Rabu, 17 September 2014

[Book Review] Good Fight by Christian Simamora


Dia tak benar-benar mencintaimu, kau dan aku sama-sama tahu itu.
Dibawakannya kau bunga, tetapi bukan kesukaanmu. Digenggamnya jemarimu, tetapi tidak cukup mesra. Dia mencium bibir indahmu, lalu cepat-cepat menyudahinya.



Puaskah kau dengan cinta seperti itu?

Sampai kapan kau terus duduk di situ, menunggu dia berbalik menginginimu?


Berhentilah mengabaikanku.

Tak bisakah kau memberiku kesempatan juga? Lirik aku sebentar saja. Dengarkan aku sebentar saja. Biar aku buat kau percaya, hanya aku yang bisa membuatmu bahagia.



Hanya aku—bukan dia.


Good Fight
Penulis: Christian Simamora
Editor: Gita Romadhona
Desain sampul: Jeffri Fernando
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 978-979-780-545-6
Cetakan pertama, 2012
514 halaman
Harga: 57k

Selasa, 16 September 2014

[Trailer] The Hunger Games: Mockingjay Part 1


Wuhuuuuu, semalam trailer Mockingjay akhirnya rilis juga. Sejak penampilan poster film para tokohnya yang sangat sangat keren cenderung kelam sekelam ceritanya, saya sudah penasaran habis akan seperti apa film dari seri terakhir permainan mematikan ini. Seperti yang pernah saya ulas di review buku Mockingjay, film ini syarat akan emosi, nggak sabar melihat akting Jennifer Lawrence yang memerankan Katniss di mana kondisi dia di buku ketiga benar-benar hancur. Oh ya, salut banget sama perancang kostum film ini, benar-benar kece badai!

[Book Tag] Social Media


Hai hooooo, ketemu lagi dengan book tag, pertanyaan seputar buku. Kali ini saya akan menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan sosial media. Tag orisinilnya berasal dari faultydevices, enjoy :)

Twitter: Your favourite shortest book. (@peri_hutan)
Imaji Terindah by Sitta Karina. Hanya 176 halaman saja, bukunya kecil tipis. Kenapa suka? Karena bercerita tentang keluarga Hanafiah, keluarga yang nggak akan bosan saya ikuti ceritanya.


Facebook: A book everyone pressured you into reading. (Sulis Peri Hutan)
Game of Thrones. Sumpah, tiap ada orang yang baca buku ini, pengennnnn banget ikutan baca, udah penasaran tingkat dewa. Sedih karena kemungkinan nggak akan diterjemahin di sini, hiks.

Sabtu, 13 September 2014

[Book Review] Sabtu Bersama Bapak by Adhitya Mulya

Sabtu Bersama Bapak
Penulis: Adhitya Mulya
Penyunting: Resita Wahyu Febiratri
Desainer sampul: Jeffri Fernando
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-721-5
Cetakan pertama, 2014
278 halaman
Pinjam @daneeollie

“Hai, Satya! Hai, Cakra!” Sang Bapak melambaikan tangan.
“Ini Bapak.
Iya, benar kok, ini Bapak.
Bapak cuma pindah ke tempat lain. Gak sakit. Alhamdulillah, berkat doa Satya dan Cakra.


Mungkin Bapak tidak dapat duduk dan bermain di samping kalian.
Tapi, Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian.
Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian.
Ingin tetap dapat mengajarkan kalian.
Bapak sudah siapkan.

Ketika punya pertanyaan, kalian tidak pernah perlu bingung ke mana harus mencari jawaban.
I don’t let death take these, away from us.
I don’t give death, a chance.

Bapak ada di sini. Di samping kalian.
Bapak sayang kalian.”

Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.



Kamis, 11 September 2014

[Book Review] Stasiun by Cynthia Febrina

Stasiun: Dua Kisah Satu Jalur
Penulis: Cynthia Febrina
Penyunting: Gina S Noer, Ninus D Andarnuswari
Ilustrasi sampul: Diani Apsari
Penerbit: Plot Point
ISBN: 978-602-9481-36-5
Cetakan pertama, Mei 2013
188 halaman
Harga: Rp 9. 520 (Beli di BukaBuku, off 72%)

Adinda putus dengan pacarnya. Kini tak ada lagi Rangga yang biasa mengantarjemput. Tiap pagi Adinda harus naik kereta dari Bogor ke kantornya di Jakarta. Harinya berawal dengan teriakan pedagang asongan, sampah yang bertebaran di peron, para penumpang yang berkeringat dan tergesa, bahkan aksi copet. Masa lalu pun kerap memberatkan langkah. 


Ryan "anak kereta" sejati, bersahabat dengan para pedagang kios di sepanjang peron. Bertahun-tahun dia pulang-pergi Bogor-Jakarta naik kereta. Di balik beban kerja yang menyibukkan, ada kesepian yang sulit terobati, apalagi ketika seorang sahabat meninggal. 

Tiap pagi mereka menunggu kereta di peron yang kadang berbeda. Tapi jalur yang sama memungkinkan langkah dan hati mereka bertautan. Stasiun jadi saksinya.

Bibliophile

Google+ Followers

Translate