Penulis: D. Wijaya
Desain sampul: D. Wijaya
Penerbit: NulisBuku
322 halaman
Buntelan dari D. Wijaya
Drew Olson tidak punya teman. Ia bukannya antisosial. Ia cuma merasa tidak pantas berada di lingkaran mana pun karena sementara orang lain punya banyak hal yang bisa dibagi, semua yang ia punya hanyalah mimpi-mimpi buruk.Ketika Drew memutuskan untuk pergi ke sekolah asrama Walters (untuk memperbaiki kehidupan sosialnya yang mengenaskan), ia tidak mengira akan bertemu dengan Noah Mitchell yang menurutnya sedikit terlalu optimistis. Noah mengajak Drew untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda. Noah juga memberinya pelajaran berharga: bahwa menjadi bahagia adalah pilihan.Namun, saat Drew mulai memilih untuk bahagia, ketakutan terbesarnya sekonyong-konyong merapat dan menghantuinya. Mimpi buruknya datang bahkan saat ia terbangun. Dunianya perlahan-lahan tenggelam ketika orang-orang mulai menyadari luka apa yang ia coba sembunyikan selama ini.Dan sementara ia tenggelam semakin dalam, Drew mulai bertanya-tanya, akankah ia merasa bahagia lagi?
Sebelum saya mereview buku ini, pertama-tama saya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada penulis karena baru sekarang saya menuliskan reviewnya, hampir sepuluh tahun :(. Tidak ada alasan khusus, saya tidak masalah dengan temanya, hanya belum mood saja. Beberapa tahun terakhir ini adalah titik terendah saya dalam membaca buku, saya pun minta maaf kalau ada hutang ke penulis lain apabila bukunya belum saya review, kontak saya saja nggak pa-pa, saya akan menggantinya atau ada solusi lainnya.
Lalu kenapa tiba-tiba bisa menyelesaikannya dalam satu hari, dalam sekali duduk? Percaya nggak percaya saya juga penganut bahwa sesungguhnya segala hal itu ada timing yang pas, dan mungkin ini adalah waktunya, ketika saya sedang merasa takut. Sesuai dengan tema utama buku ini.
Hanya ketika kita tidak lagi takut, maka kita mulai hidup. - Dorothy Thompson.
Akhirnya, aku menyadari tidak ada yang perlu diubah. Ketika hidup menyakitimu, ia sedang mengajarimu agar kuat. Ketika hidup menjatuhkanmu, ia sedang mengajarimu untuk bangkit. Peristiwa dalam hidup itu seperti jalinan mata rantai yang saling berkaitan. Yang satu ada karena yang lain ada. Saat satu lenyap atau berubah, yang lain juga akan lenyap atau berubah.Jadi, jikalau nantinya hidup memberimu kesempatan untuk mengubah masa lalu, sebenarnya ia sedang mengajarimu bahwa tidak ada yang perlu diubah. - Change My Past.
"Kurasa begitu pula dengan ketakutan," kata Mr. Jefferson. "Ketakutan itu ada untuk mengajari kita agar berani."
Merasa hidup Drew Olson tidak baik-baik saja yang cenderung antisosial, pamannya memberi pilihan agar dia pindah ke sekolah asrama, mendapatkan kehidupan baru, mencari teman dan perubahan dalam hidup. Perjanjian dibuat, dia akan mengikuti saran paman dan bibinya asalkan dia tidak akan mengunjungi ibunya untuk waktu yang lama. Drew pun memilih sekolah yang paling dekat dengan rumah paman dan bibinya, Walters High School.
Dia mendapatkan teman sekamar bernama Ethan Russell, anak muda yang rajin ke Gym, "banyak omong" dan mandi tidak lebih dari lima menit. Ethan adalah sosok yang memang pas untuk Drew yang pendiam, sifat yang saling bertolak belakang mereka saling melengkapi. Ethan mengajarkan satu peraturan dasar agar dia aman bersekolah di Walters High School. Ada dua kelompok di sekolah tersebut, anak keren (yang berisi anak orang kaya) dan anak biasa (anak biasa yang diganggu anak keren atau anak biasa yang tidak atau belum diganggu oleh mereka). Jangan pernah bersinggungan dengan anak keren.
Namun, hidup Drew mulai benar-benar berubah ketika dia mulai dekat dengan anak keren yang memiliki julukan "Biru". Noah Mitchell menjadi perubahan besar yang diharapkan oleh pamannya, juga bagian dari ketakutan terbesar yang awalnya hanya ingin dia pendam.
Cintailah seseorang tanpa mengharapkan apa pun, karena jika dia memang ditakdirkan untukmu, maka dia akan bersama denganmu pada akhirnya.
Walau sudah sangat lama sejak membaca buku debutnya Above the Stars, membaca buku kedua yang sebenarnya ditulis lebih dulu dari buku tersebut, menginggatkan saya kembali kenapa saya cukup menikmati tulisan David Wijaya walau tema semua buku yang dia angkat cukup riskan dan minoritas. Tulisannya enak diikuti, tidak ada diksi yang luar biasa tapi semua terjalin indah dan rapi. Masih sama dengan buku debutnya juga, dia mengambil tokoh dan latar dari luar negeri, cara aman karena temanya dan pernah juga dia sebutkan alasannya di Ask Author.
Yang saya sukai dulu nih, saya suka dengan penokohannya khususnya Drew, Ethan dan Noah. Mereka memiliki sifat yang berbeda dan konsisten sampai akhir. Memang ada perubahan khususnya Drew karena memang itulah tujuan utama dari buku ini. Ethan adalah tipe teman yang asik yang bisa menghidupkan suasana, sedangkan Noah saya suka banget dengan pikiran-pikiran liarnya, khususnya bagian 'Warisan Hidupnya'. Yang tidak saya sukai, jelas endingnya, tidak ada penjelasan lebih.
Adegan paling favorit adalah semua kelas dari Mr. Jefferson yang mendiskusikan tentang apa itu ketakutan terbesar dalam hidupmu, tentang kematian dan tentang melepaskan. Saya juga suka banget ketika adegan Drew pertama kali bersitatap dengan Noah dengan mata birunya, suasananya hidup banget, seperti kita menonton film romantis di mana tokoh utamanya pertama kali bertemu.
Buku ini tidak hanya tentang kisah cinta yang mulai bersemi, persahatan, perubahan dalam hidup, tapi juga tentang ketakutan yang pastinya dimiliki oleh setiap orang. Seperti di awal yang pernah saya sebutkan, buku ini pas banget saya baca ketika saya takut dan cemas menunggu hal yang saya nantikan. Perasaan tak tentu dan tidak mengenakkan, membuat stress berhari-hari (yang malah membuat saya produktif baca lagi), padahal saya hanya tahu genre-nya saja tanpa tahu ceritanya seperti apa.
Sekali lagi maaf buat penulis karena baru bisa membaca bukunya sekarang. Di mana pun kamu berada semoga kamu selalu berbahagia, sehat dan ayo nulis lagi sesuai apa yang memang ingin kamu tulis.
3 sayap untuk kamu yang berani melawan ketakutanmu :)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomentar, jejakmu sangat berarti untukku :*