Kamis, 22 Maret 2012

Cinta Sang Pangeran


Sinopsis:

Marcus North, sang Viscount Draker, sudah lama hidup mengasingkan diri dari pergaulan kelas atas. Ia hanya hidup berdua dengan adik perempuannya, ditemani perpustakaan yang dipenuhi berbagai jenis buku. Dan ia puas dengan hidupnya.

Sampai Lady Regina Tremaine datang ke Castlemaine. Dengan lancang lady itu menerobos masuk ke perpustakaan dan menggangu ketenangan Marcus. Lady Regina meminta Marcus menyetujui usaha pendekatan kakak lelakinya pada Louisa North, adik Marcus. Meskipun akhirnya setuju, sang viscount memberikan satu syarat: asalkan ia juga diperbolehkan mengencani Regina.

Meskipun awalnya Marcus mengencani Regina hanya agar dapat mengawasi adiknya, perlahan tapi pasti, sikap elegan Regina mulai memengaruhi Marcus. Mungkin ia, pria penyendiri dan bertemperamen keras, akhirnya bertekuk lutut di hadapan lady cantik itu?

My Review

Belum baca seri pertama yang katanya agak mengecewakan, untungnya buku ini sebaliknya. Baca review tentang buku pertama, saya tahu inti dari seri The Royal Brotherhood ini adalah kisah cinta dari anak haram Pangeran Wales. Dan buku kedua ini bercerita tentang Marcus North, sang Viscount Draker atau mempunyai julukan sang Vinscount Naga, karena dia galak banget  dan punya penjara bawah tanah, hehehe. Dia menyendiri di desa ditemani dengan perpustakaan yabesarnya, yap, dia suka sekali membaca. Kemudian ketenangannya diusik oleh seorang lady yang menginginkan agar dia tidak menganggu hubungan kakaknya yang sedang mendekati adik Marcus. Marcus tidak setuju kalau adiknya nanti menjadi tercemar apalagi Marcus tahu kalau Simon mempunyai rencana atas pendekataannya. Karena Regina tidak mau mengalah, diapun mengusulkan dia mau menyetujui pendekatan kakaknya asal dia Regina mau menjadi pasangannya juga agar bisa sekalian mematai adiknya. Dan dari kedekatan itu, Regina ingin mengajari Marcus sopan santun!
Oh, tapi kenapa Marcus menjadi marah ketika ada orang yang melamar Regina? Dia tidak terima kalau mulut Regina disambar oleh orang lain, dia marah ketika regina membuat taruhan tentang dirinya, dan dia harus menikahi Regina. Ketika Marcus tahu ketika regina tidak bisa membaca, dengan sabar dia mengajarinya, dan dia juga memberi pilihan sulit kepada Regina, memilih dirinya atau kakaknya.

Buku Safrina Jeffries pertama yang saya baca, kesan yang saya dapat romantisnya ada, adegan uhuk-uhuknya pun lumayan, tiga sayap deh untuk itu, ditambah humornya cukup nikmat. Untuk karakter tiap tokohnya juga cukup berkesan, Marcus yang 'pemaksa' dan Regina yang keras kepala menjadikan mereka pasangan yang klop deh. Apalagi ya? kalau soal ceritanya gimana mungki lebih asik kalo dibaca sendiri, hanya sedikit gambaran saja bagian yang diatas itu, lagi ga aja ide untuk nulis banyak-banyak, hehehe. Intinya buku ini lumayan kok, covernya manis banget, perpustakaan cocok sekali dengan hobi Marcus.

3 sayap untuk Vincount Naga

To Pleasure A Prince (Cinta Sang Pangeran)
penulis: Sabrina Jeffries
alih bahasa: Anggraini Novitasari
cover: Marcel A.W
penerbit: Gramedia
ISBN: 978-979-22-7675
cetakan pertama, November 2011
460 halaman

Rabu, 21 Maret 2012

Wishful Wednesday [2]


DivergentInsurgent

Postingan kedua Wishful Wednesday ini jatuh pada salah satu buku yang bergenre dystopia, Divergent by Veronica Roth. Kata mbak  Annisa Anggiana Dystopia adalah tatanan masyarakat yang rigid dan sangat terikat oleh aturan yang sering kali absurd.
Untuk reviewnya, coba baca yang ini. Sebenarnya udah lumayan banyak yang ngreview, cuman aku milih yang gampang dipahamin, hehehe.
Singkatnya, di masa depan akan ada pembagian golongan (kayak Harry Potter waktu penentuan kelas :p) yaitu Abnegation, Candor, Erudite, Amity. Nah, waktu umur 16 tahun diharuskan memilih golongannya (kayak Uglies dan Delirium :p). Biasanya golongan disesuaikan sama milik orang tuanya, begitu pula dengan Beatrice, sayangnya dia tidak masuk dalam keempat golongan itu, dia punya sifat dari masing-masing golongan tersebut, nah golongan itu namanya Divergent.
Divergent rencananya mau diterbitin sama Mizan dan Insurgent sendiri katanya bulan Mei tahun ini baru terbit di sono. Sejak membaca The Hunger Games dan Delirium, Dystopia menjadi genre favoritku. Buku ini nggak bisa dilewatkan.
Penghargaannya: Goodreads Choice Award for Favorite Book of 2011 and for Best Young Adult Fantasy & Science Fiction (2011)

Selasa, 20 Maret 2012

Unfogettable Moment

Sinopsis:

Ini adalah satu kisah dari sang waktu tentang yang menunggu. Cerita seorang perempuan yang bersembunyi di balik halaman buku dan seorang lelaki yang siluetnya membentuk mimpi di liku tidur sang perempuan.

Ditemani krat-krat berisi botol vintage wine yang berdebu, aroma rasa yang menguar dari cairan anggur di dalam gelas, derit kayu di rumah usang, dan lembar kenangan akan masa kecil di dalam ingatan.

Pertemuan pertama telah menyeret keduanya masuk ke pusaran yang tak bisa dikendalikan. Menggugah sesuatu yang telah lama terkubur oleh waktu di dalam diri perempuan itu. Membuat ia kehilnagan semua kata yang ia tahu untuk mendefinisikan dan menjelma satu nama: lelaki itu.

Sekali lagi, ini adalah sepotong kisah sang waktu tentang menunggu. Kisah mereka yang pernah hidup dalam penantian dan kemudian bertemu cinta.

My Review

Sebelumnya, saya tidak akan banyak membicarakan isi buku ini, saya hanya akan membicarakan kesan apa yang saya dapat setelah membaca kilat di toko buku Gramedia Solo, ya, saya hanya numpang baca dan dengan cepat ingin menangkap apa yang penulis ingin persembahkan kepada pembaca.

Singkatnya, ada seorang perempuan yang duduk di samping jendela dan seorang laki-laki yang duduk dibagian lain, mata mereka bertemu dan saling tertarik. Lama-lama mereka menjadi dekat, dan merasakan jatuh cinta, tanpa mengetahui masing-masing nama.

Ceritanya sebenarnya oke, covernya cakep, cara berceritanya unik, diksinya nggak usah diragukan lagi, ditambah kita jadi tahu tentang macam-macam Wine, nambah pengetahuan banget di mana  nama-nama Wine tersebut menjadi judul ditiap bab. Sayangnya tidak ada diaolog antar tokoh, ada sih sebenarnya, hanya saja dideskripsikan oleh penulis. Saya menjadi tidak bisa larut dengan interaksi kedua tokoh. Itulah masalah utamanya. Saya jadi teringat pada novel-novel Winna yang saya baca sebelumnya dan juga memberikan kesan yang kurang, saya tidak bisa menyukai karakter tokoh yang dibuat oleh penulis, saya membenci tokoh utamanya. Peran tokoh sangat berarti bagi saya ketika membaca novel, selain plot ceritanya, tokoh memegang peranan penting ketika saya membaca dan apakah saya menikmatinya, dan itulah kenapa saya kurang bisa menikmati membaca buku ini.

Yah, semoga saja ketika membaca ulang buku ini saya akan mendapatkan kesan yang berbeda, tentu dengan membaca tidak tergesa-gesa :)

2 sayap untuk Cabenet Sauvignon

Unforgettable Moment
penulis: Winna Efendi
penerbit: Gagasmedia
ISBN: 9797805417
cetakan pertama, Januari 2012
184 halaman

Selasa, 13 Maret 2012

Beautiful Mistake


"Beautiful Mistake adalah Gagas Duet, novella dari dua penulis kebanggaan GagasMedia: Prisca Primasari dan Sefryana Khairil. Keduanya masing-masing mempersembahkan cerita cinta tentang pentingnya sebuah kesempatan kedua bagi mimpi dan cita-cita. Biarkanlah cinta yang menunjukkan arah bagi hatimu."

Duet dari dua penulis favorit saya.
Ada dua cerita yang berdiri sendiri namun memiliki kesamaan, yaitu Dreamland dan Chokoreto.

Dreamland

Untuk menyembuhkan sakit hatinya, Nadine melarikan diri ke One Love Bar, sebuah kelab di daerah Kuta, Bali. Bersama dua orang temannya, Nadine ingin melepas masa lalunya, memulai kehidupan baru. Mata Nadine tertarik oleh sebuah kerumunan di mana ada aksi seorang bartender. Mata Nadine tak bisa berkedip ketika pandangan mereka berpapasan. Nadine pun ikut memesan coctail spesial, Dreamland, campuran vodca, cherry juice, dan cherry syrup.
"Kenapa? Kamu takut berharap?"
"Semua orang seharusnya punya harapan. Punya mimpi. Soalnya, saat nggak ada lagi yang bisa diperjuangkan, kita masih punya harapan, kan?"
Merasa sangat tertarik sikap tertutupnya ditambah dengan adanya beda pemikiran, Nadine ingin lebih mengenal bartender itu.

Fajar Ananta, laki-laki yang sangat tertutup, pendiam, pandai surfing dan memasak, sangat berlawanan dengan Nadine Almira Kamil yang namanya mempunyai arti harapan yang indah dan sempurna. Sesuai namanya, Nadine orang yang penuh mimpi, ceria, sangat menyukai fotografi, banyak bicara dan tidak mudah menyerah, terlebih menghadapi Fajar. Fajar tidak percaya akan harapan, dia tidak mempunyai mimpi lagi, semua impiannya sudah terkubur oleh masa lalu.
"Tuhan membiarkan kita kalah supaya kita tahu di mana letak kita salah. Supaya kita belajar berbuat benar."
 "Dalam Hidup, nggak ada yang mudah, tapi segala sesuatu pasti ada jalannya - kalau kita mau berusaha."
Nadine ingin membawa Fajar keluar dari masa lalunya, dan dia ingin mempunyai arti dalam kehidupan Fajar, sekecil apa pun itu. Tapi Fajar tetap tidak mau beranjak, bahkan Nadine sampai membuang mimpinya.
Jika cinta dan bahagia itu sederhana, mengapa yang terjadi sebaliknya? Semua berakhir sama, luka. 

Chokoreto

Bersetting di Jepang, lebih tepatnya di distrik Jiyugaoka, Akai Fukue atau biasa dipanggil Kai anak pemilik kafe minuman coklat: Chokoreto, akhir-akhir ini dia sering melakukan kesalahan, yaitu memecahkan cangkir. Alasannya adalah dia terusik oleh tetangga barunya, Yuki Akihara, gadis yang jarang tersenyum, cangung, kaku, jarang terlihat, seorang yang anti sosial, dia seorang yang introvert, sangat berbanding terbalik dengan kepribadian Kai yang ramah, ceria, sangat luwes, punya banyak teman dan penuh semangat. Kai pun mengunjungi gadis tersebut karena dia mendengar alunan piano, suara yang tidak mau hilang dari telinganya. Tapi niatnya diurungkan karena dia melihat Yuki terpekik senang ketika bertemu temannya. Gayung bersambut, Yuki dan temannya yang bernama Eri berkunjung ke Chokoreto dan memesan Stravinsky berrychoco, cokelat instan hangat bercampur cokelat padat dengan irisan buah-buahan berry.

Kai agak tersinggung ketika dia memergoki Yuki memiliki foto-fotonya, dari situlah kedekatan mereka bermula. Kai tahu Yuki mempelajari piano untuk mendalami karakter novel yang dia tulis yang (ngakunya) ciri-ciri fisiknya sama dengan Kai. Yuki tidak pede dengan hasil karyanya, tidak pernah ada yang mau menerbitkannya. Tapi Kai tetap optimis dan ingin membantu Yuki mewujudkan mimpinya.

Dari Revel-sensei, guru piano Yuki yang berkebangsaan Prancis, Yuki tahu kalau Kai adalah alumni N.A. Rimsky-Korsakov Saint Peterburg State Conservatory, sekolah para musik musisi klasik dunia, Kai mempunyai talenta yang amat besar dalam bermain piano. Sayangnya, Kai harus meninggalkan Rusia dan mimpinya ketika tahu ayahnya mengidap kanker, dia ingin merawat ayahnya dan menjalankan kafe minuman coklat yang sudah lama dirintis oleh ayahnya, melupakan mimpinya. Dan Yuki mencoba untuk memotivasi Kai untuk bermain piano lagi.
Tadinya, kukira Fukue-san dan aku begitu bertolak belakang. Dia gula dan aku merica.
Tapi sekarang, untuk beberapa alasan aku merasa bahwa kami sangat sama.
Setelah bertemu dengan Revel-sensai, Kai teringat akan masa lalunya ketika dia mengambil keputusan untuk meninggalkan St. Petersburg tanpa ragu-ragu, bahkan ketika ditawari mengikuti audisi sebagai pianis tetap Moskow Philharmonic Orchestra. Dia kembali ke Tokyo dengan fokus pada pengobatan ayahnya, dia menjual pianonya, CD-CD, biografi komposer, partitur, agar tidak dibayangi oleh yang tentang piano. Menyibukkan diri dengan meracik resep-resep cokelat panas, mengelola kafe, memikirkan agar ayahnya sembuh. Dia atas semua masalahnya sendiri, dia berkemauan keras untuk membantu Yuki mengatasi masalah yang tidak pernah lepas dari masa lalunya, tidak bisa tampil di depan orang banyak. Mereka saling membantu walau tidak saling mengharapkan. Mereka sama-sama punya impian, tapi tak punya keberanian untuk mewujudkannya.
"Anak bodoh, " gumam Fukue-san. "Dia mau bersusah payah mewujudkan mimpi orang lain, tapi menyerah bila menyangkut mimpinya sendiri."
Ketika kau menjadi orangtua..." ujarnya. "Tak ada yang bisa lebih melegakanmu selain kebahagiaan anakmu. tak ada yang lebih kau inginkan. Cita-cita anakmu adalah cita-citamu juga. Bila cita-cita mereka tidak tercapai, bagaimana perasaanmu? Bisakah kau meninggalkan mereka dengan tenang...?"
Aku percaya pada pepatah bahwa kita akan selalu bersama dengan yang benar-benar kita cinta, sekeras apa pun kita menghindar.

Dua cerita yang berbeda tapi memiliki kesamaan.
Pertama, setting. One Love Bar dan Chokoreto, tempat asik untuk melegakan rasa haus kita, tempat di mana cerita dimulai.
Kedua, minuman yang khas. Dreamland dan Stravinsky berrychoco.
Ketiga, tentang masa lalu, tentang kehilangan. Kedua cerita memiliki masa lalu yang ingin sekali dilupakan. Nadine yang dikhianati pacarnya, Fajar yang kehilangan istrinya. Yuki yang sewaktu kecil mempunyai kenangan buruk dengan gurunya sehingga membuat dia tidak pernah merasa percaya diri. Kai yang harus melupakan passion terbesarnya, bermain piano.
Keempat, tentang mimpi. Nadine yang sangat mencintai fotografer dan bermimpi untuk mengadakan sebuah pameran, Fajar yang bermimpi mempunyai kehidupan baru, Yuki yang bermimpi menerbitkan novelnya dan Kai yang bermimpi memainkan tuts piano lagi.
Kelima, karakter. Saya merasa karakter Nadine dan Kai mirip, begitu pula dengan Fajar dan Yuki, sama-sama berkebalikan. Nadine dan Kai yang ceria dan penuh semangat sedangkan Fajar dan Yuki yang mempunyai sifat tertutup.
Keenam, tema. Yak buku ini tentang meraih mimpi, selalu percaya akan sebuah kata "harapan".


Bagian yang paling saya suka dari kedua cerita tersebut adalah:
Dreamland: Ketika Fajar meninggalkan Nadine agar dia meraih mimpinya. Padahal Nadine udah rela dan dia ingin sekali memulai hidup baru bersama Fajar. Nyesek banget.

"Apa aku punya arti buat kamu, Jar?"
Fajar membalas gengaman tangannya. "Kamu berarti buat aku, Nadine. Karena itu aku nggak mau hancurin mimpi kamu."
Terkadang melepaskan bukan untuk menyakiti, melainkan merelakan orang yang dicintai mendapatkan sesuatu yang lebih pasti.

Chokoreto: Ketika Yuki mengadakan acara pre-release novelnya Lyubov diiringi dentingan piano dari Kai. Rasanya ikut lega ketika membacanya, lega karena Yuki berhasil mengatasi masalahnya dengan Kai yang selalu mendukungnya.

Entah apa yang menggerakkanku, tapi setelah menatapnya lama, aku melangkah mendekatinya, dan perlahan memeluknya begitu saja.


Dan covernya, cantik banget! Alurnya cepet jadi bisa dibaca dalam sehari. Dreamland diambil dari sudut pandang orang ketika, sedangkan Chokoreto dari masing-masing tokoh utama, bagian Yuki dipaparkan lewat sebuah buku diary, tampilan isinya pun cantik, manis banget deh tampilan buku ini. Ada satu hal yang mengganjal ketika saya membaca buku ini, terlalu cepat. Ada bagian yang terlalu singkat, contohnya pada cerita Dreamland saya merasa hubungan Fajar dan Nadine cepat sekali terjalin. Yah namanya juga novella, jumlah kata yang tidak lebih dari 40.000, mungkin membuat penulis lebih memadatkan ceritanya. Tapi tetap bisa dinikmati kok, terlebih kita akan merasakan tulisan khas dari kedua penulis tersebut. Sefry dengan kalimat yang indah, cuplikan lagu di tiap bab dan adegan romantisnya sedangkan Prisca dengan para musisi klasik dunia yang dia sisipkan, membuat cerita ini mudah diterima dan terasa familier. Kalau dalam Dreamland emosi kita sedikit terkuras akan pengorbanan Nadine sedangkan di Chokoreto kita akan dibawa ke suasana yang hangat akan pertemanan Yuki dan Kai, ceritanya pun juga ringan. Dua kombinasi cerita yang nikmat.


Lihat juga Book Trailernya sebelum membaca buku ini :D



Mungkin membaca buku ini lebih lengkap kalau ditemani dengan Stravinsky berrychoco (kalau mau yang ada alkoholnya mungkin bisa mencoba Dreamland :p)

4 sayap untuk mimpi dan harapan

Beautiful Mistake
penulis: Sefryana Khairil dan Prisca Primasari
editor: Ayuning
cover: Dwi Anissa Anindhika
penerbit: Gagasmedia
ISBN: 979-780-539-5
cetakan pertama, 2012
257 halaman

Senin, 12 Maret 2012

Believe


"Kalau..., kalau doa kepada Tuhan itu diamini dengan tulus oleh empat puluh orang saja, insyaAllah akan diijabahkan kan? Karena itu orang mengadakan istigasah, kan.. berdoa bersama-sama?
"Semakin banyak amin untuk sebuah doa, semakin besar kemungkinan doa itu terkabul, kan...?
"Tuhan mengabulkan doa just when He feels like it, Biru, you know what i mean. Ada doa-doa yang pasti terkabul, memang, seperti doa para mujahid atau doa orang yang teraniaya. Empat puluh memang angka yang istimewa... Tapi, kamu tahu, untuk sebuah doa satu amin aja cukup kalau Dia menghendaki..."
"Aku akan mengumpulkan amin dari empat puluh orang."
"Forty amens from forty people," kataku. "I don't know it's gonna work or not. But i'm gonna do it. That's all i'm wishing for my life now." 
Ceritapun dimulai, proses mengumpulkan amin.

Rekomendasi Bulan Ini

Buku Remaja yang Boleh Dibaca Siapa Saja | Rekomendasi Teenlit & Young Adult

K urang lebih dua tahun yang lalu saya pernah membahas tentang genre Young Adult dan berjanji akan memberikan rekomendasi buku yang as...