Minggu, 25 Agustus 2013

[Recommendation for You] Buku Non Fiksi yang Nggak Basi

source date-a-girl-who-reads edited by me

Sebagai perkenalan, postingan ini bukan meme, hehe, saya masih nggak yakin akan bisa konsisten (tiap minggu update) dengan sifat saya yang angin-anginan ini untuk membuat meme. Seperti yang pernah saya katakan di postingan entah yang mana, recommendation for you adalah kumpulan buku dengan tema yang sama, entah itu adegan di dalamnya, genrenya atau yang khas dari buku tersebut. Saya ambil sesuatu yang menarik, bagian yang membekas atau yang saya suka, kemudian saya ingin sharing buku tersebut, merekomendasikan pada yang lain.

Untuk episode perdana, saya akan membahas buku non fiksi. Apa menariknya? Saya akui, saya emang jarang baca buku non fiksi terlebih motivasi, buku-buku yang saya ulas di sini pun semua hasil buntelan :D. Boring, nggak ada konflik, biasanya itu yang membuat saya bosan, dan saya termasuk orang yang mempan jika motivasi berasal dari diri saya sendiri, kalaupun berhasil pasti hanya berselang beberapa saat seusai membaca buku tersebut. Tapi, kadang-kadang saya ingin keluar dari zona nyaman, mencoba sesuatu yang baru. Ketika saya membaca buku-buku non fiksi ini, ada perasaan puas dan pandangan baru, yang bisa saya terapkan di diri saya. Berikut buku-buku non fiksi yang asik versi Kubikel Romance :p

Jumat, 23 Agustus 2013

Peri Hutan's Favorite Authors

Kata-kata di atas sangat tepat sekali, saya sering melakukannya dan tidak pernah bosan. Biasanya buku-buku favorit berasal dari penulis favorit. Dan kali ini saya akan membahas siapa saja penulis favorit saya :D.

Celoteh Perempuan

Celoteh Perempuan
Penulis: Angly, Anita Dhewayani, Asita Suryanto, Citra R. Teresa, Daveena, Ervina Savitri, Indah Juli, Irma Amir, Lusyana Muljono, Nastiti Denny, Rahma Utami, Rengsina Suryati, Rina Sipa, Theresia Tristanti, Tristi, Vivi Abdurachman
Desain sampul: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-8665-6
Cetakan pertama, Juli 2012
200 halaman
Pinjem @tezarnet


Siapa bilang menulis itu sulit? Tekad, kemauan belajar, dan latihan tanpa henti bisa jadi membuka bakat terpendam kita. Kumpulan cerita ini adalah karya para penulis perempuan yang boleh dibilang pemula, namun mereka bisa melihat sudut pandang yang tak biasa. Menyuguhkan apa yang dilihat dan dirasakan, dalam setting khayalan. Imajinasi terlihat didorong-dorong keluar, dibentuk, disajikan dengan rapi dalam rangkaian cerita.

Semua karya yang ada di sini adalah presentasi dari beragam rasa perempuan usia matang. Cara pikir dan menyikapi perasaan terpapar dengan jelas. Dan ini semua bisa jadi mewakili kita semua. Segala galau dan bahagia itu.

Rabu, 21 Agustus 2013

A Werewolf Boy

A Werewolf Boy
Penulis: Kim Mi Ri
Alih bahasa: Juliana Tan & lingliana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-9499-6
Cetakan pertama, April 2013
208 halaman
Pinjem @daneeollie

Cinta adalah bahasa pertama yang dikenalnya

Sepanjang malam aku menunggu matahari terbit di luar jendela
Karena begitu pagi tiba, aku bisa bertemu dengannya
Terima kasih karena menggenggam tanganku
Terima kasih karena menatap mataku
Terima kasih karena kau yang kunanti-nanti akhirnya tiba di sini
Sepanjang hari aku menunggu bulan muncul di langit
Karena begitu malam tiba, aku bisa berbicara denganmu
Jangan lupakan janji kita
Jangan lupakan rahasia kita
Jangan lupakan betapa jantungku berdebar keras
Ketika menatap matamu
Betapa aku mencintai senyummu

Diangkat dari film melodrama paling sukses di Korea, A Werewolf Boy menceritakan kisah menyentuh Cheol Soo (diperankan Song Joong Ki) dan Kim Sooni (diperankan Park Bo Young). Cheol Soo yang selalu bertindak mengikuti naluri serigala, pelan-pelan berubah ketika diperkenalkan pada cinta oleh Kim Sooni. Akankah kisah mereka menemukan akhir bahagia?

Marriageable (Repackaged)

Marriageable (Repackaged)
Penulis: Riri Sardjono
Editor: Windy Ariestanty
Desain sampul: Dwi Annisa Anindhika
Penerbit: Gagasmedia
ISBN: 979-780-651-0
Cetakan ketujuh, 2013
358 halaman
Pinjem @alvina13

Namaku Flory. Usia mendekati tiga puluh dua. Status? Tentu saja single! Karena itu Mamz memutuskan mencarikan Datuk Maringgi abad modern untukku.

"Kenapa, sih, gue jadi nggak normal cuma gara-gara gue belom kawin?!"

"Karena elo punya kantong rahim, Darling,” jawab Dina kalem. “Kantong rahim sama kayak susu Ultra. Mereka punya expired date."

"Yeah," sahutku sinis. "Sementara sperma kayak wine. Masih berlaku untuk jangka waktu yang lama."

Mamz pikir aku belum menikah karena nasibku yang buruk. Dan kalau beliau tidak segera bertindak, maka nasibku akan semakin memburuk. Tapi Mamz lupa bertanya apa alasanku hingga belum tergerak untuk melangkah ke arah sana.

Alasanku simple. Karena Mamz dan Papz bukan pasangan Huxtable. Mungkin jauh di dalam hatinya, mereka menyesali keputusannya untuk menikah. Atau paling tidak, menyesali pilihannya. Seperti Dina, sahabatku.

"Kenapa sih elo bisa kawin sama laki?!"

Dina tergelak mendengarnya. "Hormon, Darling! Kadang-kadang kerja hormon kayak telegram. Salah ketik waktu ngirim sinyal ke otak. Mestinya horny, dia ngetik cinta!"

See??

"Oh my God!" desah Kika ngeri. "Pernikahan adalah waktu yang terlalu lama untuk cinta!"

Yup!

That’s my reason, Darling!

Rekomendasi Bulan Ini

Buku Remaja yang Boleh Dibaca Siapa Saja | Rekomendasi Teenlit & Young Adult

K urang lebih dua tahun yang lalu saya pernah membahas tentang genre Young Adult dan berjanji akan memberikan rekomendasi buku yang as...