Di era modern ini, teknologi semakin berkembang, kita bisa berbelanja tanpa perlu keluar rumah, mau pesan apa saja bisa lewat aplikasi di gawai, tak terkecuali dengan buku. Sekarang kita bisa menikmati membaca tanpa perlu melibatkan kertas, menenteng buku-buku yang bisa untuk mengganjal pintu, melainkan hanya menatap layar gawai yang kita punya. Elektronik book atau e-book atau buku digital sekarang dengan mudah bisa kita temui di Indonesia, banyak aplikasi yang menawarkan model baca tersebut, bahkan banyak juga versi bajakannya, yang tentu saja tidak saya sarankan. Pertanyaanya adalah apakah hadirnya buku digital akan mematikan pasar buku cetak? Lebih baik baca buku cetak atau buku digital? Let's talk.
Jujur saja, dulu saya bisa dibilang tidak mau membaca e-book atau buku digital. Pertama karena tidak terbiasa dan tidak memiliki e-reader (perangkat untuk membaca e-book), serta mayoritas hanya ada buku bahasa Inggris, tidak ada buku terjemahan maupun buku lokal, sehingga tidak ada yang menarik minat saya. Lalu, munculah perpustakaan digital semacam iJak dan toko buku digital yang digagas oleh Scoop, kita tidak membutuhkan e-reader, hanya bermodal tablet atau ponsel saja sudah cukup, membuat saya memikirkan ulang akan konsep model bacaan seperti apa yang saya butuhkan.