Tampilkan postingan dengan label Winna Efendi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Winna Efendi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Maret 2014

Meet The Clique: Maybella

Unbelievable (Glam Girls #3)
Penulis: Winna Efendi
Editor: Christian Simamora
Desainer sampul: Dwi Anissa Anindhika
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-379-1
Cetakan kedua, 2010
262 halaman
Buntelan dari @ndarow

In the world of popularity, being perfect is everything. Kamu adalah pusat perhatian, jadi pastikan kamu memang layak mendapatkannya.

Kamu juga harus mengerti, tujuan tampil sempurna adalah demi dibenci. Di dunia kami, dibenci dan dicemburui adalah sebuah pujian. So true, Dahling! Orang-orang seperti tak bosan bergosip tentang Paris Hilton, tetapi apa yang dia dapat di kemudian hari? Kontrak reality show sendiri dan signature perfume yang dijual di seluruh dunia.

Cantik itu wajib hukumnya dan kesempurnaan adalah segalanya. Pastikan kau selalu tampil memesona dan bungkam mereka dengan senyuman terbaikmu. Satu kesalahan kecil saja - voila! - bibir-bibir ber-lipgloss itu pasti ramai menghabisimu...

Minggu, 02 Juni 2013

Melbourne: Rewind

Melbourne: Rewind
Penulis: Winna Efendi
Editor: Ayuning, Gita Romadhona
Desain sampul: Levina Lesmana
Ilustrasi isi: Tyo
Penerbit: Gagasmedia
ISBN: 979-780-645-6
Cetakan pertama, 2013
328 halaman
Buntelan dari mbak @JiaEffendie


Pembaca tersayang,

Kehangatan Melbourne membawa siapa pun untuk bahagia. Winna Efendi menceritakan potongan cerita cinta dari Benua Australia, semanis karya-karya sebelumnya: Ai, Refrain, Unforgettable, Remember When, dan Truth or Dare.

Seperti kali ini, Winna menulis tentang masa lalu, jatuh cinta, dan kehilangan.

Max dan Laura dulu pernah saling jatuh cinta, bertemu lagi dalam satu celah waktu. Cerita Max dan Laura pun bergulir di sebuah bar terpencil di daerah West Melbourne. Keduanya bertanya-tanya tentang perasaan satu sama lain. Bermain-main dengan keputusan, kenangan, dan kesempatan. Mempertaruhkan hati di atas harapan yang sebenarnya kurang pasti.

Setiap tempat punya cerita.

Dan bersama surat ini, kami kirimkan cerita dari Melbourne bersama pilihan lagu-lagu kenangan Max dan Laura.

Enjoy the journey,

EDITOR


Selasa, 20 Maret 2012

Unfogettable Moment

Sinopsis:

Ini adalah satu kisah dari sang waktu tentang yang menunggu. Cerita seorang perempuan yang bersembunyi di balik halaman buku dan seorang lelaki yang siluetnya membentuk mimpi di liku tidur sang perempuan.

Ditemani krat-krat berisi botol vintage wine yang berdebu, aroma rasa yang menguar dari cairan anggur di dalam gelas, derit kayu di rumah usang, dan lembar kenangan akan masa kecil di dalam ingatan.

Pertemuan pertama telah menyeret keduanya masuk ke pusaran yang tak bisa dikendalikan. Menggugah sesuatu yang telah lama terkubur oleh waktu di dalam diri perempuan itu. Membuat ia kehilnagan semua kata yang ia tahu untuk mendefinisikan dan menjelma satu nama: lelaki itu.

Sekali lagi, ini adalah sepotong kisah sang waktu tentang menunggu. Kisah mereka yang pernah hidup dalam penantian dan kemudian bertemu cinta.

My Review

Sebelumnya, saya tidak akan banyak membicarakan isi buku ini, saya hanya akan membicarakan kesan apa yang saya dapat setelah membaca kilat di toko buku Gramedia Solo, ya, saya hanya numpang baca dan dengan cepat ingin menangkap apa yang penulis ingin persembahkan kepada pembaca.

Singkatnya, ada seorang perempuan yang duduk di samping jendela dan seorang laki-laki yang duduk dibagian lain, mata mereka bertemu dan saling tertarik. Lama-lama mereka menjadi dekat, dan merasakan jatuh cinta, tanpa mengetahui masing-masing nama.

Ceritanya sebenarnya oke, covernya cakep, cara berceritanya unik, diksinya nggak usah diragukan lagi, ditambah kita jadi tahu tentang macam-macam Wine, nambah pengetahuan banget di mana  nama-nama Wine tersebut menjadi judul ditiap bab. Sayangnya tidak ada diaolog antar tokoh, ada sih sebenarnya, hanya saja dideskripsikan oleh penulis. Saya menjadi tidak bisa larut dengan interaksi kedua tokoh. Itulah masalah utamanya. Saya jadi teringat pada novel-novel Winna yang saya baca sebelumnya dan juga memberikan kesan yang kurang, saya tidak bisa menyukai karakter tokoh yang dibuat oleh penulis, saya membenci tokoh utamanya. Peran tokoh sangat berarti bagi saya ketika membaca novel, selain plot ceritanya, tokoh memegang peranan penting ketika saya membaca dan apakah saya menikmatinya, dan itulah kenapa saya kurang bisa menikmati membaca buku ini.

Yah, semoga saja ketika membaca ulang buku ini saya akan mendapatkan kesan yang berbeda, tentu dengan membaca tidak tergesa-gesa :)

2 sayap untuk Cabenet Sauvignon

Unforgettable Moment
penulis: Winna Efendi
penerbit: Gagasmedia
ISBN: 9797805417
cetakan pertama, Januari 2012
184 halaman

Jumat, 27 Mei 2011

Remember When

10810798
Remember When: Ketika Kau dan Aku Jatuh Cinta
penulis: Winna Efendi
penerbit: Gagasmedia
judul asli: Kenangan Abu-Abu (2008)
cetakan: I, Maret 2011
ISBN: 9797804879 (ISBN13: 9789797804879)
karakter: Freya, Adrian, Moses, Gia, Erik
252 halaman
goodreads: http://bit.ly/iKGPQt

Tema ceritanya suka sama pacarnya sahabat.
Sempet was-was nih bakalan suka gak sama ceritannya, soalnya waktu penulis ngadain kuis (yang akhirnya ak gak menang, hehehe) sempat cari sedikit banyak tentang reviewnya, dalam bayangan aku sih soal selingkuh, menusuk dari belakang, yah begitulah.
Ceritanya mungkin udah gak asing lagi. cerita SMA, cinta pertama, persahabatan.
Adrian tahu kalau Moses diam-diam suka sama teman sebangkunya, Freya, sedangkan dia sedang mengincar gadis terpopuler di sekolah, Anggia atau Gia, sahabat Freya. Karena hafal sifat sahabatnya itu yang akan terus memendam perasaannya, Adrian pun membuat taruhan siapa yang gagal nembak maka dia harus lari mengelilingi lapangan sebanyak 10x sambil teriak "Giaaa i loveee you" ataupun sebaliknya. 2 tahun berlalu, mereka berpacaran dengan incaran masing-masing. Adrian yang jago basket, anak paling populer disekolah berpacaran dengan Gia, cewek yang juga populer di sekolah, pintar melukis, sekretaris OSIS, pasangan perfect deh. Sedangkang Moses juga berpacaran dengan cewek paling pintar di sekolah, Freya. Lambat laun Freya merasa jenuh, bosan dengan hubungannya dengan Moses yang monoton,kesibukan Moses yang menjadi ketua OSIS, kalau pacaran selalu dibarengi dengan buku, dan pelajaran. Dia merasa iri dengan Gia yang bisa bebas bersenang-senang dengan Adrian. Waktu Adrian menjemput Freya untuk ketemuan dengan yang lain, dia menemukan kecocokan dengan cewek pendiam dan antisosial itu, suka Green Day dan komik silat kacangan. Perasaan mereka mulai beda, tapi takut untuk mengakuinya. Gia mulai merasakan perubahan sikap Adrian semenjak ibunya meninggal, dia tidak pernah konsen diajak bicara. Adrian mulai sadar kalau dia sebenernya mencintai Freya, terlebih lagi waktu ibunya meninggal hanya dia yang benar-benar mengerti perasaannya, Gia lebih menjadi sosok ibunya, malah semakin menginggatkannya kalau ibunya sudah tidak ada, merasa kasihan, bukan itu yang dibutuhkan Adrian dan Moses hanya menepuk bahunya mengisaratkan turut berduaka, seperti kebanyakan orang, bukan sebagai sahabat. Hanya Freya, karena dia juga pernah kehilangan ibunya. Karena tidak ingin melukai satu sama lain, Adrian memutuskan Gia, dan Gia bisa menebak alasannya karena Freya. Freya tidak ingin merusak persahabatan mereka, dia mengalah.
Tokoh favorit siapa? Awalnya aku benci sama Freya, dia itu kayak gak ikhlas pacaran sama Moses, kayak kepaksa tapi waktu dia mengalah akan perasaan sebenernya aku mulai menyukainya. Kalo Adrian aku suka kejujurannya untuk mengakui kalau dia sebenernya suka sama Freya dihadapan sahabatnya. Gia, aku benci, dia egois sekali kalau soal Adrian. sedangkan Moses? Kemana aja selama ini? kenapa baru tahu kalau sahabatnya suka sama pacarnya, si Erik, sahabatnya Freya aja tahu perasaan mereka. Oh ya, kalau ngomong soal Erik, dia cukup menghibur, dia orang luar yang sangat tahu hubungan keempat sahabat itu, sangat tahu perasaan Freya. kayak di hal. 111 waktu bingung beli popcorn rasa asin atau karamel, waktu Erik ditannya dia menjawab, "Alergi jagung."
Adengan paling favorit, waktu Moses pertama kali nyium Freya, dalam hati berontak, dia bilang bukan dia.
Aku juga suka kata-kata Adrian kepada Freya, romantis banget, di hal. 157,
Gue sayang lo, Freya. Mungkin klise, tapi gue nggak main-main
 sama di hal. 168, waktu Freya bilang kalau perasaan cinta Adrian itu salah dan dia menjawab,
 Mungkin. Tapi sekarang gue yakin, kalau gue emang sayang ama lo. Cuma itu yang penting.
Jujur, sebenernya aku gak terlalu suka karya Winna Efendi, di novel pertamanya AI aku memberi rating satu sayap, Refrain dua sayap dan Unbelivable tiga sayap, perasaan gak suka sama tulisannya juga tergambar waktu awal baca ini, duh bakalan sesuai harapanku gak nih? entahlah, padahal ratingnya tinggi loh di goodreads. awal bikin greget si Freya sama Si Adrian ini, kok gitu sih sama pacar sendiri? tapi makin kebelakang makin menikmati ceritanya. Sudut pandangnya dari ke-5 tokoh, jadi bisa lebih tahu, jelas perasaan masing-masing.
Typo masih ada beberapa, tapi aku suka sama endingnya, bahasanya juga romantis, selalu ngasih quote yang sesuai di tiap bab.
3,5 sayap untuk putih abu-abu

-Remember When-



Remember When: Ketika Kau dan Aku Jatuh Cinta
penulis: Winna Efendi
penerbit: Gagasmedia
judul asli: Kenangan Abu-Abu (2008)
cetakan: I, Maret 2011
ISBN: 9797804879 (ISBN13: 9789797804879)
karakter: Freya, Adrian, Moses, Gia, Erik
252 halaman
goodreads: http://bit.ly/iKGPQt

Tema ceritanya suka sama pacarnya sahabat.
Sempet was-was nih bakalan suka gak sama ceritannya, soalnya waktu penulis ngadain kuis (yang akhirnya ak gak menang, hehehe) sempat cari sedikit banyak tentang reviewnya, dalam bayangan aku sih soal selingkuh, menusuk dari belakang, yah begitulah.
Ceritanya mungkin udah gak asing lagi. cerita SMA, cinta pertama, persahabatan.
Adrian tahu kalau Moses diam-diam suka sama teman sebangkunya, Freya, sedangkan dia sedang mengincar gadis terpopuler di sekolah, Anggia atau Gia, sahabat Freya. Karena hafal sifat sahabatnya itu yang akan terus memendam perasaannya, Adrian pun membuat taruhan siapa yang gagal nembak maka dia harus lari mengelilingi lapangan sebanyak 10x sambil teriak "Giaaa i loveee you" ataupun sebaliknya. 2 tahun berlalu, mereka berpacaran dengan incaran masing-masing. Adrian yang jago basket, anak paling populer disekolah berpacaran dengan Gia, cewek yang juga populer di sekolah, pintar melukis, sekretaris OSIS, pasangan perfect deh. Sedangkang Moses juga berpacaran dengan cewek paling pintar di sekolah, Freya. Lambat laun Freya merasa jenuh, bosan dengan hubungannya dengan Moses yang monoton,kesibukan Moses yang menjadi ketua OSIS, kalau pacaran selalu dibarengi dengan buku, dan pelajaran. Dia merasa iri dengan Gia yang bisa bebas bersenang-senang dengan Adrian. Waktu Adrian menjemput Freya untuk ketemuan dengan yang lain, dia menemukan kecocokan dengan cewek pendiam dan antisosial itu, suka Green Day dan komik silat kacangan. Perasaan mereka mulai beda, tapi takut untuk mengakuinya. Gia mulai merasakan perubahan sikap Adrian semenjak ibunya meninggal, dia tidak pernah konsen diajak bicara. Adrian mulai sadar kalau dia sebenernya mencintai Freya, terlebih lagi waktu ibunya meninggal hanya dia yang benar-benar mengerti perasaannya, Gia lebih menjadi sosok ibunya, malah semakin menginggatkannya kalau ibunya sudah tidak ada, merasa kasihan, bukan itu yang dibutuhkan Adrian dan Moses hanya menepuk bahunya mengisaratkan turut berduaka, seperti kebanyakan orang, bukan sebagai sahabat. Hanya Freya, karena dia juga pernah kehilangan ibunya. Karena tidak ingin melukai satu sama lain, Adrian memutuskan Gia, dan Gia bisa menebak alasannya karena Freya. Freya tidak ingin merusak persahabatan mereka, dia mengalah.
Tokoh favorit siapa? Awalnya aku benci sama Freya, dia itu kayak gak ikhlas pacaran sama Moses, kayak kepaksa tapi waktu dia mengalah akan perasaan sebenernya aku mulai menyukainya. Kalo Adrian aku suka kejujurannya untuk mengakui kalau dia sebenernya suka sama Freya dihadapan sahabatnya. Gia, aku benci, dia egois sekali kalau soal Adrian. sedangkan Moses? Kemana aja selama ini? kenapa baru tahu kalau sahabatnya suka sama pacarnya, si Erik, sahabatnya Freya aja tahu perasaan mereka. Oh ya, kalau ngomong soal Erik, dia cukup menghibur, dia orang luar yang sangat tahu hubungan keempat sahabat itu, sangat tahu perasaan Freya. kayak di hal. 111 waktu bingung beli popcorn rasa asin atau karamel, waktu Erik ditannya dia menjawab, "Alergi jagung."
Adengan paling favorit, waktu Moses pertama kali nyium Freya, dalam hati berontak, dia bilang bukan dia.
Aku juga suka kata-kata Adrian kepada Freya, romantis banget, di hal. 157,
"Gue sayang lo, Freya. Mungkin klise, tapi gue nggak main-main,"
sama di hal. 168, waktu Freya bilang kalau perasaan cinta Adrian itu salah dan dia menjawab,
"Mungkin. Tapi sekarang gue yakin, kalau gue emang sayang ama lo. Cuma itu yang penting."
Jujur, sebenernya aku gak terlalu suka karya Winna Efendi, di novel pertamanya AI aku memberi rating satu sayap, Refrain dua sayap dan Unbelivable tiga sayap, perasaan gak suka sama tulisannya juga tergambar waktu awal baca ini, duh bakalan sesuai harapanku gak nih? entahlah, padahal ratingnya tinggi loh di goodreads. awal bikin greget si Freya sama Si Adrian ini, kok gitu sih sama pacar sendiri? tapi makin kebelakang makin menikmati ceritanya. Sudut pandangnya dari ke-5 tokoh, jadi bisa lebih tahu, jelas perasaan masing-masing.
Typo masih ada beberapa, tapi aku suka sama endingnya, bahasanya juga romantis, selalu ngasih quote yang sesuai di tiap bab.
3,5 sayap untuk masa putih abu-abu

Minggu, 22 Mei 2011

The Journeys: Kisah Perjalanan Para Pencerita


11078643




Penulis: Adhitya Mulya, Alexander Thian, Farida Susanty, Gama harjono, Ferdiriva Hamzah, Oktarina Prasetyowati (Okke ‘sepetumerah’), Raditya Dika, Trinity, Valian Budy, Ve Handojo, Windy Ariestanty, Winna Efendi
Penerbit: Gagasmedia
Cetakan: I, 2011
ISBN13: 978-979-780-481-7
246 halaman         

Dari daftar pustakanya saja sudah sangat menarik, dimana ada peta dunia kemudian ada titik-titik dimana para pencerita menuliskan ceritannya, yang pertama kita akan dibawa ke Spanyol oleh Gama Harjono (Mengejar Mimpi, Kereta Pagi, dan Tapas Andalasia) mendapatkan pesan dari temannya kalau dia mempunyai tiket menuju ke tempat impiannya, dimulaialah pada pukul 5 pagi dia udah nongkrong di Stasiun Tiburtina menuju ke kota granada, yang selanjutkan kita akan menikmati kawasan Albaicin zona arab yang dibangun bangsa Moor dari Afrika Utara, disini terdapat ratusan took souvenir, kain sutra, karpet, lampu mozaik, pipa sheesha, dll. Ada juga la Plaza de Toros, arena matador, dan Benteng Alhambra. Setelah Granada kita akan dibawa ke Cordoba, menikmati churros (sejenis cakwe yang dimasukkan ke coklat panas terlebih dahulu), menuju Mezquita dimana terdapat masjid-gereja kebanggaan kota Kordoba. Dan diakhir perjalanannya, dia menyaksikan gebang katedral dibuka dimana ada 6 laki-laki berjas yang memandu Patung Bunda Maria.

Cerita kedua kita akan menikmati Dari Desa Kecil Bernama Air oleh Winna Effendi. Cara beceritannya kayak kita ngirim email ke temen dan menjelaskan apa saja kegiatan waktu liburan ke Shuili, Taiwan. Kita diajak menikmati Sup daging jahe, tradisi munum teh, ke Sitou yang terkenal dengan bambunya, menikmati danau terbesar di Taiwan, Sun Moon Lake. Ada juga Guanshanlo, menara observatory yang dibangun 900 meter dari laut dan kuil tertua dan paling populer, kuil Wenwu.

Selanjutnya kita menuju ke Lucerne (The City of Light), Swiss yang diajak oleh Windy Ariestanty, paginya mendapatkan ciuman jauh dari bule cakep ;p gak salah judulnya A Morning Kiss Bye from Stranger. Yang saya suka dia menuliskan Top 6 Thing to see in Lucerne, jadi gak bingung memilih tempat yang wajib di kujungi kalau kita ke Lucerne. 6 hal tersebut adalah Chapel Bridge dan Wassertum yaitu jembatan kayu tertua di Eropa, Museggs Wall dan Sembilan Menara: bentemg kota terpanjang di Swiss (800 meter), The Dying Lion Monument: ada pahatan singa sekarat sepanjang 10 m di batu alam yang di pahat oleh Bertel Thorvalden asal Denmark. Berikutnya adalah gereja abad 17, Jesuit Church. Gunung Titlis untuk para pecinta ski, yang terakhir adalah Rathausquai dan Mr. pickwick Pub, katanya birnya enak.

Di ceritannya Farida Susanty (Menyingkap Peta Gelap)kita akan belajar sedikit, karena tenpat yang dikunjunginya adalah Institute of Mental Health, di tempat ini gak kayak rumah sakit jiwa, fasilitasnya lengkap, menemukan galeri seni, menyicipi naik MRT, bahasa Singlish yang susah dipahami, kehilangan temannya dimana kalau mau membuat pengumuman orang hilang harus membayar 5 dolar alias 35 ribu perak.

Kemudian kita terbang ke Arab untuk menemukan Parfum Impiannya Valiant Budi. Motret secara sembunyi-sembunyi yang hasilnya jadi kayak menara Piza, ditawari pedagang arab di sekitaran Masjidil Haram yang tidak pernah menyerah dan sering kena tipu. Lebih menceritakan pengalaman lucu dan konyol kalau menurutku dan cerita yang paling favorit itu waktu dia ditanya seorang bapak, “apa sih keyakinan bagimu?” lalu dia menjawab,
“keyakinan bagi saya…seperti wewangian. Kita benar-benar bisa merasakannya; mencium aromanya, tapi susah untuk mendefinisikan terutama kepada orang yang belum pernah, belum bisa atau memang tidak mau mencium aroma wewangian tersebut.”
Menjadi cerita paling favorit :D

Sompral, pernah dengar? Mari kita Tanya kepada Okke’Sepatumerah’ yang mengajak kita ke Nusa Tenggara Timur. Ditemani oleh Oris dan Dody, kita dibawa ke Desa Bena, menikmati indahnya pantai Kolbano yang katanya sering ngambek dan dilarang sompral (kayak larangan” kalau kita mengunjungi tempat magis),dan  menikmati sunset di Pantai Oetune.

Masih kurang puas akan pantainya? yuk kita menuju ke Jepara, tepatnya di Karimunjawa-Surga Indonesia ditemani oleh Alexander Thian, gara-gara putus cinta dia memutuskan untuk move-on ke tempat ini ;p. menginap di Wisma Apung, ketemu ikan hiu, snorkeling.

Perjalanan selanjutnya kita menuju ke Amerika Serikat dengan Ferdiriva Hamzah yang ditemani oleh mertuanya, jadilah Amerika Amertua ;p. lucu juga gaya berceritanya, ngakak waktu dia nahan kentuk di pesawat yang kelepasan eh mertuanya malah bilang kalu kentut orang bule bau banget, padahal….. dia mengajak mertuannya keliling Boston, foto dengan pose megang sepatunya John Harvard (katanya bikin mujur), ke New York  menonton teater Brodway-nya A Musical Tribute to Frank Sinatra, dan menuju ke Staten Island untuk foto sama patung Liberty.

Kalau di The Truth Behind Free Traveling yang disuguhkan oleh Trinity lebih menjelaskan perbedaan wartawan, pengalaman bekerja sama dengan wartawan yang mengupas tentang Travelling, kayak travel blogger, wartawan dari berbagai majalah baik travel maupun non-travel.

Selanjutnya kita Melipir ke Tel Aviv (Israel) ditemani oleh Ve Handojo, dimana dia harus berterima kasih sama Kuntilanak, karena dialah yang membiayai perjalanan mahal yang mencapai lebih dari 20 juta rupiah. Awalnya dia hanya mengunjungi gereja-gereja di tanah suci tersebut, seperti di Betlehem, Kapernaum, Tiberias, Yerusalem, Via Dolorosa, hingga Bukit Golgota. Atas bantuan temannya dan mengelabui sang tour leader yang sangar, dia berhasil melipir ke Tel Aviv, kota yang damai, tenang, tidak peduli masalah politik, agama dan jauh dari konflik. Jalan-jalan ke Old Jaffa melihat menara Jam Jaffa, pasar seni di jalan Nahaiat Bunyamin, di sebelahnya kita bisa ke pasar tradisional Hakarmel Market.

Siapa bilang kalau Afrika itu Benua Hitam? Adhitya Mulya menceritakan bagaimana Afrika Berwarna. Seperti biasanya, kisah lucu mewarnai perjalanannya, ngakak waktu dia godain patung tentara, konyol XD. Perjalanannya ke Senegal guna memperpanjang paspor, trus ke Dakar, pulau Goree. Dia juga menuliskan kayak panduan Negara dan tempat yang layak kunjung di Afrika Putih atau Afrika Utara, semua layak kunjung kecuali Libya dan yang sangat layak kunjung adalah Mesir dan Maroko. Kalau Negara yang layak kunjung di Afrika Barat adalah Senegal dan Conte d’Ivoire.

Dan perjalanan terakhir kita berhenti di Amsterdam dalam Kasih Ibu Sepanjang Belanda, ceritanya Raditya Dika yang mendapat beasiswa selama 2 minggu untuk menghadiri summer course disana. Khasnya dia kalau berceruta, kelebayaian keluarnganya, terutama Ibunya hehehe. Gak banyak tempat yang dikunjungi sih, lebih banyak cerita tentang teman barunya di kampus. Tapi ada kalimat favoritku di paragraph terakhir, bunyinya gini,
“Sesungguhnya, terlalu perhatiannya orangtua kita adalah gangguan terindah yang pernah bisa kita terima.”
Perjalanan selesai.

Yang paling aku suka adalah ceritanya Valian Budi dan Adhitya Mulya. Suka caranya Valian menggambarkan perilaku orang arab, para penjualnya. Kalau Adhitya Mulya selain gaya kocaknya bercerita juga tips atau info Negara yang layak kunjung itu. Karena keroyokan, penulisannya pun juga beda-beda, ada yang lebih menceritakan tempat-tempat wisatanya, kisah perjalanan menuju ke tempat tersebut dan lebih bercerita tentang orang yang ada di sekitar mereka. Cukup menghibur dan bisa menjadi acuan kita kalau ingin pergi ke tempat tersebut. Oh ya di bagian ceritanya Windy Ariestanty ada halaman yang dobel-dobel, awalnya sempet binggung pas baca, perasaan ini tadi udah dibaca kok jadi aneh gini lanjutannya, eh waktu di cek halamannya ternyata ngulang yaitu halaman 46-48 dan di halaman 228-229 kayak kehabisan tinta, apa itu memang disengaja ya???

3 sayap untuk kisah perjalanan mereka.

Note: kata Adhitya Mulya negara yang cocok untuk bulan madu adalah Maroko ;p

Rekomendasi Bulan Ini

Buku Remaja yang Boleh Dibaca Siapa Saja | Rekomendasi Teenlit & Young Adult

K urang lebih dua tahun yang lalu saya pernah membahas tentang genre Young Adult dan berjanji akan memberikan rekomendasi buku yang as...