Rabu, 21 Desember 2011

Life Traveler


Life_traveler


Life Traveler: Suatu Ketika di Sebuah Perjalanan
by Windy Ariestanty
editor: Alit T. Palupi
cover: Jaffri Fernando
penerbit: Gagasmedia
ISBN:979-780-444-5
cetakan I, 2011
382 halaman

"Semua orang bisa pergi ke Vietnam, Paris bahkan Pluto. Tapi, hanya beberapa saja yang memilih pulang membawa buah tangan yang mampu menghangatkan hati. Windy berhasil menyulap perjalanan yang paling sederhana sekalipun jadi terasa mewah. Bahkan, celotehannya dalam kesendirian terdengar ramai. Ramai membuat nyaman." - @vabyo
Sekilas buku ini tidak jauh berbeda dengan buku traveling lainnya, tapi yang membuat special adalah penulis bukan hanya membawa kita ke Ha Noi (Viet Nam), Kamboja, Amerika Serikat, Czech Republic, Jerman, Swiss, Prancis, Belanda dengan traveler's tip, traveler's note, traveler's trick, traveler's fact yang sangat bermanfaat kalau kita berkunjung kesana tetapi penulis juga mengamati orang asing yang ditemuinya, bertemu dengan orang asing yang tidak membuatnya asing di negeri orang, menemukan rumah. Sederhana, ya, kisah perjalanannya sederhana, tidak membeberkan berapa total bujet yang harus dikeluarkan, mengunjungi semua tempat yang terkenal, dengan mengamati segala sesuatu disekitarnya dan menikmati perjalanannya, kisah ini begitu mewah.
Saya tidak akan menulisakan keindahan dari kota/negara yang dikunjungi penulis, kisah cinta yang penulis temui atau alami dan siapa saja yang membuat dia menemukan keluarga di luar rumah, saya akan menulisankan pemikiran penulis tentang perjalanan menurut versinya, agak banyak karena tulisan dia benar-benar indah :)

Saya ingin menemukan cerita untuk ditulis. Cerita tentang apa saja selama perjalanan ini. Saya mengamati setiap orang yang saya temui. Mencoba menemukan kisah mereka. Menjelajah setiap sudut tempat yang saya kunjungi. Menangkap pesan yang tersembunyi. Atau bahkan isyarat yang tak saya pahami. Saya seperti si pemungut remah yang mengumpulkan remah yang tercecer di sepanjang jalan.

Kisah tentang mereka yang hanya ingin menjauh sejenak untuk bisa menemukan jalan pulang. A way to go home, finding themselves.


..keanehan selalu menjadi awal untuk sesuatu yang tidak akan bisa dilupakan. Something that you do not expect bring a surprise to your life. I called it 'friends'.

Buat saya, hidup sendiri adalah sekumpulan daftar mana yang penting dan mana yang kurang penting. Dan kita harus bergerak cepat.

Kadang, kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. And yes, wherever you feel peacefulness, you might call it home.

Kadang, kita menemukan 'rumah' di tempat yang tidak kita duga. Menemukan teman, sahabat, saudara. mungkin juga cinta. Mereka-mereka yang memberikan 'rumah' itu untuk kita, apa pun bentuknya.  Tapi yang paling menyenangkan  dalam sebuah perjalanan adalah menemukan diri kita sendiri.

Buat saya, bukan berapa lama waktu yang saya miliki. Buat saya, bukan berapa lama waktu yang saya miliki dalam sebuah perjalanan, tetapi apa yang bisa saya temukan dalam perjalanan.

Dalam sebuah perjalanan, ketika merasa tak ada seorang pun mengenalnya, manusia bisa lebih leluasa mengekspresikan diri. Lebih leluasa menjadi dirinya sendiri. Dan kadang, batas mengekspresikan diri ini menjadi kabur. Meniadakan keberadaan yang lain.

Saya percaya, ada bahasa yang tak bersuara. Ada aksara yang tak memerlukan kata-kata. Dan itu cinta.
Cinta adalah sebuah perjalanan yang tak bisa ditempuh dalam satu atau dua hari. Tidak juga dalam sebulan atau satu tahun. Tak ada peta untuk menemukan tempat bernama cinta. Tak ada buku panduan traveling yang bisa menuntun kita ke sana. Mana ada pula panduan menghemat bujet untuk tiba di sana.
Cinta adalah perjalanan panjang, ia tumbuh tua bersama waktu dan manusia. Dan ia, tak pernah benar-benar jauh. Selalu memeluk manusia dengan erat. Mengisi celah yang mungkin hanya sejengkal itu. Memberi kita alasan untuk selalu pulang.

Untuk menguasai Bahasa Dunia ini hanya dibutuhkan satu hal: keberanian untuk memahami.
Ada bahasa yang tumbuh besar bersama manusia tanpa membutuhkan kamus, bahasa 'memahami'.

Semua tahu mereka butuh 'pulang'. Butuh rehat. Butuh mencari hangat. Bukan dari sinar matahari, bukan dari nyala api di tungku, atau hawa panas yang dikeluarkan mesin penghangat. Mereka mencarinya dari sebuah kebersamaan. Keintiman yang menjauhkan mereka dari keterasingan.

Menunggu memang seperti jebakan . Bersembunyi di antara sela-sela waktu yang tak terduga. Ketika saya ingin bergegas, ia justru membuat saya harus memelankan langkah. meminta saya melihat sesuatu lebih jeli. Memberi saya sedikit ruang untuk menarik napas dan menikmati apa pun tanpa tergesa.

Waktu memang tak pernah menunggu. Ia membuai. Membuat kita lelap. Entah di sudut mana, ia meninggalkan kita dalam rasa sesal karena kehabisan waktu. Padahal, waktu tak pernah habis. Ia hanya terus bergulir. Dengan iramanya yang konstan, ia meninabobokan kita hingga lupa untuk bergegas.
Kehidupan ini ibarat sebuah penutup botol sampanye yang jauh di sungai dan terbawa oleh aliran air. Supaya bahagia, kita hanya  harus  mengkuti alirannya. - Auguste Renoir

Home is a place where you feel more comfortable. Home is a place where you can be and find yourself.
Selain tulisannya yang indah, buku ini dilengkapi dengan foto-foto yang mendukung kisah perjalanannya dan ilustrasi yang apik di tiap bab-nya. Ada dua bonus kisah perjalanan sahabat penulis yang lumayan seru juga. Cover dan pembatas bukunya suka banget. Bagian yang saya suka adalah bab 5 tentang A Sleeping Beauty On the Sleeping Bus, saya benar-benar ingin merasakan tidur di sleeping bus dan ikut mengamati beragam ekspresi dari penumpang lainnya, melihat pemandangan Viet Nam hanya dengan tiduran, benar-benar terlihat seru.
Buku ini menjadi berbeda dengan buku traveling lainnya, kita akan memahami bahwa walaupun kita berada sangat jauh dari rumah, kita tetap akan bisa menemukan 'rumah' itu dan kita tetap akan bisa menjadi diri sendiri.
4 sayap untuk perjalanan yang tidak biasa

4 komentar:

  1. Aku masih utang review buku ini. Secepatnya nyusul deh. Awalnya aku nyaris bosan di bagian awal. Untungnya bertahan. Soalnya bagian akhirnya seruuuu

    BalasHapus
  2. Di awal-awal masih tentang perjalanan biasa kayak buku traveling lainnya ya :D

    BalasHapus
  3. Paling suka dengan quote ini "Saya percaya, ada bahasa yang tak bersuara. Ada aksara yang tak memerlukan kata-kata. Dan itu cinta.
    Cinta adalah sebuah perjalanan yang tak bisa ditempuh dalam satu atau dua hari. Tidak juga dalam sebulan atau satu tahun. Tak ada peta untuk menemukan tempat bernama cinta. Tak ada buku panduan traveling yang bisa menuntun kita ke sana. Mana ada pula panduan menghemat bujet untuk tiba di sana.
    Cinta adalah perjalanan panjang, ia tumbuh tua bersama waktu dan manusia. Dan ia, tak pernah benar-benar jauh. Selalu memeluk manusia dengan erat. Mengisi celah yang mungkin hanya sejengkal itu. Memberi kita alasan untuk selalu pulang".

    Btw, kalau melihat buku ini jadi sedih. Bukan sedih ceritanya. Tapi sedih karena ada org yg mau ngasih buku ini ke aku tapi gak jadi. T.T

    BalasHapus
  4. Revie ini bagus mba ^^ makasih ya....Mba koleksi semua STPC ga..... ? Pengen baca semua rasanya... nunggu budget dulu...

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*

Rekomendasi Bulan Ini

Buku Remaja yang Boleh Dibaca Siapa Saja | Rekomendasi Teenlit & Young Adult

K urang lebih dua tahun yang lalu saya pernah membahas tentang genre Young Adult dan berjanji akan memberikan rekomendasi buku yang as...