Minggu, 22 Juli 2012

Pengantin Surga


Bila Layla taman melati di musim semi, Majnun padang rumput di musim gugur. Bila dari balik rambutnya Layla memikat dunia dengan sekali kerlingan, Majnun menjadi pengembara yang menari dalam kegilaan. Layla memegang secawan anggur, Majnun mabuk oleh aromanya, bahkan sebelum mencecap isinya. Layla menamam serumpun mawar, Majnun menyiraminya dengan air mata. Bila kau tahu hakikat seorang pecinta, kau tentu menyadari, cinta akan meleburkan jiwamu ke dalam jiwa kekasihmu.

Layla dan Majnun adalah pengantin dari surga. Ketika terlahir ke dunia, mereka saling mencinta dan setia walau terus terpisah, walau Majnun kehilangan unsur kemanusiaannya dan berkawan dengan binatang rimba, walau Layla menjalani kawin paksa dengan Ibnu Salam, seorang lelaki yang tak pernah mampu menjamah keperawanannya. Hingga akhirnya, Tuhan menyatukan mereka kembali dalam dekap kematian. Dan seluruh penghuni surga, melalui tangan Nizami, mengabadikan cinta mereka dalam sebuah kisah paling menggetarkan yang pernah terlahir di dunia.

***

Ada yang pernah bilang kepada saya, "Jangan pernah mencintai orang terlalu berlebih, karena suatu waktu itu akan menyakitimu." Saya belum pernah merasakan cinta yang berlebih, tapi saya pernah melihatnya. Dulu pas SMP ada teman saya yang menyilet-nyilet tangganya karena kasih tak sampai, dia menyukai orang dengan sangat tapi malangnya gayung tak bersambut. Lalu beberapa waktu yang lalu ada seorang pasien laki-laki yang lemas, tidak mau berbicara, tidak mau makan, pandangannya kosong, berbaring di ranjang terus menerus. Tidak tahu diagnosa yang pasti akan penyakitnya, tetapi dapat info dari keluarganya ini semua gara-gara seorang cewek. Cinta memang buta. Banyak orang dibuat gila karenanya, karena mencinta terlalu berlebih itu. Pun dengan kisah Layla dan Majnun ini, siapa yang tidak tahu? Kisah cinta tragis dari Timur Tengah, Romeo and Juliet versi lebih klasik lagi.

Qays, putra satu-satunya penguasa Badui dari Bani Amir, Syed Omri jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Layla. Sayangnya orangtua Layla tidak meyetujui hubungan itu, Qays dan Layla terpaksa berpisah. Qays kehilangan akal karena cintanya, dia pergi dari rumah, menggembara tak tentu arah dan melafalkan syair cinta untuk kekasihnya. Sedangkan Layla terkurung di rumah merindukan kekasihnya.
Bila Layla hanya menangis diam-diam, lelaki gagah itu menunjukkan duka laranya kepada setiap orang.
Qays gila karena cinta, orang-orang pun menyebutnya Majnun. Di pikirannya tidak ada yang waras kecuali Layla, dia melupakan dirinya sendiri, melupakan orang tuanya. Pernah suatu ketika ada pemuda tangguh bernama Nawfal, dia begitu penasaran dengan keberadaan Majnun, dia begitu mengaguminya karena begitu besarnya perjuangan demi cinta dan dia ingin menjadikannya sahabat dan menyembuhkannya. Nawfar menantang ayah Layla bertempur, demi orang yang dianggap sahabatnya, sayangnya ketika mendapatkan hasil akhir keputusan tetap tidak berpihak pada Majnun, dia pun menjadi semakin gila, hidup di hutan rimba dan berkawan dengan binatang. Tidak sampai disitu penderitaan mereka, Layla dipaksa menikah dengan orang pilihan ayahnya. Dia tak bisa menolaknya, yang bisa dia pertahankan untuk Majnun adalah keperawanannya, cintanya.
Hidup ini bagaikan hembusan angin yang masuk ke dalam keabadian. Sejak awal, kehidupan memperlihatkan tanda tangan kematian. Mati dan hidup adalah saudara kembar dalam sebuah permainan rahasia. Maka, berapa lama kau mau menipu dirimu sendiri? Berapa lama lagi kau akan menolak melihat dirimu sebagaimana adanya saat ini dan kemudian? Setiap butir pasir menerima kekuatan dan napasnya sesuai dengan rangkaian gunung, ia bukanlah apa-apa. Kau sendiri adalah butiran pasir. Kau adalah tahanan dari dirimu sendiri. Pecahkan sangkarmu, lepaslah dari dirimu, lepaslah dari kemanusiaan. Belajarlah bahwa apa yang kau anggap nyata tidaklah demikian dalam kenyataan. Ikutilah saran Nizami: bakarlah nafsumu sepeti lilin yang membakar tubuhnya sendiri, sehingga dunia tak lagi mempu memperbudakmu.
Kalau saya bertemu dengan Majnun, ingin mengatakan kalau dia bodoh! bodoh! bodoh! Cinta benar-benar membutakan matanya, bahkan kasih sayang orangtua yang diberikan selama ini sama sekali tidak membantu. Ayahnya susah payah mencari dia kesana kemari, memohon agar dia pulang kerumah, melupakan cintanya itu, menjadi pewarisnya, bahkan sampai sakit dan meninggal karena memikirkannya, Majnun tak sembuh juga. Sedangkan Layla, dia tidak hanya menyakiti dirinya sendiri tapi juga suaminya, bagaimanapun suaminya sangat mencintainya bahkan mati juga karnanya. Sungguh, cinta mereka tidak hanya menyakiti diri mereka sendiri, tapi juga orang-orang yang mnenyayangi mereka.

Baru kali ini saya membaca kisah Layla dan Majnun, sebelumnya hanya mendegar selentingan saja. Sewaktu pertama kali membacanya, waduh bahasanya puitis banget. Saya bukan orang yang puitis, saya tidak menyukai puisi karena saya agak kesulitan mencernanya, saya suka bahasa yang ceplas ceplos, ngepop, apa adanya. Terjemahannya oke, pas dan tidak menambah bingung dengan kepuitisan bahasanya, pasti tidak mudah menerjemahkan karya sastra klasik yang bahsanya 'buset deh ribet banget'.Covernya saya kurang suka, hehe. Walaupun begitu, saking penasarannya dengan kisah mereka tidak menghentikan saya untuk membaca sampai akhir. Salah satu kisah yang tidak bisa dilewatkan.

3 sayap untuk pasangan gila.



Pengantin Surga (The Story of Layla and Majnun)
Penulis: Nizami Ganjavi
Penerjemah: Ali Nur Zaman
Penyunting: Salahuddien Gz
Cover: Yudi Irawan
Penerbit: Dolphin
ISBN: 978-979-17998-3-6
Cetakan pertama, Juli 2012
243 halaman

Sabtu, 21 Juli 2012

Morning Brew


Seandainya kita bisa tahu dia memang ditakdirkan untuk kita. Seandainya ada jaminan cinta yang kita punya tidak akan membuat kita pecah berkeping-keping, Seandainya soal jodoh ada di tangan kita. Sayangnya, dalam hidup tak ada yang pasti.
Soal cinta apalagi.
Karenanya ketika Boy, pacar tujuh tahunnya Reney, tiba-tiba bilang putus, Reney seperti dibuang ke lubang tanpa dasar dan tidak yakin bisa keluar lagi dari kegelapan di dalamnya.
Tapi apa iya?
Yuk, mampir ke dunia Morning Brew. Reney, Danny, dan Ivana dengan senang hati siap menemani dengan cerita dan segelas kopi hangat plus semangkuk soup of the day yang akan bikin kamu ketagihan!

***

"Matahari dan bulan memang ada di alam yang beda. Tapi, keduanya punya tempat di langit yang sama."
Buku ini adalah buku move on, bagi yang susah melupakan mantan kalian sama dengan Reney.

Reney senang ketika Boy mendapatkan beasiswa ke Inggris, dia berharap Boy akan melamar dan mengajaknya juga, tapi Boy malah memutuskannya, pacar hampir delapan tahunnya itu tega meninggalkannya. Susah bagi Reney untuk move on, mereka tidak lama pacaran dan semua begitu membekas. Danny dan Ivana, sahabatnya sekaligus teman kerjanya di Morning Brew selalu mendukung dan menghiburnya, menyuruh Reney untuk mencari pacar baru, di mulai dari pelanggan Morning Brew. Tapi yang namanya mantan tetap saja susah dilupakan. tapi Reney ingin bangkit, dia pun membuka pintu asmaranya kepada Roni, pelanggan setia Morning Brew sekaligus sahabat Boy. Sebenarnya pilihan yang salah karena Roni malah menginggatkannya kepada Boy, di tambah penampilan Roni dan tempat-tempat yang mereka kunjungi selalu sama dengan ketika masih berpacaran dengan Boy. Reney ingin melupakan Boy, bukan malah mendapatkan duplikatnya.

Kemudian ada Indi, teknisi sebuah kafe kecil bernama Bubble House, bukan makanan dan minuman yang menjadi menu utama tetapi koneksi nirkabel yang gratis dan cepat yang menjadi magnet tempat itu. Petemuan pertama berlangsung ketika Danny dan Ivana mengajak ke tempat itu, menyuruh Reney membuat facebook sekaligus mencari jodoh. Ketemu, tapi bukan lewat facebook, lewat ke-eror-an salah satu komputer di Buble House sehingga Reney bertemu dengan indi. Indi orangnya asik, riang, membawa suasana ceria kepada Reney, sayangnya Reney tidak nyaman dengan teman-teman Indi yang komputer freak, kadang tidak nyambung dengan obrolan mereka, Indi juga sering banget bersama mereka, dan itu membuat Reney semakin tidak nyaman. Mereka lebih baik cocok temenan.

Lalu ada Ari yang ganteng, sayangnya dia sedikit posesif, manja, dan kadang kalau keinginannya nggak dipenuhin dia bakalan ngambek, yak, childis banget. Parahnya, cowok yang kelihatan alim banget itu ternyata punya selingkuhan.

Begitulah kehidupan Reney setelah ditinggal Boy, ada yang datang ada yang pergi, Boy tetap ada di kenangan Reney. Waktu sedikit demi sedikit menyembuhkan luka, dari hubungan yang dibinanya dengan orang setelah Boy juga membuat Reney semakin dewasa, semakin sadar, semakin memperhatikan sahabat-sahabatnya, karirnya.
Lalu bagaimana ketika Boy datang kembali?

Buku ini nyantai banget, ceritanya mengalir lancar, kadang penulis menyisipkan intermezo yang berkaitan dengan Morning Brew, contohnya resep makanan. Kita dibawa ke perubahan hati Reney sedikit demi sedikit, bagaimana cara dia untuk melupakan Boy, prosesnya. Ceritanya tidak klise, bahkan mungkin pernah ada yang mengalami hal serupa dengan Reney, berusaha bangkit dari kenangan mantan pacar. Minim typo, nggak terlalu suka sama covernya tapi ceritanya ringan dan terasa familier, jadi akan nikmat ketika membacanya dengan secangkir kopi hangat.
"Ibarat tulisan, Ren, semua kalimat yang lo tulis harus ada titiknya untuk bisa lo lanjutkan ke kalimat berikutnya. Buat gue patah hati juga seperti itu. Selesaikan dengan titik. Ucapkan selamat tinggal dari hati. Lalu berikan maaf pada dia dan pada diri lo sendiri. Pada akhirnya, rasa ikhlas itu akan datang dengan sendirinya seiring waktu."
"Tubuh kita pohon dan hati adalah buahnya. Manakala buah itu jatuh, rusak, tersayat, tergores, pecah berkeping-keping, hancur, dan debunya hangus menjadi asap, dia akan tumbuh lagi. Lebih indah dan lebih kuat. Asalkan kita merawatnya, senantiasa memberi pupuk dan perhatian dengan penuh kasih sayang." 
3 sayap untuk mantan.

Morning Brew
Penulis: Nina Addison
Editor: Hariska
Cover: Eduard Iwan Mangopang
Penerbit: Gramedia
ISBN: 978-979-22-7567-4
Cetakan pertama, September 2011
223 halaman.


The Virgin Suicides


The Virgin Suicides
Penulis: Jeffrey Eugenides
Penerjemah: Rien Chaerani
Penerbit: Dastan
ISBN: 978-979-3972-32-9
Cetakan pertama, Januari 2008
350 halaman

Sinopsis:
Michigan, awal 1970-an. Keluarga Lisbon adalah keluarga yang sangat religius, keluarga biasa dengan kehidupan yang juga biasa. Sampai ketika satu demi satu anak gadis keluarga itu melakukan bunuh diri. Kelima perawan misterius yang cantik itu mengakhiri hidup mereka sendiri secara misterius pula. Gadis-gadis keluarga Lisbon berumur tiga belas (Cecelia), empat belas (Lux), lima belas (Bonnie), enam belas (Mary), dan tujuh belas tahun (Threse).

Cecilia, si bungsu, menyayat pergelangan tangannya sambil berendam di bak mandi. Kedua tangannya mendekap gambar Perawan Suci. Percobaan pembunuhan pertamanya ini gagal. Namun, ia berhasil dalam percobaan keduanya. Tubuhnya meluncur dari lantai atas rumah. Keberhasilan Cecilia diikuti oleh keempat saudarinya, masing-masing dengan cara yang berbeda.

Gadis-gadis keluarga Lisbon begitu terosebsi dengan kematian. Tidak ada seorang pun yang tahu misteri di balik itu semua. tidak ada yang tahu apa yang sesungguhnya terjadi di dalam rumah keluarga Lisbon...

The Winner of the Whiting Award & ALA Book of the Year.

My Review:

Tertarik membaca buku ini ketika membaca salah satu review dari @ndarow yang menyebutkan buku ini salah satu favoritnya, selain itu saya juga menaruh perhatian lebih pada buku bergenre psikologi atau lebih tepatnya ke tema bunuh diri. Isi kepala manusia itu sangat kompleks, kadang kita tidak tahu seberapa besar beban pikiran mereka, tiap orang berbeda-beda, cara mengatasinya pun juga berbeda-beda. Dan ketika mereka merasa buntu, bunuh diri kadang menjadi jawaban permasalahannya itu. Buku yang bertema bunuh diri yang pernah saya baca antara lain adalah Dan Hujan Pun Berhenti, After dan 13 Reasons Why, semuanya menjadi favorit, sayang tidak dengan buku ini.
Gara-gara halaman awal hilang sampai dengan halaman 11 saya sempet bingung dengan sudut pandangnya, kemudian saya tanya @ndarow dan dia bilang PoV adalah anak-anak laki-laki yang berada di lingkungan Lisbon bersaudara alias kami. Sama seperti pembaca, 'kami' juga menelusuri, mencari alasan kenapa anak-anak keluarga Lisbon mati bunuh diri semua, padahal 'kami' mengagumi dan menyukai mereka karena mereka cantik.
Bunuh dirin adalah tindakan angresi yang dipicu oleh dorongan libido seorang anak remaja.
Yang mati bunuh diri pertama kali adalah Cecilia, orang-orang menganggap dia mati bunuh diri karena patah hati, namun tidak banyak bukti yang membenarkan, hanya ada satu tulisan yang meyangkut laki-laki tersebut di buku hariannya. Awalnya dia mencuba menyilet pergelangan tangannya tapi berhasil diselamatkan, lalu dia kembali bunuh diri dengan jatuh dari atap kamarnya.

Saya suka ide ceritanya, saya suka penulis mengambil PoV dari orang yang sama-sama buta tentang kejadian itu kemudian berusaha mencari tahu bersama pembaca untuk menemukan alasan mereka kenapa bunuh diri, namun alurnya cukup membosankan, banyak penjabaran dari 'kami' yang menurut saya tidak penting, terlalu bertele-tele. Saya juga tidak bisa konsen baca buku ini dari awal karena hilangnya halaman tadi, saya tidak merasakan feel buku ini. Bahkan ada bagian yang saya skip lantaran tidak ada yang menyangkut kematian Lisbon bersaudara. Sampai akhir pun saya masih tidak menemukan jawabannya. Yang jelas, saya menangkap mungkin yang menjadikan penyebab Lisbon bersaudara adalah orangtua mereka terlalu keras mendidik, terlalu mengekang, terlalu banyak peraturan yang harus mereka laksanakan, padahal mereka memasuki usia di mana seseorang sedang tumbuh baik fisik maupun psikis. Keluarga Lisbon terasa amat jauh, susah untuk memahaminya. Dan satu lagi yang memicu semua ini adalah ketika Cecilia bunuh diri, ingin sekali tahu alasan dia bunuh diri sehingga memicu saudara lainnya untuk melakukan hal yang sama.
Para psikolog sepakat bahwa masa remaja jauh penuh tekanan dan keruwetan dibanding masa anak-anak. Kerap kali, saat ini, berkah perpanjangan masa kanak-kanak bagi kaum muda, dalam kehidupan bangsa Amerika ternyata sia-sia, karena kaum remaja merasa terputus dengan masa kanak-kanak dan kedewasaan. Ekspresi diri sering kali mengalami kebuntuan. terlebih-lebih, menurut para dokter, kebuntuan ini dapat mengarah pada tindakan kekerasan dan remaja yang tidak bisa memisahkan realitas ini dari drama yang dimaksud.
Terjemahannya lumayan sulit dimengerti, saya lebih suka cover aslinya.

2 sayap untuk Lisbon bersaudara.


Jumat, 20 Juli 2012

Manusia Setengah Salmon



Penulis: Raditya Dika
Editor: Windy Ariestanty
Desain cover & ilustrasi: Adriano Rudiman
Penerbit: Gagasmedia
ISBN: 979-780-531-x
Cetakan ketiga, 2011
258 halaman

Sebelumnya mau ngucapin selamat berpuasa bagi yang merayakan :)
Lumayan lama juga nggak baca tulisannya Raditya Dika baik buku ataupun blognya, kemaren sempet ngintip sebentar blognya dan menemukan tulisan yang cukup memotivasi, bulan puasa buat dia adalah bulan yang produktif buat nulis, dan saya ingin mengikuti jejaknya, hahaha. Kebetulan banyak sekali buku yang belum saya review karena ngebut baca, hampir 30an buku yang belum saya review dan cukup bingung mau memulai yang mana, maka dari itu saya mengikuti jejak Radit untuk produktif baik membaca ataupun menulis review di bulan yang penuh berkah ini, itung-itung nunggu buka puasa, terlebih yang menulis review. Karena jadwal kerja saya yang tak beraturan, saya berencana menulis kalau libur, biasanya sih juga gitu, untuk memaksimalkan waktu luang saya akan usahakan kalau nggak bisa onlen kompi saya akan menulis di kertas dulu, buat penggemar Kutu Bokek dan Kubikel Romance nantikan ya, ngabuburit baca review buku :)
Buku terakhir Raditya yang saya baca adalah Marmut Merah Jambu, buku komedi yang berisi tentang cinta, kalau buku ini bertema dengan pindah.
Manusia Setengah Salmon adalah kumpulan tulisan komedi Raditya Dika. Sebilan belas bab di dalam bercerita tentang pindah rumah, pindah hubungan keluarga, sampai pindah hati. Simak juga bab berisi tulisan galau, observasi ngawur, dan lelucon singkat khas Raditya Dika.
Saya suka temannya, pindah. Kebetulan saya agak mempunyai masalah dengan kata itu. Dulu waktu kecil pas pindah rumah saya sempet sakit berhari-hari. Kemudian pas pindah dari SD ke SMP saya juga sakit, untungnya sudah bisa menyesuaikan ketika pindah ke SMA dan perguruan tinggi, hehe, mau nggak mau umur yang bekerja. Kemudian pas saya dapet panggilan kerja di Jakarta saya nggak krasan, padahal baru satu hari saya sudah homesick, nggak cocok jauh dari rumah.
Di buku ini kita akan menemui bentuk-bentuk pindah, walaupun nggak semuanya berisi tentang kepindahan. Di bab Sepotong Hati Di Dalam Kardus Coklat kita mendapatkan cerita ketika Radit putus cinta, pindah hati pada pertengahan 2009 dengan alasan tidak ada lagi kecocokan.
Di kehidupan nyata, pada umumnya ketika cowok diputusin sama ceweknya, dia pasti akan setengah mati berusaha untuk gak nangis. Si cowok akan sedapat mungkin stay cool, supaya gak kelihatan cemen. Harga diri lebih penting daripada sakit hati.
Hahaha, putusnya lempem aja gitu, nggak ada banyak kata, yah mungkin meminimalisir sakit hati kali ya. Tapi sakitnya setelah itu, kita akan kepikiran terus sama si mantan, apa-apa yang kita lakukan pasti teringan sama mantan, betul itu?
PUTUS cinta seperti disengat lebah. Awalnya, tidak terlalu berasa, tetapi lama-kelamaan bengkaknya mulai terlihat.
Di bab itu juga, ibunya Radit juga mengusulkan untuk pindah rumah karena rumah yang mereka tempati sepuluh tahun terakhir itu tidak cukup besar untuk saudara-saudara Radith yang sudah mulai dewasa.
Putus cinta sejatinya adalah sebuah kepindahan.
Bagaimana kita pindah dari satu hati, ke hati yang lain. Kadang kita rela untuk pindah, kadang kita dipaksa untuk pindah oleh orang yang kita sayang, kadang bahkan kita yang memaksa orang tersebut untuk pindah. Ujung-ujungnya sama: kita harus bisa maju, meninggalkan apa yang sudah menjadi ruang kosong.
Cerita pindah selanjutnya saya temukan di bab Kasih Ibu Sepanjang Belanda. Bagian ini sebelumnya sudah pernah saya baca di novel The Journeys. Kalau sebelumnya tentang pindah hati dan pindah rumah, kali ini kita mendapatkan cerita tentang pindah hubungan keluarga. Semakin kita dewasa, seharusnya kita lebih mendekatkan diri ke orang tua kita, itulah pesan yang saya tanggap. Ceritanya ketika Radit umur 22 tahun mendapatkan beasiswa summer course ke Belanda selama dua minggu. Nyokapnya radit terkenal punya perhatian yang terlalu besar kepada anak-anaknya, dan itu cukup menganggu Radit, awalnya. Kemudian dia sadar, seharusnya bersyukur karena ada orang yang selalu mengkhawatirkannya.
Sesungguhnya, terlalu perhatiannya orangtua kita adalah gangguan terbaik yang pernah kita terima.
Di bab Ledakan Paling Merdu kita juga mendapatkan pindahnya hubungan dengan bokapnya Radit, dulu mereka sering olahraga bareng untuk mengeluarkan kentut di pagi hari, tapi semenjak Radit mulai tenar, kebiasaan itu jarang mereka lakukan bersama. Cukup membuat saya ngakak.
Di bab Mencari Rumah Sempurna isninya nggak jauh beda dengan bab Sepotong Hati Di Dalam Kardus Coklat, bercerita tentang pindah rumah dan pindah hati. Akhirnya nyokap Radit menemukan rumah idaman namun Radit belum begitu nyaman dengan rumah barunya itu, dia masih nyaman dengan rumah lamanya.
Saat ini, gue jadi berpikir, proses pindah hati juga seperti pindah rumah. Terkadang, kita masih membanding-bandingkan siapa pun yang kita temui dengan mantan pacar. Ketika kenalan sama seseorang, kita membandingkan dengan kebiasaan mantan pacar kita. Kita membandingkan secara sadar ataupun tidak, cara mereka berjalan, cara mereka berbicara, bahkan cara mereka mengakhiri pembicaraan di telepon. Seperti lazimnya orang yang masih terjebak di dalam masa lalu. Orang yang lebih baru pasti kalah sama mantan pacar kita yang sudah lama itu.
Ini mungkin alasan kenapa susah banget buat gue untuk menemukan yang baru, karena perjuangan untuk pindah adalah perjuangan untuk melupakan.
Sebenernya bab di atas yang terasa sekali aura kepindahannya dan juga bagian terakhir dari review ini, bab lainnya lebih banyak bercerita tentang kacaunya hidup Radith, haha. Ada tulisan-tulisan singkat, contohnya di bab Akibat Bertanya ke Orang yang Salah Tentang Ujian, bab yang berisi pertanyaan-pertannyaan followers @radityadika pas musim ujian, tentu dijawab dengan ngasal. Hal-Hal yang Tidak Seharusnya Dipikirkan Tapi Entah Kenapa Kepikiran, hal absurb yang kok bisa-bisanya kepikiran? contohnya: Jika saya memasukkan Kalpanax ke dalam sup jamur, apakah sup tersebut akan lenyap? Trus ada percakapan yang lebih absurb lagi di bab Interview With The Hantus, hahaha saya suka tokoh Genderuwo atau biasa dipanggil Uwo, sekarang dia udah nggak gimbal lagi rambutnya, cocok untuk menjadi duta shampo selanjutnya XDD. Bab Emo...Emo...Emo...Emoticon! pasti udah nggak asing lagi bagi para alay. Terlentang Melihat Bintang adalah bab dimana kamu bisa menjadi atlet gulat internasional, tipsnya dijamin tokcer :D. Dan untuk yang suka galau pasti suka baca bab: Penggalauan. Kasih contoh lagi bagian yang saya suka:
"Jatuh cinta itu musuh akal sehat."
"Naksir diam-diam itu komedi putar. Seakan berjalan, tetapi sebenernya tidak kemana-mana."
Ada satu bab lagi bab yang mungkin nggak asing bagi yang suka twitteran: Serupa tapi Emang Beda.
Pacaran: beli baju sama pacarnya. LDR: dikirimin baju sama pacarnya. Jomblo: minjem baju tetangga.
Pacaran: pelukan pas nonton konser. LDR: telepon-teleponan pas nonton konser. Jomblo: jadi calo tiket.
Ngomongin soal jomblo, ada dua bab yang berkaitan dengan tema itu: Tarian Musim Kawin dan Jomblonology. Di t
arian Musim Kawin kita akan mendapat tips gimana caranya menarik perhatian orang.
Inilah sesungguhnya tujuan dari PDKT: agar kita bisa membedakan antara orang yang kita mau dengan orang yang kita butuhkan.
Prof. Dr. Raditya Dika, MBA., Msc., McD Delivery Service akan memperkenalkan Jomblonology, sebuah bidang keilmuan yang mempelajari segala sesuatu tentang jomblo. jadi untuk fakir asmara, jangan patah semangat dulu, kalian masih mempunyai harapan dengan adanya paper yang dibuat Prof. Dr. Raditya Dika, MBA., Msc., McD Delivery Service di buku ini. Semangat!
Dan bagian yang membuat saya terpingkal-pingkal adalah Bakar Saja Keteknya dan Lebih Baik Sakit Gigi.
'Pak...'
'Ya, kenapa, bang?' tanya dia, sambil mengecilkan suara radio.
'Bapak tahu bunga bangkai nggak?'
'Bunga yang bau itu? Tahu.'
'Nah, gimana, sih caranya caranya supaya bunga itu enggak bau lagi?'
Gue berharap Pak Sugiman akan berkata bahwa harusnya bunganya disemprot dengan zat penghilang bau. Gak taunya, Pak Sugiman malah berkata mantap, 'Dibakar aja, Bang.!'
Kita sama-sama diam.
Ini berbeda sekali dengan jawaban yang sudah gue siapkan. Sekarang gimana? Masak gue harus bilang, 'Nah, bayangkan bunga bangkai itu ketek Bapak, sekarang silahkan bakar ketek Bapak.'
***
Gue mulai panik. Gue nyuruh pembantu nyariin dokter gigi di sekitar rumah yang masih buka, dia malah bilang, 'Bang, kalau aku dulu pas masih kecil, giginya akut iket benang trus aku tarik di pintu.'
'Mbak, itu kan gigi susu, yang gampang copot. Ini gigi bungsu, geraham pula. Pasti susah banget copotnya.'
Pembantu gue mikir sebentar, lalu entah becanda entah hilang akal. dia bilang, 'Kalau giginya keras dan susah, gini aja Bang... Iket pake benang terus ditarik aja pake mobil.'
'Mbak,' kata gue sambil menggeleng. 'Itu, sih giginya mungkin copot, tapi rahangnya juga ikutan copot.'
Gue jadi berpikir, tumbuh dewasa memang menyenangkan, tetapi tumbuh dewasa juga harus melalui rasa sakit-sakit ini. The pains of growing up. 'Pindah' menjadi dewasa berarti siap menghadapi rasa sakit dan melihat hal-hal yang menyakitkan itu sendiri: hadir di pemakaman nenek-kakek, rasa sakit karena gagal masuk ke sekolah yang kita mau, atau rasa sakit lantaram geraham bungsu yang tumbuh.
Atau kalau kata nyokap gue: salah satu tanda orang sudah dewasa adalah ketika dia sudah pernah patah hati.
Selain banyolannya yang khas, yang saya tunggu-tunggu dari karyanya Radit adalah ketika dia bercerita tentang keluarganya, tentang bagaimana dia berbuat semena-mena terhadap adik-adiknya, terlebih pada Edgar, adik yang pangkatnya paling rendah di rumah, haha. Satu hal yang paling seru dari karya-karyanya. Kita bisa mendapatkan semua itu di bab Pesan Moral Dari Sepiring Makanan.
The Power of Pindah kita temukan di bab terakhir: Manusia Setengah Salmon.
Setiap tahunnya ikan salmon akan bermigrasi, melawan arus sungai, berkilometer jauhnya hanya untuk bertelur. Beberapa species, seperti Snake River Salmon bahkan berenang sepanjang 1148 kilometer lebih, dua kali lipat jarak Jakarta-Surabaya. Perjalanan salmon-salmon ini tidak gampang. Di tengah berenang, banyak yang mati kelelahan. banyak juga yang menjadi santapan beruang yang nunggu di daerah-daerah dangkal. Namun, salmon-salmon ini tetap pergi, tetap pindah, apa pun yang terjadi.
Gue jadi berpikir, ternyata untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, gue gak perlu menjadi manusia super. Gue hanya perlu menjadi manusia setengah salmon: berani pindah.
Di bab itu, kita akan dibawa ke suasana perubahan hidup Radit, merasakan tahap apa saja yang sudah dilaluinya, mulai dari pindah dari rahim ibunya, pindah sekolah, pindah pekerjaan, pindah cita-cita, pindah rumah, pindah hati, pindah hubungan dengan nyokapnya, walau nggak detail, kita serasa memahami perubahan tersebut karena kita juga mengalaminya, kita semua.
Hidup sesungguhnya adalah potongan-potongan antara perpindahan satu dengan lainnya. Kita hidup diantaranya.
Hidup penuh dengan ketidakpastian, tetapi perpindahan adalah salah satu yang pasti.

3,5 sayap untuk ikan salmon.

Friday's Recommendation #1: Fahrenheit 451


Rec

Hai-hai, kangen ya karena beberapa minggu nggak ada posting baru di Kutu Bokek atau di Kubikel Romance, hehehehe pede. Beberapa minggu ini konsen nyelesein hutang pinjeman dulu soalnya udah mau setengah tahun, nggak enak sama yang punya (dan masih belum selesai juga). Yah, sebenernya kalo niat bisa dulu-dulu saya lahap masalahnya selain kesibukan, beberapa minggu yang lalu saya bener-bener nggak mood baca alias reader's block. Udah dicoba berbagai macam genre tapi mood nggak balik-balik juga, akhirnya saya coba genre paling favorit yaitu romance indonesia, berhasil deh, lumayan ngurangi timbunan pinjeman :). Selain hiatus ngeblog saya juga hiatus blogwalking, cuman sekali-kali kalo ada postingan menarik saya baca lewat henpon. Nah, saya nemuin meme yang seru lagi nih sesuai minat saya, emang semua meme yang dibuat temen-temen nggak saya ikutin soalnya kalo kebanyakan meme nanti isi blog aku lebih banyak meme-nya daripada reviewnya, hehehe. Setelah Wishful Wednesday dan Character Thursday, meme yang nemplok di hati saya adalah Friday's Recommendation yang diprakarsai oleh Ren di blognya Ren Little Corner. Kalau Wishful Wednesday saya pilih karena menjadi acuan saya untuk memprioritaskan membeli buku dan Character Thurday yang membuat saya nggak bisa tidur karena kebayang sama tokoh favorit saya, Friday's Recommendation ini akan menjadi harapan saya akan buku-buku luar yang ingin sekali saya baca terjemahannya, yah melihat bahasa inggris saya pas-pasan dan lama mencernanya saya emang lebih memilih membaca terjemahannya daripada versi aslinya. Jodohnya lagi dengan meme ini, banyak sekali buku bahasa inggris yang saya ngarep di terjemahin, jadi pas. Untuk meme ini dan wishlist sebenernya udah saya buat rak tersendiri di Goodreads, cuman kalo di sini lebih detail aja kenapa saya ingin buku itu. Oke deh, nggak usah banyak-banyak lagi curhatnya, saya akan menulis aturan mengikuti Friday's Recommendation.
Peraturannya yang saya copas dari blognya Ren ^^:
1. Pilih jenis rekomendasi buku. Ada dua jenis rekomendasi, yang pertama dan sifatnya mutlak adalah Rekomendasi Buku untuk Diterjemahkan . Jika tidak ada buku yang direkomendasikan untuk diterjemahkan, maka bisa memilih pilihan kedua, Rekomendasi Buku Pilihan. Disini rekomendasikan buku yang paling kamu suka baca dalam minggu ini.
2. Pilih hanya 1 (satu) buku untuk direkomendasikan. Tidak boleh lebih.
3. Beri sinopsis, genre buku dan alasan kenapa kamu merekomendasikan buku itu.
4. Blogger yang sudah membuat memenya, jangan lupa menaruh link ke blog di daftar linky di bagian paling bawah post ini, sehingga pembaca bisa blog walking.
5. Untuk pembaca blog yang tidak punya blog, bisa menulis rekomendasinya di kolom komen.

Untuk Friday's Recommendation pertama saya adalah buku yang pengen banget diterjemahin:

4381

Fahrenheit 451 by Ray Bradbury
Genre: Dystopia
Sinopsis: Goodreads

Guy Montag is a fireman. In his world, where television rules and literature is on the brink of extinction, firemen start fires rather than put them out. His job is to destroy the most illegal of commodities, the printed book, along with the houses in which they are hidden. 
Montag never questions the destruction and ruin his actions produce, returning each day to his bland life and wife, Mildred, who spends all day with her television "family." But then he meets an eccentric young neighbor, Clarisse, who introduces him to a past where people didn’t live in fear, and to a present where one sees the world through the ideas in books instead of the mindless chatter of television. 
When Mildred attempts suicide, and Clarisse suddenly disappears, Montag begins to question everything he has ever known. He starts hiding books in his home, and when his pilfering is discovered, the fireman has to run for his life. 
First published in 1953, Fahrenheit 451 is a classic novel set in the future when books forbidden by a totalitarian regime are burned. The hero, a book burner, suddenly discovers that books are flesh and blood ideas that cry out silently when put to the torch. -- from the Publisher



Tau buku ini ketika baca Here, After-nya Mahir Perdana, sebenernya dulu pernah baca review di salah satu video book review yang biasa saya tonton tapi lupa, hehe.
Intinya ya, dunia mengharamkan baca buku, pemerintah membakar semua buku dan memenjarakan orang-orang yang menyembunyikan buku. Kemudian terciptalah komunitas pecinta buku, hidup berkelompok dan melestarikan passion-nya terhadap buku. Saking sukanya sama buku yang mereka baca, buku favorit mereka itu menjadi jati diri mereka, identitas mereka. Memanggil satu sama lain bukan dengan nama tapi judul buku favorit mereka. Contoh: aku Sulis, aku Divergent karya Veronica Roth.
Ketika membaca ini, yang terlintas di bayangan saya adalah anak-anak BBI, hahahaha, nggak bisa bayangin dunia tanpa buku. Saya langsung suka banget sama buku ini, dan pengen banget baca. Biasanya kalau saya sudah kayak gini pasti buku tersebut bakalan keren banget di mata saya, kayak Delirium dan Divergent.
Saya berharap banget ada penerbit yang mau nerjemahin buku ini, toh dystopia lagi digandrungi juga :)





Rekomendasi Bulan Ini

Buku Remaja yang Boleh Dibaca Siapa Saja | Rekomendasi Teenlit & Young Adult

K urang lebih dua tahun yang lalu saya pernah membahas tentang genre Young Adult dan berjanji akan memberikan rekomendasi buku yang as...