Cooming Event:

Cooming Event:

Sabtu, 30 Juni 2012

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpao Merah



“Inilah pekerjaan baruku, yang ternyata berkelindan dengan banyak hal, termasuk salah satunya: bertemu dengan kisah cinta sejati –salah satu pertanyaan terumit selain berapa lama waktu yang diperlukan kotoran berhiliran dari hulu Kapuas hingga muaranya di Laut Cina Selatan.”

Bagaimana saya akan memulai review buku yang cukup tebal ini? Mungkin dari kisah cintanya terlebih dahulu. Awalnya saya kira ini hanya kisah cinta biasa, kisah dimana seorang pemuda bernama Borno, bujang dengan hati paling lurus sepanjang tepian Sungai Kapuas, selalu berbakti dan hormat kepada orang yang lebih tua, tidak pernah menolak disuruh-suruh, tidak pernah melawan meski sering diomeli, mempunyai mimpi yang besar, seorang pengemudi sepit yang harap-harap cemas, gemetar, malu-malu menyatakan perasaannya kepada seorang gadis ‘sendu menawan’, seorang gadis yang pertama kali dilihatnya mengenakan baju kurung berwarna kuning dan mengembangkan payung tradisional berwarna merah di hari pertamanya mengemudikan sepit, penumpang terakhir, gadis yang meninggalkan surat bersampul merah yang dilem rapi, tanpa nama di bangku paling depan, di bawah papan melintang sepitnya. Sejak itu, Borno selalu mengamati gadis tersebut, berharap dia akan memilih sepitnya untuk ditumpangi menyeberangi Sungai Kapuas, memilih antrian nomor tiga belas.

“Kau tahu Borno. Perasaan adalah perasaan, meski secuil, walau setitik hitam di tengah lapangan putih luas, dia bisa membuat seluruh tubuh jadi sakit, kehilangan selera makan, kehilangan semangat. Hebat sekali benda bernama perasaan itu. Dia bisa membuat harimu berubah cerah dalam sekejap padahal dunia sedang mendung, dan di kejap berikutnya mengubah harimu jadi buram padahal dunia sedang terang benderang.”

“Perasaan itu tidak sesederhana satu tambah satu sama dengan dua. Bahkan ketika perasaan itu sudah jelas bagai bintang di langit, gemerlap indah tak terkira, tetap saja dia bukan rumus matematika. Perasaan adalah perasaan.”

“Cinta sejati adalah perjalanan, Andi,” Pak Tua berkata takzim. “Cinta sejati tidak pernah memiliki ujung, tujuan, apalagi hanya sekedar muara. Air di laut akan menguap, menjadi hujan, turun di gunung-gunung tinggi, kembali menjadi ribuan anak sungai, menjadi ribuan sungai perasaan, lantas menyatu menjadi Kapuas. Itu siklus tak pernah berhenti, begitu pula cinta.”

Tapi ternyata jauh dari itu, buku ini bukan sekedar bercerita tentang cinta anak muda, tapi juga cinta kepada orang tua, sahabat, dan impian.
Impian. Impian Borno tidak muluk-muluk, dia ingin kuliah seperti anak lainnya yang habis menuntaskan bangku SMA. Tapi sayang, ayahnya meninggal keika dia berusia dua belas tahun dan dia harus menjadi tulang punggung keluarga, membantu ibunya. Berbagai pekerjaan dia coba, mulai di pabrik pengolahan karet sampai bekerja di dermaga feri sebagai pemeriksa karcis. Bahkan, gara-gara bekerja di sana Borno diboikot, dikucilkan dalam berbagai aktivitas di kampungnya.

Ibu pernah bilang, “Bahkan penjaga kakus juga pekerjaan yang mulia, Borno. Sepanjang kau lakukan dengan tulus.”

“Kau tahu Borno. Tempat bekerja kau sebelumnya, meski bau, membuat orang lain menutup mulut saat kau lewat, hasilnya wangi. Halal dan baik. Dimakan berkah, tumbuh jadi daging kebaikan. Banyak orang yang kantornya wangi, sepatu mengilat, baju licin disetrika, tapi boleh jadi busuk dalamnya. Dimakan hanya menyumpal perut, tumbuh jadi daging keburukan dan kebusukan,” Ibu member komentar, setelah terdiam beberapa saat usai aku bercerita.

Kapal feri atau pelampung dianggap mematikan pasar pemgemudi sepit. Satu kapal feri bisa menghabisi dua puluh sepit, jelas itu merugikan, sejak adanya kapal feri penumpang mereka sepi. Waktu yang diberikan Bang Togar, ketua PPSKT (Paguyuban Pengemudi Sepit Kapuas Tercinta) memberi waktu satu bulan kepada Borno untuk meninggalkan pekerjaan yang merupakan penghianatan itu. Tapi sebelum ada satu bulan, Borno sudah mengundurkan diri, dia menemui kecurangan diantara teman kerjanya, dan dia tidak mau ikut-ikutan, dia terpaksa melepaskan pekerjaan itu dan menerima tawaran pekerjaan dari warga kampung, pekerjaan yang dilarang oleh ayahnya, pekerjaan yang membuat Borno melanggar wasiat ayahnya, pengemudi sepit.

“Sepanjang kau mau bekerja, kau tidak bisa disebut pengangguran. Ada banyak anak muda berpendidikan di negeri ini yang lebih senang menganggur dibandingkan bekerja seadanya. Gengsi, dipikirnya tidak pantas dengan ijasah yang dia punya. Itulah kenapa angka pengangguran kita tinggi sekali, padahal tanah dan air terbentang luas.”

Dimulailah khusus mengemudi sepit dengan Pak Tua, dia belajar secara otodidak, bahkan terlihat tidak sulit. Yang sulit itu adalah menghadapi tingkah Bang Togar, dia harus diplonco, diospek terlebih dahulu sebelum benar-benar menjadi pengemudi sepit, dia harus membersihkan jamban, ditunggui Bang Togar, menerima ocehan tentang kurang bersih, kurang lama, kurang kinclong dan menjadi objek tertawaan pengemudi lain. Selain menjalani kesehariannya dengan mengemudi sepit, impian terbesarnya adalah mempunyai bengkel yang besar, tersohor yang dikelola bersama sahabatnya, Andi.

Walaupun menyebalkan dan mulutnya bocor, Andi adalah teman sejati bagi Borno, mereka saling usil dan saling mengerjai. Contohnya adalah ketika Andi memberitahu  kalau Mei telah kembali dan sedang membagikan angpau di dermaga, dan Borno telak di bohongi oleh Andi, di dermaga hanya ada besan Andi, dan Andi meminta Borno untuk mengantaran mereka berkeliling Pontianak dengan sepitnya. Dan yang lucu lagi adalah ketika Borno dan Mei mau berkeliling Pontianak, Andi tak sengaja mengabarkan berita itu ke beberapa tetangga, namun yang namanya gosip mudah menyebar, semua warga tahu, para pengemudi sepit dan Bang Togar menjadikan kencan Borno sebagai tontonan yang menghibur, bahkan Bang Togar sampai memberi tips pacaran untuk Borno :D.

“Kau lupa, Borno. Kalau hati kau sedang banyak pikiran, gelisah, kau selalu punya teman dekat. Mereka bisa jadi penghiburan, bukan sebaliknya tambah kauabaikan. Nah, itulah tips terhebatnya. Habiskan masa-masa sulit kau dengan teman terbaik, maka semua akan lebih ringan. Ah, Andi hebat sekali mengerjai kau hari ini. Kau marah padanya? Buat apa? Dia justru membuktikan hanya teman terbaiklah yang nekat melakukan itu. Dia percaya kau tidak akan bisa benar-benar marah padanya. Bukan begitu?”

Cinta kepada orang tua. Selain ibunya, orang yang sangat Borno hormati dan tidak pernah dia bantah adalah Pak Tua. Orang yang mengajari Borno mengemudikan sepit, orang yang selalu memberikan saran yang bijaksana untuk Borno, orang yang tidak pernah bertanya tentang percintaan Borno kalau dia tidak menceritakannya sendiri. Orang yang sudah dianggap ayah oleh Borno. Pak Tua menjadi tokoh favorit saya di buku ini.

Yang menarik dari buku ini bukan cerita romance-nya, cerita yang awalnya membuat saya tertarik membeli buku ini. Jujur saja, kisah cintanya biasa, bagian Borno menunggu Mei menumpangi sepitnya cukup berkesan, tapi ketika di akhir saya merasa kisahnya menjadi sangat sinetron sekali, mengada-ada, apalagi tentang donor jantungnya. Yang berkesan adalah warga tepi Sungai Kapuas, setting buku ini terjadi. Mungkin penulis ingin membawa pembaca keluar dari cerita yang sudah umum, cerita yang berlatar di ibukota, penulis ingin membawa angin segar ke pembaca dengan merasakan riak air dan sepit di Sungai Kapuas.

Selain itu, saya merasakan kebersamaan, tenggang rasa antara warga di tepi Sungai Kapuas ini. Mulai dari petugas timer, Bang Togar, Pak Tua, Daeng, Cik Tulani, Koh Acong, semua tokoh di buku ini seperti mempunyai andil yang besar. Mereka menghidupkan cerita, dan tak jarang mereka membuat saya tertawa ketika membaca. Mungkin memang benar, kehidupan di kota kecil bahkan di kampung yang tidak terkenal, masyarakat di sana lebih damai dan saling membantu kesusahan satu sama lain. Seperti ketika Borno menjadi pengemudi sepit, dia mendapatkan hadiah ‘Sepit Borneo’ dari warga. Bang Togar, yang awalnya sinis dan memberikan ospek yang keterlaluan, dia malah yang mengusulkan warga menyisihkan uang untuk sepit Borno. Lagi, ketika Pak Tua jatuh pingsan, dia tidak punya keluarga, bahkan nama aslinya tidak ada yang tahu, dia hidup membujang, tapi ketika dia jatuh sakit dia langsung di bawa ke rumah sakit, warga bergantian menjaganya dan menanggung biaya bersama-sama. Buku ini sederhana tapi berwarna.

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpao Merah adalah karya Tere Liye pertama yang saya baca. Tere Liye termasuk penulis yang cukup produktif, sudah belasan novel yang dia ciptakan, bahkan sudah ada yang diangkat ke layar lebar. Saya cukup penasaran dengan betapa cepatnya penulis yang awalnya saya kira perempuan ini menelurkan karya. Sebelum novel ini, Gramedia menerbitkan The Gogons James and Incredible Incidents, Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, Ayahku (Bukan) Pembohong, dan yang akan segera terbit adalah Negeri Para Bedebah. Dari pengalaman saya membaca bukunya sekali, saya merasa gaya penulisan bang Darwis Tere Liye ini ringan, mengalir, ada humor yang segar dan mempunyai kesan yang mendalam. Tak heran kalau banyak sekali penggemarnya dan bukunya laris manis :D.

Untuk info lebih lanjut tentang pengarang dan karya-karyanya bisa di kunjungi di https://www.facebook.com/darwistereliye.

3.5 sayap untuk Sepit “Borneo.”


Penulis: Tere Liye
Cover: eMte
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-7913-9
Cetakan ketiga: April 2012
Harga: Rp 72.000
507 halaman

Also On Kubikel Romance

15 komentar:

  1. Ini diikutkan dalam lomba resensi dari Gramedia ya Sulis?????

    Karya-karya Tere Liye memang ringan tapi sarat makna...

    BalasHapus
  2. aku suka banget sama blognya..
    isi blog dan postinganya bagus, menarik dan bermanfaat sakali..:)
    jangan lupa untuk terus menulis menulis yaa..^_^

    oia salam kenal
    kalau berkenan silahkan mampir ke EPICENTRUM
    folloback juga ya buat nambah temen sesama blogger,,tukeran link juga boleh,,makasih..^_^

    BalasHapus
  3. aku ngasih bintang 4 untuk buku ini.

    *toss* ini juga buku Tere Liye pertama yang aku baca dan jadi ketagihan pengen baca buku yang lain.

    BalasHapus
  4. salah satu fansnya *tunjukdiri

    emang Tere Liye cenderung bercerita dengan gaya ringan tapi menyenangkan

    BalasHapus
  5. Bagus sih buku ini. Tapiiiii....ilfil gegara transplantasi jantungnya

    BalasHapus
  6. Aku beli buku ini gara-gara pengen ikutan lomba resensinya. Tapi apalah daya waktu enggak nutut gara-gara kebanyakan tugas kuliah. Tapi ceritanya emang keren.

    BalasHapus
  7. Bang Tere emang jago banget nulis cerita yang keliatan sederhana tp ditulis dengan super.Karyanya bkn candu menurutku hehe

    BalasHapus
  8. Aduh belum pernah baca karya nya Tere Liye, tapi setelah baca review ini, jadi pengen cepet cepet beli buku ini u,u

    BalasHapus
  9. Pengen baca ini dari dulu. Sebenernya di rental depan kantor ada, tapi saya selalu punya buku buat dibaca, jadi buku ini belum kepinjem-pinjem. Huweee... Kayaknya kalo difilmin bagus nih ya

    BalasHapus
  10. blognya keren. Asik buat ngebaca resensi. Btw, buku yg sdg penulis review ini belum saya baca. Meskipun tidak semua karya Bang Tere menarik bagi saya, memang saya akui beliau punya gaya khas yg cukup 'menggedor' ingatan saya berkaitan dengan hadits2 tertentu.

    BalasHapus
  11. hai Alfath terimakasih sudah berkunjung, saya baru kali ini kok baca bukunya Tere Liye dan sepertinya dia emang punya 'magnet' untuk menarik pembaca agar suka sama bukunya :D

    BalasHapus
  12. Katakata Bang Tere itu mengalir apa adanya, enggak dilebaykan, enggak disok sok masukin katakata asing yang jarang ditemui di kehidupan seharihari, tapi memadukan tiap katanya --sesuatu yang jarang ditemui atau memang hanya ditemui dalam karya Bang Tere-- ngena meskipun kata-kata itu sederhana, itu daya tarik Bang Tere buatku. Meski agak kecewa baca "Ayahku (Bukan) Pembohong". Hem.

    BalasHapus
  13. Buku ini salah satu karya Tere Liye yg fenomenal selain Hafalan surat Delisha
    Aku suka banget dg quote ini "“Perasaan itu tidak sesederhana satu tambah satu sama dengan dua. Bahkan ketika perasaan itu sudah jelas bagai bintang di langit, gemerlap indah tak terkira, tetap saja dia bukan rumus matematika. Perasaan adalah perasaan.”
    Dalam banget kata-katanya

    BalasHapus
  14. Semuanya bilang bagus.... masukin ke daftar wish list ku :D makasih reviewnya mba

    BalasHapus
  15. Akhirnya baca novel ini juga~
    Btw ini novel Tere Liye pertama kali yang Mbak baca? Aku saranin buat baca yang lainnya Mbak, novel Tere Liye bagus-bagus :)

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Bibliophile

Translate