Tampilkan postingan dengan label Nina Addison. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nina Addison. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Oktober 2018

Perkara Bulu Mata by Nina Addison | Book Review

Judul buku: Perkara Bulu Mata
Penulis: Nina Addison
Editor: Harriska Adiati & Neinilam Gita
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9786020611907
Cetakan pertama, 17 September 2018
296 halaman
Buntelan dari @ninaddison
Jojo sedang seru menceritakan perjuangannya menjadi branch manager sementara Vira tekun mendengarkan, memandangi wajah cowok yang telah jadi sahabatnya selama belasan tahun itu. Lalu… entah di detik keberapa, sesuatu bergeser. Klik. Dunia sekeliling Vira melambat. Pandangannya terkunci pada satu fokus: mata Jojo. Ah, bulu mata itu!

Mendadak jantung Vira berdegup kencang—sesuatu yang selama ini tidak pernah terjadi saat ia berada di dekat Jojo. “Jojo kan selalu terbirit-birit kabur ke Planet Mars setiap tahu ada cewek deketin dia, Vir.” Ucapan Lilian, sahabat Vira dan Jojo, langsung terngiang. Damn, batin Vira. Masalahnya, ia tidak yakin dirinya akan jadi pengecualian dari reaksi absurd cowok tersebut. Belum lagi nasib persahabatan mereka jika perasaannya terendus Jojo. Lalu jika mereka pacaran dan… putus? Apa yang harus Vira lakukan? Ah, tapi bulu mata itu... Damn.

Sabtu, 14 Maret 2015

Kismet by Nina Addison | Book Review

Kismet
Penulis: Nina Addison
Editor: Dini Novita Sari & Harriska Adiati
Ilustrasi sampul: Alfi Zachkyelle
Ilustrasi naskah dan foto: Nina Addison
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-1487-7
Cetakan pertama, Maret 2015
296 halaman
Buntelan dari @ninaddison
kismet//takdir//destiny. Kata yang melibatkan semacam rahasia kosmik, yang memberi letupan kejutan di sana-sini dalam hidup seseorang, menggiringnya ke tempat ia seharusnya berada.

Konsep itu menggelikan bagi Alisya.

Tetapi ketika di tengah hiruk pikuk New York City ia bertemu dengan Cia, perempuan yang seketika menjadi sahabatnya, Alisya bertanya apakah takdir sedang bekerja? Lalu muncul Raka, satu-satunya cowok yang bisa membuat Alisya jatuh cinta. Lelaki yang, lagi-lagi, dibawa takdir masuk ke hidupnya. Sayangnya, takdir yang satu ini berpotensi menghancurkan persahabatannya dengan Cia. Jadi, mana yang harus ia pilih?

Orang bilang persahabatan itu kekal, untuk seumur hidup. Namun, bukankah cinta sejati juga demikian?

Sabtu, 21 Juli 2012

Morning Brew


Seandainya kita bisa tahu dia memang ditakdirkan untuk kita. Seandainya ada jaminan cinta yang kita punya tidak akan membuat kita pecah berkeping-keping, Seandainya soal jodoh ada di tangan kita. Sayangnya, dalam hidup tak ada yang pasti.
Soal cinta apalagi.
Karenanya ketika Boy, pacar tujuh tahunnya Reney, tiba-tiba bilang putus, Reney seperti dibuang ke lubang tanpa dasar dan tidak yakin bisa keluar lagi dari kegelapan di dalamnya.
Tapi apa iya?
Yuk, mampir ke dunia Morning Brew. Reney, Danny, dan Ivana dengan senang hati siap menemani dengan cerita dan segelas kopi hangat plus semangkuk soup of the day yang akan bikin kamu ketagihan!

***

"Matahari dan bulan memang ada di alam yang beda. Tapi, keduanya punya tempat di langit yang sama."
Buku ini adalah buku move on, bagi yang susah melupakan mantan kalian sama dengan Reney.

Reney senang ketika Boy mendapatkan beasiswa ke Inggris, dia berharap Boy akan melamar dan mengajaknya juga, tapi Boy malah memutuskannya, pacar hampir delapan tahunnya itu tega meninggalkannya. Susah bagi Reney untuk move on, mereka tidak lama pacaran dan semua begitu membekas. Danny dan Ivana, sahabatnya sekaligus teman kerjanya di Morning Brew selalu mendukung dan menghiburnya, menyuruh Reney untuk mencari pacar baru, di mulai dari pelanggan Morning Brew. Tapi yang namanya mantan tetap saja susah dilupakan. tapi Reney ingin bangkit, dia pun membuka pintu asmaranya kepada Roni, pelanggan setia Morning Brew sekaligus sahabat Boy. Sebenarnya pilihan yang salah karena Roni malah menginggatkannya kepada Boy, di tambah penampilan Roni dan tempat-tempat yang mereka kunjungi selalu sama dengan ketika masih berpacaran dengan Boy. Reney ingin melupakan Boy, bukan malah mendapatkan duplikatnya.

Kemudian ada Indi, teknisi sebuah kafe kecil bernama Bubble House, bukan makanan dan minuman yang menjadi menu utama tetapi koneksi nirkabel yang gratis dan cepat yang menjadi magnet tempat itu. Petemuan pertama berlangsung ketika Danny dan Ivana mengajak ke tempat itu, menyuruh Reney membuat facebook sekaligus mencari jodoh. Ketemu, tapi bukan lewat facebook, lewat ke-eror-an salah satu komputer di Buble House sehingga Reney bertemu dengan indi. Indi orangnya asik, riang, membawa suasana ceria kepada Reney, sayangnya Reney tidak nyaman dengan teman-teman Indi yang komputer freak, kadang tidak nyambung dengan obrolan mereka, Indi juga sering banget bersama mereka, dan itu membuat Reney semakin tidak nyaman. Mereka lebih baik cocok temenan.

Lalu ada Ari yang ganteng, sayangnya dia sedikit posesif, manja, dan kadang kalau keinginannya nggak dipenuhin dia bakalan ngambek, yak, childis banget. Parahnya, cowok yang kelihatan alim banget itu ternyata punya selingkuhan.

Begitulah kehidupan Reney setelah ditinggal Boy, ada yang datang ada yang pergi, Boy tetap ada di kenangan Reney. Waktu sedikit demi sedikit menyembuhkan luka, dari hubungan yang dibinanya dengan orang setelah Boy juga membuat Reney semakin dewasa, semakin sadar, semakin memperhatikan sahabat-sahabatnya, karirnya.
Lalu bagaimana ketika Boy datang kembali?

Buku ini nyantai banget, ceritanya mengalir lancar, kadang penulis menyisipkan intermezo yang berkaitan dengan Morning Brew, contohnya resep makanan. Kita dibawa ke perubahan hati Reney sedikit demi sedikit, bagaimana cara dia untuk melupakan Boy, prosesnya. Ceritanya tidak klise, bahkan mungkin pernah ada yang mengalami hal serupa dengan Reney, berusaha bangkit dari kenangan mantan pacar. Minim typo, nggak terlalu suka sama covernya tapi ceritanya ringan dan terasa familier, jadi akan nikmat ketika membacanya dengan secangkir kopi hangat.
"Ibarat tulisan, Ren, semua kalimat yang lo tulis harus ada titiknya untuk bisa lo lanjutkan ke kalimat berikutnya. Buat gue patah hati juga seperti itu. Selesaikan dengan titik. Ucapkan selamat tinggal dari hati. Lalu berikan maaf pada dia dan pada diri lo sendiri. Pada akhirnya, rasa ikhlas itu akan datang dengan sendirinya seiring waktu."
"Tubuh kita pohon dan hati adalah buahnya. Manakala buah itu jatuh, rusak, tersayat, tergores, pecah berkeping-keping, hancur, dan debunya hangus menjadi asap, dia akan tumbuh lagi. Lebih indah dan lebih kuat. Asalkan kita merawatnya, senantiasa memberi pupuk dan perhatian dengan penuh kasih sayang." 
3 sayap untuk mantan.

Morning Brew
Penulis: Nina Addison
Editor: Hariska
Cover: Eduard Iwan Mangopang
Penerbit: Gramedia
ISBN: 978-979-22-7567-4
Cetakan pertama, September 2011
223 halaman.


Rekomendasi Bulan Ini

Buku Remaja yang Boleh Dibaca Siapa Saja | Rekomendasi Teenlit & Young Adult

K urang lebih dua tahun yang lalu saya pernah membahas tentang genre Young Adult dan berjanji akan memberikan rekomendasi buku yang as...