Minggu, 13 November 2011

Where She Went

Where She Went (If I Stay #2)
by Gayle Forman
alih bahasa: Poppy D. Chusfani
editor: Dini Pandia
penerbit: Gramedia Pustaka Utama
cetakan I: Oktober 2011
ISBN: 978-979-22-7650-3 
240 halaman

"Tiga tahun sudah berlalu sejak cinta Adam menyelamatkan Mia setelah kecelakaan yang memorakpandakan hidup gadis itu...
... dan tiga tahun sejak Mia pergi dari kehidupan Adam untuk selamanya."




Yub, lanjutan If I Stay (Jika Aku Tetap Di Sini) ini menceritakan kehidupan Mia dan Adam setelah kecelakaan yang membunuh orang tua dan adik lelaki Mia. Sudut pandang penceritanya dari Adam.

Menceritakan kehidupan Adam yang hancur setelah ditinggal Mia tanpa kabar dan pesan apa pun. Adam bingung dengan dirinya, salah apa? kenapa Mia meninggalkannya? Di tengah kepurukannya, Adam mencurahkan seluruh perasaanya dalam lima belas lagu dan tak disangka, lagu-lagu tersebut meledak di pasaran. Melalui album Collateral Demage yangmasuk tangga Billboars, Shooting Star, grup band Adam, menjadi bintang rock terkenal.

Menjadi terkenal, Adam mulia berubah, seperti yang dikatakan Mia, dia masuk kategori "cowok," orang brengsek, playboy, kecanduan obat, menjadi temperamental, hubungan dengan personil band lainnya pun tidak harmonis. Adam seperti kehilanga dirinya sendiri.
Menjadi terkenal, Adam kehilangan kehidupannya yang normal, merasa tertekan dengan banyaknya tur yang akan dijalani bandnya. Enam puluh tujuh malam, empat belas negara, tiga puluh tiga kota, beeberapa ratus jam dalam bus tur. Semua itu membuat Adam gila, terseret arus, masuk ke pusaran yang tidak tahu dimana muaranya. Ketika dia berjalan-lalan untuk menjernihkan pikirannya, tak sengaja dia melihat poster gadis yang selama ini selalu dirindukannya, poster itu bertuliskan SERIAL KONSER MUDA MEMPERSEMBAHKAN MIA HALL. Setelah bangkit dari koma, Mia benar-benar berjuang untuk hidup, berjuang agar tetap tegar dari kematian naas keluarganya, berjuang mewujudkan mimpinya menjadi pemain cello profesional. Cello memperbaiki suasana hati Mia. Setelah sembuh, dia berangkat ke Juilliard dan tidak pernah kembali lagi ke Adam.

Melawan perang batin, Adam pun memasuki Zankel Hall, bukan untuk melihat, hanya mendengarkan. Setelah konser selesai, Adam terkejut ketika petugas pintu masuk mengatakan kalau Mia ingin bertemu dengannya. Nah, ini adalah bagian yang paling saya tunggu-tunggu.
"Naluri pertamaku bukanlah memeluknya atau menciumnya atau meneriakinya. Aku hanya ingin menyentuh pipinya, yang masih merah setelah pertunjukkan tadi. Aku ingin menembus ruang yang memisahkan kami, yang hanya beberapa meter --bukan berkilo-kilo meter, bukan diseberang benua, bukan tahunan-- dan mengusapkan jemariku yang kapalan ke wajahnya. Aku ingin menyentuhnya untuk memastikan ini benar-benar dirinya, buka salah satu mimpi yang sering sekali menghantuiku setelah dia pergi, mimpi ketika aku melihatnya sejelas pada siang hari, siap menciumnya dan merangkulnya, lalu aku terbangun dan menyadari bahwa Mia berada di luar jangkauanku."
Jleb.
Setelah bertemu, Mia mengawali basa basi, sedangkan Adam banyak pertanyaan yang ingin dilontarkannya namun tak kunjung terucap. Kemana kau selama ini? Apakah kau prnah memikirkanku? Kau menghancurkanku. Apakah kau baik-naik saja? Merasa berlawanan arah, di mana Adam terbawa arus yang deras sedangkan Mia berada ditepian, Adam pun pergi meninggalkannya. Tak mau kehilangan kesempatan, Mia langsung mengejar Adam dan membawanya dalam perburuan rahasia kota New York. bagian ini menginggatkan saya seperti adegan dilm Before Sunrise/ Sunset, kedua tokoh utama berjalan-jalan mengelilingi kota dan saling bercerita tentang dirinya sendiri. Mia bercerita tentang Juilliard, tentang kehidupannya setelah sembuh, sedangkan Adam saling sahut menyahut dengan ceritanya Mia, berkunjung ke masa lalu. Misalnya ketika Mia berkata Adam berubah, maka akan flash back dimana dia mulai mengalami perubahan itu. Dan bagian dari acara jalan-jalan mereka yang aku sukai adalah:
"Berhenti tidak sulit. Memutuskan berhentilah yang sulit. Tapi, begitu kau sudah melakukan lompatan mental itu, sisanya mudah."
"Sungguh? Jadi begitukah caramu berhenti menghubungiku?"
Jleb. Jleb.
Menohok banget pertannyaan Adam ini buat Mia, bagaimana tidk/ sejak awal bertemu, mulut adam sudah gatal ingin menanyakan alasan kenapa Mia pergi meninggalkan dirinya. Untuk mengetahui jawabannya, bacalah sendiri, kau akan ikut terseret oleh arus yang deras bersama Adam.

Dia awal saya sudah menuliskan kalau sudut pandang penceritanya dari Adam, dan sangat sangat menyukainya. Saya ikut terseret oleh perasaan Adam, bagaimana dia hancur akan kehilangan Mia, terseret adam untuk melewati satu hari, hanya satu hari, satu periode dua puluh empat jam untuk kau lewati. Bagaimana perasaan Adam yang carut marut ketika bertemu dengan Mia lagi. Saya sangat suka dengan buku ini, penulis menyelesaikannya benar-benar tuntas tas. Awalnya saya berpikir setelah bertemu yaudah selesai, tapi saya puas dengan endingnya. Selain itu, dalam selingan tiap bab, penulis juga mencantumkan potongan lirik lagu dari album Collateral Demage, tambah dekat lagi kita dengan Adam. Saya kasih contoh dari lagu yang paling saya suka dan merupakan lagu kebangsaan Shooting Star, Animate:
"First you inspect me
Then you dissect me
Then youreject me
I wait for the day
That you'll resurrect me"
 Selain "lebih dekat" dengan Adam, kehidupan Adam mencerminkan kebanyakan artis yang sedang booming. Saya jadi sedikit memahami kenapa para artis tersebut setelah terkenal malah "rusak," bunuh diri, ketergantungan obat, depresi sehingga tidak sedikit artis yang masuk rehabilitasi. Mereka kehilangan diri sendiri, kehilangan privasi, tidak bisa menjalani kehidupan yang normal lagi, selalu ada kamera yang merekam tindak tanduk mereka. Pusing, tertekan, letih karena jadwal manggung yang padat. Karma, begitu kata Adam ketika seseorang mendapatkan ketenaran dan kekayaan.

Alurnya melompat-lompat, dari masa sekarang- masa lalu- dan kembali kemasa sekarang, cepat dan tidak membuat bingung karena benar-benar mengalir sesuai langkah Adam. Where She went adalah bukunya Adam, kita akan tahu semua tentang Adam sedangkan If I Stay adalah bukunya Mia. Jadi, kalau benar-benar ingin mendapatkan "feel" buku ini, ada baiknya membaca buku yang pertama karena sangat berhubungan. Perasaaan Mia juga tergambar, apa lagi di bagian akhir-akhir, yah seperti kalau kita makan harus ada makanannya bukan? sama seperti itu, Where She Went adalah minumannya sedangkan If I Stay adalah makanan pokoknya. Suka covernya, Adam banget! jauh lebih suka covernya daripada buku aslinya di mana menurut saya lebih cocok untuk buku pertama. Saya tidak begitu memperhatikan apakah ada typo atau tidak karena saya sudah ikut terhanyut oleh pusarannya Adam, bersama dirinya #eaaaaa.

Well, 5 sayap untuk Adam Wilde yang liar :p

Selasa, 08 November 2011

Saraswati

Sejak membaca karyanya yang kedua yaitu dimana cerita bergenre teenlit tapi dikemas dalam kisah klasik mistis, kemudian disusul karya ketiganya berupa kumpulan cerpen dalam judul , saya menjadi penikmat tulisannya. Tema yang diangkat sama penulis yang mempunyai darah Solo ini mungkin ada yang udah pasaran tapi diracik dengan bumbu yang berbeda. Saya pun penasaran dengan karya pertamanya, untung punyanya 'rahib' avaible for swap :)).
Sangat penasaran dengan sinopsis dibelakang sampul dimana tertulis "Secara tradisi biasanya kisah cinta hanya memiliki dua akhir penyelesaian. Apakah berakhir dengan 'happy ending' atau tragedi dan perpisahan. Dalam Saraswati, Kanti keluar dari jalur tradisi ini. Secara tidak terduga Kanti menawarkan klimaks alternatif yang baru." Bagi penggemar happy ending seperti saya tentu sangat penasaran dong, seperti apa endingnya yang nggak biasa itu.

Bercerita tentang Disam, seorang anak kecil berumur 10 tahun, peranakan Belanda yang muak akan kedua orang tuanya dimana tidak bosan-bosannya bertengkar, Disam pun lari dari rumah dengan membawa sepedanya. Karena kalut dia pun terjatuh dan ditolong oleh seorang gadis remaja berumur 15 tahun, gadis cantik yang jago melukis bernama Saraswati. Semenjak kejadian itu mereka pun menjadi sahabat tapi sayang, ketika orang tuanya bercerai, Rasty (panggilannya) malah meninggalkan Disam tanpa kabar.

Tujuh tahun berlalu, Disam menjadi cowok yang tampan rupawan yang berprofesi sebagai model dengan kehidupan yang cukup liar. Ketika dia pergi ke studio foto untuk mengambil hasil jebretannya, tidak sengaja dia melihat sosok gadis yang telah dicari-carinya selama ini. Karena penasaran, dia pun rutin ke tempat tersebut dan akhirnya tahu pola kedatanggan si gadis tersebut. Dan ternyata benar, dia adalah Saraswati. Rahasia perginya pun terungkap, tidak lama setelah kejadian orang tua Disam yang bertengkar hebat, kedua orang tua Rasty meninggal dalam kecelakaan, tanpa sempat berpamitan dia pun pindah ke Bali bersama Tuniang-nya (sebutan Nenek dalam bahasa Bali) dan baru beberapa bulan ini kembali ke Jakarta. Persahabatan mereka pun kembali terjalin, dan semakin erat. Disam tidak suka bila ada cowok lain yang mendekati Saraswati, dia malah posesif. Saraswati juga bingung akan perasaanya sendiri, Disam sudah seperti adik tapi ada perbedaan yang besar jika mereka menjalin hubungan, mulai dari perbedaan usia sampai agama. Selain itu Tuniang-nya juga sudah menjodohkan Saraswati dengan sesama orang Bali, Bisma. Lalu tindakan apa yang dipilih Saraswati?

Ya, temanya sudah pasaran bukan? sahabat menjadi cinta, tapi penulis menambahkan bumbu tentang perbedaan usia, pernikahan beda agama, terpaku akan adat istiadat yang mengharuskan orang Bali menikah dengan sesama Bali. Seperti yang saya kutip dari penulisoptimis.blogspot.com
"Janganlah mempermasalahkan hal-hal yang sudah melekat semenjak kita dilahirkan ke dunia, seperti suku, keluarga dan usia. Buat apa mempermasalahkan hal-hal yang sudah tidak bisa diubah."
Ide ceita tersebut sangat saya suka, tapi sayang saya kurang merasakan bumbu itu. Yang saya tangkap dari membaca buku ini adalah di mana Disam dan Saraswati enggan menggungkapkan cinta, berkali-kali Dimsam sudah menunjukkan rasa cintanya dengan cemburu bahkan mogok menggunjungi supaya Saraswati tahu akan perasaanya, kekanakan bukan? Sedangkan Saraswati yang galau akan pilihannya, memang alasan perbedaan-perbedaan tersebut yang melandasinya tapi saya merasa kurang, lebih banyak kebersamaan mereka. Endingnya juga, menurut saya sudah biasa, tidak ada klimak alternatif baru. Tapi saya sangat menikmati interaksi antara Disam dan Saraswati, bagaimana mereka pertama kali bertemu sampai endingnya. Alurnya cepet jadi bisa habis 'semalam baca'. Masih banyak typo, entah emang disengaja agar tulisannya tidak begitu formal atau emang salah, seperti Mao, Ngga, Sodara, dll. Eniwei, untuk sebuah karya yang pertama kali bagus kok, bahkan dengan buku ini menggantarkan penulis sebagai penulis berbakat khatulistiwa award 2007.
Oh ya, bisa juga mendapatkan ebooknya di www.papataka.com ini covernya.

3 sayap untuk si bule Dimsam.


Saraswati
by Kanti W Janis
Penerbit: Akoer
Cetakan I: September 2006
175 halaman

Jumat, 04 November 2011

13 Reasons Why




Coba bayangkan seandainya saja jika kau pulang dari sekolah dan menemukan kotak sepatu berisi 13 rekaman dalam 7 kaset yang direkam oleh gebetanmu, kaset yang berisi alasan kenapa dia bunuh diri dua minggu sebelumnya? Mungkin kau akan merasa seperti Clay Jensen, tidak percaya, ingin muntah dan bagaimana bisa? Terlebih dia menjadi salah satu alasan Hannah Baker bunuh diri. Setiap kaset memiliki nomor yang ditulis dengan cat kuku berwarna biru tua di sudut kanan atas, setiap sisi kaset memiliki nomor yang berbeda. Nomor satu dan dua di kaset pertama, nomor tiga dan empat di kaset kedua, dan seterusnya. Tugas bagi si penerima adalah mendengarkan dan mengedarkan. Setelah selesai dia harus mengirim ke orang berikutnya yang sudah terencana. Tidak hanya kaset itu, Clay juga mendapatkan peta kota dengan sekitar selusin bintang berwarna merah yang menandai tempat yang berbeda-beda di sekitar kota, peta yang akan mendukung kejadian yang dialami Hannah. Mungkin kalian sudah tidak sabar mendengarkan isi kaset tersebut bukan? aku ambil walkman dulu, dan, Play:


Kamis, 03 November 2011

Semburat Senyum Sore


11245819


Sinopsis belakang sampul:

Langit kini sedang cerah dan mendung-bahagia dan sedih. Akhirnya dia mendapat kesempatan untuk membuat film; selalu seperti yang diinginkannya selama ini. Namun, dia merasa tertekan karena mamanya memaksa Langit untuk cepat lulus kuliah. Dia juga mendapat kesempatan untuk dekat dengan Thyo, tapi cowok itu menyayangi cewek lain. Lagi pula, ada Arda yang mulai mendekati, membuat kekecewaan Langit kepada Thyo terobati.

Langit yang cuek terhadap hidup dan lingkungan sekitarnya berubah setelah dia mengenal Nenek Romlah. Wanita itu dan cucu laki-lakinya menyadarkan Langit bahwa semua hal yang dimilikinya saat ini patut disyukuri, termasuk orang-orang yang selama ini dianggap Langit tidak menyayanginya.

Reviewku:
Yub, sinopsis di atas udah sangat mewakili isi cerita (padahal lagi nggak bisa mikir ;p). Awal lihat covernya keren, suka banget nget, nget, trus tagline dibelakang sampul juga nendang, "Kalau enggak bisa dapet apa yang kita suka, lebih baik kita suka apa yang udah kita dapet.." Trus setelah buka-buka dalemnya ada ilustrasi gambar yang oke punya, aku berpendapat sih karakter Langit ini mirip sama penulis sendiri, dia kan juga penyiar radio :). Konfliknya lumayan banyak, mulai dari keluarga langit yang nggak akur sama istri pamannya, keberadaan ayah tiri Langit, dimana Langit sepertinya belum bisa menerimanya, cowok yang disukainya ternyata suka cewek lain, ada juga cowok yang baik sama Langit ternyata mempunyai misi hanya memanfaatkannya saja. Tapi dia bersyukur bisa mewujudkan salah satu mimpinya menjadi seorang penulis skenario film berkat atasannya di Ganendra Radio dan bertemu Nenek Romlah, penjual tasbih di dekat tempat kerjanya, beliau mengajarkan Langit caranya sabar, ikhlas menjalani hidup, selain itu dia kaget cucunya Nenek Romlah, Wasis, ternyata pintar menggambar. Seperti yang dibilang Langit pada halaman 72, "Tuhan membuka mata hatinya untuk memberikan perhatian kepada orang-orang yang membutuhkannya."

Karakter Langit yang easy going membuat kita betah membaca buku ini, dia itu orangnya santai banget, mungkin khas penyiar radio kali ya, ceplas ceplos, cerewet tapi nyenengin. Aku juga suka karakter Thyo, yang nggak berlarut-larut karena cintanya pupus. Hampir tangline di setiap bab aku suka,
Tuhan bukan mengabaikan harapan, tetapi mengguhkannya sampai tiba saat yang tepat untuk mengabulkan dan menjadikan kejutan.

tarik napas, buang... lalu tersenyumlah.

Jendela hati akan terbuka lebih lebar jika kita ingin mengenali rasa syukur lebih dalam.

Pada awalnya, keikhlasan memang selalu bertentangan dengan kehilangan.

Keberadaan mutiara tidak akan diketahui tanpa membuka kerangnya.

Hari ini adalah 'kelak' yang kemarin kita idam-idamkan.
Lah kenapa banyakan quotenya daripada ceritanya yak? hehe, untuk lebih jelasnya tentang lika-liku kehidupan Langit baca aja, lumayan asik kok. Sebenarnya ada yang mengganjal nih, cerita ini kisah nyata penulisnya nggak sih? :))
Tarik napas, buang... 3 sayap untuk kehidupan si penyiar radio.

Semburat Senyum Sore
by Vinca Callista
Penyunting; Jia Effendi
Ilustrasi: Rizki Nur Sidiq
Ilustrasi Sampul: Ykha Amelz
Desain Sampul: Aniza
Penerbit: Atria
ISBN: 978-979-024-484-9
Cetakan I: Mei 2011
244 halaman

Rabu, 02 November 2011

Nguping Jakarta


12679354


Gimana nulis reviewnya, ya? Hahahaha, oke aku mulai dari pecakapan absurd yang aku suka, here:
Buat Mereka yang Butuh Tantangan Lebih
Dosen: "Ada tiga profesi yang paling dicari di Australia. Peringkat ketiganya adalah orang di bidang IT. Kalian bisa tebak peringkat satunya?"
Mahasiswa: "Teroris, Pak!"
Kuliah jurusan Teknik Informatika, didengar satu kelas yang akan mengajukan pindah jurusan sesegera mungkin.

Ini Sudah Kehendak Yang di Atas
Siswa #1: (dari lantai 2 minta tolong dipanggilkan seseorang) "Eh, eh, panggilin dia, dong."
Siswa #2: (kepada orang yang dimaksud) "Eh, lo dipanggil yang di atas."
Sekolah di Halim, didengar siswa-siswa yang bergegas mengucapkan turut berduka cita.

Fleksibel Gitu Mungkin, Suaranya?
Mahasiswi #1: "Lo UKM apa di kampus?"
Mahasiswi #2: "Paduan suara."
Mahasiswi #1: "Suara lo apa? Salto, ya?"
Didengar oleh seseorang yang hampir tersedak dalam nada C minor-nya Vety Vera.

Sungguh Efek yang Aneh
Siswi #1: "Aduh kembung banget, gue mau bersanggama, nih..."
Siswi #2: "Hah?"
Siswi #1: "Iya, bersenggama!"
Siswi #2: "Sendawa!"
SMPN di Jakarta, didengar oleh semua pengunjung kantin yang berpikir minuman soda mangandung afrodisiak.

Kami Takut Kalo Semangat Nanti Bapak Ngapain Kita
Dosen: (frustrasi melihat mahasiswa tak bersemangat) "Aduh, kalian makin lemes semua, sih, saya jadi lemah syahwat, nih!"
Universitas di Depok, didengar oleh para mahasiswa yang serentak bangun dari kantuknya.

Untuk Variasi, Bolehlah Sekali-Sekali Ganti Posisi
Guru: "Jadi, rumus menghitung sex ratio adalah jumlah laki-laki per jumlah perempuan dikalikan 100."
Murid-murid: "..." (sibuk mencatat)
Guru: "ingat, ya, jadi laki-laki selalu dia atas posisinya..."
Murid-murid: "..." (sibuk cekikikan)
Didengar oleh satu kelas yang rasio antara laki-laki dan perempuan tidak seimbang.

Jangan Sungkan Memesan
Pelayan sambil memberikan menu: "Sialkan."
Restoran di jakarta, didengar oleh pengunjung yang merasa keberuntungannya langsung hilang selama tujuh tahun.

Jangan yang Indie, Saya Gak Ngerti
Cewek: (Dengan Lantang) "Mas, Pop Porn-nya dua, ya!"
Bioskop di transkota, didengar oleh pengunjung antrean makanan kecil yang ingin memesan benda yang sama.

Dikancingin Aja
Penjaga fotokopi: "Mbak, ini amplopnya mau direslitingin, gak?
Didengar oleh pengunjung lain yang langsung memeriksa celananya.
Yak, segitu aja ya contoh yang aku suka, sebenarnya masih banyak lagi tapi capek nulisnya, hehehe. Bagi yang sering nyantronin http://ngupingjakarta.blogspot.com/ pasti udah nggak asing lagi dong sama dialog-dialog yang bikin ngakak ini. Berhubung aku tahunya telat, aku baca bukunya terlebih dahulu baru kemudian mengikuti blognya. Lucuu, nggak jarang kita mendengar percakapan orang dengan tidak sengaja dan kemudian terpingkal-pingkal sendiri, bahkan kadang kita sendiri pun pernah mengalami hal absurd tersebut, pemahaman yang salah, salah mengucapkan perkataan, melontarkan plesetan, dsb yg bisa mengurangi kepenatan di keseharian yang semrawud. 

ngupingjakarta.blogspot.com lahir pada 4 September 2008. Diawali dengan kuping kanan (Rangga Sastrowardoyo) dan kuping kiri (Rey Saroso) yang tidak sengaja mendengar teriakan seorang anak kecil perempuan ke temannya, "I,m telling you, my mom is a lesbian!" yang sukses membuat mereka ngakak. Mereka juga sering membaca situs yang bernama Overheard In New York dan terpikir kenapa nggak buat versi lokalnya. Banyak hal absurd yang terucap di sekitar kita, sering lupa menceritakannya, butuh tempat untuk menampung semua itu, jadilah Nguping Jakarta.
Buku ini dibagi menjadi enam bagian:
  1. Cerahnya Dunia Pendidikan Kita
  2. Saat Kecepatan Suara Lebih Tinggi daripada Kecepatan Pikiran
  3. Gagap (Ngomong) Teknologi
  4. Tepuk Jidat Berjamaah
  5. Cerita Keluarga Tanpa Rencana
  6. Di Antara Kantor, Klien, dan Tenggat
Yang paling aku suka adalah bab satu dan dua.
Silahkan dibaca dan silahkan tertawa sepuasnya.
3 sayap untuk yang tidak bisik-bisik

Nguping Jakarta
by Kuping Kiri dan Kuping Kanan
Penyuntung: Isman H.S & Primadonna A.
Penerbit: B First (Bentang Pustaka)
ISBN: 978-602-8864-37-4
Cetakan I: Agustus, 2011
221 halaman

NB: bagi yang punya pengalaman NYATA seperti di atas, Kirim ke nguping.jakarta@gmail.com lengkap dengan siapa yang mendengar dan tempat kejadian.

Rekomendasi Bulan Ini

Buku Remaja yang Boleh Dibaca Siapa Saja | Rekomendasi Teenlit & Young Adult

K urang lebih dua tahun yang lalu saya pernah membahas tentang genre Young Adult dan berjanji akan memberikan rekomendasi buku yang as...