yeah, nggak cuman di Indonesia kalau politik itu penuh dengan uang haram. Di buku ini juga diceritakan kalau rakyat kecil tidak pernah memilih sendiri ketika pemilu, The Power of Duit.
  • Polisi yang gemuk. Berbuat suatu kejahatan? Sumpal saja mulut si polisi dengan uang, maka kesalahanmu akan dilimpahkan ke orang lain atau akan dilupakan begitu saja. 
  • Tuan takur. Yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin, kamu yang nggak punya kedudukan, jangan macam-macam!
Bagian yang nyesek selain mengetahui kondisi rumah sakit di India, ada lagi yang membuat miris yaitu para penegak hukumnya. Nyesek banget ketika membaca bagian ketika ada pendukung partai lain yang sedang berpromosi di partai lawan dia dipukuli habis-habisan oleh pemimpin partai lawan tersebut dan seorang polisi, tidak ada yang menolong, penegak hukum, hah?
Kalau saya boleh kembali menyinggung soal poster DICARI itu, Yang Mulia. Disebut pembunuh tidak apa-apa, tidak masalah, itu fakta, saya seorang pendosa, manusia bejat, tapi, disebut pembunuh oleh seorang polisi! Omong kosong besar.
Lalu ketika istri sang majikan Mr. Ashok, Pinky Madam yang ngotot ingin mengemudikan mobil ketika sedang mabuk yang akhirnya menabrak seseorang, siapa yang di salahkan? tentu saja si sopir yang hanya bisa menurut, ingin menjerit tidak terima tapi apa kedudukannya? hanya dari kasta rendahan. Dia dipaksa menandatangani bahwa dialah pelaku yang menabrak orang itu. Itulah awalnya Balram berani bangkit, berani memimpikan masa depan yang lebih terang, berani membuat rencana menggorok leher majikannya dan membawa tas merah berisi tujuh ratus ribu rupe, dan merintis karir sebagai entepreneur sukses.
Penjara Delhi penuh dengan sopir yang terkurung di balik jeruji karena mereka menanggung kesalahan yang diperbuat majikan kelas menangah mereka yang orang baik-baik. Kami sudah meninggalkan desa tapi para majikan tetap menguasai kami, tubuh, jiwa, dan bokong kami.
Ya itu benar. Kami semua hidup dalam demokrasi paling luar biasa di dunia.
Omong kosong besar.
Saya suka cara penulis bercerita, dia menuliskan kisah perjalanan hidup Balram dengan alur flashback, Balram seolah mengirim surat dan menceritakan bagaimana dia yang awalnya seorang pesuruh hingga akhirnya menjadi seorang entrepreneur sukses kepada orang Cina, orang yang dipercaya suatu saat nanti menguasai dunia, walaupun kita tahu sebenarnya dia bercerita secara monolog. Penulis menuliskan kisah Balram dengan kocak, dengan sarkasme, penuh ironi akan kenyataan yang ada. Saya jadi memikirkan Indonesia yang nasipnya tidak jauh berbeda, koropsi meraja lela, HAM yang entah sekarang apakah masih dianggap penting. Yang terpenting dari buku ini adalah bagaimana Balram bisa keluar dari kandang ayam.
Terjebak dalam kandang ayam, mereka tahu merekalah korban berikutnya. Namun, mereka tidak memberontak, tidak berusaha melarikan diri dari kandang.
Balram ingin keluar dari kandang ayam, ketika hanya ada satu cara yang dipikirkannya, dia terus maju, tidak peduli akan bahaya di belakangnya, yang terpenting dia berani mencoba, berani keluar dari kungkungan hidup.
Buku ini layak dikoleksi, buku ini sangat cocok untuk siapa saja yang ingin menjadi entrepreneur sukses.

4 sayap untuk sang sopir.

Rekomendasi Bulan Ini

Buku Remaja yang Boleh Dibaca Siapa Saja | Rekomendasi Teenlit & Young Adult

K urang lebih dua tahun yang lalu saya pernah membahas tentang genre Young Adult dan berjanji akan memberikan rekomendasi buku yang as...